Keesokan harinya Felisha berangkat kekantor dengan Melani dan Felisha merasa rekan-rekan kantornya sedang menatapnya. Felisha haya diam berjalan menuju meja kerjanya. Ia menaruh tas di laci bawah dan mengambil ponsel dan duduk di kursi kerjanya. Dan bermain ponsel sebentar tanpa berusaha meladeni tatapan-tatapn rekan kerja lainnya. Suasana kantor tampak sudah mulai ramai. Felisha berjalan ke pantry hendak membuat kopi dan mengambil air mineral.
“Ecie, jadi ini pacarnya si bos?” ejek Renata yang sudah ada di pantry.
“Apasih Ren, Kita tidak ada apa-apa kok” jawab Felisha santai.
“Masak sih bukan pacarnya? Tapi kemarin kita lihat kalian berdua di rooftop” sindir Renata lagi.
Felisha yang masih menyiapkan kopinya terhenti sejenak. “Maksud kamu?”.
“Aku kemarin mengikuti kalian sampai rooftop, dan melihat kalian sedang berpelukan. Kamu menangis dipelukan Pak Dafi” jujurnya.
Felisha menghela nafas kasar. Rasanya ia sudah penat sekali dengan masalah hidupnya yang silih berganti. “Pak Dafi hanya membantu saja kok, dia nyelamatkan aku dari mantanku yang gila itu”.
“Ya kalau pacaran juga tidak apa-apa sih” tukas Renata.
“Tidaklah Ren, Tidak sederajat denganku” jawab Felisha santai.
“Kalau tidak ada apa-apa, kenapa sampai berpelukan gitu?” tanya Renata sarkas.
Felisha terdiam sebentar dan menghela nafas sebentar. “Terserah saja Ren” ujarnya malas sambil meninggalkan Renata di pantry. Ia malas menanggapinya. Dan langkah kaki lebar menginterupsi.
“Good Morning” sapa bariton seperti biasanya
“Good Morning Boss” jawab seluruh karyawan bersamaan.
“Good Morning Felisha” sambil tersenyum melihat Felisha yang keluar dari pantry.
“Good Morning pak” balas Felisha sedikit membungkukkan badannya dengan canggung.
Felisha segera berjalan menuju meja kerjanya. Dafi tampak sudah di ruangannya. Mereka mulai melanjutkan kerja masing-masing. Meja kerja Felisha berhadapan dengan ruang kerja Dafi, sehingga ia tau jika Dafi sedang menatap Felisha. Dan hal tersebut membuat Felisha salah tingkah dan memilih untuk focus pada layar monitornya.
Dafi terlihat sangat gelisah melihat Felisha tidak merespon w******p darinya. Padahal baru malam tadi mereka begitu sangat hangat. Sesekali Dafi mengamati Felisha yang sedang fokus training dan bekerja.
Entah kenapa, Dafi sangat tertarik dengan Felisha. Ia benar-benar ingin sekali terus menempel pada Felisha. Dia tidak hanya cantik dan pintar tetapi juga memiliki hati yang baik. Tidak sepantasnya wanita yang sangat baik di perlakukan seperti itu oleh mantannya. Ia tidak tahan, karena w******p ke Felisha hanya di baca saja oleh Felisha tanpa dibalas. Hal tersebut membuat Dafi uring-uringan hingga siang.
Akhirnya Dafi punya ide untuk menelponnya lewat telepon kantor. Ia menekan nomor extention telepon Felisha. Felisha mengangkat telepon di dekatnya.
“Selamat siang, dengan Felisha. Ada yang bisa saya bantu” sapa Felisha dengan ramah dan riang.
“Nanti siang makan dengan aku, mau?” ujar Dafi.
“Mohon maaf pak, dengan siapa ini saya berbicara?” tanya sopan Felisha.
“Ini aku, Dafi. Hehehe” ujar Dafi cengengesan.
“Oh maaf pak, sepertinya bapak salah sambung”. Felisha kesal lalu menutup telepon tersebut sedikit kasar dan menatap sang atasan dengan penuh kekesalan.
Dafi tampak kesal Felisha menolah makan siang bersamanya. Entah kenapa Dafi ingin selalu bersama dengan Felisha. Terasa nyaman dan hangat jika dekat dengannya. Hatinya pun berdesir jika hanyak melihat Felisha saja. ‘Ya tuhan, sepertinya aku jatuh cinta pada Felisha’ batinnya.
“Siapa Fel?” celetuk Pak Dika yang melihat Felisha kesal setelah menerima telepon.
Felisha menganggkat bahunya. “Salah sambung” tukasnya singkat dan mengacuhkan. Lalu ia melanjutkan training lagi dengan Pak Dika.
Hingga makan siangpun tiba. Felisha memilih makan siang bersama rekan kerjanya di food court seberang gedung perkantorannya. Ia sengaja menghindari Dafi agar tidak di curigai terus oleh rekan kantornya. Namun Felisha teringat bahwa ia lupa membawa ponselnya.
“Eh sorry guys, hpku tertinggal di laci” ujar Felisha dan rekan-rekannya saat hendak keluar dari lift. “Aku akan naik sebentar ya, Mel nanti ku telpon dimana mejanya ya. Sekalian samakan saja makan ku denganmu” imbuh Felisha yang diangguk Melani pertanda setuju.
Felisha masuk lagi ke lift untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di laci.
*Ting*
Felisha terkejut saat pintu lift di buka dan Dafi berdiri di hadapannya. Ia segera berjalan dan berusaha mengabaikan Dafi. Dafi pun dengan sigap menarik pelan lengannya.
“Kenapa sih Fel?” Tanyanya Dafi pelan.
“Kenapa apa nya pak? Maaf saya sedang buru-buru” Felisa segera menarik lengannya yang di cengkeram Pak Dafi. Ia segera melangkah menuju kantornya. Tetapi ia tahu bahwa Dafi mengikutinya. Felisha tidak menghiaraukannya. Ia terus tetap berjalan menuju meja kerjanya.
“Fel, bisa tidak berbicara sebentar?” Dafi menarik lagi lengan Felisha.
“Iya pak, ada yang bisa saya bantu?” tanya Felisha berdecak sambil menarik lengannya kembali.
“Kenapa kamu selalu menghindar?”
“Maaf pak, ini dikantor” desah Felisha sedikit kesal
“Oke, kalau gitu. Bisa tidak hanya balas w******p saya agar saya tidak bingung? Salah saya apa?” ujar Dafi memohon dan menggapai tangan Felisha lagi.
“Pak, kita dikantor. Jangan membuat saya semakin terpojok Pak.Please” mohon Felisha.
Dafi menghela nafas, “Oke, kita bahas di chat atau kamu ikut saya sekarang?”
Felisha tampak menghela nafas dan meraih ponsel di lacinya. Iya terdiam sebentar dan terlihat memainkan ponselnya. Dafi bingung dengan apa yang dilakukan Felisha. “Sudah pak, sudah saya balas. Permisi.”
Felisha tampak bergeming meninggalkan Dafi lagi dan segera menyusul rekan-rekan lainnya. Ia tidak enak jika terlalu lama mengambil handphone. Ia memasuki lift dengan kesal. Dafi terlihat juga memasuki lift yang sama. Felisha mundur untuk memberi jarak dengan Dafi dan memilih untuk diam dalam keheningan.
“Saya mau makan siang lalu meeting dengan customer di Tangerang” ucap Dafi memecahkan keheningan.
‘Siapa juga yang tanya’ batin Felisha saat Dafi menginformasikan bahwa ia akan meeting dengan customer. Dafi menoleh ke arah Felisha dengan tatapan intimidasi. “Oh iya pak, nanti saya sampaikan dengan yang lain” jawab Felisha sopan.
“Pastikan pulang bersama Melani, kalau Melani belum pulang, kamu tunggu saja di kantor, tidak perlu turun dulu. OK!” Perintahnya.
“Baik pak, siap” Jawab Felisha mantap. “Maaf pak, saya permisi dulu” pamit Felisha sambil bergegas keluar lift.
“Kenapa sih pak Dafi. Huft. Kan tidak enak kalau ada yang tahu. Mana sok perhatian pula. Lagian aku kenapa sih sedeg-degan itu kalau dekat dengannya" Felisha bergeming sendiri sambil berjalan menuju food court.