Tidak terasa sudah dua bulan Felisha bekerja di perusahaan Dafi. Ia selalu menolak ajakan Dafi dengan tulus jika Dafi hendak mengantar pulang, makan siang bersama atau ingin mengajak Felisha makan malam bersama. Felisha berusaha menghindar ajakan sang atasan, walaupun pernah beberapa kali Dafi mengantarnya pulang. Felisha tahu bahwa ia merasa nyaman jika didekatnya. Hanya melihatnya saja membuat Felisha berdebar tak beraturan. Ia hanya takut untuk jatuh cinta lagi.
Hingga akhirnya Dafi putus asa untuk mendekati Felisha akhir-akhir ini selalu menolak ajakannya dan menghindar darinya. Meskipun terkadang Dafi mengajak berbicara mengenai pekerjaan, Ia berusaha menjawab seperlunya saja.
Melani menghampiri meja kerja Felisha yang masih sibuk bekerja. "Nih, hadiah buatmu" Ujarnya sambil menaruh sebuah undangan pernikahan.
Felisha menghela nafas dalam. "Yaaah, harusnya nama aku ya disini" Candanya masam sambil melihat nama Mitha terpampang undangan vintage tersebut.
"Apaan sih Fel, Ferdian aja segitunya cinta" Tukas Melani kesal. "Lagian di deketin si bos kamu nya menghindar terus" Lanjutnya lirih takut terdengar rekan kantor lainnya.
"Yah, aku sadar diri Mel. Beda kasta" Jawab Felisha sekenanya. "Ok lah. Aku mau datang ke pernikahan mereka" Ucapnya yakin setelah beberapa menit berlalu.
"Hah? Serius?" Melani terkejut saat melihat Felisha memilih untuk menghadiri acara pernikahan tersebut.
"Iya, mau menunjukkan ke mereka kalau aku tidak selemah yang mereka pikir". Felisha sangat yakin kali ini. Ia tidak mau terlihat selali terpuruk setelah putus dari Ferdian.
"Ok. Aku ikut. Sekalian refershing kan?" Ujar Melani menyenangkan.
"Yes sure. Nanti aku yang akan booking online flight dan hotelnya" Balas Felisha senang karena Melani akan menemaninya. "Sabtu minggu depan kan?" Tanya Felisha sambil membuka situs perjalanan online untuk memesan tiket pesawat dan hotel karena pernikahan tetap di laksanakan di salah satu hotel ternama di Bali
Melani tampak kembali ke mejanya setelah melihat Dafi datang menuju meja Felisha. "Iya Fel. Sabtu minggu depan" jawabnya sambil berlalu.
Dafi menghampiri meja Felisha karena akan mengembalikan purchase order yang sudah di tanda tangani nya. Dafi mengernyitkan dahi penasaran melihat Felisha tampak memilih flight schedule di layar monitornya.
"Ini PO yang sudah saya sign. Tolong PO untuk Shimizu ETD nya di percepat!" Dafi berbicara tepat di sebelah Felisha duduk.
Felisha yang tersentak kaget karena bukan Melani yang di sebelahnya. "Oh. Ya pak. Baik. Akan saya follow up" Jawab Felisha masih dengan sopan dan segera berdiri dan menundukkan kepalanya ke arah sang atasan yang sedang di sebalahnya.
Felisha tampak bingung karena layar monitornya terlihat jelas melihatkan tampilan salah satu website online booking. Dan sang atasan tampak memergoki dirinya sedang membuka situs lain saat bekerja.
Dafi melihat layar monitor sekilas dan melihat undangan yang berada di meja Felisha. "Ok. Thanks" Ucapnya datar dan meninggalkan Felisha.
Felisha menghela nafas kecil. Ia beruntung Dafi tidak marah karena sedang membuka situs online saat jam kerja. Ia segera booking tiket pesawat dan hotel untuk sabtu minggu depan. Dan segera ia tutup dan kembali bekerja lagi.
Sabtu sore Felisha dan Melani sedang berjalan-jalan ke Mall untuk mencari dress. Ia berencana mencari dress yang cantik dan sexy agar Ferdian merasa semakin bersalah karena meninggalkannya. Sebenarnya ini ide Melani. Felisha berpikir tidak perlu berlebihan seperti itu, toh Ia hanya akan menunjukkan kalau dirinya kuat dan tegar setelah dikhianati mereka.
Mereka memasuki salah satuk butik terkenal. Ia memilih dress cantik dengan shoulder off selutut warna pink soft berbahan brukat cantik dengan beberapa gliter emas yang simple tapi elegant. Dressnya sangat pas sekali dengan tubuh ramping Felisha yang menonjolkan buah d**a dan kaki jenjangnya yang indah.
Felisha dan Melani sudah selesai memilih dan fitting baju untuk pernikahan mantannya. Mereka sedang mencari restoran untuk makan malam. Saat mereka sedang mengantri di kasir salah satu restoran ternama yang baru buka. Mata Felisha tertuju pasa salah satu pria yang sedang makan malam dengan seorang wanita di depannya. Mereka terlihat sangat akrab dan dekat. Entah mengapa hatinya berdesir melihat mereka begitu akrab tertawa lepas.
"Mel, kita pindah aja yuk" Bisik Felisha pada Melani.
"Emang kenapa Fel?"
"Itu" Felisha tampak menggerakkan dagunya kearah mereka. "Arah jam 2" Tukasnya cepat dan memalingkan wajahnya.
"Oh my god. Si bos juga disini? Sama cewek pula!" Melani kaget dan membelalakkan matanya.
Felisha dengan cepat menarik Melani untuk meninggalkam restoran tersebut. "Buruan cepet Mel" tukasnya berdecak.
"Emang kenapa sih? Tak masalahkan kalo kita ikut nimbrung?" Ledek Melani.
"Apaan sih, orang mereka lagi pacaran. Masak mau ganggu!" decak Felisha sedikit kasar.
"Emang kamu cemburu?” Tanya Melani penasaran.
"Hah? Apaan sih" Felisha melepas tangannya karna kesal pada sahabatnya. "Tahu ah. Kesal!" Dengus Felisha meninggalkan Melani.
Entahlah, akhir-akhir ini dirinya terus memikirkan Dafi. Sebenarnya ia bisa saja membuka hati untuk Dafi. Tetapi ia masih enggan untuk berurusan dengan hatinya. Sebisa mungkin ia berusaha untuk menghindar tapi perasaan itu terus saja muncul dan berkecamuk dipirannya.
Haripun berganti dengan cepat. Besok ia akan berangkat dengan Melani ke Bali untuk menghadiri pernikahan Ferdian dan Mitha. Tetapi kemarin Melani pingsan di kantor dan ia diharuskan rawat inap sampai keadaannya pulih.
Melani terkena typus, ia tidak bisa menemani Felisha ke Bali. Felisha bimbang, ia tetap berangkat ke Bali atau tidak. Akankah ia kuat menahan hati saat melihat Ferdian dan Mitha mengucapkan janji sucinya.
"Maaf ya Fel, aku juga tidak tahu nih. Tumben banget badanku kayak gini" suara Melani lemas saat Felisha menjenguknya di rumah sakit.
"Iya Mel, No worries. Yang penting kamu sehat dulu ya" Jawab Felisha lembut.
"Jadi tetep mau berangkat atau bagaimana?" Tanya Melani penasaran.
"Entahlah, masih bingung. Pengen liburan sebentar sih." Jujur Felisha. Akhir-akhir ini memang pekerjaan kantor sedang sibuk sekali. Karena Dafi baru saja memenangkan proyek besar untuk perusahaannya. "Tapi aku takut, takut tidak kuat saat pemberkatan mereka" imbuhnya.
"Apa mau di temenin sama Renata?"
"Sudahlah Mel, kamu tidak usah memikirkan ku. Yang penting kamu harus sehat dulu"
"Jangan lupa refund flight-ku ya" Tukasnya.
"Sudah, tadi sudah aku cancel tiket punya kamu" Jawab Felisha. "Tapi kayaknya aku akan tetap berangkat saja deh. Sehari ini, lumayan untuk refresh otakkan? Lihat bule-bule" Tambahnya dengan terkekeh.
"Hahaha.. Iya sih. Siapa tahu dapat gebetan dari sana kan?"
"Hahahaha.. Siapa tahu ada yang menarik kan?" Balas Felisha bercanda.
Setelah beberapa jam kemudian Felisha kembali pulang ke Apartment. Ia masih tetap ingin pergi ke Bali meskipum sendirian. Mungkin dengan ia berlibur sebentar akan membuat pikirannya menjadi tenang dan bahagia. Toh hanya satu hari saja. Ia bergegas pulang ke apartmentnya untuk packing. Karena besok flightnya jam 10 pagi.