Pagi itu Felisha berangkat sendiri ke Bandara. Ia sudah tidak sabar untuk menikmati indahnya pantai di Bali. Sesampainya di Bandara Ngurah Rai, ia segera memasuki taksi untuk menuju Hotel tempat ia menginap dan acara pernikahan Ferdian.
Ia sedang di receptionis untuk prosess check-in. sambil menunggu prosessnya, ia menengok kekanan dan kekiri untuk menikmati suasana khas Bali yang membuat hati dan pikirannya tenang.
Tetapi ia terhenti saat melihat lelaki yang tak jauh di sebalah kanannya yang sedang prosess check-in juga. Lelaki itu tampak sangat menawan dengan kaos mahal Gucci putih dan kacamata hitam yang dipakainya.
Felisha tampak menelan salivanya, terkejut melihat seseorang di sebelahnya itu menoleh kepadanya. “Hai Fel, kamu juga disini?” sapanya hangat.
“eh, i-iya pak” jawabnya terbata.
“Sendirian?
“I-iya pak” jawabnya masih terbata. “Bapak juga sendiri?” tanya Felisha penasaran.
“Iya, aku sendirian” ujarnya santai.
“Oh” hanya itu yang bisa Felisha ucapkan.
Felisha telah selesai prosess check-innya. Lebih dulu di banding Dafi. Ia segera bergegas ke lift menuju kamarnya. Felisha sudah masuk di Lift. Pintu akan di tutup tiba-tiba Dafi berlari ke arah lift. Dengan segera ia menekan tombol membuka lift lagi.
“Thanks” ucap Dafi setalah masuk kedalam lift.
Lift tampak ada beberapa orang lainnya. Dafi berdiri di sebelahnya. Hingga akhirnya mereka tinggal berdua di dalam lift.
Dafi tampak berdeham. Felisha menjadi sangat grogi dan tidak berani menatap Dafi meskipun wajah mereka terpantul di pintu lift.
“Kamar nomer berapa?” Tanya Dafi memecah keheningan.
“5706 pak” jawab Felisha sopan
“Wah, selantai dong, aku 5720”
Mereka berdua keluar lift bersama. Seharusnya Dafi mengambil jalan kekiri dan Felisha kekanan, tetapi laki-laki tersebut berjalan mengikuti Felisha.
Felisha menoleh ke belakang hendak protes. “Bapak ngikutin saya?” tanya jutek.
Ia tersenyum mengernyitkan mulutnya. “Hanya mengantarkan kamu saja”.
“No pak, thanks. Saya bisa sendiri” ucap Felisha ketus.
Felisha bergegas menuju kamarnya. Ia berusaha tidak memperdulikan atasannya. Toh juga tidak sedang dalam bekerja. Felisha sudah memasuki kamarnya. Ia langsung menjatuhkan tubuhnya di ranjang empuk hotel itu.
“Ya ampun... Kenapa siiih” gerutu nya tidak jelas sambil menutup mata erat.
“Kenapa sih harus bertemu lagi, tidak di Jakarta, di Bali” dengusnya kesal. “Jangan-jangan dia sengaja mengikutiku kali ya?” ujarnya berbicara sendiri sambil uring-uringan.
“Oh jangan-jangan karena minggu lalu liat gue booking pesawat kali ya?” Felisha teringat dan ia menepuk keras jidatnya.
“Apa dia khawatir kali ya sama aku? Karena Melani tidak jadi menemani?” Pikirnya terlalu percaya diri. “Haaah, Ya ampuuuun! Huft, terserah deh! Peduli apa aku sama dia” ujarnya kesal pada dirinya dan bergeliat kesal di Kasur itu.
Felisha berjalan menuju balkon. Ia membuka pintunya dan berjalan ke pinggir pagar balkon. Felisha menghirup dalam angin laut yang menjadi view kamarnya. Hotel ini adalah hotel impian Felisha saat menikah nanti. Ia menghela napas panjang dan dihembuskan lembut.
Felisha melihat kebawah balkonnya. Terlihat banyak pegawai wedding organizer yang sudah mulai proses dekorasi taman dengan sea view. Benar-benar keinginan Felisha untuk mengucapkan janji sucinya di taman cantik yang penuh bunga soft dengan sea view.
Dengan kolam renang yang di dekorasi Indah menyambung hingga altar. Sangat Indah, bayangannya. Ia mematung melihat Mitha sedang tertawa dan berfoto ria dengan teman-temannya. Mitha terlihat sudah berisi dibagian perutnya, tetapi kebahagiaan terlihat jelas di raut mukanya.
“Huft” desah kasar Felisha. “Sabar-sabaaar.. Ikhlas.. Ikhlas” ucapnya lirih sambil menutup mata dan mengelus dadanya. Ia terperanjat saat menenangkan pikiran dan hatinya tetapi pintu kamar ada yang mengetuk. Ia bergegas menuju pintu dan membukanya.
“Pak Dafi?” celetuknya kebingungan.
“Hai” sapanya ramah.
“Eh, iya pak” jawabnya salah tingkah. “Ada perlu apa pak?” tanyanya menyelidik.
“Boleh masuk?”
“Ehm…” Felisha memikir sebentar lalu menganggukan kepala dan membuka pintunya lebar untuk Dafi. Dafi berjalan memasuki kamarnya dan menjatuhkan tubuhnya di sofa dekat kasurnya. Felisha memilih duduk di pinggir ranjang seberangnya.
“Sedang apa?” tanyanya sambil meletakkan ponselnya di meja depannya.
“Sedang…” jawabnya ingin berkata jujur bahwa ia sedang sedih melihat persiapan pernikahan mantannya. “Sedang menikmati pemandangan pantai tapi di ganggu sama bos sendiri” jawabnya lugas dan ketus.
“Oh, maaf deh” jawabnya masih santai.
Dafi meraih remote tv dan memilih salah satu chanel. Ia bergerak ke ujung sofa dan meluruskan kaki panjangnya di sofa, bersantai menonton tv. Felisha kesal dengan ulah Dafi yang selalu mengganggunya dan justru dengan santai menonton tv di kamarnya. Kenapa ia tidak menonton di kamarnya sendiri?
“Bapak kenapa sih? Bapak stalking saya?” Tanya Felisha ke Dafi dengan kesal. “Bapak sengaja ya ngikutin saya kesini? terus kenapa bapak tidak menonton tv saja di kamar bapak sendiri?”
Dafi menoleh ke Felisha yang masih kesal dan ia hanya terkekeh. “Tidak aku jawab kalau manggilnya masih bapak” jawabnya meledek Felisha. Felisha semakin terlihat kesal, mengernyitkan dahi dan mengatupkan mulutnya rapat. Ia berdiri dan menghampiri Felisha dan duduk di sebelahnya.
“Kalau kamu lagi sedih, sini, pundak aku siap buat bersandar” imbuhnya sambil menepuk pundaknya sendiri.
Felisha semakin kesal dan sebal. “Apa sih pak, bapak sok tahu deh!” ketusnya cemberut dan beranjak sambil berlalu. Tangan Dafi dengan cekat menarik tangan Felisha dan membuat Felisha jatuh kepangkuannya. Bibir Felisha tepat di dekat leher Dafi dan tangannya menahan di d**a sang atasan. Tangan Dafi memeluk erat pinggangnya. Felisha masih di pangkuan dan meronta berusaha lepas dari pangkuan Dafi.
“Sebentar saja” ucapnya lirih sambil mengeratkan pelukannya terbuai kehangatan yang menjalar seluruh tubuhnya dan menghirup dalam rambut Felisha yang tergerai Indah. Dafi semakin mengencangkan pelukannya posesif. Felisha tidak memberontak. Ia kehilangan konsentrasi karena nyaman dan hangat berada di dekapan sang atasan. Felisha memejamkan mata dan bersandar di bahu Dafi. Menikmati debaran jantung mereka. Nyaman, tentram dan sangat hangat berada di pelukan Dafi.
Mereka berpelukan hangat beberapa menit yang menenangkan. Felisha mengangkat kepalanya dari bahu Dafi. Sekarang wajah mereka sejajar dan sangat dekat. Bahkan nafas mereka saling bertautan. Dafi mendekatkan wajahnya, Felisha memejamkan matanya saat Dafi mengecup bibirnya. Bibir keduanya bertemu, dan ciumanpun tidak bisa terelakkan.
Tangan Dafi menahan tengkuk Felisha. Felisha diam tidak merespon kecupan Dafi. Dafi menarik bibir bawah Felisha sehingga ia bisa meluat bibir mungil Felisha. Felisha kalah, ia membuka bibirnya dan menikmati sensasi ciuman dan pagutan sang atasan di bibirnya. Ia terbuai kecupan dan membalas ciuman Dafi, mengimbangi ciumannya. Tangannya ia tarik dan diletakkan di tengkuk sang atasan. Menjambak kecil rambut belakang atasannya. Jantung Felisha serasa meledak saking tidak bisa mengontrolnya.
Ciuman mereka semakin dalam dan intim. Mereka saling memainkan lidahnya bersama. Bahkan tanpa sadar Felisha mendesah dalam ciumannya, hingga ia melapas ciuman Dafi yang semakin panas. Felisha harus melepaskan bibirnya dari Dafi, karena ia sudah merasa dibawah pantatnya ada sesuatu yang sangat keras. Bahkan ia sangat merasakan ketegangan itu dibalik jeansnya.
Felisha mengangkat kepalanya lalu menyatukan keningnya dan masih menutup mata mereka. Nafas mereka berdua masih menderu dan menggebu. Dafi sesekali mengecup sekilas di bibirnya. Felisha menjauhkan wajahnya dari Dafi. Tatapan mereka beradu. Saling membaca pikiran dan hati masing-masing. Dafi masih mencuri kecupan kecil pada bibir Felisha yang membuat Felisha berseri dan malu.
“Sudah ah” manja Felisha malu-mau karena dikecup terus oleh sang atasan. Felisha terlihat tersenyum bahagia, ia tidak bisa menutupi raut wajah malunya. Seperti hatinya meledak berbunga-bunga setelah sesi berciuman itu.
Dafi pun juga tidak bisa menutupi raut mukanya yang sangat bahagia. Dan akhirnya bisa mengambil hati wanita yang selama ini ia dambakan. Dafi tidak bisa membohongi dirinya karena sejak pertama bertemu ia sudah sangat tertarik dengan Felisha.