Mereka sudah kembali ke hotel setelah makan malam di salah satu restoran teman Dafi yang ada di pinggir pantai. Restoran itu memang baru buka, Dafi menghadiri pembukaan restoran tersebut. Memang benar, Dafi alibi mempunyai acara di Bali dengan alasan itu. Tetapi sebenarnya ia lebih mengkhawatirkan Felisha.
Dafi mengantarkan Felisha ke kamarnya. Tentunya dengan kecupan sebelum benar-benar meninggalkan Felisha. Felisha langsung ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket.
Ia segara memakai piyamanya dan merebahkan dirinya ke kasur deluxe kamarnya sembari menonton tv. Ia belum mengantuk dan masih memikirkan Dafi. Perhatiannya, perlakuannya dan sentuhannya membuat Felisha tersenyum-senyum sendiri. Ia ingin sekali mengirimkan pesan kepada Dafi tapi masih malu untuk memulainya. Felisha gusar sampai pukul sepuluh Felisha masih gelisah memikirkan laki-laki itu dan tak kunjung terlelap.
Ia memutuskan untuk menghampiri Dafi ke kamarnya. Ia masih ingat nomor kamar Dafi. Ia berjalan menyusuri lorong dan berhenti di nomor kamar yang diingatnya. Felisha mengetuk pintu tersebut tetapi tidak ada jawaban. Ia curiga apakah ia salah kamar atau Dafi sedang tidak ada dikamar. Felisha mencoba mengetuk pintu lagi.
Tok tok tok
Dafi yang dari kamar mandi langsung ke arah pintu karena mendengar ketukan pintu. Ia mengintip dari door viewer dan menyeringai ketika melihat Felisha di depan pintunya. Ia segera membuka pintu tersebut. “Miss me already?” sapanya menggoda Felisha.
Felisha mengangkat bahunya. “Just, want to see you” ucapnya malu-malu.
“Come in” ucap Dafi sambil menggerakkan kepalanya isyarat untuk masuk kedalam.
Felisha menurut dan langsung memasuki kamarnya. “Wah, kenapa kamarnya bagus?” ujarnya kesal ketika memasuki kamar Dafi. President suite. Kamarnya sangat mewah, jauh dari kamar Felisha yang hanya deluxe. Ranjang king size dengan sofa elegant, lantai marmer coklat yang mengkilap, meja marmer putih di living roomnya, bahkan balkonnya rindang dengan taman yang menyejukkan.
“Well, sorry” ujarnya sambil memeluk Felisha dari belakang dan mencium pundaknya.
“Jadi benar kamu yang punya hotel ini?”
“Hmm, lebih tepatnya mama aku” ucapnya sambil menyeruk ke leher Felisha.
Dafi terlihat segar sehabis mandi, rambutnya masih belum kering. Aromanya memabukkan Felisha. Felisha menikmati pelukan dari Dafi. Ia membalikkan tubuhnya dan kembali masuk kepelukan Dafi yang menenangkan.
Dafi mulai mencium ujung kepala dan pelipisnya. Tampak sangat menyayangi Felisha. Felisha mendongakkan kepalanya. Tatapan mereka beradu. Dafi mulai mendekatkan wajahnya ke Felisha. Felisha memejamkan mata dan mulai merasakan bibir Dafi sudah menempel sempurna di bibirnya.
Felisha membuka mulutnya, mempersilahkan Dafi untuk memagut bibir mungilnya. Awalnya mereka berciuman mesra hingga akhirnya mereka mulai berciuman seperti orang yang sedang kelaparan. Bertukar lidah, saling mencecap dan saling mendesah.
Dafi mendorong Felisha ke tembok di dekatnya. Ia mulai kehilangan kontrol saat mencumbu Felisha, ia mulai mencium leher dan memberikan kissmark di belakang telinga. Yang membut Felisha mendesah nikmat dan meremas tengkuk dan rambut belakang Dafi dengan menutup mata menikmati sentuhan itu.
“Tidak akan aku teruskan kalau kamu belum siap” ujarnya terengah di melepas ciuman lehernya dan mensejajarkan wajahnya dengan wajah Felisha.
Tangan Felisha masih di tengkuk sang atasan. Nafasnya masih tersenggal. Ia berpikir keras untuk menolak tetapi nafsunya sudah terlalu memuncak, lalu Felisha menarik tengkuk Dafi dan mulai mencium sang atasan. Mereka berciuman lagi dengan intens.
Dafi meneruskan hasratnya karena ia merasa sudah mendapatkan ijin Felisha. Ia langsung menggendong Felisha ala bridal style dan setengah menidurkan Felisha di pinggir ranjang king sizenya. Dafi sudah berada di atas Felisha dengan tangan dan lututnya sebagai tumpuan badannya.
Dafi mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya lalu melumat lembut bibir Felisha. Bibir mereka terus terpagut dan beradu lidah semakin panas. Perlahan tangan Dafi mulai membelai lembut perut rata Felisha saat ciuman mereka sudah memanas. Tangannya membelai lembut dibalik piyama marunnya dan mulai menggerakkan tangannya ke atas. Ke buah d**a Felisha yang terlihat sudah menegang dan tampak besar karena tubuh ramping Felisha.
“Uhm…” desah Felisha saat buah dadanya di sentuh Dafi. Ia semakin merasuk ke mulut Dafi. Lidahnya terus beradu dan tangan Dafi mulai meremas di balik bra Felisha. “Uhm.. aah..” desah Felisha lagi membuatnya frustasi menerima sentuhan itu. Dafi ikut mendesah menikmati jambakan kecil di rambutnya yang semakin membuatnya geli.
Dafi mulai melapas kancing Felisha satu persatu dan perlahan ciumannya pindah ke rahang, telinga, leher Felisha. Felisha semakin membusungkan dadanya dan mendesah frustasi saat Dafi melumat lehernya. Dafi melepas piyama atas Felisha dan bibirnya mulai menurun ke buah dadanya. Ia mengecup memberikan kissmark di buah d**a atasnya. Tangannya dengan cekatan melepas bra Felisha dengan sekali gerakan. Felisha sekarang sudah setengah telanjang.
Dafi kembali menyerang bibir Felisha dengan mendesah kecil, menciumnya dengan hebat dan tangannya meremas pelan buah dadanya. Felisha melenguh dalam ciumannya saat merasakan tangan besar Dafi meremas kuat buah dadanya. Lenguhan Felisha membuat Dafi semakin gencar memainkan buah dadanya, tangan sebelahnya menjepit ujung buah dadanya yang sudah mengeras dengan telunjuk dan ibu jarinya. Sesekali ia pelintir dan membuat Felisha menggelinjang geli kenikmatan menerima rangsangan dari atasannya.
Bibir Dafi melepas pagutan ciuman yang panas dan langsung melahap buah d**a Felisha. Felisha terus mendesah menerima jilatan lidah Dafi dan remasan di buah dadanya secara bergantian. Tangannya tak henti menjambak rambut Dafi hingga berantakan.
“ss.. ah.. ss aah.. Daf” desah Felisha tak kuasa menahan gairahnya. Ia terus mendesah hingga ia tak sadar menarik kaos Dafi ke atas dan melepasnya. Mereka berdua sudah setengah telanjang semua. Sentuhan kulit Dafi dan Felisha bagaikan aliran setrum yang memabukkan.
Tangan Dafi mulai turun kebawah dan meremas p****t Felisha. Dengan segera ia menarik turun piyama hotpans Felisha. Ia menaikkan Felisha ke tengah ranjang dan melepas celana dalam Felisha yang sama dengan bra nya. Dafi menelan salivanya saat melihat tubuh Felisha sudah tidak memakai satu helai benangpun. Kewanitaan Felisha tampak Indah dengan rambut k*********a tipis terawat. Felisha masih terengah, nafasnya masih menderu dan melihat Dafi yang sangat menawan saat bertelanjang d**a dan rambut acak-acakannya.
Dengan cepat Dafi membuka kaki Felisha. “No.. No.. Ahhh.. Dafiiiii.. sss” desah Felisha melenguh mengangkat pantatnya. Ia tidak kuasa mencegah Dafi untuk tidak mencium kewanitaannya. Dafi menjilat k******s dan menyesapnya tanpa ampun. Mengecup, menjilat dan telunjuk kanannya memasuki liang intinya, di gerakkannya telunjuk itu maju mundur dan tangan kirinya meremas dan memelintir payudaranya yang mengeras. Felisha mendesah meracau tidak peduli hingga ia menggelinjang hebat mengeluarkan o*****e pertamanya.
“Ohh,, shiiittt,, Daf,, ahhhh” desahnya sambil menjambak keras rambutnya saat o*****e.
“You like it baby?” tanya Dafi yang juga terengah. Felisha tidak menjawab ia terengah pening setelah o*****e pertamanya. Dafi menegakkan badannya dan mulai menurunkan celana pendek sekaligus boxernya. Felisha terkejut dengan kejantanan Dafi yang sudah mengacung ke depan, menegang dan keras.
Dafi menindih tubuhnya dan mencumbu leher Felisha. Kejantannya di gesek-gesekkan di kewanitaan Felisha. Felisha sangat geli dan mencengkeram kuat lengan Dafi. Ia masih tetap mendesah nikmat dan sesekali meremas lengan Dafi yang kekar.
“Daf… ss.. aahh.. Daf” lenguh Felisha lagi.
“Are you ready sayang?” tanyanya sambil menggerakkan pinggulnya berusaha masuk ke dalam inti Felisha. Felisha tidak menjawab dan masih mendesah kenikmatan.
Beberapa kali percobaan belum juga masuk sempurna. Dafi menegakkan tubuhnya, “Kenapa susah sekali masuk? Katanya kamu sudah pernah melakukannya!” Ujarnya kesal karena belum berhasil memasuki inti dalam Felisha. Ia memegang kejantanannya dan dituntun memasukinya lagi.
Felisha menggeleng, karena memang ia sudah pernah melakukannya dengan Ferdian. Tidak terlalu sering hingga Mitha hamil dengan Ferdian. “I don’t know, punya kamu yang kebesaran. aaaaah” omel Felisha dan melenguh nikmat karena kejantanan Dafi sudah setengah memasuki intinya.
“Ahh…” desah Dafi kenikmatan. “Sempit sekali punya kamu Felishaaa… aaah” Ia terus berusaha memasukkan kejantanannya semakin dalam. Ia terhenti sebentar saat untuk megambil nafas dan mencium bibir Felisha. Ia mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur perlahan. Lama-lama gerakannya makin cepat dan kuat. Tubuh mereka berdua sudah menyatu, saling mencumbu satu sama lain.
“Arghhh, Daf… Arghhh” raung Felisha dalam ciumannya. Dafi melepas ciumannya dan menyerukkan kepalanya di leher Felisha, tangan lainnya meremas dan memelintir p******a Felisha. “Argh... ss... Aaaarghh Daf…” pekik Felisha tidak terkontrol. “Aku mau keluar lagi sayaang” Felisha meraung.
Dafi justru mempercepat hujamannya kedalam inti Felisha. Ia menyerang v****a Felisha dengan kuat dan bersemangat. v****a Felisha mulai menyempit dan semakin menyedot kejantanan Dafi lebih dalam. “Aaaaahhhh….. Sayaaaaang” Felisha mendesah panjang saat menyemburkan pelepasannya lagi.
Dafi memperlambat gerakannya. Ia melepas kejantanannya dan memutar tubuh Felisha. Mengangkat pinggulnya dan memasukkan lagi kejantanannya dari belakang. “Ahh.. Felishaaaa” Dafi mengerang panjang saat memasukinya dari belakang, karena cengkeraman v****a Felisha semakin kuat.
Ia terus menggerakkan pinggulnya maju mundur tanpa ampun pada Felisha hingga ia mencengkeram kuat pinggul Felisha dengan kuat saat ia mulai di titik kenikmatannya. “Aaaarghhhhh” lenguh panjang Dafi saat ia menyemprotkan cairan kentalnya kedalam v****a Felisha. Sampai cairan mereka berduapun meluber kemana-mana.
Felisha ambruk ke kasur dan Dafi menghempaskan dirinya di samping Felisha. Nafas mereka tersenggal-senggal kenikmatan. Peluh mereka terlihat jelas meskipun kamar tersebut ber-ac. Mereka berdua sangat menikmati pelepasan mereka masing-masing. Dafi merengguh Felisha agar mendekatinya.
Felisha memeluk Dafi dan menenggelamkan kepalanya pada lengan dan d**a Dafi. Sesekali ia menghirup aroma khas Dafi yang menenangkan dirinya. Ia melingkarkan tangannya di perut Dafi dengan kuat.
"Jadi sekarang kamu sudah memanggilku sayang?” Ujar Dafi senang mendengar Felisha melenguh menyebut namanya dengan sayang
Felisha malu, Ia tak percaya akan memanggil Dafi dengan Sayang saat pelepasannya. Ia menguburkan wajahnya pada d**a bidangnya dan mencubit perutnya yang terawat. Dafi tidak memiliki perut sixpack tetapi badannya terjaga dan sangat ideal dengan tubuh tinggi nya.
“Kamu menyukainya?” Tanya Felisha menggoda.
"Tentu saja, desahanmu menggairahkan” jawabnya bersiul dengan mengecup puncak kepalanya.
“Kamu sering bermain dengan wanita?”
“Apa aku terlihat seperti pria b******k?” tukasnya
“Tidak, hanya saja kamu sangat mahir dalam permainan itu”
Dafi terlihat melenguh kasar. “Aku juga sudah pernah s*x dengan mantan pacar aku saat aku di London” ujarnya jujur.
Ya, Dafi pernah kuliah di Amerika untuk mengambil gelar Sarjana Engineering di salah satu Institut Technology yang terkenal di Dunia dan lulus dengan cumlaude. Lalu, ia meneruskan Magisternya di London. Disitulah ia mempunyai kekasih yang bernama Stephanie. Ia sudah menceritakan hal tersebut dengan Felisha. Ia selalu mencoba untuk tidak menutupi apapun dari Felisha.
“Oh” tanggap Felisha masam.
Dafi melihat raut Felisha yang berubah. Ia langsung menarik dagu Felisha dan menatapnya dengan lekat. “Apa kau marah?” tanyanya. “Percayalah, aku tidak akan mempermainkanmu” ujarnya meyakinkan lagi.
Felisha mengangguk tanda mengerti. Ia tidak mau membuat suasana yang Indah ini menjadi canggung atau sakit hati. 'Atau dirinya cemburu? oh pasti aku tisak cembur' pikirannya semalin berkecamuk.
“Ok, our past is our past. Tidak perlu dibahas lagi. Mereka hanya masa lalu kita” Felisha mencoba berbesar hati.
“Yang terpenting sekarang, aku akan mencoba fokus sama kamu. Bukan karena we had a s*x or kissed. Just, aku sangat nyaman dan aman bersama kamu Daf.” Akhirnya Felisha mengungkapkan gundah dihatinya.
“Tentu saja sayang, aku senang akhirnya aku bisa memilikimu” ucapnya jujur. “Aku sudah berusaha semampuku agar kamu melihatku dan memperhatikan kehadiranku, tapi kamu selalu mengabaikan perasaanmu sendiri” Dafi mencium lama kening wanita yang disayangnya itu. “Tapi akhirnya aku bisa menjagamu sepenuh hatiku” tambahnya.
Felisha menganggukkan kepalanya lagi, “Maafkan aku jika aku selalu dingin padamu sebelumnya” ucapnya sembari memeluk erat atasannya.
“No worries Sayang, semuanya memang perlu proses” jawab Dafi.
Dafi mulai mencium-cium wajah Felisha, dan mencumbu lagi leher jenjang Felisha. “Are you ready again baby?” Tanya Dafi menggoda. Ya, Dafi sudah mulai menegang lagi, ia segera menaiki Felisha lagi dan meremas payudaranya.
Felisha pasrah menyerahkan tubuhnya pada sang atasan. Ia menikmati setiap sentuhan Dafi padanya. Ia tak sungkan lagi melenguh, meraung dan mendesah frustasi menyebutkan nama Dafi karena kejantanannya menyerang inti Felisha berkali-kali. Wajah Dafipun juga terlihat sangat menggairahkan saat bercinta dengan Felisha.
“Ah, Dafi. Ahh... Arrghh” Felisha mencengkeram kuat punggung Dafi. “Ahhh, Felisha…” Dafi memekik desahan panjang. Dafi semakin menghujam v****a Felisha yang semakin sempit dan Felisha merasa kejantanan Dafi semakin membengkak. Dafi tidak kuasa lagi, ia menyemburkan cairan kentalnya bersama dengan Felisha yang bergetar hebat dibawahnya. Felisha terbujur lemas tak berdaya. Kakinya sudah lemas, pahanya basah akibat cairan mereka berdua.
Dafi tampak sudah menyerah setelah berkali-kali menggenjot dan menyemprotkan cairan kentalnya pada Felisha. Hingga tidak terasa mereka sudah bergelut hampir dua jam lebih. Dafi mengeluarkan kejantannya dan tidur telentang di samping Felisha.
Jam sudah menunjukkan pukul 2 malam setelah adegan bercinta mereka berdua. Dafi menarik Felisha kepelukannya dan mengatur nafas mereka berdua. Felisha tampak sudah lelah dan berantakan, rambutnya menempel di wajahnya karena keringat bercinta mereka.
“Good night sweetheart, I love you” ucapnya sambil mengecup lembut bibir dan pipinya.
“Good night” balas Felisha setengah sadar. Ia merapatkan tubuhnya memeluk Dafi.
Dafi menarik selimut menutupi tubuh polos mereka, ia mencium kening Felisha lagi sebelum ia tertidur pulas.