Cahaya matahari mulai memasuki celah-celah gordyn yang tertutup rapat. Felisha mengeliat meregangkan tubuhnya. Dafi masih memeluknya posesif. Felisha tersenyum melihat Dafi tidur dengan tenangnya. Ia tak kuasa untuk tidak mencium bibirnya. Ia Felisha sudah tergila-gila dengan bibir Dafi yang seperti selalu menggodanya.
Dafi mengeliat merasakan bibirnya di kecup-kecup Felisha. Ia tersenyum bahagia dengan mata yang masih menempel dan ikut membalas kecupan Felisha. “Good Morning Boss” ucapnya Felisha menggoda.
Dafi tersenyum menyeringai digoda Felisha. Ia mengecup bibir Felisha lagi. “Jadi kamu sedang menggoda bos kamu?” sambil merapatkan pelukannya.
“Hmm.. tidak juga, saya mau ke toilet bos, mau kencing. Tolong lepas pelukannya sebentar saja” jawab Felisha sopan layaknya boss dan staffnya.
Dafi terkekeh sambil melepaskan pelukannya. Felisha langsung bergegas dengan keadaan telanjang bulat. Ia berlari kecil ke toilet dan segera duduk di kloset untuk menuntaskan kemihnya yang sudah penuh. Selesai kegiatan bersih-bersih daerah kewanitaannya yang penuh dengan cairan cinta mereka.
Felisha sedang memandangi dirinya yang sangat berantakan di depan wastafel set marmer mewah president suite. Ia memandangi di depan kaca tersebut, rambutnya bak singa yang bangun tidur, mukanya kusut tetapi terlihat semburat bahagia. Entahlah, ia menyebutnya bahagia.
“Huft… kenapa banyak sekali sih ini cupangnya” desahnya melihat kissmark yang diberikan Dafi akibat bercintanya.
Ia memegang satu-satu letak kissmark tersebut, dibawah telinga, leher dalam, leher luar, di atas d**a, dan di buah d**a juga banyak. Ia menghela nafas panjang dan menggeleng kepalanya. Lalu ia merapihkan rambutnya dan menggelung ke atas sekenanya.
Ia membasuh muka agar tampak segar dan saat mendongakkan kepalanya, ia melihat Dafi masuk menghampirinya dari pantulan cermin di hadapannya. Ya, Felisha memang tidak mengunci pintu kamar mandi tersebut. Dafi langsung memeluk Felisha dari belakang dan menciumi tengkung hingga punggungnya. Tangan Dafi juga nakal meremas pelan p******a Felisha yang menggantung Indah.
“Stoooppp Dafiiii…” desah Felisha saat Dafi meremas payudaranya dari belakang.
“Morning s*x baby” ajaknya sedikit menggoda di telinga Felisha.
“No!” Felisha sedikit meninggikan intonasinya. “Punyaku sudah pegal Daf” ujar Felisha sambil membalikkan badannya dan berhadapan dengan Dafi.
“Tapi kamu sungguh menggodaku sayang” ujar Dafi manja sambil memberikan kissmark lagi di lehernya.
“Look, kissmark kamu dimana-mana. Aku malu” jawab Felisha kesal.
Dafi tidak menggubrisnya, ia justru menaikkan Felisha duduk di pinggir meja wastafel marmer tersebut. “Aku suka lihat tubuhmu banyak bekas kissmark aku” ujarnya menyeringai.
Felisha masih cemberut tetapi tak kuasa oleh sentuhan Dafi. Kakinya sudah melingkar di perut Dafi dan tangganya digantung di bahunya, kejantannya pun sudah terasa tegang di bibir vaginanya. Dafi mulai mencium bibir Felisha dan menggesekkan punyanya ke bibir wanita Felisha yang mulai basah.
Ia menekan sedikit-dikit hingga akhirnya kejantanannya habis ditelan kewanitaan Felisha. “Ahhh” desah mereka bersamaan saat mereka sudah menyatu dalam ciumannya. Mereka sekarang saling bertatapan dengan wajah penuh dengan gairah dan kenikmatan. Dafi masih intens berirama menggerakkan miliknya.
Felisha mulai menyempit dan desahannya semakin meracau. Dafi tahu Felisha akan segera mendapatkan titik kenikmatannya. Ia langsung melahap buah d**a di depannya dan di cubit kasar putingnya. Felisha tak tahan lagi, “Ahhh… Dafi, pleaseeeee… Ahh, sss” ia menggelinjang mendapatkan titik kenikmatan. Mukanya sudah memelas kenikmatan.
Dafi menurunkan Felisha dari wastafel dan menggendongnya ke ranjang lagi. Dafi masih meneruskan hasratnya yang belum tercapai. Berkali-kali ia menghujami kewanitaan Felisha dengan keras dan semangat. Felisha terlihat frustasi tak kuasa memekik kenikmatan dihujai terus oleh sang atasan. Hinga Dafi menghujam kasar kejantananya tak berirama ke v****a Felisha dan mendesah panjang menikmati semburan hangat spermanya ke rahim Felisha.
“Ahhh, Sayaaaaang… Ughhhh, sss, aaah” lenguh panjang Dafi saat menyemprotkan cairan cintanya pada kekasihnya. Tubuh Dafi ambruk diatas Felisha. Nafas mereka tersenggal tak beraturan. Felisha hanya memejamkan mata dan masih bernafas berat menahan tubuh Dafi diatasnya.
Dafi mencium pipi Felisha dan berguling di sampingnya. “You're great baby, I've never felt before" ucapnya masih dengan nafas tak beraturan. Mereka masih mengatur nafas masing-masing. Felisha menoleh ke arah Dafi yang terkulai.
“Kalau hamil gimana?” celetuk Felisha masih ndengan nafas menderu.
Dafi membulatkan mata dan langsung menghadap ke Felisha. Felisha tampak tertawa melihat reaksi Dafi. Dafi bingung, “apa kamu sedang masa subur?” tanyanya penasaran.
“Actually not, seharusnya jadwalku lusa atau 3 hari lagi. But, who knows?” terang Felisha menggoda Dafi ingin melihat reaksinya saja. Karena ia sudah berkali-kali menyemprotkan benihnya ke Felisha.
"No worries, I’ll marry you” jawabnya mantap sambil menghadap Felisha dan mengecup kening. Felisha tidak menanggapinya, karena ia pikir itu hanya candaan saja.
Felisha dan Dafi telah selesai mandi, tentunya mereka berendam di bath-up dengan garden view dan masih melanjutkan perbincangan mereka yang tiada habisnya. Mereka sedang berjalan menuju kamar Felisha dimana ia masih memakai baju piyama pendek marun dan ingin mengganti baju yang baru.
Dafi menunggu Felisha yang tengah berganti baju di toilet sambil menonton chanel tv di kasur. Mereka akan sarapan pagi di restoran hotel dan akan bertemu dengan manager penanggung jawab hotel mamanya.
Felisha keluar dari toilet, ia menggunakan lantern crop long sleeve top biru muda dengan celana pendek putih. Pakaian itu membuat Dafi kesal karena semua orang bisa melihat jelas perut mulus ramping dan pinggulnya yang Indah dan kaki jenjangnya.
“Bisa tidak pakai baju yang lebih tertutup?” omel Dafi tak suka.
“Kenapa sih Daf?” Felisha bingung sambil mengambil ponselnya. Dafi hanya berdecak. “Kamu tidak suka aku pakai baju ini?” tanya nya lagi meyakinkan.
“Tentu saja! Mana ada kekasih memperbolehkan laki-laki lain melihat badan kekasihnya dengan jelas?” tandasnya kesal.
“Ok, jangan di perpanjang, aku akan pakai outer” Felisha segera mengambil outer dan mengenakannya. “Bagaimana? Ok?”
“Terserah” ketus Dafi masih terlihat kesal.
Felisha menghampiri Dafi dan duduk di samping, memeluknya. “Hei, ternyata kamu bawel ya bos. Hehehehe” ucapnya geli karena tingkah Dafi.
Dafi masih bergeming kesal. Felisha tersnyum melihatnya, karena baru kali ini melihat Dafi segitu kesal hanya karena pakain. Cup. Felisha mencium pipi Dafi. Dafi melunak dan Felisha merasa menang.
“Ok, tapi jangan di lepas outernya. Janji!” ujar Dafi mengalah.
“Janji” jawab Felisha sambil mengangguk.
“Jangan terlalu pakai baju yang terbuka. Aku tidak suka!” tambahnya penuh penekanan.
“Baik bos, aku akan menurutimu”. Cup. Felisha mengecup bibir Dafi yang sedari tadi berdecak kesal hanya karena baju yang dipakainya. Ia lumat sebentar bibir bosnya itu agar kekasihnya itu tidak merajuk.