Felisha dan Dafi turun ke restoran dimana mereka akan bertemu dengan Manager Penanggung Jawab Hotel mamanya. Felisha sedikit canggung saat berjalan bergandengan dengan Dafi dan semua pegawai yang bekerja membungkukkan badan saat Dafi memasuki Restoran.
“Good Morning” ucap Dafi menyapa suara khas bos dan langkahnya yang gagah.
“Good Morning, Sir” jawab semua pegawai di Restoran tersebut.
Tangan kiri Dafi masih posesif menyematkan tangan kanan Felisha. Dafi menghampiri seseorang dan disambut dengan senyum lebar dari seseorang tersebut.
“Good Morning Mr. Dafi” sapanya sambil mengulurkan tangan untuk berjabat.
“Good Morning Mr. Adrian” jawab Dafi membalas jabat tangannya.
“Senang anda bisa berkunjung ke Hotel ini”
“Ya. Saya juga” Jawabnya basa basi. “Felisha, perkenalkan ini Pak Adrian, Penanggung Jawab Hotel ini dan Pak Adrian perkenalkan ini Felisha, kekasih saya”
Dafi memperkenalkan Felisha dengan Pak Adrian.
Felisha menunjukkan senyum indahnya dan melepas tangan kanannya untuk menjabat Pak Adrian. Tangan Dafi langsung posesif di pinggul Felisha.
“Good Morning, Ms. Felisha. Nice to meet you”
“Good Morning Mr. Adrian, Nice to meet you too” ucapnya sambil berjabat tangan.
“Ok kalau begitu, mari ikuti saya untuk ke meja bapak yang sudah kami siapkan” ucap Adrian selanjutnya.
“Ok Sayang, mari kita makan” ucap Dafi sambil mencium pelipis Felisha.
Sebenarnya Felisha sedikit canggung dengan tindakan Dafi yang terlalu berlebihan di tempat umum. Ia sempat malu dilihat pengunjung lain dan pegawain hotel lainnya.
Felisha dan Dafi duduk bersebelahan di meja yang sudah disiapkan beraneka macam hidangan makanan dan kue-kue lainnya. Felisha baru kali ini merasakan disambut bak putri kerajaan. Benar-benar di perlakukan bak dewi. Beruntungnya Felisha mempunyai Dafi.
Dafi dan Adrian sedang berbincang serius tentang masalah Hotel dan saham yang tidak di mengerti oleh Felisha. Felisha hanya menyimak dan memakan croissantnya dengan diam. Ia tidak tertarik untuk berbicara yang ia sendiri tidak mengerti. Ia memilih untuk menikmati kopi pagi dan beberapa hidangan diatas meja itu dan menyibukkan untuk ber chat-ria dengan Melani.
Felisha sedikit bosan dan ia berpamitan untuk ke toilet sebentar. Felisha sedang di toilet untuk mencuci tangannya. Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan ia terkejut saat Mitha yang keluar dari bilik tersebut. Mitha juga terkejut dan menghampiri Felisha.
“Hai” sapa Mitha saat mencuci tangannya di samping Felisha.
“Ha-i” balas canggung Felisha sambil tersenyum kearah Mitha.
“Mau berbicara sebentar?” tanya Mitha
Felisha menjawab hanya dengan anggukan.
Mitha dan Felisha sedang duduk di bangku taman menghadap ke pantai. Mereka masih diam dalam pikirannya masing-masing. Angin dengan kencang menghaburkan rambut Indah Felisha dan Mitha. Mereka menikmati suara deburan ombak yang memecah keheningan itu.
“Kamu, sehat?” tanya Felisha memulai.
“Ya, aku sehat” jawab Mitha sambil mengangguk
Suasana menjadi canggung kembali. Masih dengan suara ombak laut dan angin yang menyerpa keduanya.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Mitha
Felisha mengangguk, “Ya, aku baik-baik saja”
“Baguslah” ucap Mitha sambil tersenyum
“Kamu tidak nerveous?” tanya Felisha
“Entahlah, justru aku menjadi ragu” jawab Mitha menunduk.
“Kenapa?”
“Karena Ferdian tidak mencintaiku”
Felisha canggung, ia tidak mengatakan apapun.
“Apakah Ferdian masih menghampiri mu?” tambah Mitha lagi
Felisha menaikkan kedua bahunya dan menghela nafas pelan. “Seperti yang kamu tahu”. Padahal kemarin sore Ferdian masih meminta Felisha untuk kembali padanya.
“Ferdian sangat mencintai kamu Fel, apa kamu tahu?”
Felisha mengangguk.
“Apakah kamu masih mencintainya?” Mitha ragu untuk bertanya dan menoleh ke Felisha.
Felisha menghela nafas sebentar dan menggelengkan pelan kepalanya.
“Apakah kamu mau bertukar lagi denganku?” tanya Mita dengan nada bergetar.
Felisha mengamati Mitha yang juga menatapnya dengan lekat..
“Don't be ridiculous, Of course not” jawab Felisha mantap.
“Maafkan aku Fel, aku memang jahat” setetes air matanya lolos ke pipinya.
Felisha mengelus pundak Mitha dengan lembut. “Sudahlah Mith, tidak ada yang perlu disesalkan” ucapnya dengan hati-hati.
“Tuhan memang sudah merencanakannya, kita jalani saja dengan ikhlas” tambah Felisha berusaha berbesar hati sok memberikan nasehat, padahal ia juga sedang menata hatinya.
"Kamu benar-benar sudah melepas Ferdian?"
"Sejak hari itu, aku sudah melepasnya."
Dafi melihat Felisha dan Mitha yang duduk di bangku taman. Ia berjalan Menghampiri Felisha. Felisha menyadari Dafi sedang melangkah kearahnya. Tatapan mereka bertemu. Felisha tersenyum senang atas kehadiran Dafi.
“Kamu disini sayang? Aku mencarimu” ujar Dafi masih berjalan mendekati Felisha.
Felisha tersenyum lebar dan mengangguk. "Kamu mencariku?" Tangannya mengulur ingin disematkan ke jari-jari Dafi.
"Tentu saja Sayang, kamu hanya berpamitan ke toilet sebentar"
Mitha hanya terdiam melihat kebahagiaan Felisha yang terpancar di senyum indahnya.
“Maaf sayang. Aku tidak sengaja bertemu Mitha di Toilet. Oh ya Daf, ini teman aku Mitha, yang pernah aku ceritakan” ujar Felisha berusaha mencairkan suasana dan mengenalkan pada Mitha.
“Hai Mitha, terima kasih kamu telah merebut calon suaminya” sapa Dafi dengan sarkas.
“Hei!” tukas Felisha sedikit meninggi.
Mitha lalu tertawa kecil mendengar candaan kekasih Felisha.
“Apa aku salah sayang? Kalau bukan berkat Mitha. Aku tidak bisa memilikimu” ujar Dafi sambil mencium puncak kepala Felisha.
Mitha tersenyum melihat tingkah Dafi dan Felisha. Tak lama Dafi menerima telepon dan ia meninggalkan Felisha dan Mitha yang tak jauh darinya.
"Dia kekasih baru mu?" tanya Mitha
Felisha mengangguk dengan senyum tipisnya. Rasanya masih malu mengakui Dafi adalah kekasihnya.
“Beruntung kamu Fel, dia sangat tampan sekali” ucap Mitha.
Felisha mengangguk yakin dengan senyum menatap punggung Dafi.
“Kamu bertemu dimana? Tanya nya Mitha lagi.
“Actually, he’s my Boss” jawab Felisha terkekeh sambil menaikkan alisnya.
“Waw, betapa beruntungnya kamu Fel” tanggap Mitha. “Siapa Namanya?”
“Dafi. Dafi Putra Hartono” ujar Felisha santai.
“Putra Hartono?” tanya Mitha terkejut.
Felisha hanya menganggukkan. “Begitulah, aku juga baru tahu kalau dia se-crazy rich itu” ujarnya tertawa.
“Kamu pantas mendapatkannya Fel, dia terlihat sangat menyayangimu”.
“Ya, aku tahu. Dan aku senang ia selalu ada disisiku saat ini” jawab Felisha.
“Berbahagialah Fel” ujar Mitha sambil menepuk pundak Felisha.
“Berbahagialah juga Mitha, selamat bertemu nanti sore. Bye” balas Felisha sambil beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Dafi yang sudah memanggilnya.