Hamil

972 Kata
    “Terus aku harus bagaimana?” Ferdian frustasi mendengar Mitha sedang mengandung. Mitha menggeleng dan masih menangis sesenggukan.     "Kalau kamu minta aku untuk menikahimu, jangan mimpi. Aku tidak akan pernah melepaskan Felisha” ujar Ferdian dengan nada meninggi.     Mitha semakin menangis. “Lalu aku harus bagaimana? Aborsi?” tanyanya dalam tangisan.     Ferdian masih terdiam, ia frustasi dan tidak mengira bahwa perbuatan yang dilakukan pada Mitha hingga membuat masa depannya hancur.     Felisha masih terdiam membatu mendengar percakapan mereka di dalam kamar yang tidak ditutup. Felisha sudah datang di penthouse Ferdian 10 menit yang lalu, tetapi mereka belum menyadari kehadiran Felisha.     Seperti biasa, Felisha membawakan makan malam untuk disantap dengan Ferdian di penthouse Ferdian. Tapi ia tidak sengaja mendengar ada seseorang menangis histeris di kamar Ferdian.     Felisha hendak masuk tetapi ia mendengarkan percakapan mereka. Ia menghentikan langkahnya dan mendengarkan percakapan mereka. Felisha mencerna percakapan mereka yang membicarakan aborsi,     ‘siapa yang hamil?’ pikir Felisha.     ‘kenapa ia hamil menangisnya ke Ferdian?’,     ‘kenapa Ferdian merasa bersalah?’,     ‘apa yang sebenarnya mereka bicarakan?’     Pikiran Felisha masih dipenuh banyak pertanyaan hingga plastik yang ia bawa terjatuh. Saat Ferdian mengatakan. “Kamu aborsi. Jangan sampai Felisha tahu!”      Felisha masih mematung ditempatnya. Ferdian melihat kearah jatuhnya plastik. Ia terkejut melihat ada Felisha disana, mematung. Mitha berhenti menangis, ia juga mendongak melihat arah jatuhnya plastik tersebut.     Ferdian segera menghampiri Felisha, Felisha mundur tiga langkah. “Jangen mendekat!” ucapnya kasar.     “Feli, please aku bisa jelasin ini semua” Ferdian maju selangkah.     Felisha mundur tiga langkah saat Ferdian mencoba menggapainya.     “Stop!” teriak Felisha marah. “Jelaskan saja apa yang aku tidak ketahui” tandasnya.     Felisha duduk di salah satu sofa bulat. Ferdian dan Mitha duduk bersebelahan di sofa panjang. Felisha duduk menyilangkan kaki di lututnya, tangannya bersedekap. Sesekali mengambil nafas panjang dan mengulum bibir menahan sesak di d**a. Mereka bertiga masih belum ada yang memulai. Felisha mulai kesal karena sudah menunggu lebih dari 15 menit.     “Ok, kalau belum bisa menjelaskan. Aku pulang!” tukasnya penuh emosi.     “Feli please…” Ferdian menghampiri bersimbuh di kaki Felisha yang masih duduk.     Ferdian menggenggam lutut Felisha dan menyandarkan keningnya.     “Apapun yang aku katakan. Please… tolong percayalah padaku” Ferdian memulai menjelaskan dengan nada bergetar. “Berjanjilah padaku untuk tetap bersamaku?”     Felisha diam, Ferdian menunggu jawaban dari Felisha. “Felisha, please, berjanjilah bahwa apapun yang terjadi. Kita bisa melawati ini semua, ya” tambahnya dengan air mata yang sudah jatuh dari pelupuk matanya.     Felisha menatap Ferdian dengan geram, ia juga mulai menangis. Ia mengambil nafas panjang dan menggelengkan kepala.     “Felisha, tolonglah. Kamu boleh marah padaku, memukul aku semau kamu, apapun itu akan ku lakukan agar kamu tidak meninggalkanku” suaranya parau.     “Please… Just tell me, what’s going on?” tangis Felisha pecah.     Ferdian menangis mencengkeram lutut Felisha. Ia menghela nafas panjang. “Mi... Mitha” Ucapnya terbata.     Felisha masih menunggu pernyataan Ferdian yang terputus. Ia mulai kesal karena Ferdian tidak kunjung melanjutkan pernyataan. “Oh ayolah!” Bentak Felisha. “Mitha kamu bisa jelasin ke saya apa maksudnya ini?” tambahnya penuh emosi.     Mitha masih menunduk menangis. “Mitha mengandung anakku” lanjut Ferdian mencengkeram kuat lutut Felisha dan tertunduk tak mampu menatap Felisha.     Hancur sudah hati Felisha mendengarnya. Tangisnya terhenti, emosi dalam dirinya meluap hinga ia mendorong Ferdian dengan keras, mengambil tas dan berlari menjauh dari mereka.     Sepanjang perjalanan pulang Felisha menangis hingga supir taksi yang ditumpanginya bingung harus bagaimana. Ia hanya mengantarkan ke apartment yang di infokan Felisha.     Felisha mengurungkan diri, ia mengambil cuti beberapa hari untuk menghindari Ferdian. Ia sudah muak dengan segala tentang Ferdian. Impiannya akan menikah dengan Ferdian hancurlah sudah.     Felisha tidak berhenti menangis dan memukul-muluk dadanya yang sesak. “It’s Ok, I’ll be fine” ia berusaha menguatkan dirinya sendiri. Sore itu Felisha masih cuti bekerja, ia mengurung diri di penthousenya dan hanya di temani Melani sewaktu malam tiba. Ia sedang duduk melamun di dalam sofa ruang tengahnya. TV tidak menyala, ia hanya diam menatap kosong kebawah.     “Felisha” suara laki-laki itu terus terngiang dalam telinganya. “Felishaa”.     Dan ya, benar. Laki-laki tersebut sudah di depannya. Felisha lupa belum mengganti keycard penthousenya.     “Hai Fer” sapanya parau saat melihat Ferdian sudah duduk bersimpuh.     "Are you Ok?” tangannya mencoba menggapai jari-jari Felisha.     “Perlu ku jawab?” Felisha menarik tanganya, menghindar.     “I love you” ucap Ferdian dengan mata sendunya dan mencengkeram kuat lutut Felisha.     Felisha semakin muak dengan kata-kata itu. Felisha menghela nafas dalam. “Bukankah sudah jelas?” tanyanya.     “Felisha please, tetaplah denganku. Apapun yang terjadi” Ucap Ferdian menenggelamkan wajahnya di lutut Felisha.     Felisha jengah, ia marah padanya. Tapi sayang ini masih ada untuknya. Ingin rasanya memeluk Ferdian dan mengatakan ‘ada aku disini, tenanglah. Kita hadapi bersama’. Tapi itu mustahil, Felisha tidak sebidadari itu. Ia juga punya perasaan.     “Untuk kali ini saja Fel, untuk kali ini saja. Tolong, tetaplah bersamaku. Aku yakin kita masih bisa perjuangkan ini semua Fel, aku mohon” air mata Ferdian sudah tidak bisa terbendung lagi. Ia menangis di lutut Felisha.     Felisha menghela nafas dan mengatur nafasnya menahan air matany. “Just, leave me alone” balas Felisha lembut dan air matanya lolos di pipinya. “Aku butuh waktu untuk berpikir. Tidak mudah memahami situasi ini.” Air matanya semakin menetes deras. Mereka berdua diam dalam tangis mereka.     “Maafkan aku sayang, aku memang benar-benar bodoh” ujar Dafi masih berlutut.     “Aku salah, aku yang harusnya menjaga kepercayaanmu. Aku memang laki-laki b******k” desahnya merasa sangat bersalah. Felisha hanya diam tidak menanggapinya. Ia berusaha tidak memperdulikan ucapan Ferdian.     “Aku janji Felisha. Ini kesalahanku pertama dan terakhir untukmu. Aku mohon. Jangan tinggalkan aku. Kita masih punya mimpi panjang sayang” ucapnya menangis. Felisha pun ikut meneteskan air mata. “Kita bisa sayang, aku janji tidak akan menghianatimu lagi. Tidak akan pernah” ucap Ferdian meyakinkan Felisha agar memaafkan kebodohannya.     "Felisha, katakanlah sesuatu. Kamu mau aku harus bagaimana sayang?" tambah Ferdian sesenggukan. "Kamu tahu, aku sangat. Sangat mencintai kamu Fel. Aku menghancurkan kepercayaanmu. Aku harus bagaimana lagi agar kamu kembali?"     Ferdian masih menangis dan Felishapun tak kuasa untuk tidak ikut hanyut dalam konflik yang menguras airmata dan hatinya itu. seakan lubang dihatinya itu menganga dan penuh dengan nanah.     Felisha menghapus air matanya, “Temui aku besok sabtu dengannya di Café biasanya.” Ujar Felisha sambil berdiri dan berlari ke kamar dan mengunci rapat pintunya meninggalkan Ferdian yang masih menangis disana. Felisha terduduk di belakang pintu. Menangis dan memukuli dadanya yang sesak hingga sulit bernafas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN