Felisha tengah mempersiapkan dirinya untuk menghadiri upacara pernikahan Ferdian dan Mitha. Ia sedikit kerepotan karena harus menutupi kissmark Dafi dengan foundationnya agar tidak terlihat oleh tamu-tamu di pernikahan Ferdian dan Mitha.
Felisha tidak terlalu pintar dalam ber make-up tapi cukup bisa memoles wajahnya untuk acara pernikahan. Ia memoles wajahnya dengan eyeshadow pink soft tipis, brown eyebrow dan lipstick pink glossy yang menawan. Tak lupa ia memakai bulu mata palsu dan blush on pink untuk mempercantik dirinya. Rambutnya di sanggul kecil di bawah dan di beri hiasan di tengah sanggul kecilnya. Ada beberapa hela rambut di sisi wajahnya yang menambah kecantikannya.
Dafi justru masih sibuk dengan pekerjaannya, saat ini ia sedang berbicara Bahasa Jepang dalam teleponnya. Entahlah, ternyata Dafi begitu mencintai pekerjaannya. Ia sangat terampil berbahasa asing. Dafi menguasai Bahasa Jepang, Perancis dan Mandarin, tentu saja Bahasa Inggris.
"Apa kamu selalu bekerja setiap saat?” tanya Felisha yang keluar dari Toilet dan berjalan ke arah Dafi yang dibalas dengan anggukan masih fokus pada I-padnya.
“Bisa minta tolong naikkan zippernya?” tanya Felisha lagi yang sudah berdiri depannya.
Dafi langsung berdiri dan menaikkan zipper Felisha.
“Beautiful” ucapnya sambil mengecup pundak kanan Felisha.
“Thanks” balas Felisha bersemu. “Apakah kamu tidak segera berganti baju? Sebentar lagi sudah mulai acaranya”
“Ok, wait a minute” jawabnya sambil berjalan ke toilet.
Tak lama setelah itu, Felisha dan Dafi sudah turun ke venue untuk menghadiri upacara pernikahan. Mereka bak pasangan yang sangat serasi dan memukau. Dafi menggunakan kemeja putih dan celana cream yang membuat ketampanannya meningkat sepuluh kali lipat. Felisha menggunakan shoulder off dress yang di belinya dengan Melani.
Felisha menggenggam erat lengan Dafi saat berjalan menuju venue. Bahkan Felisha sempat mengobrol sebentar dengan Owner WO yang mengatur pernikahan mereka, seharusnya. Owner WO sempat terkejut bahwa nama pengantin wanitanya berubah.
"Oh ya ampun Kak Felisha, senang bertemu anda disini" Sapa Dena selaku owner WO tersebut.
"Hai Bu Dena, senang bertemu kembali" Sapa ramah Felisha. "Bagus sekali dekorasinya, saya suka melihat hasilnya, tema masih tetap menggunakan konsep saya ya.. Hahaha" Tambah Felisha basa-basi.
"Iya Kak, Mitha tidak mau merubah konsepnya, karena ia juga menyukainya. Maaf, saya kemarin sempat terkejut saat undangan dan souvenir tiba-tiba minta di revisi untuk nama pengantin wanitanya. Saya sempat bingung dan menelpon anda waktu itu. Tetapi ternyata yaah… Memang harus di revisi"
"Hahaha… Iya Bu tidak apa-apa. Memang harus di revisi atau saya akan kabur di pernikahan nanti. Hahaha" Canda Felisha yang diikuti tawa Dena.
"Kamu terlihat sangat kuat kak. Saya salut melihat kakak begitu tangguh dan besar hati" Puji Dena.
"Wah, ibu terlalu berlebihan. Saya hanya mengikuti kata hati saya saja" Ujar Felisha sambil mengakhiri percakapan dengan Dena.
Felisha dan Dafi sudah duduk di bangku hias untuk tamu. Hatinya sedikit gugup, entah menagapa ia tiba-tiba teringat rasa sakit itu. ‘seharusnya aku yang berbahagia sekarang’. ‘seharusnya ini hari pernikahanku’. ‘Ya Tuhan, kuatkan aku’. Batinnya terus meronta meminta kekuatan.Ia berusaha kuat dan tidak menahan tangisnya. Felisha memejamkan mata dan mengadahkan wajahnya ke atas bibir bawahnya digigit dengan keras agar tidak menitikkan air mata.
“Are you Ok?” Tanya Dafi melihat Felisha yang sedikit gelisah.
Felisha mengambil nafas panjang dan dihembuskan sambil mengangguk. Dadanya serasa sesak dan sangat menyakitkan. Nafasnya memburu menahan tangisnya. Matanya serasa sudah penuh. Sesekali ia mengerjapkan matanya menghilangkan air mata yang sudah penuh di pelupuk matanya. Ia remas clutch yang dibawanya untuk menutupi gejolak didadanya.
"It's Ok, ada aku disini" Ucap Dafi sambil menyematkan jari mereka. Dafi mendekatkan tubuhnya. Felisha cukup senang dan nyaman ada Dafi di sisinya, setidaknya ia tidak terlalu sedih saat menyaksikan upacara yang akan berlangsung.
Felisha mengangguk lagi, "Yes, I'll be fine" dengan senyum merekah. "Thanks Daf".
Dafi menarik tangan Felisha untuk mencium punggung tangannya. "Always for you Fel, Always for you".
Acarapun dimulai, Ferdian sudah berjalan menuju pelaminan. Felisha sebisa mungkin tidak bertemu pandang dengannya, Felisha hanya menunduk. Laki-laki itu sudah sampai pelaminan, Felisha sudah berusaha untuk tidak menatapnya karena ia tahu Ferdian sedang menatapnya juga. Tapi gagal, Felisha bertemu pandang dengannya. Mereka bertatap cukup lama. Seolah mereka sedang berbicara melalui mata mereka. Sorot mata itu seperti memohon untuk kembali lagi dengannya.
"Hey…" Dafi menyadarkan Felisha dengan membelai pipinya lembut.
Felisha mengerjap, "Ya, I'm fine" Ucapnya menguatkan.
Dafi mendekatkan wajahnya dan mencium pelipis Felisha lembut. "Ingatlah, aku akan selalu ada untukmu".
Felisha mengangguk pelan mengeratkan jemari mereka dan menatap Dafi dengan senyuman indahnya. Felisha membalas kecupan di pipi Dafi untuk mengalihkan. "Terima Kasih Daf".
Dafi sangat senang dan salah tingkah dikecup Felisha di depan umum. Tidak bisa ia tutupi dari raut muka yang berbinar. "Bolehkan aku menciummu sekarang?"
"Hey, mereka yang menikah tapi kenapa kita yang berciuman?" Gurau Felisha.
Mereka berdua tertawa kecil. Ferdian semakin panas melihat kemesraan Felisha dan Dafi. Air mukanya terlihat sangat kesal dan marah.
Upacara pernikahan Ferdian dan Mitha berjalan dengan lancar dan khidmat. Mereka sekarang sudah sah menjadi suami istri.
"Selepas bersalaman kita langsung pergi ya" Ucap Dafi saat mereka sedang menikmati minuman yang di sediakan.
"Ok, aku juga harus packing karena fligh aku jam 7 malam"
"Aku sudah re-schedule flight kamu menjadi jam 23.30"
"Sorry, Pardon?" Felisha kebingungan.
"Iya, tadi aku sudah re-schedule fligh kamu ke bussiness class sama kayak aku, jam 23.30, jadi aku bisa mengajakmu dinner malam ini" Jelas Dafi.
"How did you know my booking flight number?" Felisha masih heran.
"I saw at your phone, sorry"
"Kamu membuka ponselku?"
"Yes, is it ok?"
"Ya, boleh-boleh saja kamu membuka ponselku. But at least with my permission" jawab Felisha dengan kesal.
"Ok, aku minta maaf ya sayang" Ucap Dafi sambil mencium punggung tangan Felisha.
Felisha hanya mengangguk tapi masih cemberut kesal. “Kapan kamu membuka ponselku?” tanyanya penasaran.
“Tadi, sewaktu kamu make up. Sorry for that” Jawab Dafi dan tidak di jawab Felisha.
"Kalau kamu masih cemberut gini, aku akan cium kamu disini" tambah Dafi sambil memegang dagu Felisha yang mukanya sudah bad mood.
"Aku serius Dafi" masih dengan cemberut.
"Aku minta maaf, aku akan lebih hati-hati lagi" Ujar Dafi menatap lekat mata Felisha dan masih berusaha membuat suasana hati Felisha membaik. "Ok, Felisha, kalau kamu masih cemberut kayak gini, aku cium kamu sekarang" Tambahnya.
"Kenapa sih harus…” Cup. Dafi menghentikan ucapan Felisha memberikan sebuah kecupan singkat di bibirnya.
“Dafi, aku sedang berbicara serius” Cup. Dafi memberikan sebuah kecupan singkat di bibirnya lagi. Dan pipi Felisha menjadi blushing tetapi masih kesal.
“Aku minta maaf sayang. Jangan bertengkar karena hal kecil seperti ini” ucap Dafi lembut sambil menggenggam tangan Felisha erat. “Kamu boleh saja membuka ponselku kapanpun kamu mau, meskipun tanpa permission. Aku akan berusaha selalu terbuka untukmu sayang”.
Felisha mengangguk mengerti, “Baru saja satu hari kita bersama, kamu sudah ingin mengajakku bertengkar”
Dafi terkekeh, “Ayo kita segera bersalaman dan aku akan mengajakmu ke suatu tempat”.
Mereka mengucapkan selamat kepada kedua mempelai dan kedua orang tua Ferdian. Ibu Ferdian memeluk erat Felisha dan Felisha mengenalkan Dafi sebagai kekasihnya. Saat ini Felisha tidak canggung untuk mengakui Dafi adalah kekasihnya. Felisha tidak menyalami Ferdian, ia hanya tersenyum dan menundukkan kepalanya saja. Lalu ia langsung menghamburkan pelukan ke Mitha.
“Selamat. Berbahagialah” ucap Felisha dalam pelukan itu. Tak terasa air matanya menetes tak tertahankan.
Mata Ferdian menangis kembali, rasanya ia ingin memeluk Felisha saat ini juga. Bagaimanapun ia sangat mencintai wanita hebat itu. Ia sangat bodoh sekali melepaskan Felisha begitu saja. Ibu Ferdianpun masih menangis melihat Felisha dan Mitha saling berpelukan.
Mitha mengelus punggung Felisha, “Maafkan aku, maafkan aku”
Felisha meregangkan pelukannya, dan menggelangkan kepalanya. “Jangan meminta maaf terus. Berbahagialah. Aku sudah ikhlas.” Ucapnya sekali lagi dan menghapus air matanya. Mitha hanya mengangguk dan menggenggam tangan Felisha dengan kuat.
Ferdian menarik tangan Felisha, ingin sekali merengkuh wanitanya itu. Dengan cepat Dafi menepis tangan itu dan menghalangi Ferdian. ia lalu melingkarkan tangannya ke pinggul Felisha dan mendorong pelan Felisha untuk menjauh dan turun dari pelaminan.
Felisha menurut, lalu ia turun dari pelaminan itu dan menangis di pelukan Dafi. Lagi. Rasanya masih belum cukup menahan sakit ini, meskipun pria tampan dipelukannya dengan setia menemani malam terberatnya.
“Ini malam terakhir kamu menangis Felisha. Aku tidak akan membiarkanmu menangis lagi” ucap Dafi mengecup kepala Felisha.
Felisha mengangguk dan meregangkan pelukannya. Ia menghapus air matanya dan menghela nafas panjang. “Ini malam terakhir aku menangis. Aku janji”
Dafi tersenyum senang, lalu ia mengecupkan bibirnya di kening Felisha. “Thanks Daf, aku bersyukur memilikimu.”
“Selamanya untukmu sayang. Jangan menangis lagi. Ayo kita segera pergi” ucap Dafi lalu menggiring Felisha untuk keluar dari venue pernikahan Ferdian dan Mitha.
Dafi segera mengajak Felisha untuk makan malam romantis di salah satu restoran ternama di Ubud, Bali. Felisha sangat terpukau dengan konsep makan malam romantis yang menyatu dengan alam, ia bisa merasakan sensasi makan malam di tengah sebuah kebun. Dan dihiasi lilin-lilin yang memancarkan cahaya keemasan pada anak tangga dan sekeliling area meja makannya.
Felisha tertegun melihat indahnya malam itu, ia sampai tidak bisa berkata apa-apa. Dafi membimbing Felisha ke arah meja makannya. Felisha mengeratkan tangannya di lengan Dafi. Air mukanya terlihat sangat bahagia membuat Dafi tersenyum bahagia.
“Kamu suka?” tanya Dafi.
Felisha mengangguk mantap dan tidak menjawab. Dafi mencium pelipis Felisha dan mempersilahkan duduk.
Dafi dan Felisha duduk berhadapan. Tangan Felisha menggapai jemari Dafi. “Thank you very much” ucapnya pelan dengan matanya yang penuh terima kasih. Tetapi ia masih bingung apakah mereka bisa bermesraan seperti ini setelah kembali dari Bali.
“Aku hanya ingin bersamamu lebih lama Felisha” ucap Dafi lembut. “Aku hanya takut kamu menjauh dariku lagi”.
Felisha menggeleng, “No, Dafi. Aku milikmu sekarang” jawabnya dengan senyum manisnya. “Aku akan berusaha yang terbaik untukmu, meskipun aku belum bisa membalas rasa cintamu”. Senyum Dafi merekah.
“Ini sudah lebih cukup sayang, thank you” Ia mencium punggung tangan Felisha dengan lembut. Hati Felisha berdesir saat tangannya di kecup penuh.