Pagi itu Felisha terbangun dalam dekapan Dafi. Setelah menghabiskan makan malam romatis dengan bercerita yang tiada hentinya dengan Dafi. Mereka pulang ke Jakarta dengan selamat, Dafi tetap kekeuh untuk mengajak Felisha menginap di apartmentnya.
Felisha menurut, karena ia sudah lelah jika harus bertukar pendapat. Felisha menuturi keinginan Dafi. Felisha beranjak pelan dari dekapan Dafi yang masih tidur dan bergegas ke kamar mandi.
Ia keluar kamar mandi dengan bathrobe dan handuk di kepalanya. Ia pergi ke dapur dan menyiapkan kopi dan membuka kulkas Dafi mencari sesuatu untuk sarapan. Hanya ada roti gandum, tomat, telor dan daging ham dan apel. Akhirnya ia membuat sandwich dengan telur dan daging ham. Lalu ia membangunkan Dafi yang masih belum juga beranjak dari kasurnya.
“Hey, Bangun Mr. Dafi” ucap Felisha sambil mengelus hangat lengan Dafi.
Dafi hanya mengeliat dalam selimutnya. “Sudah jam 7, kita harus bersiap untuk berangkat kerja Boss” tambah Felisha sambil mengecup pipi Dafi.
Dafi tersenyum bahagia, “Sepertinya aku ingin segera menikahimu, jika setiap pagi aku mendapat kecupan darimu sayang”.
“That’s too fast Dafi. Kita masih harus saling mengenal satu sama lain, Oke!” jawab Felisha dengan penekanan di akhir kalimatnya. “Cepatlah mandi, dan aku sudah siapkan sarapan kita”.
Dafi berdiri dan memeluk Felisha dalam. “I Love you” ucapnya dalam pelukan.
“It’s too fast also Mr. Dafi” jawab Felisha dalam pelukannya. “Jangan terburu-buru. Kita jalani saja dulu. Kita sudah sepakat bukan?”
Dafi mengangguk tanda mengerti, lalu ia mengecup bibir Felisha dan mengulumnya sebentar lalu ia mengecup kening Felisha lama dan berpelukan lagi. “Morning s*x?” goda Dafi.
“No! Kita sudah terlambat!” sergah Felisha dan mendorong Dafi.
“Sebentar saja sayang” goda Dafi dan Felisha berlari meninggalkan Dafi mencoba kabur.
Menitpun bergulir, sekarang mereka berdua telah sampai di basement gedung perkantorannya. Setelah sarapan bersama dan menghabiskan kopi pagi dengan saling bercerita. Felisha sedikit gelisah dan mencoba mengatur nafasnya mengendalikan kegugupannya selama perjalanan ke kantor.
“Sayang, tidak perlu takut seperti itu” ucap Dafi tertawa kecil melihat kegugupan Felisha.
“Takuuut” jawab Felisha mengerutkan kening dan dagunya.
Dafi melepaskan sabuk pengamannya dan menarik Felisha ke pelukannya. Di peluknya Felisha dan di kecup ubun-ubunnya. Felisha melepas pelukan Dafi.
Felisha mengambil nafas panjang, “Ok, aku harus menahan diri untuk tidak manja di depanmu bos” gurau Felisha.
“Hahaha… sepertinya aku yang tidak bisa menahan diri untuk menciumi mu terus” ujar Dafi sambil mencium pipi Felisha. “Ayo Turun”.
Mereka berdua berjalan menuju lift, “Hari ini aku akan sibuk sayang, nanti aku harus ke Cikarang untuk meeting dengan Mr. Nakahara di pabrik sana” ujar Dafi.
Felisha segera mencubit pinggang Dafi, “Jangan panggil sayang, please!”
Dafi terkekeh, “Sorry, semoga aku tidak lupa” jawabnya cengegesan. Felisha hanya mendengus sebagai tanggapannya.
Dafi dan Felisha sudah berada di kantor, Felisha langsung menyalakan PC dan monitornya. Felisha masih belum melihat Melani masuk kantor. Ia lalu menelpon Melani untuk menanyakan kabar dan kapan bisa keluar dari rumah sakit.
Lalu Felisha pergi ke pantry untuk mengambil air mineral. Disana ada Veronica dan Renata yang sedang mengobrol pagi dan meminum kopi.
“Hai, good morning” sapa Felisha pada kedua teman kantornya.
“Hai Felisha” sapa mereka berdua dengan ramah.
“Hari ini Melani sudah mulai pulang, aku akan membantu untuk menjemputnya” basa-basi Felisha.
“Oh ya? Syukurlah kalau sudah boleh pulang” jawab Vero.
“Ok, nanti aku akan membantumu menjemput Melani Fel” jawab Renata.
“Ok, tetapi aku akan mengantarkannya ke Bekasi. Kamu mau menemaniku juga?”
“Ya, tentu saja. Tidak masalah” jawab Renata dengan memperhatikan Felisha dengan lekat. “Ehm.. Fel?”
“Iya Ren?” tanya Felisha yang masih mengisi botol mineralnya.
Renata berpikir sejenak, “Kenapa leher kamu memerah? Apa kamu sakit?” tanyanya heran.
Felisha terkesiap “Oh… ini” refleks tangannya menutupi lehernya. “Aku alergi seafood” jawabnya berbohong menutupi kegelisahan.
“Oh… sudah minum obat?” tanya Renata khawatir.
“Iya, sudah tadi pagi, by the way thanks” jawab Felisha terbata.
“Veronica!” Suara Dafi menginterupsi obrolan pagi mereka. Felisha merasa di selamatkan lagi oleh Dafi. Dafi memanggil Veronica, Veronica adalah supervisor sales. Mereka bertiga segera beranjak keluar pantry dan kembali ke meja masing-masing kecuali Vero yang masuk kedalam ruangan Dafi.
Haripun sudah sore, Dafi dan Felisha tidak menunjukkan kecurigaan dikantornya dan hanya berbicara seputar pekerjaan. Karena Dafi juga sibuk dan harus ke Cikarang untuk meeting dengan Mr. Nakahara di pabriknya. Dafi memiliki 2 pabrik besar di Cikarang dan Tangerang, pabrik tersebut bergerak di bidang automotive. Dan kantor utama terletak di Jakarta, dimana ia berkerja dan Felisha bekerja. Kantor utama di Jakarta hanya terdapat staff-staff inti dan hanya ada sekitar 30 karyawan saja.
Felisha dan Renata baru saja mengantar pulang Melani dan ibunya pulang kerumah. Melani sudah tampak sehat dan tidak pucat lagi. Tetepi ia masih membutuhkan istirahat setidaknya 3 hari lagi. Felisha dan Renata tengah makan malam di pinggir jalan selepas dari rumah Melani. Mereka berdua sedang asyik bertukar cerita, tiba-tiba ponsel Felisha berdering.
“Halo… Hai” nada girang Felisha tidak sabar berbicara dengan kekasihnya.
“Halo Sayang, kamu sedang apa?” sapa Dafi sari benda pipih itu.
“Aku sedang makan malam”
“Oh… aku sudah on the way pulang sayang, kamu pulang ke apartmentku bukan?”
“Yah, maaf. Sepertinya aku langsung pulang ke apartmentku. Aku sudah sangat lelah” jawab Felisha jujur.
“Baiklah sayang, aku akan menjemputmu besok pagi”
“Ok, hati-hati ya” jawab Felisha sambil menutup teleponnya.
Renata penasaran melihat dan memperhatikan Felisha yang sejak tadi senyum-senyum seperti sedang kasmaran.
“Waw, kamu sudah punya pacar?” tanya Renata.
Felisha hanya menganggukkan kepala dan tersenyum sumringah.
“Wow, cepat sekali kamu move-on nya” ejek Renata.
"Entahlah, tapi aku harus cepat move on kan?"
“Jadi itu di leher bekas jejak cumbuannya? bukan alergi?” Ejek Renata lagi yang berhasil membuat Felisha salah tingkah.
Felisha terkesiap dan menggigit bibir bawahnya, sekita Renata tertawa melihat perubahan ekspresi Felisha yang seperti tertangkap basah.
"Hahaha… Felishaaa.. Kamu lucu sekali” tukas Renata sambil tertawa.
Saat itu juga ponsel Felisha menyala di meja dan muncul notifikasi ada pesan w******p masuk dari ‘Pak Dafi: Aku akan mampir sebentar ke apartmentmu sayang’. Ting. ‘sebentar saja, hanya ingin memelukmu’.
Renata langsung melotot melihat notifikasi Bosnya di ponsel Felisha dengan panggilan ‘sayang’. Matanya hampir copot melihat pesan tersebut. Felisha segera membalik ponselnya dan tersenyum masam kepada Renata.
“Ehm… Ren, sorry nih.. Ehmm” mulai Felisha karena panik.
“Serius kamu sama si bos pacaran?” Renata tidak percaya.
Felisha hanya tersenyum masam dan mengangguk kepalanya pelan. “Apaaa?” teriak Renata sampai terdengar orang lain.
"Ayo aku ceritain semuanya di mobil, oke” Felisha menarik Renata keluar tempat makan dan menuju mobilnya.
Felisha mengambil kemudi mengendarai mobil Renata, “Ok Ren, aku bakal jujur semua yang sudah aku lalui sekarang, Ok. Iya, benar aku dan Pak Dafi sedang menjalin cinta….” dan mulai menjelaskan hubungannya dengan Dafi. Mulai dari Dafi mencoba mendekatinya dari dulu hingga ia menyusul Felisha ke Bali dan berujung pada hubungan yang lebih serius. “Jadi Please Ren, kamu bisa kan pura-pura tidak tahu hubungan kita? Aku hanya tidak enak dengan teman kerja yang lainnya. Apalagi aku ini masih baru, masih 3 bulan kerja. Jadi tolong ya Ren, tolong banget”
Renata memahami dan mengerti situasi yang dimaksudkan oleh Felisha, ia juga akan membantu untuk tetap tutup mulut untuk hubungan mereka. Ia akan sebisa mungkin tidak membocorkan rahasia Felisha dan Bosnya.
Felisha pun telah samapi di lobby apartmentnya, “Ok Ren, terima kasih banyak kamu sudah membantuku hari ini dan please, janji ya jangan bilang siapa-siapa tentang hubunganku dengan si bos, karena yang tahu detail hubunganku cuma kamu dan Melani. Ok”.
“Ok, aku mengerti. Tapi kalau seumpama ada yang tahu, aku pastikan itu bukan dari aku, Okey?” balas Renata.
“Ok, kalau orang lain tahu, itu mesti kesalahan dari kita berdua. Ok”
Keduanya mengangguk sepakat, “Baiklah Renata, aku turun dulu ya, terima kasih banyak” pamitnya sambil cipika-cipiki dengan Renata.