Felisha masuk kedalam gedung apartmentnya dan ternyata Dafi sudah menunggu di dalam gedung. Felisha langsung berlari kecil ke arah Dafi yang membuka tangannya. Mereka berpelukan seperti sudah lama tidak bertemu padahal baru siang tadi mereka bertemu.
Dafi memeluk dalam Felisha, dan Felisha memeluk erat pinggang Dafi. “I miss you” ucap Dafi sambil mengusap rambut Felisha.
Felisha mengurai pelukannya, dan melihat Dafi sedikit lesu. “Are you Okay?”
“Ya… Hanya sedikit masalah di pabrik tadi”
“Sudah makan?” tanya Felisha perhatian.
“Belum, aku tidak sempat makan. Aku tidak lapar ketika sedang berpikir keras”
“Baiklah, aku akan memasak untukmu” ujar Felisha sumringah sambil bergelayut manja di lengannya yang membuat Dafi senyum dan merasa lelahnya hilang seketika.
Sesampai di penthousenya, Felisha segera mencuci tangan dan mulai memasak di dapur kecilnya. Dafi memilih untuk mandi agar menghilangkan penat dan lelahny. Ia memakai handuk Felisha yang ada di kamar mandi dan keluar hanya dengan boxer. Dan handuk menggantung di lehernya. Ia menghampiri Felisha yang tengah sibuk menunggu masakannya sambil bermain ponselnya.
“Hmm… kamu memasak apa? Baunya enak” ucap Dafi menghampiri Felisha.
“Aku membuatkan mu zuppa soup agar kamu bisa lebih rileks” jawab Felisha dengan senyum merekahnya. “kamu mau teh hangat?”
Dafi mengangguk, “Aku tidak menyangka kamu bisa memasak” guraunya.
“Hei, aku ahli memasak. Ibuku punya catering dan aku sering membantunya”
“Wah, aku semakin tertarik denganmu Felisha” ujarnya dan memeluk Felisha dari belakang lalu menyerukkan ke leher jenjang Felisha yang rambutnya dikucir berantakan.
“Aku belum mandi Dafi, masih bau asem” kesal Felisha yang di gelayutin Dafi. Dafi hanya tersenyum dan melepas pelukannya lalu duduk di barstool di kitchen island Felisha.
Tak lama kemudian Felisha telah siap menghidangkan makan malan untuk Dafi.
“Tada, ini teh hangat dan zuppa soup untuk Bosku yang tampan” ujar Felisha saat menyajikan makannya ke Dafi sambil mencium pipi Dafi.
Dafi tersenyum dan mengamati pipi Felisha yang merona karena senang. “Hmmm… enaak” kata Dafi saat mencicipi zuppa soup buatan Felisha.
“Baiklah bos, aku akan mandi dulu dan kamu sebaiknya memakai kaos kamu yang ku pakai dulu” pamit Felisha meninggalkan Dafi yang tengah makan malam.
Felisha sudah selesai mandi dan melihat Dafi sedang menonton netflix di sofa. Felisha segera menghampiri Dafi dan duduk disebelahnya. Felisha merapatkan badannya untuk memeluk Dafi dari samping dan mengendus aroma tubuh Dafi.
“Kamu tidak pulang?” Tanya Felisha.
“Kamu mengusirku?” Sanggah Dafi.
Felisha terkekeh, “Tidak, maksud aku. Tadi kamu capek dan kamu perlu istirahat dirumah”
“Kamu adalah rumahku Felisha, melihatmu saja sudah hilang semua penatku” ucapnya sambil mengelus pipi Felisha.
“Huft, apa kamu selalu menggoda setiap wanita seperti ini?” dengus Felisha.
“Hahahaha… Bahkan aku hanya berani menggodamu saja sayang” jawabnya sambil mencium ubun-ubun Felisha.
“Huft, terserah deh” dengus Felisha masih fokus pada film yang ditontonnya.
“Kenapa kamu sering marah-marah tidak jelas?” ucap dafi mencondongkan wajahnya. “Aku gemas melihatmu cemberut gini”.
Felisha menoleh dan memandang jauh ke mata Dafi yang menatapnya. Tatapan mereka beradu dan saling menatap lama. Felisha mengalihkan pandangannya tetapi Dafi menahan wajahnya dan saat itu Dafi mulai mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Felisha. Ciumanan itu hanya sekilas dan mengulum singkat. Dafi melepas ciuman Felisha dan hidungnya masih menyatu. Nafas mereka menderu satu sama lain.
Bibir mereka bertautan lagi, mereka berciuman lebih intens hingga Dafi menarik Felisha kepangkuannya. Tangan Felisha berada di tengkuk Dafi sambil meremas kecil rambutnya dan tangan Dafi menggerakkan pinggul Felisha maju mundur menggesek kelamin mereka yang masih menggunakan pakaian.
Dafi semakin ganas mencumbu Felisha di lehernya dan tangannya sudah bergerilya di buah d**a Felisha. Dafi menarik kaos Felisha dan membuangnya asal, ia tanpa menunggu langsung mencumbu p******a Felisha sambil melepas branya. Sementara Felisha mendesah sambil terus menggerakkan pinggulnya dan meremas rambut Dafi.
“Ahhh… Daf… sss” lenguh Felisha geli menikmati kuluman bibir Dafi pada payudaranya. Felisha tidak ingin kalah, ia segera turun dari pangkuan Dafi dan segera menurunkan paksa celana Dafi. Dafi kebingungan melihat Felisha begitu agresif, karena biasanya Felisha hanya mengikuti permainan Dafi.
“Ahh,, Felishaaaaa.. s**t!” lenguh Dafi saat Felisha mengulum kenjantannya. Dafi melenguh menutup mulutnya, tak tahan melihat wanita yang dipujanya sedang menjilati kejantannya yang sudah sangat menegang. Felisha dengan gencar menjilati dan meremas pelan buah zakarnya. Dafi melenguh kenikmatan dan mendesah tanpa henti dan menjambak rambut Felisha. Jakunnya naik turun menikmati kuluman Felisha hingga Felisha tidak bisa menahan dirinya untuk segera menyatukan tubuh mereka.
Felisha menarik mulutnya dari kejantanan Dafi dan menurunkan celana rumahnya serta dalamannya. Dafi melepas kaos dan Felisha tanpa ragu naik ke pangkuan Dafi, dan di tuntunnya kejantanan Dafi ke inti kenikmatannya. "Aaaaaahhh” lenguh mereka bersamaan.
Felisha menggerakkan pelan pinggulnya sambil mencumbu leher Dafi dan memberikan kissmark di dekat tulang selangkanya. Ia terus menggerakkan pinggulnya pelan hingga semakin lama semakin cepat sampai pada titik kepuasannya. “Dafi, aaah...” lenguhnya tak terkontrol.
“Huuuh, sayaaang... aaahh” lenguh Dafi juga tak bisa di elakkan. Dan kewanitaan Felisha-pun semakin mengerat tanda ia segera mendapatkan titiknya. Felisha semakin gencar menggerakkan pinggulnya hingga ia mendapatkan titik kenikmatannya. “aaaaaaahhhh… sss” lenguh mereka bersamaan mendapatkan titik kenikmatan bersamaan.
Felisha meringkuk di pelukan Dafi dengan tubuh yang masih menyatu. Nafas mereka masih terengah-engah. Dafi menciumi wajah Felisha dan memeluk erat wanitanya. Ia sangat terpuaskan oleh kenakalan Felisha yang terlewat panas.
“Kenapa kamu sangat nakal malam ini?” tanya Dafi saat naaf mereka sudah mulai teratur.
Felisha mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan wajahnya ke leher Dafi. “Entahlah, aku juga bingung. Kenapa aku begitu bergairah.”
“Kamu membuatku semakin gila Felisha…” ujar Dafi kesal dan memejamkan matanya.
Felisha menegakkan kepalanya dan mengamati Dafi. Mata mereka bertetapan tanpa mengatakan sepatah katapun. “Dafi... Apa kamu benar-benar mencintai aku?” tanya Felisha memastikan.
“Of course sayang, I love you” ucapnya penuh kehangatan dan matanya ikut berbicara.
Felisha menatap lekat mata Dafi, “Apa kamu mencintaiku karena s*x?” tanyanya ragu.
“Aku mencintai kamu apa adanya kamu, meskipun tanpa s*x pun, aku akan tetap mencintai kamu sayang” jelas Dafi meyakinkan Felisha.
Felisha masih menatap lekat mencari kebohongan di matanya, ia hanya takut jika akhirnya jatuh lagi. Ia mengamati lagi mata Dafi mencari kebenaran, dan memang mata itu tidak mengindikasikan kebohongan. Ia kesal, dan mengehela nafas panjang serta menutup mata.
“Aku tidak tahu Dafi, aku bingung” ucap Felisha ingin memulai menjelaskan. “sepertinya aku sudah jatuh cinta sama kamu Dafi, tapi…” Felisha menahan.
“Tapi?” Dafi ingin Felisha meneruskan.
“Tapi aku masih trauma dengan percintaan, you know” Felisha menghela nafas pelan. “tapi aku tidak bisa menahan diriku kalau sudah kamu sentuh” jelas Felisha.
Kedua telapak tangan Dafi diletakkan ke sisi-sisi wajah Felisha. Ibu jarinya mengelus lembut pipi Felisha. Ia menatap lekat mata Felisha dengan hatinya.
“Felisha... aku tidak menuntutmu untuk terlalu cepat membalas cintaku. Aku tahu kamu membutuhkan waktu untuk itu. Tidak mudah bagimu untuk membuka hatimu dengan cepat. Dan aku akan terus berusaha sebisa mungkin untuk membuktikan ke kamu, bahwa kamu adalah satu-satunya wanita yang akan selalu aku pilih hingga nanti”.
Felisha mengangguk pelan tanda mengerti. Lalu ia kembali memeluk Dafi dengan erat dan Dafi mengelus rambut dan punggungnya. “Maafkan aku Daf, dan terima kasih” ucapnya membalas kata-kata Dafi yang menyentuh hatinya.
“Take your time sayang, aku selalu menunggumu”.
Felisha mencium pipi Dafi dan mengecup lehernya sebentar tetapi yang dibawah sana sudah ada yang akan bangun.
“Again?” Tanya Felisha bingung.
Dafi terkekeh, “Dicium kamu gitu saja aku sudah tidak tahan sayang, maafkan aku” ucap Dafi lalu menarik tengkuk Felisha dan mencium bibirnya dengan ganas.
Dafi menggendong Felisha menuju kamarnya dengan ciuman mereka yang semakin mendalam dan meneruskan malam panas bersama di kamar Felisha yang penuh dengan desahan nikmat keduanya, yang tidak henti hingga tertidur pulas tanpa busana.
***