Tidak Sengaja

991 Kata
    Hubungan Felisha dan Dafi terjalin dengan baik. Tak terasa mereka sudah delapan bulan menjalin cinta bersama. Terkadang mereka bak anak remaja yang rindu karena Felisha harus pulang ke Jogja atau Dafi yang sibuk dengan pekerjaannya hingga tidak bisa menemui Felisha.     Kalau sudah begitu, biasanya Dafi selalu menghampiri Felisha di akhir pekan dan menghabiskan waktu mereka, melepaskan rindu satu sama lain di penthouse kecil Felisha. Jika Dafi sedang di penthousenya, Felisha akan memasak makanan kesukaan Dafi dan memakannya sambil bercerita. Atau Felisha akan menginap di penthouse mewah Dafi di akhir minggu dan menghabiskan waktu disana.     Saat ini mereka sedang di salah satu mall untuk menonton film yang sedang naik daun. Felisha dan Dafi sedang makan malam sambil menunggu jam tayang film setelah membeli tiket midnight. Mereka berdua menikmati makan malam mereka dengan bercanda dan penuh dengan kebahagiaan.     “Kak Dafi?” ucap seseorang yang tak jauh dari mereka berdua.     Seketika Dafi dan Felisha menoleh ke arah datangnya suara. Devina, adik perempuan Dafi yang pernah ia kenalkan ke Felisha dengan seorang wanita yang bergaya sosialita. Mungkin Ibunya, karena Felisha belum dikenalkan pada kedua orangtuanya.     “Hai, Vin, Mah” sapa Dafi sumringah sambil berdiri diikuti Felisha juga berdiri saat Davina dan Ibu Dafi mendekat ke meja mereka.     Felisha tersenyum manis sambil menundukkan kepalanya sedikit memberikan hormat kepada Ibu Dafi yang melihatnya dengan air muka sedikit tidak senang.     “Hai Kak Felisha, kita ketemu lagi” sapa Davina sambil cipika-cipiki dengan Felisha.     “Ya, senang bertemu denganmu lagi Davina” sapa balik Felisha dengan senyum menawan.     “Ehm, mah.. Ini Felisha, pacar aku” ujar Dafi memperkenalkan Felisha ke Ibunya.     “Felisha, Tante” sapa Felisha sambil menjuluskan tangan untuk bersalaman.     Ibunya menyalami Felisha dan di balas Felisha dengan mencium tangan ibunya untuk rasa hormat Felisha.     Air muka ibunya masih menunjukkan rasa tidak suka padanya. Entahlah, mungkin hanya perasaan Felisha.     “Ok, mari kita makan bersama. Sekalian ada mama dan Davina, kan?” Ajak Dafi membuyarkan keheningan.     Felisha terlihat banyak diam dan hanya sesekali berbicara jika ditanya. Ia terlihat canggung dengan Ibu Dafi.     “Jadi kamu sudah lama tidak pulang karena wanita ini, Daf?” tanya Ibunya sarkas.     “No, Mom. Aku sangat sibuk beberapa bulan ini” jawab Dafi membela Felisha.     “Sampai kamu lupa Mama kamu sendiri?” Ibu Dafi masih mendesak.     “Kan Dafi masih terus w******p mama dan memang rencana minggu depan baru pulang” berusaha tidak membuat Ibunya marah.     “Kamu punya waktu dengan pacarmu, tapi tidak punya waktu untuk pulang kerumah” tandas Ibunya lagi. “Ayo Vin, kita pulang saja. Mama tidak senang berada disini” tambah ibunya sambil berdiri meninggalkan mereka.     Felisha, Dafi dan Davina hanya saling bertatapan mata, kebingungan. Lalu, Davina segera menyusul ibunya yang terlebih dulu meninggalkan mereka.     Dafi terlihat gusar dan menghela nafas kasar. Felisha hanya diam dan saling berpandangan.     “Daf… Sepertinya kamu harus pulang malam ini. Aku merasa tidak enak dengan Mama kamu.” Felisha mulai memberikan nasihat. “Mungkin mama kamu sedang rindu dengan anak laki-laki yang disayangnya. Pulanglah, aku tidak apa-apa. Justru aku sedih kalau Mama kamu merasa kamu selalu memprioritaskan aku”     “Aku memang memprioritaskan kamu sayang” ujar Dafi.     “Tapi aku merasa sangat jahat, seperti membuat hubungan anak dan ibunya menjadi renggang. Kamu pulang ya, aku bisa pulang sendiri”.     “No, aku antar kamu dulu baru aku pulang”.     “Baiklah” jawab Felisha     Felisha dan Dafi sedang dalam perjalanan pulang ke apartment Felisha. Mereka tidak melanjutkan kencan mereka dengan menonton film di bioskop. Sejak pertemuannya dengan Ibu Dafi, Felisha banyak berdiam diri.     “Kamu tidak apa-apa?” tanya Dafi menyadari Felisha yang melamun. Ia menyematkan jarinya dan menyatukan jari mereka.     Felisha mengangguk pelan dan tersenyum. “Ya, I’m fine” jawabnya saat Dafi mencium pungung tangan Felisha.     “Maaf, karena aku belum sempat mengenalkan kamu ke orang tuaku” sesal Dafi. Padahal Felisha sudah mengenalkan Dafi saat ia pulang ke Jogja bersama pada perayaan akhir Tahun.     “It’s Ok Daf. Kita juga baru berpacaran delapan bulan. Tidak perlu terburu-buru” bohong Felisha menutupi kekecewaannya.     “Kenapa kamu selalu baik?”     “Hah? Maksudnya?”     “Kamu tidak marah dengan Mamaku atas kejadian tadi?”     Felisha terdiam sebentar. Ia memang merasa Ibu Dafi tidak menyukainya. “Aku tidak marah. Tetapi sepertinya Mama kamu tidak menyukaiku” jujur Felisha.     Dafi menggeleng, “Mama aku memang seperti itu. Ia hanya memandang seseorang dari hartanya. Dan aku tidak suka itu”.     Felisha terkejut dengan perkataan Dafi. Ia berpikir keras, karena ia memang tidak memiliki harta banyak seperti Dafi yang sudah kaya raya sejak lahir. Felisha hanya dari keluarga biasa, ibunya memiliki catering kecil dan ayahnya hanya pegawai sipil biasa. Sangat timpang dengan status sosial dengan Dafi. Oleh karena itu Felisha merantau ke kota untuk membahagiakan orang tuanya. Tetapi ia terjebak dalam cinta bossnya.       "Tapi aku takut Daf"     "Kamu jangan takut, aku akan membicarakan dengan kedua orang tuaku"     "Kamu bicara baik-baik dengannya Daf, jangan dengan emosi ya"     "Iya sayang, kamu jangan khawatirkan aku. Aku yang akan menyelesaikannya."     Felisha hanya mengangguk dan tidak berani berkomentar lagi. Rasanya ia takut jika memang benar orang tuanya itu tidak menyetujui hubungan mereka. mengingat Felisha bukan dari kelaurga yang terpandang seperti keluarga Dafi yang memang memiliki kekayaan yang sangat fantastis. Rasanya ia tidak cocok dengan status Dafi yang menjadi Direktur dan dari kelaurga Hartono. Hartono yang memiliki sejumlah Mall besar di berbagai kota besar, Hotel, Resort, Appartment, Automotive Manufacture and Pertambangan.     Tak lama Mereka sudah sampai di lobby gedung apartment Felisha. Ia tidak sadar bahwa mereka sudah sampai di Lobby appartement Felisha. Ia melepas seatbelt dan hendak turun dari mobil Dafi.     Dafi menahan tangan Felisha, “Sayang, aku akan selalu memperjuangkan kamu hingga mamaku merestui mu”     “Thanks Daf, kita perlu bepikir untuk hubungan kita selanjutnya”     “Iya sayang, I love you, good night” ucapnya sambil menarik tengkuk Felisha dan melumat bibirnya sebentar.     “I love you too, call me then” ujar Felisha dan mengecup bibir Dafi sebentar sebelum turun dari Mobilnya.     Felisha gontai berjalan ke arah penthousenya. Ia berpikir keras, dan banyak pertanyaan yang menghantui pikirannya. Ia takut akan kehilangan seseorang yang ia sayangi lagi. Terlebih ia sudah mulai mencintai Dafi. Ia takut ia tidak bisa melepaskan Dafi karena tidak mendapat restu dari orang tua Dafi. Bagaimanapun restu orang tua sangatlah penting dalam menjalani sebuah hubungan. Terlebih hubungan mereka mengarah ke arah serius atau menikah di suatu saat nanti.     “Huuuuft” Felisha menghela nafas panjang. “Restui hubungan kami ya Tuhan. Lancarkanlah segalanya, semoga orang tua Dafi mau menerima saya” pintanya dalam Doa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN