Terhalang Restu

1695 Kata
    Sementara itu, Dafi sudah memarkirkan mobilnya di garasi mobil mewah rumahnya. Ia lalu berjalan menuju rumahnya dan melihat Mama dan Papa sedang menonton televise di ruang keluarga.     “I’m Home” sapa Dafi mengawali percakapan.     “Oh… baru pulang? Pacar kamu yang nyuruh?” ketus Mamanya.     “Mah, Mama kenapa sih? Mama tidak suka Dafi punya pacar?” sahutnya sambil duduk di salah satu kursi dekat mama dan papanya.     “Mama tidak masalah kamu berpacaran, tetapi tidak dengan gadis kampungan itu!”     “Mah, apa salahnya Felisha? Kenapa mama begitu tidak suka dengannya?”     “Mama tidak suka kamu mempunyai pacar miskin. Kamu hanya di peralat dan kamu harus memikirkan bibit, bobot, dan bebetnya!” nada mamanya mulai meninggi. “Pah, coba kamu jelaskan ke anak kamu!”     “Ada apasih ini? Ada masalah dengan Dafi?” tanya papanya yang tidak mengerti.     “Entahlah pah, Dafi juga tidak tahu kenapa mama selalu mementingkan kasta daripada perasaan. Apa mama suka melihat Dafi menderita?” tandas Dafi.     “Hei, jaga mulutmu nak. Maksud mama kamu mungkin benar. Mama hanya tidak mau kamu dipermainkan perempuan” tambah papanya.     “Bahkan Dafi tidak pernah memberikannya uang, barang atau membantunya dalam segala hal. Felisha selalu menolak pemberian Dafi. Felisha wanita yang cerdas, gigih dan mempunyai komitmen yang kuat dalam hidupnya. Tidak pernah ia meminta sesuatu dari ku, kalau mama dan papa mau tahu. Dia selalu bekerja keras untuk membuat orang tuanya bahagia. Dan ia tidak mau dikasihani karena dia pikir dia mampu. Justru Dafi sangat bersyukur mempunyai kekasih seperti Felisha. Dan Dafi sangat, sangat mencintainya mom.” Jelas Dafi menyanjung Felisha di depan orang tuanya.     Ya memang Felisha tidak pernah meminta sesuatu pada Dafi. Ia tidak pernah mention saat menginginkan sesuatu. Pernah Felisha marah dengan Dafi karena ia membelikan tas mahal untuknya. Bukan bahagia Felisha justru marah karena merasa dirinya memanfaatkan Dafi. Felisha sangat teliti dalam keuangan, ia bahkan bisa membelikan orang tuanya mobil untuk membesarkan bisnis catering Mamanya di Jogja.      Ibu Dafi menghela nafas kasar, “Terserah kamu Daf, yang jelas mama tidak akan pernah merestui hubungan kalian!” ucap Ibunya penuh penekanan.     “I love her mom, no matter what” tanda Dafi sambil meninggalkan mama dan papanya yang masih terdiam. “Remember that!”     Dafi segera memasuki kamarnya yang sudah lama tidak di tinggalinya. Karena ia lebih sering pulang ke apartment di kota karena jaraknya yang lebih dekat dari kantornya. Ia segera merebahkan dirinya dan mengambil ponsel dari kantongnya lalu segera ia telepon kekasihnya, Felisha.     “Hai…” sapa Felisha setelah nada sambung ke dua. Suaranya benar-benar menenangkan Dafi yang masih kesal dengan orang tuanya.     “Hai sayang, kamu sedang apa?” tanyanya berusaha gembira.     “Ehmm,, menonton drama korea”     “Oh, masih melanjutkan episode yang tadi?”     Felisha menganggung, “Iya. Kamu sedang apa?”     Dafi menghela nafas kasar dan memijit pelipisnya.     “hmm,, kenapa? Ada masalah?” Felisha mengetahui nafas berat kekasinya.     Dafi masih terdiam sebentar. “Tidak, hanya berbeda pendapat dengan Mama” jujurnya     “Oh… apa karena aku?”     “No sayang, bukan karena kamu. Jangan terlalu dipikirkan yang tadi ya” Dafi khawatir dan menutupi untuk tidak membuat kekasihnya terlalu dipikirkan.     “Oh… baiklah aku akan menurut padamu bos” gurau Felisha membuat Dafi tersenyum. Meskipun Ia tahu bahwa Felisha masih memikirkan itu.     “Baiklah nona cantik, aku sepertinya ingin tidur sekarang”     “Baiklah Bos, good night and sleep tight. I love you” ucap Felisha menenangkan Dafi.     “I love you more sayang, rasanya ingin memelukmu sekarang”     “Hahaha... baiklah sayang kamu bisa memelukku di mimpi nanti. Aku akan mellow drama dulu ya. Ini sedang sedih-sedihnya.”     “Hahaha.. Baiklah sayang. Jangan terlalu malam tidurnya. Ok.”     “Iya bosku yang bawel”     “I love you sayang, I love you more. Good night sayang” ucap Dafi mengakhiri telponnya. Ia masih berpikir keras bagaimana mendapatkan restu orangtuanya, terutama Ibunya. ***     Sudah hampir satu minggu setelah kejadian itu Dafi dan Felisha masih menjalani hubungan yang baik-baik saja. Felisha enggan menanyakan hal itu ke Dafi dan Dafi sepertinya tidak mau mempermasalahkan hal itu. Padahal menurut Felisha, restu orang tualah yang paling penting.     Saat ini mereka sedang di kantor dan sedang meeting bulanan untuk report semua devisi. Felisha duduk di sebelah Melani, Renata. Mereka sedang menyimak sales report dari Vero yang sedang presentasi di depan.     Kali ini Felisha di beri kesempatan untuk presentasi oleh Pak Herman, selaku managernya. Felisha menjelaskan tentang seputar report kepada seluruh karyawan termasuk Dafi. Dafi tampak meyimak presentasi Felisha. Meskipun ia selalu menyimak semua presentasi dari karyawannya, hal tersebut membuat gugup Felisha karena ini adalah pertama baginya.     “Sayang, bisa kamu kembali ke slide 7, untuk import purchase” Dafi menginterupsi Felisha sambil membaca kertas report ditangannya. Padahal Felisha masih belum selesai menjelaskan presentasinya di depan.     Seketika Felisha terhenti dan mengulum bibirnya. Ia mengerutkan kening, semua mata yang hadir dalam meeting itu tertuju kepadanya. Melani dan Renata yang mengetahui hubungan mereka justru memberikan tatapan dan wajah mereka menahan tawa. Semua karyawan saling melirik satu sama lain. Sementara Dafi masih belum menyadarinya, ia masih sibuk membaca kertas-kertas report di tangannya.     “Maaf pak, sayang siapa maksud bapak?” tanya polos Pak Herman kebingungan.     Dafi meletakkan kertas reportnya dan menatap Pak Herman. “Saya tadi bilang apa?”     “Sayang pak” jawab Pak Herman polos. Felisha mengusap mukanya malu dan suasana menjadi kikuk dan hening semuanya.     "Maksud Pak Herman?"     "Tadi Bapak bilang, 'sayang, bisa kamu kembali ke slide 7, untuk import purchase'. Seperti itu pak." Terang Pak Herman menirukan bicara Dafi saat bertanya pada Felisha.     Dafi memijat pelipisnya, “Maaf, maksud saya Felisha” lalu ia gusar dan menghela nafas. Ia bangkit dari kursinya dan menghampiri Felisha yang masih mematung.     “Ok, saya akan jujur kepada kalian semua, bahwa saya dan Felisha memang sedang berpacaran” ucapnya mantap sambil melingkarkan tangannya dipinggang Felisha dan merapatkan tubuhnya. Muka Felisha masih bingung dan semua mata tertuju pada mereka berdua. Felisha gusar, kesal dengan kelakuan kekasihnya itu.     “Bukan begitu sayang?” tanya Dafi sambil mencium pelipis Felisha, kebiasaan Dafi.     “Ehm…” Felisha hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan bosnya.     Semua karyawan melongo, kecuali Melani dan Renata yang tertawa geli karena melihat Dafi keceplosan dan telihat kikuk.     “Wah, selamat ya pak. Semoga langgeng” tiba-tiba Renata berdiri dan bertepuk tangan mencairkan suasana yang diikuti semua orang. “Wah habis ini kita makan-makan guys” sorak semua karyawannya.     Felisha masih tidak percaya, ia memijat pelipisnya. Dafi masih tersenyum tidak jelas.     “Baiklah kita lanjutkan meetingnya” suara tegas bariton dan wibawa Dafi menginterupsi kegirangan semua karyawannya. “Ok sayang, silahkan lanjutkan”     Felisha menggelangkan kepala pasrah dan mulai melanjutkan presentasi yang tertunda. Dan yang membuat Felisha geli ialah, Dafi tidak sungkan lagi memanggilnya sayang dihadapan karyawannya.     “Jadi gimana sayang? Nanti malam mau traktir kita dimana?” ejek Melani saat keluar dari ruang meeting karena meeting sudah selesai dan waktunya istirahat dan makan siang.     “Iiih,, Apaan siih! Puas kan sekarang?” gerutu Felisha.     “Sayang, nanti malam kita s*x yuk” bisik Renata yang langsung di bungkam Felisha dengan tangannya.     Melani dan Renata tertawa terbahak-bahak melihat Felisha yang kesal. “Kalian benar-benar ya. Tidak tahu apa seberapa malunya aku?” decak Felisha.     Felisha sangat kesal dan meninggalkan Melani dan Renata yang masih tertawa melihat Felisha gusar. Felisha langsung ke ruangan Dafi menyusul Dafi yang baru saja masuk keruangannya. Dafi mengetahui Felisha masuk keruangannya.     “Hai Sayang, Sorry…” Ucapnya sambil memohon dan menahan tawa sambil membereskan meja kebesarannya.     Felisha gusar dan menggigit bibir bawahnya, kesal. “Kok bisa sih?”     “Aku juga tidak tahu sayang. Aku benar-benar keceplosan. 100 persen keceplosan”     “Ahhhh… kamu tuuuh. Kan aku jadi malu sama semuanya” kesal Felisha.     “Maaf sayang” ujarnya sambil mendekati Felisha yang sedang kesal. Dafi tahu, biasanya jika Felisha sedang kesal obat mujarabnya adalah dipeluk. Ia langsung memeluk Felisha dan memberikan kecupan di ubun-ubunnya.     Felisha tidak merespon pelukan Dafi dan ia masih cemberut badmood. “Kalau cemberut gini aku cium nih bibirnya” gurau Dafi lagi.     “Tau Ah! Sudahlah, aku mau makan siang dengan Renata dan Melani. Bye” ketus Felisha dan melepas pelukan Dafi.     Dafi mengikuti Felisha yang pergi meninggalkannya, “Aku ikut” tukasnya sambil menggandeng tangan Felisha. “Ayo Mel, Renata. Kita makan bersama”.     Renata dan Melani hanya mengangguk tanda setuju dan mengikuti Dafi untuk makan siang bersama.     Malamnya, sesuai janji Dafi ke semua staffnya. Ia mentraktir makan malam bersama di sebuah restoran itali. Banyak sekali karyawan yang masih tidak percaya dengan hubungan karyawan dan bosnya itu.     Felisha duduk di dekat Dafi, sebetulnya memang Dafi-lah yang selalu mengekor Felisha. Padahal Felisha masih enggan memperlihatkan kemesraan mereka di depan rekan-rekan kantor lainnya.     “Felisha, apa rahasianya bisa dapetin bos tampan itu?” tanya Bu Rina, atasan Melani.     “Emm… Tidak ada rahasia bu. Pak Dafi saja yang mengejar-ngejar saya” jujur Felisha yang hanya dianggap gurauan oleh rekan lainnya.     “Serius bu, Pak Dafi itu menempel kayak lalat. Daripada saya pusing, yasudah saya terima saja cintanya. Hahahaha” gurau Felisha.     “Mimpi apa saya semalam ya, bisa mendengar kabar ini” ujar Bu Rina lagi.     “Saya juga masih tidak percaya bu punya pacar Pak Dafi” ujar Felisha yang diikuti tertawa Bu Rina dan karyawan lainnya.     Setelah selesai makan malam bersamanya, Dafi mengajak Felisha bermalam di apartmentnya karena hari itu hari Jum’at dan waktunya bersantai di penthouse miliknya dengan orang terkasihnya. Felisha dan Dafi berjalan dari Basement ke penthouse mewah Dafi. Mereka saling mengeratkan jemari mereka.     Felisha menghela nafas, “Rasanya masih tidak percaya dengan ini semua”     “Memangnya kenapa?”     "Aku sudah berusaha untuk menjaga hubungan kita, dan kamu dengan keceplosanmu itu membuat semua orang tahu” ucapnya sambil menghela nafas panjang dan menggelengkan kepala.     “Hahaha… Maaf sayang, tapi jadi lebih enakkan sekarang tidak perlu berpura-pura lagi di kantor.”     “Iya sih. Betul juga. Tapi… justru yang terpenting restu dari orang tua kamu sayang” ucap Felisha jujur.     Dafi menghentikan langkahnya, ia menahan tangan Felisha. Felisha berhenti dan menatap kekasihnya.     "Aku akan berusaha sebisa mungkin untuk mendapatkan restu dari mereka. Aku akan membuktikan seberapa besar cintaku sama kamu sayang. Percayalah kita bisa melewati ini”     Felisha serasa dejavu mendengar kata-kata itu. Felisha hanya menganggukkan kepala. “Aku juga akan bertahan meskipun badai menghalangi dan akau akan berusaha untuk mendapatkan hati orang tuamu. Kecuali…”     “Kecuali?” tanya Dafi bingung karena Felisha menghentikan ucapannya.     “Kecuali kamu selingkuh dibelakangku!” dengus Felisha.     Dafi terbahak. “Itu tidak akan mungkin sayang. Aku bukanlah tipe lelaki seperti itu” ucapnya meyakinkan Felisha.     “Sure?” memicingkan matanya.     “A thousand percent sure, Baby” ucap Dafi sambil membingkai wajah Felisha dengan tangan besarnya. Ia menatap Felisha lekat, “I Love you”     Felisha tersipu dengan kata-kata Dafi, ia tersenyum malu. Padahal sudah sering Dafi melakukan hal ini tetapi Felisha masih merasa malu dan tidak bisa menutupi pipinya yang merona. “I Love you too” balas Felisha dan menghamburkan dirinya dalam pelukan Dafi.     “Sabtu depan, aku ada acara pernikahan sepupu aku dari keluarga mama, kamu mau ikut?” ajak Dafi saat mereka keluar dari lift.     Felisha masih berpikir sebentar, “Emmm,, is it ok kalau aku ikut?” tanyanya ragu.     “Tentu saja tidak masalah sayang, justru aku mengajakmu. Tapi kalau kamu..”     “Aku ikut” potong Felisha. Dafi menghentikan langkahnya dan mengamati Felisha. “Bukankah ini kesempatanku untuk merebut hati calon mertuaku?” tambah Felisha yakin.     Senyum Dafi mengembang, “Iya sayang, ini kesempatanku mengenalkan mu ke keluarga besarku. Kita harus bisa mendapatkan hati dari mereka” jawab Dafi semangat dan mengecup bibir Felisha sekilas. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN