Confession

979 Kata
    Hari mulai petang dan mereka kembali pada kursi kayu pantai. Dafi tampak membeli minuman di bar yang tidak jauh dari tempat Felisha menunggu.     “Jadi itu pacar barumu?” suara mengejutkan Felisha yang menunggu Dafi sambil menikmati pantai di depannya.     Ia melepas kacamatanya dan menoleh ke suara itu. Ferdian. Ia duduk di kursi pantai milik Dafi. Felisha mengangguk tanda setuju dan mengabaikan. Ferdian mengamati Felisha dengan lekat. Ia juga melihat kissmark di leher mulus Felisha.     “Semudah itu kamu Fel?” tanyanya lagi.     Felisha mendengus kesal. “Semudah itu juga kamu mengkhianati ku” lugasnya santai.     “Semurah itu juga kamu Felisha?” ejeknya. “Apa karena harta?” tambahnya     Felisha tidak menanggapi ejekannya dan mendegus kesal menatap lautan. Ia kesal, ingin rasanya menampar lagi laki-laki tersebut atau mencakar wajah itu tapi ia ingat bahwa besok dia akan menikah. Tidak mungkin ia ke pelaminan dengan wajah penuh luka kan?     "Mau kamu apa sih Fer?" sengak Felisha pada Ferdian.     "Kembalilah padaku. Aku mohon Maafkan aku Felisha. " sendu Ferdian memohon.     Felisha menggelengkan pelan wajahnya, menutup mata dan menghela nafas panjang. "Aku sudah memaafkan kamu. Lupakan semua tentang kita dan mimpi kita. Aku tidak akan pernah kembali padamu Ferdian. Mengertilah" jawab Felisha tenang dengan memendung air matanya.     “Tidak Felisha, aku tahu kamu masih mencintaiku. Aku tahu itu Felisha”     “Just.. Just let me go. Don’t push me again Ferdian. Please!” mohon Felisha tidak ingin membicarakan hal tersebut.     Ferdian mendesah dan mulai mendekati Felisha. "I'm still loving you. Im' f*****g messed up. I'm so sorry."     Felisha hanya diam menamati deburan ombak dan memilih membisu tak ingin mendengar apapun perkataan yang keluar dari Ferdian. Mantan kekasihnya, mantan calon suaminya yang dulu selalu ia impikan untuk membangun rumah tangga bersama dengannya.     Sementara itu Dafi tidak suka melihat Felisha yang sedang di ganggu mantannya. Sedari tadi Ia mengamati dari jauh. Ia langsung bergegas menghampiri Felisha saat pesanannya sudah selesai. Rasanya ia tidak rela laki-laki yang menyakiti Felisha kembali mengusik kekasihnya.     “Hai Bro! What’s up?” sapanya tenang. Felisha sungguh sangat senang atas kedatangan Dafi disaat Ferdian mencoba ingin kembali dengannya. Ia bahagia karena Dafi melindunginya, lagi.     Dafi duduk di dekat Felisha dan menyodorkan raindbow cocktail. Felisha duduk bersila di sampingnya dan menerima minuman itu dengan senang hati. “For my lady” ucapnya sambil menyium pipi Felisha.     Felisha mengangguk dan menyesep minuman itu. Lalu Felisha melingkarkan kedua tangannya di lengan Dafi dan menaruh dagunya di pundak Dafi sebagai topangan. Dafi menoleh memperhatikan senyum Indah Felisha.     “Thanks” ucap Felisha lirih dan dibalas kecupan hidung dari Dafi dengan senyum lebarnya.     Ferdian berdecak melihat kemesraan Felisha dan Dafi. Ia cemburu melihat wanita yang dicintainya, sangat dicintainya bermanja dengan laki-laki lain.     “Apa ada perlu?” Tanya Dafi karena Ferdian terlihat masih belum beranjak.     “Nothing. Just wanna let you know that your girl is not virgin by the way” ejek Ferdian. “I took her virginity” penuh kemenangan.     Mata Felisha membulat tidak percaya ketika mendengar Fedian mengatakan hal itu terang-terangan. Of course, Felisha akan memberitahu Dafi, tapi bukan secepat ini. ‘s**t! What a jerk! Apa maksudnya?’ umpat Felisha. Felisha semakin erat melingkarkan tangannya di lengan Dafi.      Dafi menahan emosinya, rahangnya mulai mengeras. “Itu tidak merubah apapun. Aku tetap mencintainya” tegasnya ke Ferdian.     “Hahaha, bullshit dude! Mencintai? Atau hanya ingin bermain dengan tubuhnya?” Ejek Ferdian lagi.     Dafi mengepalkan tangannya. Ia beranjak cepat meraih kaos Ferdian hendak memukul Ferdian. Felisha menahan tangannya. Felisha beriri dan meraih lembut rahang Dafi dan menggelengkan kepala. “Please, Don’t” ucapnya lirih dengan mata sendunya. Dafi menurut, seketika emosinya teredam hanya melihat Felisha. Ia melepas cengkeraman baju Ferdian dan mendorong kuat kebawah. Felisha segera memeluk Dafi yang sangat emosi.     Ferdian terkekeh, “See. She still loving me!”     “Stop Ferdian! You’re Loser!” bentak Felisha marah dan tidak percaya. “Go Away from us!” bentaknya lagi dan menyiram minuman itu ke Ferdian.     Felisha meraih tangan Dafi mengajaknya pergi menjauh dari Ferdian. Felisha kesal dengan ulah Ferdian yang keterlaluan. Dan tentu saja Ferdian telah merusak suasana hatinya yang mulai berbunga karena Dafi. Mereka menyusuri pantai masih dengan diam.     “Are you Okay?” Tanya Felisha dengan jari mereka yang masih saling tersemat. Seharusnya Felisha lah yang menanyakan dirinya sendiri, karena ia menjadi ragu saat Ferdian menyadarkan bahwa apakah Dafi hanya akan mencampakkannya.     Dafi menghentikan langkahnya. Ia memandang jauh ke mata Felisha. “Apa kamu percaya aku?” ujaranya. Persis seperti menjawab semua pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya.     “Maksud kamu?”     “I’m crazy falling in love with you. I don’t know why”     “Then?”     “I don’t care about your past” ucapnya lirih dengan penekanan.     "Meskipun aku sudah…”     “Aku tidak peduli” potong Dafi sebelum Felisha melanjutkan ucapannya. “Aku selalu ingin bersamamu, no matter what! Aku akan berusaha untuk tidak menyakiti dan meninggalkan mu, percayalah” tegasnya lagi sambil mencengkeram kedua lengan Felisha.     Felisha masih terdiam, sebenarnya ia juga masih ragu untuk mempercayai atasannya. Kenapa Dafi begitu menyukai dirinya secepat itu. Tetapi ia begitu nyaman bersama dengan Dafi hingga ia tidak peduli bahwa sang atasan hanya akan bermain-main dengannya atau dengan tubuhnya. Semua karena Ferdian, gara-gara mulutnya yang kurang ajar. Membuat Felisha menjadi ragu lagi.     Dafi masih menunggu respon dari Felisha. Ia takut Felisha kembali menjauh darinya. “I told you before, that I’ll make you happy and won’t to hurt you anymore” ucapnya sekali lagi     Felisha masih berpikir dan menganggukan sedikit kepalanya. “Can I trust you?” tanya Felisha.     “Of coure baby, you’re mine” Dafi menarik Felisha kepelukannya. “I’ll never let you go or someone hurt you, cause I’m falling in love with you” ucapnya sambil menghirup dalam rambut Felisha dan mengecupkan ciuman di pelipisnya. Felisha melingkarkan tangannya pada pinggang Dafi.     Entah berapa kali Dafi mengatakan ke Felisha bahwa ia jatuh cinta padanya. Tapi Felisha masih belum bisa membalas kata-kata itu. Rasanya terlalu cepat bagi Felisha untuk mengatakannya. Karena ia belum tahu pasti apakah ia juga akan mencintai Dafi atau hanya sekedar pelarian atas sakit hatinya. Felisha tidak mau menyakiti hati Dafi jika memang ia tulus mencintainya.     Dafi membingkai wajah Felisha dengan tangan besarnya, lalu ia kecup bibir mungil pink itu dengan lembut dan penuh dengan debaran yang Felisha rasakan. bibir itu seakan magnet yang menjadi pusatnya.     "Percayalah padaku, aku mohon" ucap Dafi setelah melapas kecupan dalam itu. Felisha tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya. Tak masalah bukan untuk memberikan kesempatan untuk jatuh cinta lagi?.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN