Kerumahnya

1001 Kata
Sore hari setelah pulang kerja, aku menginstirahatkan badan di kamar. Rasanya sangat lelah, tidak bekerja selama satu minggu membuat pekerjaan sangat menumpuk. Kalau saja aku bisa menyerah, aku akan menyerah saja dari pada harus berhadapan dengan pekerjaan yang menumpuk. Tok tok tok Mataku yang sedang menatap langit-langit kamar menjadi terfokus melihat pintu kamar yang sedang tertutup. Siapa yang sedang mengetuk pintu itu? Dengan rasa malas, aku beranjak dari kasur. Kemudian berjalan untuk membukakan pintu. Saat pintu terbuka, Papa terlihat sedang berdiri sambil tersenyum. " Ada apa Pa?" tanyaku heran. Karna tidak biasanya papa datang langsung kekamarku jika tidak ada hal penting yang ingin beliau katakan. " Papa dapat pesan dari Ramos , katanya kau di undang untuk makan malam dirumahnya." Jawab Papa. " Ramos? Siapa dia? " tanyaku lagi , pasalnya aku belum pernah mendengar nama 'Ramos'. Dan kenapa ia mengundangku kerumah. " Ramos itu, Papa nya Raquel." " Terus kenapa tiba-tiba Lexa diundangnya? Padahal Lexa tidak ada hubungan apa-apa bahkan tidak mengenali papanya." Ujar ku. " Papa juga heran saat dia menelfon Papa, kenapa tiba-tiba anak kesayangan Papa diundang diacaranya. Ternyata istri Raquel lah yang memintanya." jelas Papa membuatku manggut-manggut. " Oh gitu. Tapi Lexa capek Pa. Bilang saja Lexa tidak bisa datang." alibi ku pada Papa agar bisa terhindar dari keluarganya Raquel. Aku tidak ingin terlibat terlalu jauh ke dalam keluarganya, tapi semesta seperti tidak mengizinkanku untuk menjauh. Bahkan semakin hari ada saja hal yang membuatku semakin mengenal orang-orang terdekat Raquel. " Nak, Papa dan Mama sangat dekat dengan orangtua Raquel dan bahkan dekat dengan Raquel. Jadi Papa merasa tidak enak kau menolak undangannya." timpal Papa. " Kan bisa Mama atau Papa yang mewakili ku. Aku capek Pa, saat dikantor kerjaanku menumpuk." kilahku berusaha untuk merayu Papa. " LEXA, RAQUEL SUDAH MENJEMPUTMU" Suara teriakan mama dari bawah membuatku mendengus. Ternyata Raquel sudah lebih dahulu menjemputku. " Bersiap-siap lah sayang. " perintah Papa. "Iya " ketusku . Lalu menutup pintu kamar bersiap untuk mengganti baju. Aku sangat tidak ingin bertemu dengan siapa-siapa. Lebih nyaman rasanya jika harus berdiam diri dikamar dan ditemani ponsel. Tidak ada yang mengganggu, atau bahkan mendengar omongan-omongan orang yang bisa bikin sakit hati. Aku memang terbiasa sendiri , saat SMA kalau teman ku mengajak keluar rumah, aku selalu menolak. Tapi tidak ada yang menjauhi ku, bahkan mereka yang mengalah dengan menemani ku dikamar. Aku merasa diriku sudah jauh berubah sejak mengenal Raquel dan menjadi pacarnya. Tapi apalah daya, sudah terlanjur rasanya tergabung dalam kehidupan pria itu. Dengan langkah gontai, aku mengambil baju dres yang tergantung didalam lemari. Dress selutut dengan warna dusty terpasang indah dibadanku. Mungkin dengan sedikit polesan make up, penampilan ku hari ini akan terlihat lebih sempurna. Walaupun sebenarnya aku tidak mandi. Setelah selesai bersiap-siap, aku menarik nafas sejenak lalu mulai berjalan keluar kamar. Entah apa yang terjadi selanjutnya , aku hanya bisa berharap hari ini tidak ada hal yang akan menyakitiku. _________ " Kenapa kau diam saja sayang?" tanya Raquel membuatku menatap kearahnya. " Aku capek dan mengantuk." Jawabku jujur. Selama di dalam mobil, aku memang tidak ingin berbicara apa-apa. Mood ku sedikit berantakan. " Maaf ya sayang. Seharusnya kau tidak perlu memenuhi undangan Papa ku." Ujar Raquel. " Aku juga heran, kenapa aku harus terseret dalam acara ini." kesalku. " Ai yang meminta papa untuk mengundangmu." jelas Raquel. " Nah memang itu asalnya. Seharusnya kau bisa menolak istrimu yang mengundang ku." " Maaf sayang. aku sudah mengatakannya pada Papa. Tapi pria tua itu terlalu sayang dengan istriku sehingga selalu menuruti keinginannya." Aku merebahkan punggung pada kursi mobil, lalu memejamkan mata lelah. " Jika saja kau tau Raquel, sore ini aku berencana untuk tidur sampai pagi." tuturku. " Aku benar-benar minta maaf sayang." Aku hanya diam tidak bergeming. Selang beberapa menit, mobil Raquel berhenti. Mataku terbuka, melihat halaman rumah yang begitu luas. Tidak lupa bangunan megah yang menjadi pusatnya. Raquel tidak membukakan pintu untuk ku seperti yang biasa ia lakukan, mungkin karena takut terlihat seperti mengistimewakan ku. Dengan mandiri, aku membuka pintu mobil lalu turun dan mengikuti langkah Raquel yang masuk kedalam bangunan megah itu. Aku hanya menatap punggung Raquel dari belakang. Kemudian menelisik setiap dinding bangunan yang begitu megahnya. Berbagai pajangan foto telihat rapi menuntun ku masuk sampai kedalam ruangan keluarga. Dimana di ruangan itu terlihat sepasang suami istri paruh baya serta seorang wanita yang ku kenali. Aisyah menyambutku dengan hangat ketika aku sampai diruangan itu. Ia memeluk ku lalu menuntun ku untuk bergabung bersama nya. Aku duduk di samping Aisyah dan Raquel, sementara orangtua Raquel duduk diseberangnya. Suasana begitu canggung menurutku. Aku tidak berani untuk mengeluarkan sepatah kata apapun. Takut jika ucapan ku tidak sesuai untuk keluarga hangat ini. “ Akhirnya kau mau menerima undanganku Lexa.” tutur laki-laki paruh baya yang ku yakini memiliki nama Ramos itu. Aku tersenyum simpul dengan kedua tangan yang diletakkan diatas paha. “ Aku tak enak hati untuk menolaknya.” ujarku. “ Ternyata Jonathan dan Clara memiliki anak yang sangat cantik. “ puji wanita yang berada disebelah Raquel. “ Aku juga terkejut saat bertemu dengan Lexa, tidak percaya bahwa Pak Jonathan memiliki anak gadis.” timpal Aisyah. Sementara aku hanya tersenyum canggung, tidak tau harus bereaksi apa. Aku melirik sekilas pada Raquel, pria itu juga menatapku sebentar sebelum ia memgalihkan pandangannya. “ Bagaimana pekerjaanmu menjadi sekretaris Raquel, Lexa?” tanya Ramos. “ heum..aku merasa senang bekerja dengannya, ia tidak banyak menuntut.” Celutukku. “ Jangan bohong Lexa. Pa, aku melihat bagaimana kerasnya Raquel pada Lexa.” adu Aisyah pada Ramos. “ ck… memang seharusnya begitu.” bela Raquel. “ Terlalu keras pada perempuan juga tidak bagus nak. “ ucap Wanita paruh baya itu. “ Sudahlah. Jangan berdebat didepan Lexa. Oh iya, kau sudah punya pasangan?” Pertanyaan tiba-tiba dari Ramos membuatku salah tingkah. Apalagi tatapan dari kedua wanita ini yang semakin membuatku merasa keringat dingin. Ayolah kenapa tiba-tiba pria paruh baya itu menanyakan sesuatu yang sangat berpengaruh padaku. Sudah jelas-jelas pasanganku sedang berada duduk di sampingku. Aku meremas tanganku bingung, dengan sesekali berusaha menyikut lengan Raquel yang berada disebelah. Meminta pertolongan agar topik ini terganti
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN