" Saya Alexa bu, tapi panggil saja Lexa." kenalku pada nya dengan panggilan 'Bu' untuk menghormatinya.
" Oh, hai Lexa. Kenalkan nama ku Aisyah, kau bisa memanggilku Ai." kenalnya.
Aku tersenyum kikuk menanggapi. Lalu meminta izin untuk kembali melanjutkan pekerjaan ku.
Awalnya aku ingin fokus untuk mengerjakan pekerjaan, tetapi fokus ku terbagi-bagi mendengar percakapan suami istri ini disampingku.
Walaupun aku hanya selingkuhan Raquel, tapi rasa cemburu tetap ada dihatiku yang membuatku merasa gerah didalam ruangan ini.
“ Tidak biasanya kau kesini Ai.” ujar Raquel terdengar ditelinga ku.
“ Aku hanya ingin berkunjung ke kantor suamiku. Lagi pula, Mama menyarankan untuk lebih sering-sering menikmati suasana luar.” jelas Aisyah.
“ Terlalu sering keluar rumah juga tidak bagus untuk wanita yang sudah bersuami.” tutur Raquel membuat d**a ku sedikit sesak.
Apakah Raquel cemburu jika Aisyah dilirik laki-laki lain? Aku rasa begitu. Seharusnya pria itu membiarkan nya untuk sering keluar rumah agar Aisyah di goda laki-laki lain dan membuat mereka bertengkar.
Aku segera menepis pikiran jahat itu. Tidak-tidak, aku tidak boleh ikut campur urusan mereka berdua. Urusan ku disini hanya dengan suaminya.
“ Tapi aku hanya pergi ke kantor mu Mas. “
“ Kalau kau sering-sering kesini, akan menghambat waktu kerjaku Ai. “ jelas Raquel terdengar tegas. Syukurlah ia menjelaskan nya pada istrinya. Aku juga ikut terganggu jika Aisyah terlalu sering ke kantor.
“ Baiklah kalau kau tidak ingin istrimu terlalu sering datang ke kantor. Tapi ada hal yang ingin ku tanyakan pada mu Mas.”
“ Ada apa?”
“ Kata Papa, kau tidak lagi memasang cctv di ruanganmu. Memangnya kenapa Mas?”
Tanganku yang sedang mengetik, berhenti sejenak untuk mendengar penjelasan yang akan keluar dari mulut Raquel. Aku juga kaget mendengar pernyataan bahwa ternyata Raquel mencopot cctv diruangannya.
“ aku merasa cctv tidak lagi penting untuk ku. Karna sudah ada Lexa yang selalu diruangan ini.” jelas Raquel membuatku menatapnya heran terlebih lagi menyebut namaku dalam penjelasannya yang tidak masuk akal.
“ Tapi kau sangat sulit memberikan kepercayaan pada orang Mas. Aku masih ingat dengan sekretaris mu yang lama, walaupun Raden sudah berpuluh-puluh tahun menjadi sekretaris, tapi tidak membuatmu percaya padanya.”
“ Sudah lah Ai. Aku pusing mendengar ucapan yang kurasa tidak penting. “
Aku berdehem sebentar untuk menyadarkan tatapan Aisyah yang terus saja menekan Raquel.
“ Ibu tenang saja. Akan ku pastikan suami ibu tidak akan selingkun dengan siapa-siapa.” ucapku spontan. Entah lah aku hanya ingin meyakinkan bahwa Aisyah tidak akan curiga pada Raquel.
Aisyah berjalan mendekat lalu ia duduk di sofa yang berada di depan meja kerjaku.
“ Tolong awasi Raquel ya Lexa. Akhir-akhir ini lagi maraknya pria yang selingkuh. “
Ucapan Aisyah terdengar santai, tapi terdengar menusuk buat ku. Secara tidak langsung wanita itu berhasil membuatku tersindir.
“ Jangan bahas yang tidak-tidak didepan karyawanku Ai.” tegur Raquel.
“ Apa salahnya? Aku sudah menganggap Lexa sebagai teman. Bagaimana denganmu sendiri Lexa?”
Aku menggaruk tengkuk yang tidak gatal sambil mengangguk mengiyakan agar permasalahan cepat selesai. Yang tengah ku pikirkan, bagaiamana bisa selingkuhan menjadi teman? Entah lah aku juga bingung menanggapinya.
“ Lexa, sesekali pergi lah kerumah kami berdua. Aku akan sangat senang mendapatkan teman untuk bercengkrama. “ tawar Lexa kepadaku.
“ Next time Bu. Sebenarnya aku juga baru masuk kantor hari ini setelah 1 minggu sakit.” jelasku.
“ Oh ya? Kau sakit? Tapi kenapa suamiku tidak mengatakannya padaku.” timpal Aisyah.
“ Aku sudah mengatakannya sebelum pergi ke kantor Ai.” koreksi Raquel membuat ku menyerngit. Jadi omongan siapa yang benar?
“ Mas mengatakan bahwa ingin membesuk anak Pak Jonathan.”
“ Lexa ini anak nya pak Jonathan.”
“ Hah? Benarkah? “ tanya Aisyah kaget.
Aku mengangguk membenarkan. “ Iya Bu.”
“ Bukannya Pak Jonathan hanya punya satu anak ya, siapa namanya Mas yang cowo?” tanya Aisyah menatap Raquel.
“ Al.” jawab Raquel.
“ Nah benar si Al. Waktu Al SMA dia sering berkunjung kerumah. Kebetulan adek ku bersahabatan dengan Al. Al ini anaknya rajin, baik hati dan poin yang plus adalah tampan.”
Benar. Kak Alexo memang memiliki wajah yang tidak kalah tampan dari wajah Raquel. Tapi yang membuat ku heran, jika kak Al SMA Aisyah dan Raquel sudah menikah, berarti berapa umur mereka sekarang?
Terlebih lagi saat kak Al SMA, aku baru memasuki jenjang sekolah menengah pertama. Bisa saja umur ku dengan sepasang suami istrinya memiliki jarak yang sangat jauh.
“ Lexa selesaikan pekerjaanmu.” Tegur suara berat dari Raquel membuatku tersadar dari lamunanku. Aku mengangguk lalu mulai mengetik.
“ Mas jangan terlalu keras pada Lexa.” Ucap Aisyah setelah aku kembali mengerjakan pekerjaanku.
“ Ai, kalau kau mengajaknya bicara terus, pekerjaanya tidak akan selesai. Sekarang sudah pukul sebelas siang sebentar lagi waktunya istirahat. “
“ Yasudah kalau begitu, aku pulang saja. Lexa, aku pulang dulu ya.” pamit Aisyah mengalihkan pandanganku dari layar komputer.
“ Apa tidak makan siang dikantin kantor saja Bu?” tawarku padanya.
“ Tidak usah. Aku sudah ada janji selesai dzuhur untuk pergi kajian bersama ibu-ibu majelis.” jawabnya lantas membuatku membisu dan tersenyum paksa melihatnya yang mulai berlalu pergi meninggalkan ruangan ini. Aku menghela nafas kasar saat Aisyah menghilang dari balik pintu.
“ Istrimu wanita alim. Berbeda 360 derajat dariku. Seharusnya kau tidak selingkuh darinya.” timpalku tiba-tiba.
“ Apa yang kau katakan sayang. “
“ Aku tau kau mendengarnya Raquel. Jadi jangan pura-pura tidak tau.” ujarku menatapnya.
Raquel berjalan ke meja ku, setelah itu ia berdiri di dekatku sehingga badannya tinggi membuat ku yang tengah duduk harus mendongak keatas melihatnya.
Tangan Raquel mengusap rambutku dengan sangat lembut. Tatapan matanya lagi-lagi berhasil membuatku tidak dapat berpaling darinya.
“ Kau tidak boleh berbicara seperti itu. Aku cinta padamu Lexa tanpa memandang apapun kekuranganmu. Jadi jangan pernah berbicara seperti itu padaku. Asal kau tau, aku sengaja mencopot cctv agar kita bisa berduaan seperti ini.” jelas Raquel.
Aku tersenyum mendengarnya.
“ Benarkah?” tanyaku memastikan bahwa ucapan Raquel bukan hanya sekedar ingin menyenangkan ku.
“ Demi Tuhan. Aku tidak akan pernah berbohong denganmu sayang.” jawabnya.
Aku mengangguk semangat. Kemudian memeluk pinggang Raquel dengan sangat erat