Sebelum berangkat ke kantor, aku menyempatkan diri untuk melihat barangku yang sedang diantar ke apart.
Dengan menaiki mobil Papa, aku sudah duduk dikursi tengah, sementara Mama duduk di bagian depan.
Untungnya pagi ini tidak ada kemacaten. Sehingga papa lebih leluasa untuk melajukan mobil nya dengan cepat.
" Kau yakin tidak akan terlambat Lexa?" pertanyaan berulang yang dilontarkan Mama membuat ku jengah.
Padahal sedari tadi aku terus mengatakan bahwa aku tidak akan terlambat. Tapi wanita paruh baya itu terus saja menanyaiku dengan pertanyaan yang sama.
" Kalaupun aku terlambat, bosku tidak akan bisa memarahi ku." jawabku telak malah membuat Papa bertanya lebih.
" Setau Papa, Raquel tidak menyukai karyawan yang datang terlambat. "
Aku memutar bola mata malas. Suami istri sama saja, selalu membuat kepala ku pusing. Aku memilih mengabaikan obrolan yang menurutku tidak penting untuk diperdebatkan.
Jika saja aku boleh jujur, pasti aku akan menjawab ' Raquel itu pacarku, sudah tentu ia tidak bisa memarahiku ' begitulah kira-kira.
Tidak lama, mobil Papa diparkirkan. Aku turun dari mobil lalu menatap gedung apart yang begitu mewah dan tinggi.
" Ini gedung yang akan Lexa tinggali?" tanya ku sambil menatap kagum gedung itu.
" Iya. Papa menyewanya selama 1 tahun." jawab Papa.
Aku mengangguk ngerti kemudian mengikuti Mama dan papa yang sudah berjalan terlebih dahulu. Saat masuk kedalam gedung, kami mendapat sambutan hangat dari security. Security itu mengantarkan kami sampai didepan pintu lift.
Aku tersenyum singkat kearah nya lalu mengucapkan terimakasih. Setelah itu pintu lift tertutup. Terlihat tangan Papa menekan tombol angka 20, hal itu sontak membuatku melongo.
" Pa. Kamar Lexa di lantai 20? " Tanyaku padanya.
" Iya."
Aku berdecak malas. " Lexa gamau tinggal digedung yang terlalu tinggi."
" Kau ini dikasi tinggal di apart malah protes." tegur Mama kepadaku.
" Bukan nya protes Ma. Lexa takut aja sewaktu-waktu bisa saja gempa terus bangunan nya roboh. Kalau Lexa mati, siapa yang akan menjaga Mama."
Tangan Mama mendorong kepala ku pelan. Membuatku meringis karna terbentur dinding lift.
" Aduh! Sakit Ma. Ish"
" Kau itu berpikir terlalu buruk Lexa. Namanya ajal kita tidak tau karna Tuhan yang mengatur semuanya." nasehat Mama membuatku terdiam.
Sementara Papa hanya diam melihat aku dan Mama yang sedang meributkan hal konyol. Aku menggandeng Papa kemudian menaruh kepalaku dilengannya.
" Pa. Lexa mau pindah ke lantai 1 saja." rengekku.
" Papa sudah terlanjur bayar setahun Lexa. Kalau dibawah nanti bayarnya beda lagi."
Tidak lama pintu lift terbuka, membuat Papa dan Mama berjalan lebih dahulu. Aku melepaskan gandenganku dari Papa. Membiarkan sepasang suami istri itu berjalan berdampingan.
Papa dan Mama berhenti di kamar nomor 780, lalu membuka akses nya dengan kartu card yang berada ditangan Papa.
Pintu terbuka, menampilkan ruangan yang begitu besar, luas, dan mewah. Lagi-lagi aku terperangah melihatnya.
Aku mengikuti Mama dan Papa yang sudah masuk kedalam ruangan itu. Ruangan ini fasilitasnya begitu lengkap, dimulai dari ruang tamu, kamar mandi, dapur , kamar tidur serta fasilitas-fasilitas yang lain.
" Pa, Lexa mau disini saja. "
______
Langkahku tergesa-gesa menuju ruang kerja. Beberapa pasang mata melirik tak suka kearahku. Mungkin karena keterlambatanku masuk ke kantor.
Tak banyak juga dari mereka yang berbisik-bisik menyindirku. Seperti ' Cuti satu minggu, sekalinya masuk malah terlambat'
' Anak baru tapi sudah melanggar peraturan perusahaan'
' Karyawan yang tidak taat waktu'
Begitulah kira-kira sindiran mereka. Aku hanya menganggap semuanya angin lalu. Dan memilih untuk masuk kedalam ruanganku.
" Kenapa tampangmu cemberut seperti itu?" tanya Raquel setelah aku menduduki diri diatas kursi kerjaku.
" Aku benci mendengar mereka menyindirku." jawabku.
" Siapa?"
" Anggota divisi produksi." aduku.
" Nanti aku akan memanggil manager produksi kesini. " kecam Raquel membuatku menggeleng cepat.
" Tidak usah. Lagi pula ini bukanlah masalah besar. Memang aku saja yang terlalu seenaknya masuk kerja."
" Aku tidak ingin kau merasa tidak nyaman di kantor ini sayang. "
" Sudah lah Raquel. Aku tidak ingin mereka terlibat masalah karnaku" kilahku pada Raquel.
" Yasudah kalau begitu."
Aku mengangguk dan mulai menghidupkan layar komputer. Saat membuka email, puluhan file sudah terlampir disana.
Hembusan nafas terasa berat ketika melihat banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini juga. Aku mengambil kacamata kerjaku yang berada didalam tas , lalu memakainya.
Menatap layar komputer terlalu lama sangat tidak baik bagi kesehatan mata, untungnya aku menyempatkan diri untuk kontrol mata saat berada dirumah sakit. Alhasil Dokter menyarankanku untuk memakai kacamata anti radiasi.
" Sayang."
Suara berat khas Raquel membuatku menoleh ke padanya.
" Ada apa?" tanyaku.
" Hari ini istri ku akan berkunjung ke kantor."
Aku terdiam tidak bergeming di tempat. Pikiran ku kemana-mana, merasa tidak siap untuk bertemu langsung dengan istri Raquel.
Banyak hal yang terlintas dalam pikiran ku, salah satunya adalah bagaimana jika istri Raquel lebih cantik dari padaku.
Tidak menutup kemungkinan bahwa aku merasa insecure. Hasrat ku meminta untuk bersaing dengan istri Raquel, tetapi logika ku menolak. Aku masih memiliki otak yang waras untuk berfikir.
Biarlah seperti ini sampai Raquel memutuskan tentang bagaimana kelanjutan hubungan ini. Dari pada ikut campur dengan urusan rumah tangganya , kemungkinan akan menjadi boomerang bagiku.
Terlalu sibuk berkelana dengan pikiran, suara lembut dari seorang wanita membuat badanku menegang. Aku tidak berani mendongak untuk melihat siapa wanita itu, apalagi mendengar panggilannya yang membuatku dapat menebak siapa itu.
“ Mas.”
Begitulah panggilannya yang kupastikan ditujukan untuk Raquel. Karena ruangan ini hanya khusus untuk pria itu.
“ Itu sekretaris Mas yang baru?”
Pertanyaan yang keluar dari mulut wanita itu membuat ku tidak kuat menahan rasa penasaran terlebih lagi aku harus hormat kepada ‘istri’ pemiliki perusahaan ini.
Dengan ragu, wajahku menoleh kesamping. Aku tersenyum paksa ketika wanita itu menatap ku. Ternyata istri Raquel seorang wanita yang taat agama. Pakaiannya tertutup, parasnya yang sempurna membuatnya terkesan lebih bercahaya.
Ada yang menggelitik hati ku ketika melihat istri Raquel. Entah lah perasaan bersalah lebih mendominasi dari segalanya. Aku merasa menjadi wanita yang jauh dari kata baik dibanding istri Raquel.
“ Hai? Siapa namamu? “
Pertanyaan nya membuatku tersentak dan segera mengerjapkan mata ketika matanya melihat kearah ku.
“ Saya Alexa, tapi panggil saja Lexa Bu.” kenalku pada nya dengan panggilan ‘Bu’ untuk menghormatinya.