Rapat itu sudah berlangsung terlalu lama. Tiga belas orang duduk mengelilingi meja oval panjang dari kaca hitam, masing-masing dengan tablet, berkas cetak, dan secangkir kopi yang sebagian besar sudah dingin. Udara ruangan dipenuhi bahasa bisnis yang rapi—angka, proyeksi, risiko, dan istilah teknis yang diucapkan dengan nada terkendali. Josephine duduk di kursi pimpinan rapat, punggungnya tegak, wajahnya netral, seolah semua keputusan besar di dunia bisa ditimbang dengan logika semata. Lalu pintu terbuka. Bukan dibuka dengan sopan, melainkan terdorong sedikit terlalu keras. Suara berderit halus dari engsel pintu memecah ritme rapat, cukup keras untuk membuat semua kepala menoleh bersamaan. Seorang staf asisten berlari kecil masuk, napasnya tersengal, rambutnya sedikit berantakan. Joseph

