Sayup-sayup keramaian di lantai bawah sampai ke telinga Maudi. Entah suara mereka yang terlalu besar, atau memang karena malam yang hening jadi suara apapun akan terdengar.
Memasuki waktu dini hari. Mata indah gadis itu enggan terpejam. Kantuk tak mau menghampirinya. Ia masih terjaga hingga suara Kokok ayam melengking saling sahut. Pertanda jam memasuki pukul tiga dini hari.
Kemudian Maudi beringsut bangun. Daripada terus terjaga tanpa melakukan apa-apa. Ia lebih baik melakukan hal positif.
Ia melepas hijab yang belum ia tanggalkan sedari sore.
Rambutnya hitam lurus tergerai. Ia mengikat asal sebelum kakinya mengayun ke kamar mandi. Mensucikan diri melalui bulir dingin di sepertiga malam. Lalu, bersimpuh menyerahkan raga pada sang maha pemberi nyawa.
Tak kuasa.
Di atas lembutnya sajadah, yang hampir setiap waktu ia usap. Ia mengeluarkan air matanya. Air mata atas dasar rasa sakit, sekaligus air mata kebingungan akan jalan hidup yang sebentar lagi ia mulai.
"Astaghfirullah."
Begitulah mulut kecilnya beristighfar tatkala ia terbayang-bayang wajah Dafa, senyuman Dafa, sapaan Dafa dan tawa nyaman pria itu.
"Astaghfirullah."
Kemudian ia bersujud. Cukup lama sampai ia bangkit; mengukir senyum tipis tapi tetap manis.
Dilepasnya mukenah putih bersih nan wangi tersebut. Ia lipat beserta sajadah panjangnya. Lalu, ia masukan ke koper mini yang telah siap diangkut.
Setelah itu, ia kembali mengenakan hijab panjang sedada. Dan bergegas ia meninggalkan tempat bermalam ini sebelum fajar menyingsing
***
"Assalamu'alaikum … assalamualaikum …"
Dua kalimat salam dilantunkan di bagian akhir ibadah subuh. Disusul doa dalam hati dengan menengadahkan tangan. Selanjutnya mengusap tangan itu pada wajahnya yang terang, seterang fajar di pagi hari.
Sholat subuh telah ia tuntaskan. Namun, ia belum beranjak bangun dari duduk tahiyat akhirnya. Ia diam tapi bukan berpikir. Ia menatap punggung wanita yang membelakangi dirinya. Punggung wanita yang sudah bisa leluasa ia sentuh, ia usap atau bahkan ia gunakan sebagai sandaran ketika ia lelah dengan dunia.
Senang?
Tidak. Ia tidak merasakan apapun selain ketenangan setelah menyelesaikan sholat subuh. Tapi ia akan senang jika karena kepatuhannya ini, orang tuanya turut berbahagia.
Lama berdiam. Akhirnya, wanita yang ia tatap mulai menggeliat. Pertanda wanita itu akan segera bangun usai menempuh mimpi panjang.
Bergegas Dafa bangkit. Melipat sajadah, dan meletakkan kembali ke tempat semula.
"Mas," panggil Zahira; sudah duduk mengucek kedua matanya. "Baru selesai sholat?"
Dafa mengiyakan, tanpa berbalik menatap wanita itu.
"Maaf, yah, mas." Tiba-tiba wanita itu meminta maaf.
Dafa lantas berbalik. Keningnya mengerut, tetapi tak memudarkan ketampanan pria itu.
"Maaf untuk apa?" Tanyanya.
Zahira tersenyum. Sungguh cantik nan anggun. Namun, entah kenapa bagi Dafa wanita itu tidak memancarkan kesan apapun. Mungkin karena pernikahannya atas dasar perjodohan atau mungkin dalam lubuk hati terdalam Dafa, jiwa Maudi telah terpatri.
Zahira tertunduk. Pipinya bersemu kemerahan. Sesekali ia menyelipkan anak rambut di belakang telinganya.
"Harusnya semalam, malam pertama kita tapi aku malah … um … kedatangan tamu," ucap wanita itu, malu-malu.
Dafa membisu. Sama sekali tak ada ekspresi. Tapi agar wanita itu tak murung, ia pun lantas mengukir senyum. Ia memaklumi, toh lagipula hal ini tidak terlintas dalam benaknya. Entahlah.
***
Zahira izin membuat sarapan kali pertamanya untuk sang suami. Sementara itu, Dafa keluar rumah guna menikmati udara sejuk kota Jombang yang saat ini ia singgahi.
Ditatapnya bangunan tinggi pondok pesantren milik sang mertua. Tampak para santri berjalan silih berganti seraya memeluk kitab dalam d**a.
Tiada yang lebih indah selain dari pemandangan itu. Sungguh pemandangannya membuat hatinya tenang.
Setelah lama berdiam di sana. Dafa teringat satu jiwa. Jiwa yang tak mungkin pernah dilupa, jiwa yang selama ini berhasil mengunci rapat hati Dafa teruntuk perempuan manapun.
Bergegas Dafa pergi dari sana. Langkahnya lebar dan pasti menuju satu ruang yang telah ia hafal di luar kepala. Namun, dipertengahan jalan, ia tersadar.
Ruangan itu terlarang bagi kaum Adam yang bukan muhrimnya. Lantas, Dafa memundurkan langkah.
Saat bersamaan, Ahmed Alamsyah menepuk pundak pria itu.
"Kyai," panggilnya.
Dafa spontan menepuk balik pundak Alamsyah. "Jangan memanggilku begitu."
Alamsyah cekikikan. Sahabat Dafa itu memang paling bisa menggoda Dafa. Termasuk dengan panggilan tadi.
"Sedang apa disini? Ini area terlarang. Dan lagi, harusnya sekarang masih betah di kamar, bukan?" Lanjutnya menggoda lagi seraya menaik turunkan alis.
Dafa mengerti maksud kalimat Alamsyah. Ia balas menghela nafas disertai gelengan kepala. Lalu, berbalik pergi diikuti Alamsyah.
"Dari pagi aku belum melihat Maudi," aku Alamsyah, "kupikir masih tidur tapi kata mbak santri yang kuminta mengantar kurma, Maudi tidak ada di kamarnya."
Serta merta langkah Dafa terhenti. "Tidak ada?" Tanyanya balik.
Alamsyah manggut-manggut. Tanpa komando, Dafa malah balik ke area terlarang itu dan mendatangi tempat Maudi menginap semalam.
"Hei, kau bisa kena marah!" bisik Alamsyah sambil melihat ke sekeliling, takut kalau-kalau ada orang datang. Bisa berabe. Pikirnya.
Benar saja kamar telah kosong. Ketika, Dafa membuka lemari, pakaiannya juga tidak ada. Dan satu lagi. Koper yang Maudi bawa tidak di tempat.
"Fiks!" Alamsyah menepuk-nepuk pundak Dafa seolah memberi dukungan. "Ini si Maudi pulang duluan."
Dafa menggeleng. "Mana mungkin?"
"Buktinya ini kosong. Dan lagi pula, tidak masalah Maudi pulang duluan. Toh, hari ini kita juga akan pulang, 'kan?"
Dafa masih menggeleng. Seakan tahu apa yang sebenarnya terjadi. Gegas, ia pergi dari kamar itu.
Niatnya, sih ingin mengejar Maudi tapi Zahira memanggilnya.
"Mas Dafa."
Mau tak mau Dafa harus berhenti melangkah. Kemudian berbalik menghadap sang istri.
"Mas Dafa mau ke mana?" Tanya Zahira sembari menyeka keringat di kening. "Aku sudah masak untuk mas Dafa. Ayo sarapan dulu!
Dafa tak punya pilihan. Sejenak ia menoleh ke arah gerbang, setelahnya ia mengikuti ajakan Zahira.
***
Berulang kali ponsel Maudi berdering. Ia pun mendengar. Namun, tangannya ia genggam erat-erat supaya tidak merespon panggilan itu.
Guna mengalihkan perhatian, Maudi melihat ke luar jendela. Tampak pemandangan hijau yang menyejukkan. Ditambah kacanya yang dibuka, membuat ia leluasa menghirup udara segar.
Dalam ketenangan begini, Maudi justru malah teringat Dafa. Seketika ia membuyarkan pikiran itu. Lalu, mengeluarkan buku yang dibawa dari rumah.
"Cinta adalah pengorbanan."
Judul bab yang dibaca seakan-akan memperlihatkan perasaan Maudi saat ini. Ia pun tersenyum tipis. Membaca tiap bait dari isi bab tersebut hingga bab berikutnya yang membuat ia memilih menutup buku, dan memejamkan mata.
"Dafa … Dafa … Dafa."
Sebut Maudi tiga kali. Bagai desiran angin, suara itu sampai di telinga Dafa. Ia yang tengah mengunyah makanan pun langsung berhenti.
"Maudi?" Dafa celingukan mencari sumber suara.
"Ada apa, Mas?"