"Maudi?" Dafa celingukan mencari sumber suara.
"Ada apa, Mas?"
Dafa bergeming. Sedetik kemudian ia menggeleng, dan lanjut menyuap nasi. Ia yang tertunduk tidak menyadari wajah merah dari istrinya. Jelas bukan karena tersipu malu, melainkan dibakar api cemburu.
Selang beberapa menit, Dafa selesai makan. Sedang Zahira masih harus menghabiskan setengah porsinya.
Tega. Dafa enggan memberi pengertian Zahira. Pria itu hanya menunggu sebentar.
Saat Zahira melirik, ia pikir Dafa tengah menunggu dirinya selesai makan. Pipinya langsung merona, malu-malu. Tapi kenyataannya tidak demikian.
Dafa memang menunggu, tetapi menunggu makanan turun ke perut sekaligus memikirkan keberadaan Maudi saat ini.
Sedikit lagi makanan Zahira habis. Sebelum benar-benar bersih, Dafa malah beranjak bangun lalu pergi begitu saja.
Zahira sempat akan memanggil. Namun, mulutnya penuh makanan. Dengan sakit hati, ia hanya mampu menatap punggung Dafa yang kian menjauh dan menghilang di balik pintu.
***
Dafa memilih tempat yang agak sepi agar ia leluasa menghubungi Maudi. Begitu tempat didapat, rencana diluncurkan. Sayang beribu sayang, nomor Maudi sudah tidak aktif.
Tidak akan ia tahu, ponsel Maudi sebenarnya mati kehabisan daya. Dan Maudi sengaja membiarkannya meski ia membawa power bank.
Di seberang yang jauh, Dafa menanggalkan peci sesaat. Rupanya ia memiliki rambut lebat, hitam dan jelas terawat. Ia mengguyar rambutnya ke belakang. Ia terpejam selama beberapa detik sebelum ia mengenakan peci itu kembali lalu beranjak mengayunkan langkah.
"Nak Dafa!"
Tatkala langkahnya hampir mencapai anak tangga, seseorang memanggil. Otomatis Dafa menoleh. Rupanya yang memanggil tak lain adalah ayah mertuanya sendiri.
Dafa tersenyum. Ia mengurungkan niat pergi ke kamar. Ia menghampiri sang ayah mertua yang tengah duduk bersama dua pria lain.
"Nggih, Abah."
Abah adalah panggilan dari semua anak-anak Kyai Kurtubi. Berhubung Dafa sudah bergabung, ia pun memanggil beliau demikian.
"Jangan buru-buru ke kamar. Marilah duduk dengan orang-orang shaleh seperti beliau beliau," ujar Kyai Kurtubi seraya memperlihatkan kedua pria di sisinya.
Mereka tersenyum. Salah satunya ikut menimpali, "Kyai, jangan bicara seperti itu. Nak Dafa pengantin baru. Tentu Kyai faham."
Pipi Dafa terasa panas. Ia malu dibicarakan begitu. Beruntung Kyai Kurtubi tak ikut menggodanya. Kyai Kurtubi justru menepuk-nepuk pundak lantas mengajaknya duduk.
"Duduklah, nak."
"Nggih, Abah."
"Kyai iseng," sambung pria satunya. Beliau tampak seumuran Kyai Kurtubi.
"Nak, beliau beliau ini sudah kau kenal, bukan?" Tanya Kyai Kurtubi pada Dafa.
Dafa mengangguk. Tentu ia kenal dua orang besar dan shaleh di sisi ayah mertuanya. Ya, meskipun Dafa belum pernah bertemu secara langsung.
"Beliau beliau sengaja datang jauh jauh kesini hanya untuk mengucapkan selamat atas pernikahan mu, nak. Sungguh mulai sekali."
Kegundahan dalam hati Dafa menguap seketika. Ia bahagia atas kedatangan tamu tamu shaleh, dan itu tidak terpungkiri oleh alasan apapun.
***
Adzan ashar berkumandang bersamaan dengan berhentinya kereta di stasiun Bumiayu.
Maudi sadar telah sampai. Gegas ia merapikan hijab, serta membawa turun kopernya.
Begitu kakinya berpijak di tanah kelahiran, seorang wanita paruh baya menyambut kedatangan gadis itu.
"Ibu," sebut Maudi.
"Alhamdulillah kau sampai dengan selamat. Ibu sudah was was dari tadi. Takut kamu ketiduran terus bablas ke Jakarta. Bisa jantungan kalau ayah mu tahu," balas perempuan berstatus ibu kandung Maudia yang bernama Dewi Ayu.
Maudi terkekeh-kekeh. Ia sampai lupa tidak menyalami tangan ibunya. Setelah ingat, buru-buru ia menjangkau tangan sang ibu, dan mengecup punggung tangan itu.
Dewi Ayu mengusap lembut kepala Maudi. Lantas, mereka berjalan beriringan meninggalkan stasiun.
Tidak sampai lima belas menit, ibu dan anak itu sampai di kediaman. Karena lelah perjalanan, Maudi pamit istirahat usai membersihkan diri. Namun, di dalam kamar, ia justru sempat menangis mengingat tentang Dafa.
Di sela isak tangisnya. Pintu kamar gadis itu diketuk. Cepat-cepat ia mengusap wajah dengan kasar. Lalu, menabur bedak bayi guna memudarkan bekas-bekas kesedihan.
"Maudi, tidur kamu, nak?" Itu suara ayahnya. Maudi sigap melampirkan hijab seadanya. Kemudian lekas membukakan pintu.
"Maaf, ayah, tadi Maudi lagi tidur," dalih Maudi dengan suara khas bangun tidur.
"Ah, ayah sudah mengganggu."
"Hum, tidak, ayah. Ayah baru pulang?" Maudi menyalami punggung tangan sang ayah.
"Nak, ayo kita bicara di ruang tamu. Sama ibu juga."
Perasaan Maudi tiba-tiba jadi tidak enak. Tapi ia berusaha menepis. Ia mengangguk disertai senyum mengukir indah.
***
Mereka satu keluarga beranggota tiga orang duduk mengisi sofa ruang tamu.
Sebagai kepala keluarga, ayah Maudi yang bernama Prabu mengawali pembicaraan. "Nak, kau lanjutkan pendidikan mu di Universitas Yogyakarta saja. Ayah sudah tanya teman-teman ayah. Disana masih buka pendaftaran. Nanti sekalian kau bekerja di rumah sakit terdekat. Lumayan, dapat ilmu sekaligus dapat pengalaman."
Maudi dan ibunya sempat terdiam. Mereka saling lirik satu sama lain.
"Nak, kau ini anak semata wayang ayah dan ibu. Pendidikan ayah hanya setara S1, ayah tidak mau kau bernasib sama. Minimal kau harus lebih dari ayah, nak."
Atas kalimat itu, ibunya menambahkan. "Betul. Ibu juga hanya lulusan D3, masa kamu juga sama kayak ibu, nak."
"Tuh, ibu setuju, lho," timpal ayahnya lagi.
Maudi tertunduk. Sudut-sudut bibirnya terangkat. Betapa beruntungnya ia memiliki kedua orang tua yang mementingkan pendidikan sang anak.
Tidak mungkin Maudi menolak niat baik mereka. Lebih-lebih ini adalah keputusan terbaik supaya Maudi bisa lepas dari perasaan cinta tak tersampainya.
"Nak, bagaimana?" Sang ayah meminta kepastian.
Maudi mengangkat wajah. Dengan senyum mengembang, ia mengangguk. "Iya, ayah, ibu. Aku mau."
"Alhamdulillah," ucap kedua orang tuanya serempak.
***
Hari berganti cepat.
Dafa, Zahira beserta rombongan sampai di Brebes selatan. Bahkan mereka baru saja menunaikan ibadah sholat Dzuhur secara berjamaah. Itu artinya, Zahira sudah suci. Oleh karena itu, dari tadi jantungnya deg-degan. Ia membayangkan apa yang terjadi nanti malam setelah Dafa tahu dirinya tidak halangan lagi.
Sayang beribu sayang. Apa yang Zahira pikirkan menguap seketika tatkala malam itu Dafa malah pamit ke pondok untuk mengajar santri yang digembelng menghafal Al-Qur'an.
Zahira ingin mencegah. Namun, dengan kata apa ia melarang sementara ia bukan seorang ahli. Akhirnya, kesekian kalinya, Zahira hanya menelan kekecewaan.
***
Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Kantuk tak juga menghampiri Zahira. Ia mencoba menyibukkan diri dengan membaca buku hadist nabi. Tapi belum sampai setengah jam, ia sudah bosan. Maklum, hatinya sedang kacau.
Secara tak sengaja, ia menemukan ponsel Dafa tertinggal di atas nakas. Zahira melirik pintu. Pintunya sudah dikunci jauh sebelum ia membaca buku hadist dalam genggaman.
Kemudian ia beranjak. Ia melangkah, mendekati ponsel tersebut. Penasaran membuat ia meraih ponselnya. Lalu, memberanikan diri membuka tanpa seizin dari Dafa.
"Tidak dikunci," batin Zahira.
Dafa selalu begitu. Tak pernah menyembunyikan apapun di belakang Zahira, termasuk perasaan cinta untuk Maudi.
Hal itu bisa Zahira temukan di pesan aplikasi hijau milik Dafa teruntuk Maudia.
[Assalamualaikum, Maudi. Ada apa? Kenapa kau pergi tanpa sepatah kata? Apa yang aku perbuat telah menyakiti hatimu? Tentu kau tahu alasan semua ini, Maudi. Tapi tolong, jangan bersikap demikian padaku. Aku tidak akan sanggup]