Tidak Tersentuh Lagi

1179 Kata
[Assalamualaikum, Maudi. Ada apa? Kenapa kau pergi tanpa sepatah kata? Apa yang aku perbuat telah menyakiti hatimu? Tentu kau tahu alasan semua ini, Maudi. Tapi tolong, jangan bersikap demikian padaku. Aku tidak akan sanggup] Perih, sesak dan cemburu sekaligus menyatu dalam hembusan nafas Zahira. Lekas ia memejamkan mata, serta meletakkan ponselnya kembali ke tempat. Kemudian ia ke luar, bukan untuk menghindar, melainkan mencari udara segar agar sesak dalam dadanya sedikit menguap. Sayangnya tidak semudah itu. Pesan untuk Maudi barusan, seolah-olah menghantui Zahira. Ia yang niatnya menepis, justru kian tersiksa hingga tanpa sadar sudut matanya telah basah. Sesegera mungkin, ia menyeka air mata itu sebelum jatuh membasahi pipi. Lalu, sudut-sudut bibirnya terpaksa ditarik. Dan akhirnya, ia meringankan langkah entah ke arah mana. Belum sampai menemukan tempat berserah, tak diduga Zahira malah berpapasan dengan ibu kandung yang bernama Khadijah. Selayaknya anak dan ibu, Zahira tersenyum menyapa ibunya. "Umi." Begitulah panggilan Zahira untuk sang ibu. Khadijah balas tersenyum hangat. "Mau ke mana?" Tanyanya, lembut seperti belaiannya di kala Zahira kecil. Zahira sempat diam; berpikir. Detik berikutnya, ia menjawab, "Ingin berkunjung ke pesantren, Umi. Kebetulan ada pengajian malam, bukan?" Khadijah tersenyum lagi. Ia kembali membalas, "Tidak perlu. Sudah hampir pukul sepuluh. Pengajian hampir selesai. Para santri juga akan istirahat, karena besok harus sekolah," larang ibunya. "Ngomong-ngomong, tadi umi tidak sengaja mendengar. Katanya ada santriwati yang ketahuan berpacaran saat di sekolah. Sekarang santriwati itu sedang disidang oleh para pengurus." Zahira membisu. Entahlah. Tiba-tiba pikirannya mengarah ke kisah Dafa dan Maudi, yang ia ketahui saling kenal sedari SMA. "Di mana suamimu?" Tanya Khadijah sambil melihat-lihat sekeliling. Cepat Zahira menjawab, "Lagi ke pondok putra, umi. Katanya, sih, akan menggembleng para penghafal Al-Qur'an." "Oh." Khadijah ber-oh kecil. "Nak, besok pagi, rombongan akan kembali ke Jombang. Umi dan Abah juga. Hanya kau yang ditinggal di sini. Pesan umi, tolong jaga sikapmu, yah. Aturan pesantren di sini dan pesantren di Jombang sedikit berbeda. Kau jangan terlalu ikut campur meski suamimu pengelolanya," ujar Khadijah. "Nggih, Umi." *** Zahira balik ke kamar Dafa, yang saat ini sudah menjadi kamarnya juga. Ia duduk di tepi tempat tidur dengan perasaan tak menentu. Sesekali bola matanya melirik ponsel Dafa. Dari tadi, ponsel itu mengeluarkan dering pesan masuk. Tapi saat dicek, tidak ada satupun pesan dari Maudi. Zahira cukup lega, karena Maudi benar-benar mengikuti keinginannya untuk tidak menghubungi Dafa maupun menanggapi Dafa. Kendati demikian, hati Zahira tetap tidak bisa tenang secara utuh lantaran Dafa sendiri lah yang memulai semuanya. Gara-gara pikiran tersebut, kantuk tak juga singgah di kedua mata Zahira. Walau jam menunjukkan angka sepuluh lewat, tetapi matanya kuat terjaga. Hingga tepat pukul sebelas kurang sepuluh menit, pintu kamar dibuka perlahan. Zahira spontan terbangun dari duduknya, dan menelan ludah kelu tatkala Dafa masuk tanpa menggunakan peci. Sungguh. Rambutnya yang hitam legam, juga lebih lebat membuat Zahira terkagum-kagum. Tanpa ia sadari, Dafa telah menutup pintu sekaligus mengunci dari dalam. Kemudian meletakkan pecinya di atas meja belajar. "Belum tidur," kata Dafa dimaksudkan untuk Zahira. Zahira susah payah menelan ludah. Beberapa menit lalu, ia gundah memikirkan hubungan Dafa dan Maudi. Tapi sekarang, ia justru dibuat gugup hanya dengan melihat wajah tampan Dafa Abdullah. "Sudah suci, bukan? Tidurlah. Di sepertiga malam, Insha Allah akan aku bangunkan," suruh Dafa. Zahira mengangguk. Ia lekas menarik peniti hijabnya. Tergerai rambut hitam ikal perempuan itu. Lalu, ia menaiki tempat tidur, serta merebahkan tubuh menghadap langit-langit kamar. Deg Deg Deg Tidak tahu kapan dimulainya, tiba-tiba jantung Zahira berdetak sangat kencang. Saking kencangnya, kemungkinan Dafa akan mendengar kalau pria itu merebahkan diri di sebelah Zahira. "Bismillahirrahmanirrahim …" Dafa turut menaiki tempat tidur. Ia juga terlentang menghadap langit-langit kamar, yang beberapa hari lalu dibersihkan. Sebagai pengantin baru, sewajarnya jika seorang pria memikirkan malam pertama. Namun, hal itu tidak berlaku untuk Dafa. Ia justru memikirkan gadis lain, yang dari kemarin tidak menanggapi pesan maupun panggilan darinya. Sebetulnya, Zahira sudah siap-siap manakala Dafa minta jatah. Sekarang kesiapan wanita itu menguap bagai angin di musim kemarau. Ia hanya bisa menepis pikirannya untuk melayani Dafa selayaknya istri. *** Waktu bergulir. Selepas sarapan semua rombongan siap berangkat. Termasuk Kurtubi dan Khadijah yang menggunakan mobil terpisah dari anggota keluarga lain. Sebelum perjalanan dimulai, mereka sempat melakukan salam perpisahan dengan Zahira. Ditinggal orang tuanya untuk memulai kehidupan baru membuat Zahira tak bisa membendung air matanya. Dalam pelukan sang ibu, wanita itu terisak-isak. "Kalau bisa sebulan sekali, Abah dan Umi datang ke sini atau Zahira pulang, yah," pinta Zahira dengan suara parau. Khadijah hanya terkekeh sambil mengusap-usap pundak Zahira seakan memberi dorongan semangat. "Selama ini, Zahira tidak pernah jauh dari Umi dan Abah. Maaf, kalau Zahira cengeng." "Tidak apa-apa, nak. Umi dan Abah mengerti. Kami juga pasti akan sangat kesepian, karena tidak akan ada lagi yang berani membangunkan Abah saat ketiduran di masjid maupun yang membantu umi memasak," tutur Khadijah. Zahira mengusap sudut-sudut matanya. Ia tersenyum kecil atas jawaban sang ibu. "Sudah, yah. Abah dan Umi harus segera berangkat, karena sore nanti masih ada acara di rumah. Jaga dirimu baik-baik." "Nggih, Umi. Umi dan Abah juga jaga diri baik-baik." Kurtubi mengecup kening Zahira sebelum membuka pintu mobil. Juga tak lupa berpesan pada Dafa, yang dari tadi turut memperhatikan drama perpisahan mereka. "Nak Dafa, titip Zahira. Jaga baik-baik. Berikan kebahagiaan untuknya." "Nggih, Abah," jawab Dafa. Brakkk Pintu mobil ditutup. Mereka sudah di dalam. Kaca mobilnya diturunkan. "Assalamualaikum," salam Khadijah. "Waalaikumsalam," balas Dafa dan Zahira serempak. Mobil perlahan meninggalkan pelataran pesantren. Dari dalam mobil, Khadijah memandang mereka berdua dengan senyum terukir. *** "Sadakallah huladzim." Al-Qur'an ditutup. Ayat suci Allah telah selesai dilantunkan sebanyak satu lembar. Hal itu menjadi rutinitas Maudi setelah sholat magrib. Selanjutnya, Maudi memindahkan pakaian dari koper ke lemari. Secara tak sengaja, selembar foto terjatuh tepat di ujung jari-jari kakinya. Maudi berjongkok. Diambilnya selembar foto tersebut. Kemudian ia sapu wajah dalam foto menggunakan ibu jarinya. Seulas senyum menyusul. Maudi kembali berdiri. Selama satu menit, ia lekat memandang dua wajah dalam selembar foto itu. Siapa lagi kalau bukan ia dan Dafa. "Astaghfirullah, suami orang, Maudi … ingat!" Cepat-cepat Maudi menyimpan selembar foto itu di sela buku-bukunya. Tak henti-henti bibirnya komat-kamit membaca istighfar. Biasalah, setan suka menghasut. "Benar kata ayah. Aku harus segera berangkat ke Jogja biar hati ini bisa lepas darinya. Yahh, meskipun berat tapi semua harus dilakukan," ucap Maudi pada diri sendiri. "Sekarang masih tanggal tujuh. Sisa dua hari lagi untuk berangkat. Sebaiknya aku melakukan kegiatan lain agar pikiran ini berjalan normal seperti biasanya." Tak mau terus menerus terbelenggu oleh bayang-bayang Dafa, Maudi memutuskan membuka benda selebar 14 inch. Ada drama kolosal asal China yang sedang Maudi gilai. Drama itu diperankan oleh Yang Mi dan William Chan. Sebut saja judulnya, Novoland Pearl Eclipse. Maudi sudah menonton sampai episode 37. Ia tinggal melanjutkan episode berikutnya. *** Di depan pesantren putra. Nafas Dafa terdengar lesu. Ia begitu kecewa, melihat pesan darinya belum dibuka juga oleh Maudi, padahal tertulis keterangan Maudi aktif satu jam yang lalu. Alamsyah menyadari air muka lesu Dafa. Alamsyah hanya mampu terdiam. Sebagai sahabat dekat, ia tahu rahasia besar Dafa. Namun, ia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa selain memberinya dukungan di setiap keputusan. "Alam," panggil Dafa setelah satu menit berlalu. Alamsyah menyahut, "Nggih, Gus." "Kira-kira, kenapa Maudi tidak menanggapi pesanku lagi, yah?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN