Chapter 5

1200 Kata
Aaron hanya tersenyum kecil untuk kemudian mengambil ponselnya diam-diam dari celananya dan membuka pesan dari Siena tadi. Dengan sebelah tangannya ia membalas pesan Siena. Nanti aku ajak Kiara. Kau harus Menyiapkan satu kamar lagi untuk kita nanti malam. Sebelum pria itu menekan send, Kiara sudah berujar membuat Aaron mengalihkan pandangannya. "Tapi honey, kenapa aku tidak pernah melihat ponselmu. Bahkan saat di rumah dan di kamar saja aku tidak pernah melihat ponselmu," kata Kiara sembari bersandar di d**a Aaron dan mengusapi d**a bidang suaminya dengan halus. Aaron mengerutkan alisnya kemudian buru-buru mengirim pesannya sebelum menjawab pertanyaan Kiara yang seperti mencurigai nya. "Aku selalu mengantongi ponselku agar selalu berada dalam jangakauanku. Aku selalu menerima pesan dari rekan-rekan bisnisku. Agar aku mudah membaca dan membalas pesan atau telpon mereka. Ponsel itu adalah benda yang sangat pribadi, tidak mungkin kan aku menggeletakan nya begitu saja," jawab Aaron sambil menciun kepala Kiara, tapi bibir seksinya yang sedikit tebal menyeringai. Siena manggut-manggut dalam pelukan Aaron. "Saat tidur juga?" "Kalau saat tidur aku meletakan ponselku di ruang kerja. Aku tidak ingin istirahatku terganggu. Mereka hanya bisa menghubungi saat pagi sampai malam saja tidak termasuk saat tidur. Karena waktu tidur adalah waktu untuk bersama istriku," balas Aaron dengan suara yang dibuat lembut. Alasan yang bagus untuk mengelabui Kiara, pikir Aaron dalam hati. Tring! Siena membalas pesannya dan Aaron harus bersabar untuk membukanya dan membalasnya. Kiara mengajak Aaron mengobrolkan hal apa saja, dan sesekali pria tampan itu akan membalasnya singkat terkadang hanya mengangguk saja. Dengan sebelah tangan memeluk tubuh Kiara, Aaron membuka pesan Siena. Ackerley sialan. Dasar pria m***m, kau b******n ulung. Kau mau membunuhku hah!! Semalaman kau merayuku, meninggalkanku pagi-pagi di hotel. Lalu kau masih berpikir akan menyentuhku lagi. Istrimu bahkan akan tidur satu apartemen denganku. Kau benar-benar si b******k m***m, Aaron. Aaron tertawa melihat pesan balasan Siena yang lumayan panjang dan memakinya. Aaron sangat menyukai saat Siena memaki dirinya, apalagi jika sifat alaminya yang manis dan ekspresi wajahnya yang cantik dan imut, dengan wajah merah dan mata melotot. Sebelum Aaron menjebak dan menyentuh Siena untuk pertama kali, gadis itu sangat lugu dan manis. Namun semenjak kejadian malam itu, Aaron tak bisa lagi melihat wajah Siena yang imut, yang akan memerah saat ditatap dengan dalam. Kini hanya ada Siena si gadis menggoda dan cantik. Aaron masih terkekeh bahkan dia tidak menyadari Kiara sudah melepaskan pelukannya. Wanita itu mengerutkan dahi nya dalam-dalam melihat tawa sang suami. Dari semenjak mereka berhubungan, Aaron itu tidak pernah tertawa segeli ini. Bahkan sampai mereka menikahpun dia tidak pernah melihat suaminya tertawa seperti ini. Aaron itu sangat dingin dan tak tersentuh. Kiara jadi penasaran apa yang membuat Aaron bisa tertawa segeli itu. "Honey?" panggil Kiara yang membuat Aaron buru-buru menghentikan tawanya dan merubah ekspresi wajahnya. "Kau kenapa?" tanyanya. Aaron berdeham pelan dan membenarkan duduknya untuk kemudian menatap Kiara dengan senyum kecil. "Tidak apa-apa. Tadi ada temanku yang mengirim pesan lelucon. Dia bilang istrinya sedang hamil dan mengidam, memintanya agar dia menjadi badut dan menari di jalanan." jawab Aaron sekenanya. Semoga Kiara percaya begitu saja pada bualannya yang murahan. Kiara masih belum berhenti untuk mengerutkan dahinya. Tidak semudah itu kan? Itu hanya lelucon murahan dan Aaron tertawa geli dan gemas seperti itu. Aaron bukan pria yang mudah tertawa apalagi pada lelucon murahan. Bahkan jika ada seseorang yang terjengkang didepannya saja, Kiara bertaruh Aaron akan mengumpatinya bukan mentertawakannya. "Aku tidak percaya lelucon murahan seperti itu bisa membuatmu tertawa geli dan gemas. Ada yang kau sembunyikan dariku, Aaron?" tanya Kiara dengan mata memincing. Satu yang Aaron sadari bahwa Kiara tidak mempercayai bualannya kali ini. Membual dan menjerat seorang wanita adalah keahliannya, bahkan pada istrinya sendiri. "Aku hanya sedang memikirkan saja seandainya kau yang hamil dan mengidam hal-hal aneh padaku. Misalnya seperti temanku yang menjadi badut," jelas Aaron lagi yang melanjutkan bualannya. Sudah terlanjur berbual, dan dia sedikit takut bila Kiara mengetahui hubungan gelapnya dengan Siena. Selain akan kehilangan Kiara, Aaron juga akan kehilangan Siena. Kehilangan dua Lovey bersaudara membuatnya akan gila. Apalagi kehilangan Siena, gadis yang sangat ia puja. "Aku mau lihat ponselmu," ujar Kiara telak dan merebut ponsel Aaron. Saat Kiara membuka pesan, dia tak melihat ada satupun pesan di kotak masuk. Cukup mengherankan karena sebelumnya ada pesan dari Siena. Kiara hanya mengedikkan bahunya dan mengembalikan kembali ponsel Aaron. Kemudian memeluk kembali tubuh besar Aaron. "Apa kau ingin punya baby?" tanya Kiara yang kini sudah percaya kembali pada Aaron. Kiara itu terlalu mencintai Aaron, baginya tidak penting untuk sekedar mencurigai suaminya. Karena mendapatkan pria sesempurna Aaron dan juga kekayaannya, sangatlah sulit. Hanya wanita bodoh yang akan menolak seorang Aaron Ackerley yang begitu tampan, seksi dan penuh godaan bahaya. Apalagi dirinya dipersunting Aaron, menjadi nyonya muda Ackerley. Akan sangat bodoh jika dirinya menganggap Aaron mencurigakan dan memiliki wanita lain. Kiara hanya berasal dari keluarga sederhana yang bahkan keberuntungannya mengalahkan Cinderella. Dinikahi seorang pemimpin Ackerley group, yang dipuja banyak perempuan manapun. Jika dibandingkan dengan semua teman tidur dan mantan kekasih Aaron, Kiara tak ada apa-apanya. Jadi dia harus bersyukur dan mencintai suaminya. "Tentu saja. Kalau aku tidak punya anak, siapa lagi yang akan mewarisi kekayaanku," jawab Aaron tak berminat. "Kau mau punya anak hanya sekedar untuk warisan saja ya?" gerutu Kiara dengan wajah cemberut sambil mencubit d**a Aaron. Aaron menunduk untuk melihat wajah Kiara dan hanya menatapnya dengan pandangan biasa. Melihat Kiara, Aaron teringat pada Siena, wajah cemberut Siena yang cantik dan imut, bibir merekahnya yang dimajukan dan mata bulatnya yang coklat keemasan begitu cantik, lebih menarik daripada Kiara. Meski mereka bersaudara, entah mengapa bagi Aaron Siena lebih menggoda dan cantik. "tidak," balas Aaron singkat. "Honey, kau tahu tidak, Siena itu pernah memiliki seorang kekasih saat kuliah. Pria itu sangat tampan, bahkan mereka sangat serasi. Awalnya aku pikir Andrew dan Siena sampai menikah, tapi tidak, karena Andrew mencampakan Siena demi gadis lain. Orang tua Andrew pernah mengusirnya karena keluarga kami bukanlah orang kaya. Sampai saat ini dia belum berkencan lagi, karena traumanya pada laki-laki seperti Andrew," cerita Kiara tiba-tiba. Aaron yang sedang memeluk tubuh Kiara tiba-tiba mengepalkan tangannya. Tatapan matanya yang tajam semakin tajam dan rahangnya mengeras. Kiara sedikit heran saat merasakan tubuh Aaron sedikit kaku. Pria itu merasa marah mendengar penuturan Kiara tentang Siena. Tentu saja, karena ada pria lain yang pernah mencampakan gadis secantik Siena yang bahkan lebih cantik dari wanita yang pernah ia tiduri. Dan mengingat pria itu pasti pernah meniduri Siena, tanpa Aaron ketahui bahwa Siena masih seorang perawan sebelum kejadian malam itu. "Apa mereka masih berhubungan?" tanya Aaron dengan nada yang terdengar biasa, meski tenggorokanya seperti bergolak. "Yang aku tahu sudah tidak. Andrew pergi meninggalkan Siena tanpa kabar saat mereka lulus. Saat itu aku tak tahu cara menghibur Siena, karena dia baru pertama kali berpacaran, dan kekasihnya mencampakkannya. Siena itu gadis baik-baik, dia bahkan tertutup." "s**t!" Aaron mengumpat pelan, tangannya mengepal erat membuat Kiara menatapnya bingung. "Kiara, aku lupa kalau sekarang aku ada jadwal untuk bertemu dengan Mr.Winston. Kau ke apartemen Siena duluan saja, kirimkan pesan untuk menanyakan alamat apartemennya. Aku nanti akan menyusul kesana." Aaron melepaskan pelukannya pada Kiara dan bangkit dari duduknya, bersiap untuk pergi. Kiara hanya mengangguk mengerti dan menuruti ucapan Aaron. "Aku pergi duluan, sayang," ujar Kiara sembari mencium bibir Aaron sekilas dan meraih handbag Channel nya. Aaron membalasnya dengan anggukan singkat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN