Setelah Kiara pergi, Aaron buru-buru meraih ponselnya dan menghubungi seseorang. Setelah terhubung pria tampan itu buru-buru bicara.
"Carikan aku informasi tentang mantan kekasih Siena Lovey yang bernama Andrew. Aku ingin besok informasinya sudah aku pegang, atau kau akan berakhir dijalanan," ucap Aaron dengan nada yang rendah dan dingin, seolah bisa membuat siapapun bergetar ketakutan oleh suaranya. Tanpa mendengarkan balasan dari orang yang dihubunginya, Aaron langsung mengakhiri panggilannya.
"s**t!" Aaron menggeram dan membanting ponselnya ke sofa. Ia merebahkan tubuhnya dan melonggarkan dasinya. Mata hijaunya yang seksi menatap ke depan, dengan begitu dalam dan misterius.
Pria tampan itu menutup matanya dengan tangan kirinya. Kenapa Siena sangat berpengaruh padanya. Dia hanya menginginkan tubuh Siena, itu saja. Namun mendengar Siena memiliki mantan kekasih, yang bisa saja merebut Siena darinya membuat hatinya panas dan geram. Bisa saja mereka bertemu dan tingkah penggoda Siena yang sekarang bisa membuat mereka kembali bersama. Tak akan ada yang bisa menolak Siena si cantik dan seksi seperti sekarang. Apalagi dengan wajah sayu dan tatapan indahnya. Hanya pria bodoh dan tak normal yang akan menolaknya, karena kenyataannya Aaron pun begitu tergila-gila pada gadis itu.
"Aku tidak akan membiarkanmu jatuh pada siapapun, Siena!" Aaron menggeram.
(^¤^)(^¤^)
Setelah turun dari taksi Kiara menatap heran gedung tinggi yang menjulang dihadapannya. Ini kawasan apartemen elit. Karena penasaran ia mengecek kembali pesan Siena yang memberitahukan alamat apartemen dan nomor apartemennya. Apartemen ini memang yang alamatnya Siena kirimkan padanya.
Kiara tak pernah tahu bahwa Siena memiliki apartemen elit dan mewah. Setahu Kiara, Siena bilang saat terakhir menghubunginya, adiknya tinggal di apartemen kecil bersama temannya Juliet. Apalagi Siena hanya bekerja di kantor arsitektur kecil, tak akan mampu hidup mewah di kota New York.
"Apa mungkin Siena memiliki kekasih pria Amerika? Atau jangan-jangan dia menjadi simpanan pria disini? Oh tidak mungkin, adikku adalah gadis baik-baik," gumam Kiara.
Tanpa membuang waktu lagi Kiara bergegas masuk ke gedung tinggi itu dan menuju kamar tempat Siena tinggal.
Setelah sampai di depan kamar Siena yang berada dilantai 9, Kiara langsung memencet bel sebanyak dua kali. Tak lama pintu terbuka yang menampilkan Siena dengan hotpants yang membungkus pinggul sekalnya, blus yang berpotongan rendah, dan rambut panjangnya yang berwarna coklat yang sangat pas dengan warna kulitnya.
Siena adalah tipe gadis yang cantik dan manis. Tubuhnya ramping, pinggangnya kecil dan sedikit mungil. Wajahnya kecil dan dagunya lancip, dengan tulang pipi yang tegas, mata bulat yang coklat keemasan dengan bulu mata lentik, dan bibir mungilnya.
Sesaat Kiara tertegun melihat penampilan adiknya. Siena adalah tipe gadis yang lebih suka menutup tubuhnya dan rambutnya hitam legam, karena ia tak suka yang terlalu seksi. Akan tetapi kini Siena yang ada dihadapannya sangat berbeda. Tinggal di New York membuatnya berubah banyak.
"Kiara ...," panggil Siena pelan kemudian memeluk Kiara yang masih berdiri di depan pintu. "Kau apa kabar?" tanya Siena begitu melepas pelukan mereka.
"Aku baik-baik saja. Kau nampak sangat menikmati ya tinggal disini."
"Tentu saja aku betah di sini. Di sini banyak pria Amerika yang tampan dan seksi," katanya diakhiri dengan kekehan kecil.
Kiara ikut tertawa mendengarnya, mereka tumbuh bersamaan sejak sekolah. Sejak remaja mereka memang selalu bergosip berdua jika melihat kakak kelas yang tampan, atau para pria yang tampan juga seksi, tapi semenjak dicampakkan kekasihnya Siena mulai tertutup.
Siena menggiring Kiara untuk masuk. Setelah sampai di dalam, Kiara kembali tertegun melihat ruangan apartemen Siena yang mewah dan memiliki dua lantai. Dekorasi dan barang-barang didalamnya merupakan barang-barang mahal. Kiara kembali berpikir dari mana Siena mendapatkan apartemen semewah ini. Tidak mungkin juga ini dari gaji nya di kantornya yang sekarang. Yang mampu membeli ataupun menyewa apartemen semewah ini hanya orang-orang seperti Aaron atau pun seperti dirinya sendiri yang merupakan nyonya muda Ackerley.
Kiara masih berdiri sambil menatapi satu persatu sudut-sudut apartemen mewah itu. Siena menghampiri Kiara dengan membawa dua gelas orange juice. Mereka duduk di sofa panjang ruang tengah yang lagi-lagi merupakan barang mahal.
"Kau tidak bekerja hari ini?" tanya Kiara sambil menatap Siena yang sedang meminum orange juice nya.
Siena meletakan gelasnya dia meja. "Tidak. Aku sedang mengambil libur, karena aku ingin bertemu dan menemanimu selama disini. Aku mendapat pesan dari suamimu kalau kalian sedang berada di New York. Jadi aku meminta Aaron untuk membawamu ke sini," jawab Siena dengan nada suara yang santai. Siena sudah tahu bahwa Aaron juga akan memberikan alasan yang sama, karena Aaron adalah orang yang membuatnya harus membohongi Kiara, kakaknya sendiri.
"Siena, ini apartemenmu?" tanya Kiara lagi. Siena menatap Kiara yang juga sedang menatapnya dengan penasaran.
"Aah ini." Siena menghentikan ucapanya, gadis itu sedikit memutar otak namun mencoba bersikap biasa. "Ini apartemen temanku, dia sedang pulang ke desa karena ibunya sakit. Jadi dia memintaku tinggal bersamanya," jawabnya.
Kiara mengangguk mengerti dan dalam hati Siena meminta maaf pada kakaknya karena berbohong. Selama ini Siena tak pernah tega membohongi saudarinya sendiri, tapi karena si b******k Aaron, dia harus selalu membohongi Kiara. Agar hubungan mereka selalu tersembunyi.
Siena mengambil minumannya dan meneguknya, untuk membersihkan tenggorokannya yang mungkin saja tercekat.
Beberapa saat mereka saling diam sampai Siena memecahkan keheningan diantara mereka. "Kau sudah makan siang?"
"Belum, tadi aku menemani suamiku di kantornya jadi aku belum sempat makan siang."
"Bagaimana kalau kita makan siang dulu? Aku sudah masak banyak hari ini," ujar Siena seraya berdiri dari duduknya dan meraih tangan Kiara untuk ke ruang makan.
Mereka tiba di ruang makan, Siena sudah menyiapkan semua masakannya. Akhirnya setelah tiga bulan tidak bertemu, Kiara bisa merasakan masakan Siena lagi. Karena diantara mereka berdua, Siena lah yang pantas menjadi istri idaman. Selain cantik, pintar masak, bisa mengurus rumah juga. Sedangkan Kiara, lebih sering menghabiskan waktunya ditempat kerja.
"Siena, aku ingin bercerita."
Siena yang sedang menuangkan sayuran menatap Kiara sebentar. Setelah selesai ia mulai menyuapkan makanannya. "Cerita tentang apa?"
"Ini tentang Aaron."
"Uhuk ... Uhuk ..." Siena yang sedang menyuapkan makanannya langsung tersedak membuat Kiara didepannya buru-buru mengambil air putih.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Kiara. Siena hanya mengangguk.
"Emm.. Memangnya kenapa dengan suamimu?" setelah dirasa tenggorokan nya tidak perih lagi, Siena bertanya untuk memastikan. Dalam benaknya, ia takut Kiara mengetahui hubungannya dengan Aaron.
"Aku terkadang heran padanya, Aaron itu sangat aneh jika mengenai ponselnya. Dulu selama kami pacaran, dia bahkan tidak peduli dengan ponselnya, tapi semenjak kami menikah dia selalu menyembunyikan ponselnya, tidak pernah melepaskan ponselnya atau menggeletakkannya dimanapun." cerita Kiara.
Siena mengulum bibirnya mendengar cerita Kiara. Dalam hati ia ingin tertawa mendengar kebodohan Aaron, yang menyembunyikan hubungan mereka dari istrinya.
Rasakan itu pria sialan, istrimu sendiri sudah mencurigaimu. Mungkin sebentar lagi dia akan menanyakan lipstik siapa yang menempel di kerah bajumu.