Chapter 7

1150 Kata
"Ponsel itu kan hal yang sangat pribadi, mungkin saja dia hanya sedang mengamankan rahasi-rahasia mengenai perusahaan. Kau kan tahu suamimu itu seorang pengusaha yang sukses dan terkenal," komentar Siena sambil melanjutkan kembali suapannya yang dibalas Kiara dengan menghela napasnya pelan. "Aku tahu, tapi kan aku ini istrinya. Jika sedang di kamar setidaknya dia tidak usah menyembunyikan ponselnya. Selama ini aku bahkan tidak tahu Aaron menyembunyikan ponselnya dimana jika sedang tidur." Kiara kembali mengeluhkan perasaannya yang masih mencurigai Aaron. Siena tersenyum tipis. "Mungkin saja suamimu hanya ingin menjaga privasi para rekan pengusaha nya. Seorang istri kan tidak perlu ikut andil dalam pekerjaan suami, jadi kau juga harus bisa menghargai privasi suamimu." Kembali Siena memberikan komentarnya untuk menekan rasa curiga Kiara. Jika Kiara curiga pada Aaron, maka akan mudah untuk Kiara menemukan siapa yang sedang Aaron lindungi darinya. Atau mungkin suamimu sedang menjaga privasi selingkuhannya, lanjut Siena dalam hati. "Ternyata kau pintar juga ya dalam berkata-kata. Aku pikir kau sangat kaku perihal itu." Kiara membalasnya sambil tertawa ringan. "Aaron itu pria yang dipuja banyak wanita, kau merasa curiga pun tidak masalah, tapi jika kau mencurigai seorang pria kaya yang mau menikahi gadis dari keluarga sederhana seperti kita, rasanya sangat keterlaluan," balas Siena lagi. Seharusnya kau bersyukur bisa dinikahi pria seperti Aaron, sedangkan aku hanya dijadikan wanita simpanannya. Lanjut Siena dalam hati. "Tapi kan ..." "Sebaiknya kita makan dulu, jika kau bercerita terus, kau akan melupakan makananmu," potong Siena buru-buru. Kiara mengangguk dan melanjutkan makanannya. Mereka makan dalam keheningan, tak ada lagi yang berbicara. "Siena, kau tahu tidak Aaron ingin memiliki anak dariku secepatnya," ucap Kiara tiba-tiba. Siena yang sedang mengunyah hampir saja tersedak, namun tidak jadi dan tenggorokannya menjadi panas. Mendengar Aaron meminta anak dari Kiara, membuat hatinya perih dan sakit. Ia sadar bahwa Kiara adalah istri sah yang dicintai Aaron, bukan seperti dirinya yang hanya menjadi wanita simpanan. Siena melanjutkan makannya tanpa mengatakan ataupun membalas ucapan Kiara. Tanpa Kiara sadari, sebelah tangannya mengerat penutup meja dibawah meja dengan erat. (*0*) (*0*) Malam harinya Aaron masuk ke kamarnya yang akan ditempati bersama Kiara sementara, disebelah kamarnya ada kamar Siena. Pria tampan itu merebahkan tubuhnya diatas kasur dan memejamkan matanya. Menutupi wajahnya dengan sebelah tangan. Aaron terus memikirkan perkataan Kiara mengenai mantan kekasih Siena. Pria itu sudah mencampakan Siena, itu Siena yang dulu. Yang masih lugu dan polos. Sekarang Siena sudah berubah total, menjadi Siena yang menggoda dan seksi. Mungkin saja pria itu akan kembali mengejar Siena. "s**t! Kenapa pula Siena harus berubah menggoda seperti itu. Jika saja aku sedikit mengabaikannya, bisa jadi Siena jatuh pada pria lain." Aaron menggeram dan memukul kasur yang sedang ia tiduri. "Aku tidak akan membiarkan pria manapun menyentuh Siena. Dia adalah wanitaku. Wanita simpananku, dan segala sesuatu yang ada pada tubuhnya adalah milikku," katanya lagi. Aaron kembali memejamkan matanya dan menghela napasnya kasar. Karena memang jika memikirkan Siena, akal sehatnya seperti tak sehat lagi. Aaron yang dingin dan tak tersentuh bahkan bisa menjadi iblis sekalipun. "Honey ..." Tiba-tiba suara lembut Kiara menyapa pendengaran Aaron. Wanita itu naik ke kasur dan merangkak mendekati tubuh Aaron. Ia duduk disamping Aaron, menundukan wajahnya dan menciumi rahang suaminya. Dengan sensual Kiara mengusapi d**a bidang Aaron, dari rahangnya sampai perut. Namun Aaron tak berkutik sama sekali, ia masih saja memejamkan matanya tanpa berminat membalas godaan Kiara. Entah mengapa baginya godaan sekecil apa pun jika dari Siena, akan membuatnya gila. Namun jika itu Kiara, ia merasa enggan. "Kau lelah, sayang?" tanya Kiara lagi tepat di sebelah telinga Aaron untuk kemudian menggigitnya. Suaranya begitu menggoda dan serak. Untuk mencoba membangkitkan gairah sang suami. Sedangkan pria tampan itu tetap bergeming, tidak menggubrisnya. Kiara masih melancarkan aksi nakalnya. Dia memijat-mijat bahu kokoh milik Aaron kemudian menciumi pipinya dengan sensual. Aaron masih tak bereaksi, karena dalam pikirannya justru Siena lah yang sedang menggodanya. Tanpa diduga Kiara merangkak naik dan menduduki perut ramping Aaron. Membuat Aaron sedikit terkesiap dan menurunkan tangannya. Mata hijaunya yang tajam menatap Kiara dengan datar. Meskipun ia sedikit terangsang dengan godaan Kiara, tapi yang ada dalam benaknya justru Siena lagi. "Darling," bisik Kiara dengan suara yang lebih meggoda. Tapi sayangnya Aaron malah menghela napas lelah. "Tidak malam ini Kiara. Aku sangat lelah," ujar Aaron dengan nada yang rendah dan serak. Meski suaranya sedikit tercekat karena merasa b*******h, namun Aaron masih terlihat menolak istrinya. Aaron menurunkan tubuh Kiara dari atas perutnya dan berbalik untuk memunggungi wanita itu. Kiara yang merasa ditolak suaminya sendiri merasa kesal dan turun dari ranjang, menuju kamar mandi. Setelah Kiara pergi ke kamar mandi, Aaron bangun dan melihat ada gelas berisi air putih di meja nakas. Karena kebiasaan Kiara yang akan meminum air putih sebelum tidur, untuk menjaga kelembapan kulitnya. Aaron menyeringai saat mengingat sesuatu. Ia pun turun dari ranjang. "Tidak malam ini, Kiara." Aaron berbisik dan menyeringai. Terdengar suara gemerisik air yang berjatuhan dari kamar mandi, karena Kiara sedang mencoba membuat dirinya segar lagi, setelah gagal disentuh oleh Aaron. Aaron berjalan ke arah tas kerjanya yang tergeletak di sofa panjang kamar itu. Ia membukanya dan nengambil sesuatu dari dalamnya. Sebuah botol kecil berisi cairan bening. Bibir seksinya yang sedikit tebal menyeringai kembali. Aaron kembali pada meja nakas dan menuangkan setengah dari isi botol itu pada air putih di meja. Aaron itu seperti titisan dewa Yunani, memiliki rupa yang sangat tampan namun memiliki hati bagai dewa iblis. Dia sudah menyiapkan semuanya, bahkan obat tidur di tangannya. Pintu kamar mandi terbuka, dengan cepat Aaron mengantongi botolnya dan bersikap biasa saja. Mata tajamnya menelusuri tubuh Kiara yang dibalut bathrobe dengan rambut basah. "Sayang, kau aneh sekali hari ini," gerutu Kiara pada Aaron sambil berjalan menuju meja rias. Pria itu berdeham untuk membalas gerutuan istrinya. Aaron mengangkat bahunya dan mengambil duduk di atas ranjang. Setelahnya Kiara berjalan menghampirinya dan duduk disampingnya. Memeluk tangan kekar Aaron dan mencium rahangnya yang ditumbuhi janggut-janggut halus yang belum dibersihkan sepenuhnya, karena Siena sangat menyukai Aaron dengan janggut tipis. "Aku tidak," jawabnya singkat tanpa mengubah ekspresinya yang datar. "Kau iya. Kenapa kau menolakku? Tidak biasanya," sindir Kiara. Aaron hanya mengedikkan bahunya tak peduli, kemudian merebahkan kembali tubuhnya di kasur. Sedangkan Kiara sedang menggosok rambutnya yang basah kemudian meneguk air putih di meja sampai habis. Melihat Kiara yang mengabiskan air putihnya membuat Aaron menyeringai kecil dengan tatapan misterius. Karena sebentar lagi dia bisa menjumpai Siena dengan leluasa tanpa takut diketahui Kiara. "Maafkan aku, aku hanya sedang lelah," balasnya. "Aku mengerti, sini biar aku pijat agar lelahnya berkurang," ujar Kiara sambil naik ke ranjang dan mulai memijiti kaki Aaron. Aaron menutup matanya dan menikmati pijatan Kiara di kakinya yang merasa sedikit lelah. Namun pijatan Kiara semakin lama semakin melemah. Aaron membuka matanya dan mengintip Kiara yang berkali-kali menguap. "Kenapa aku sangat mengantuk," katanya sambil menguap. "Tidurlah." Aaron menarik tubuh Kiara untuk berbaring disampingnya. Menyelimutinya kemudian memeluknya. Kiara berkali-kali menguap dan memeluk tubuh besar Aaron, hingga wanita itu jatuh tertidur. Setelah Kiara tertidur, Aaron menunggu beberapa saat sampai semuanya terkendali. Aaron menyeringai dan melepaskan pelukan Kiara di tubuhnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN