Chapter 8

1221 Kata
Aaron turun dari ranjang dan berjalan keluar, matanya melirik pintu kamar sebelah. Menghampirinya dan membukanya, namun tak ada Siena didalamnya. Aaron menaikan sebelah alisnya dan berjalan menuruni tangga sambil memasukan kedua tangannya ke saku celananya. Aaron terus berjalan mencari keberadaan Siena, namun tak ada dimanapun. Dengan langkah tegapnya Aaron berjalan ke dapur. Didapur, gadis itu sedang membelakanginya dan berkutat dengan sesuatu di meja konter. Punggung sempitnya membuat Aaron harus mengepalkan tangannya, menahan diri untuk tidak memeluknya dengan erat dari belakang. Rambut panjangnya ia ikat sampai atas hingga leher putihnya terlihat jelas. Siena memiliki pinggang yang ramping, pinggul yang indah dan kulit yang mulus. Dari belakang saja terlihat sangat indah untuk dipeluk. Jika dibandingkan dengan Kiara, bagi Aaron Siena lebih indah. Aaron mengepalkan kedua tangannya menahan sesuatu dalam tubuhnya yang bergejolak. Dengan langkah pelan tanpa disadari Siena, Aaron merengkuh pinggangnya, memeluk tubuh ramping Siena dengan tangan-tangan besarnya. "Akh!" Siena berjengit terkejut dan hampir saja menjatuhkan wadah yang sedang ia pegang. Gadis itu sudah sadar bahwa Aaron lah yang memeluknya, dengan wangi mint bercampur kayu-kayuan yang khas dirinya yang selalu Siena sukai. "Kau mengejutkanku," kata Siena sambil melepaskan wajan ditangannya dan mencoba berbalik. Namun Aaron memeluk tubuhnya semakin erat, menciumi bahu dan leher Siena degan lembut. Napas hangatnya menggelitik leher Siena. "Aku ingin mengejutkanmu," balasnya dengan suara setengah seraknya yang seksi. "Benarkah?" Siena melepaskan tangan Aaron di perutnya kemudian berbalik, mendongak menatap mata hijau Aaron yang seksi. "Kau sedang apa?" tanya Aaron seraya memeluk pinggang Siena dan mendekatkan dengan tubuhnya. "Aku sedang membuat cookies, karena Kiara sangat suka makanan manis. Aku biasa membuatkan cookies untuknya," jawab Siena. Gadis itu terdiam sejenak, memikirkan sedikit ada yang janggal diantara mereka. Kemudian ia teringat bahwa di apartemen ini juga ada Kiara. "s**t!" Siena mengumpat seraya mendorong tubuh Aaron dan menjauhinya. Aaron menaikan sebelah alisnya dan memasukan kembali kedua tangannya disaku celana. "Kenapa?" "Kau mau membunuhku ya. Di sini kan ada Kiara juga." Siena berbalik kembali dan meneruskan pekerjaannya tanpa mempedulikan Aaron. "Kiara sudah tidur," balas Aaron. "Bagaimana bisa? Dia baru saja berbincang denganku tadi," ujar Siena seraya berbalik kembali. "Bisa saja, karena aku memasukan obat tidur di air minumnya." Siena membulatkan matanya dengan wajah tak percaya, menatap Aaron dengan pandangan seperti menatap orang gila. "Kau benar-benar suami berengsek," gerutu Siena. "Yah, dan kau tahu itu." Aaron membawa tubuhnya mendekati Siena dan merengkuh pinggang gadis itu kemudian merapatkan dengan tubuhnya hingga d**a mereka bersentuhan. Tangan besarnya menguspai rahang Siena, dan tatapan tajamnya seolah bisa membekukan tubuh Siena. "Tapi kau suka aku yang b******k ini kan?" bisik Aaron seraya menundukan wajahnya tepat didepan telinga Siena. Siena mengerat pinggang Aaron dan memejamkan matanya merasakan napas hangat dan bisikan seksi Aaron. "Kau bukan hanya b******k, tapi juga gila," balas Siena. Aaron terkekeh pelan dan mencium pipi Siena. "Mungkin jika aku tak b******k kau tak akan suka padaku." Aaron melepaskan tubuh Siena dan mengangkatnya kemudian mendudukannya di meja konter. Mereka saling bertatapan. Mata sayu dan indah milik Siena dengan mata tajam dan penuh pesona milik Aaron. Siena duduk dengan Aaron yang berdiri diantara kedua kakinya. Tangan halusnya mengusapi rambut kecoklatan Aaron yang lembut. Mata sayu dan bulat Siena bergerak menatap seluruh wajah tampan Aaron. Tangannya juga turun pada rahang Aaron yang sedikit ditumbuhi bulu-bulu halus. "Kiara bilang kau ingin secepatnya memilki anak darinya," bisik Siena. Aaron memejamkan matanya merasakan sentuhan halus dirahangnya dari Siena. Tangan besarnya mengusapi pinggang kecil gadis itu. "Tidak," jawab Aaron singkat. "Kenapa? Kiara sudah cukup dewasa untuk memiliki anak denganmu." "Aku tidak suka anak kecil," balasnya lagi dengan suara lebih rendah. Terdengar tak suka dengan apa yang Siena bicarakan. Siena diam dan tak melanjutkannya, karena menyadari Aaron tak menyukai pembicaraan mereka. Aaron masih memejamkan matanya sedangkan Siena masih mengusapi rahangnya. "Aku harus kembali melanjutkan pekerjaanku," ujar Siena sambil mendorong d**a Aaron dan siap turun. Namun Aaron malah mencengkram pinggang Siena dan menarik lehernya dengan sebelah tangannya, hingga wajah mereka bersentuhan. Dengan cepat Aaron memagut bibir merah Siena dan melumatnya, membuat gadis itu mengerang. Kedua tangan rampingnya saling mengait di leher Aaron, dengan kedua kaki yang juga mengait di pinggang Aaron. Mereka berciuman dengan dalam, saling melumat bibir masing-masing dan menyalurkan perasaan yang terpendam diantara keduanya. Siena mengerang dalam ciuman Aaron yang membuatnya selalu gila. Bibir seksinya yang sedikit tebal begitu pas melumat dan mencium bibir kecil Siena yang semakin memerah. Tangan-tangan besar Aaron meremas pinggul Siena, dan merambat naik menyusuri tubuhnya sampai ke atas. Membuat Siena semakin mengerang. Aaron juga meremas p******a Siena yang dilapisi kaosnya, membuat gadis itu melepaskan ciumannya dan melengkungkan tubuhnya. "Aakh!!" Siena mengerang dan menjambak rambut Aaron. Sedangkan Aaron masih meremas payudaranya dengan kasar hingga ia melengkungkan punggungnya kebelakang. Tangannya turun ke bahu Aaron dan mencengkeramnya dengan keras, untuk menahan gejolak yang menggerayangi tubuhnya. Mulai dari godaan Aaron yang kejam sampai pusat gairahnya. "A-aron ..." Siena mengerang. Pria tampan itu menyeringai melihat wajah Siena yang memerah dengan mulut terbuka dan mata terpejam. Padahal ia hanya menyentuh payudaranya yang selalu membuat Aaron menggila, tapi gadis itu sudah terlena. "Kenapa tubuhmu begitu mendambaku, Sayang?" bisik Aaron dengan suara rendahnya yang seksi. Lidahnya menjilati telinga Siena dengan sensual, membuat gadis itu semakin menggeliat. "Menurutmu, lebih baik siapa? Aku atau Kiara?" tanya Siena ditengah lenguhanya. "Tentu saja dirimu, bodoh. Kau lebih menggoda dan indah dibanding Kiara," bisik Aaron lagi. Aaron menghentikan remasan tangannya di p******a Siena, sedangkan gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu kekar Aaron. Wajahnya sudah memerah dan napasnya sedikit terengah. Aaron meraih bahu Siena dan mencium bibirnya dengan dalam. Mereka kembali berciuman dengan dalam, saling melumat dan memakan bibir masing-masing. Tangan besar Aaron menaikan kaos Siena dan merayap di atas kulit perutnya yang halus. Terus naik sampai mendapatkan ujung bra. Ketika Aaron akan membuka branya, tangan Siena menahannya. "Kenapa?" tanya Aaron dengan sebelah alis terangkat dan melepaskan ciuman mereka. Siena mengatur napasnya dan menangkup rahang Aaron dengan kedua tangannya. Mata bulatnya yang indah berpendar ragu menatap Aaron. Sebelum mengatakan sesuatu, Siena mencium hidung mancung dan tegas milik Aaron. "Tidak untuk malam ini, Aaron," ujar Siena. "Apa maksudmu?" wajah Aaron berubah menggelap dengan rahang mengeras. Suaranya pun datar dan rendah. "Kita tidak bisa melakukannya. Aku sedang datang bulan," jawab Siena masih menangkup wajah Aaron. Wajah Aaron mengeras dan kedua tangannya mengerat di pinggang Siena. Dengan kasar pria tampan itu melepaskan tubuh Siena, menjauh dan menatap Siena dengan dalam, tajam dan seperti akan menelannya hidup-hidup. "Kau serius?" Aaron mendesis dengan suara dalam dan tatapan menggelap. "Aku serius, Aaron. Kau perlu bukti?" Siena turun dari meja konter dan mendekati Aaron. Namun pria itu justru mundur menjauhi Siena. "f**k!" Aaron mengerang dan menggeram dalam. "Kau tahu? Aku sudah menolak Kiara malam ini karena dirimu," lanjutnya. "Aaron." Siena menatap Aaron tak percaya. "Aku tahu kau hanya menginginkan tubuhku saja. Apa tidak ada sedikit saja dalam pikiranmu ini diriku? Hanya aku bukan tubuhku. Kau hanya memikirkan tentang kepuasanmu saja." Siena menatap Aaron dengan dalam. Mata cokelat keemasannya berpendar redup. Bagaimana pun ia adalah seorang perempuan, yang memikirkan semuanya dengan hati. Perempuan rapuh yang harus bersikap dewasa dan berani. Namun Aaron masih saja menganggapnya sebagai barang kepemilikannya. "Apa aku ini hanya benda milikmu? Bahkan bukan wanitamu?" lanjutnya lagi dengan suara kecil. Siena berjalan melewati bahu Aaron untuk pergi meninggalkan pria itu dan pekerjaannya yang belum selesai. "s**t! s**t! s**t!!" Aaron menggeram dan mengumpat dengan kasar. Pria itu mengusap wajahnya dan rambutnya dengan kasar. (^¤^)(^¤^)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN