Chapter 9

1311 Kata
Aaron berjalan menuju kamarnya, namun sebelum ia masuk, pria tampan itu membua pintu kamar Siena. Keadaan kamar Siena sedikit remang, karena hanya diterangi lampu tidur. Dengan langkah pelan Aaron masuk, melihat ranjang Siena dalam keadaan kosong. Jendela kamarnya yang menuju balkon terlihat terbuka dengan gorden birunya yang tipis berkibar. Aaron mendekati pintu menuju balkon, dan melihat Siena sedang berdiri dibalkon sambil memandang pemandangan malam kota New York, dari lantai 9. "Aku minta maaf." bisik Aaron dari belakang tubuh Siena. Pria itu mendekati Siena dan memeluk pinggangnya dari belakang. Siena sendiri mengeratkan tangannya dipembatas balkon. Ia memejamkan matanya, menikmati udara malam yang dingin, dengan angin yang bertiup menerpa wajahnya. "Kau marah padaku?" bisik Aaron lagi dengan suara beratnya. Tangan besarnya merengkuh pinggang Siena, sedangkan wajahnya menyusup di bahu sempit gadis itu. Hidung mancungnya menciumi leher halus Siena yang baginya begitu wangi. "Aku tidak marah. Hanya saja rasanya sakit Aaron. Kau tidak akan pernah bisa mengerti aku, bagaimana aku harus menahan perasaanku pada Kiara, karena membohonginya. Bagaimana aku harus melihat dirimu bermesraan dengan Kiara." balas Siena dengan suara berbisik. Matanya terbuka dan menatap kembali kota New York yang penuh gemerlap. "Aku mengerti." balas Aaron seraya mencium leher Siena yang lembut. Siena semakin mengeratkan tangannya, menahan godaan Aaron di lehernya. Ditambah tubuh besar dan tinggi Aaron memerangkap tubuhnya. Dengan hangat dan begitu jantan, seolah ia merasa sangat aman berada dalam dekapan pria tampan itu. "Tidak, tidak. Kau tidak akan pernah mengerti." ujar Siena. "Oke, aku memang tidak pernah mengerti dengan perasaan perempuan. Karena mereka sulit ditebak." balas Aaron dengan nada mengalah. Siena melepaskan tangan Aaron diperutnya, ia berbalik dan mendorong tubuh Aaron menjauh. Dengan wajah yang masih belum menatap Aaron, Siena berjalan mendekati kursi dengan meja kayu. Tempat Siena bersantai jika memiliki waktu senggang. Siena duduk sambil menaikan kedua kakinya ke kursi kemudian memeluk didadanya. Kepalanya bersandar disandaran kursi, dengan tatapan menerawang. "Sebagai permintaan maafku, kau menginginkan apa? Aku akan memberikan apapun untukmu. Bahkan tas dan sepatu terbaru, limited edition." "Berhenti memperlakukan aku sebagai pelacurmu, Aaron! Kau pikir semua wanita mau tunduk hanya karena uang? Tidak semua Aaron." Siena sedikit memekik dengan suara kesal. Gadis itu membuang kembali wajahnya agar tak menatap Aaron. "Oke, oke. Aku menyerah, sayang." Aaron berbalik dan mengangkat kedua tangannya pertanda menyerah untuk mendebat Siena. Aaron mendekati Siena, berlutut didepan gadis itu, tangannya terangkat untuk menyentuh pipi Siena yang semakin membulat. Dengan diam, gadis itu hanya membiarkan Aaron mengusap pipinya, padahal ia tahu Aaron tidak akan pernah menekuk lututnya untuk siapapun, bahkan mungkin termasuk Kiara. Aaron bangun dan menarik tangan Siena agar berdiri. Setelah Siena berdiri, pria tampan itu gantian duduk, merengkuh tubuh Siena agar duduk dipangkuannya sambil mendekapnya. Siena membiarkannya, ia menikmati setiap rengkuhan hangat Aaron. Dengan tangan-tangan kokohnya memeluknya, merengkuhnya dengan nyaman. Meski kadang perasaan tak nyaman menggelayutinya. "Terkadang aku hanya ingin kau melihatku sebagai Siena, sekali saja. Bukan sebagai wanita simpananmu." bisik Siena sambil menyamankan duduknya didepan Aaron. Ia menekuk kakinya keatas, dengan Aaron yang ikut memeluk kakinya. "Humm.. Jika aku menganggapmu sebagai Siena, maka kau adik iparku. Tapi jika aku menganggapku simpananku, maka kau wanitaku." suara Aaron berbisik berat, membuat Siena mendengus dan kembali menikmati kebersamaan mereka. Mereka melewati malam ini dengan perasaan hangat dan pelukan kehangatan dimalam dingin. Tak ada percintaan ataupun gairah yang menggelora. Hanya kehangatan yang sesungguhnya Siena inginkan dari Aaron. Namun itu cukup mustahil, mengingat Aaron seperti Raja iblis. (*0*)(*0*) Suara alarm dari jam weker Siena yang ia taruh diatas nakasnya berbunyi nyaring. Membuat dua sosok diatas ranjang menggeliat tak nyaman karena kebisingan. Siena yang pertama bangun dan melirik jam dinding yang menunjukan pukul 5 pagi. Sambil menguap dan mengucak mata, Siena kembali merebahkan dirinya dan mencari kenyamanan dari tubuh yang memeluknya. Tangan besar dan kokoh bahkan memeluk pinggangnya membuat Siena tersadar sesuatu. "Aaron!" Siena memekik pelan sambil melepaskan tangan Aaron dari pinggangnya dan menyibakkan selimut. "Gawat! Jangan sampai Kiara bangun lebih dulu." Siena bergumam dan turun dari ranjang. Gadis itu menepuk-nepuk pipi Aaron agar bangun dan cepat pergi, namun Aaron masih terlelap. "Aaron bangun! Kiara akan bangun dan melihatmu tak ada di sampingnya, dan dia tahu bahwa adiknya menyembunyikan suaminya dibalik selimutnya. Cepat bangun!" "Hhmm.." Aaron hanya bergumam dan membuka setengah matanya, untuk melihat Siena yang sedang mengguncangkan tubuhnya. "Tunggu sebentar." Aaron mendudukan dirinya dan memegangi kepalanya yang terasa pening. Pria itu juga menguap dan menyibakkan selimut kemudian turun dari ranjang. Sebelum Aaron keluar, Siena membenarkan rambut coklat Aaron agar sedikit lebih rapi, kemudian menuntunnya keluar. Aaron mengernyitkan dahinya setelah Siena mencium pipinya kemudian menutup pintu kamarnya. Pria tampan itu mengusap wajahnya dan berjalan menuju kamar dimana Kiara tidur. Saat pintu dibuka, Kiara masih terlelap dalam tidurnya, jadi istrinya tak tahu apapun. Aaron berjalan kedalam, mengambil ponselnya yang ia sembunyikan dibalik tas kerjanya. Ada satu pesan dari anak buahnya yang membuat Aaron mengerutkan dahinya. Sesaat ia melirik Kiara kemudian berjalan keluar dari kamar. Ketika diluar pun, Aaron memutar pandangannya untuk menemukan keberadaan Siena. Setelah dirasa sepi, Aaron melangkah turun dari tangga. Presdir, saya sudah mendapatkan informasi mengenai hubungan nona Siena dengan mantan kekasihnya. Setelah tiba diluar kamar apartemen Siena, Aaron menghubungi anak buahnya sekaligus orang kepercayaannya. Ia harus menunggu beberapa saat, meski wajahnya terlihat tak sabaran, karena Aaron bukanlah pria yang mau bersabar. Tak berapa lama panggilannya diangkat dari seberang telpon. "Bagaimana?" tanyanya tanpa basa basi. "Saya sudah mendapatkannya, Presdir. Informasi mengenai nona Siena." suara seorang pria dari sebrang line menyapa Aaron. "Cepat katakan apa itu, Sam?" tanya Aaron dengan nada dingin, tak mau basa basi. "Nona Siena pernah memiliki mantan kekasih semasa kuliah. Pria itu adalah pria asal Korea Selatan, pewaris tunggal dari Choi group, perusahaan yang bergerak dibidang konstruksi dan properti. Mereka keluarga pengusaha kaya di Asia." jelas Sam, membuat Aaron meremas tangannya dan hampir meremukan ponsel ditelinganya. Choi group perusahaan properti dari Korea Selatan, seperti membuat Aaron mengingat sesuatu. Sambil menahan geramannya, pria tampan itu kembali mendengarkan apa yang akan Sam sampaikan. "Mereka putus karena Andrew Choi harus kembali ke Korea Selatan, untuk meneruskan kembali perusahaannya. Tapi Presdir, yang saya dengar Andrew Choi mendirikan perusahaannya sendiri di London dan New York." "s**t!" Aaron mengumpat kasar dan mengacak rambutnya. Jika mantan kekasih Siena begitu kaya dan tampan, bahkan sewaktu-waktu bisa bertemu dengan Siena yang cantik dan menggoda, bisa jadi gadis itu meninggalkannya. "Lalu apa lagi?" tanyanya dengan nada sedatar mungkin. Menahan geraman dalam suaranya, agar Sam tak curiga mengenai Siena. "Ada satu hal lagi, Presdir. Saya menemukan data-data riwayat kesehatan nona Siena disalah satu rumah sakit swasta di London. Dalam riwayat kesehatan yang berhasil didapatkan anak buah saya, nona Siena pernah melakukan operasi 3 bulan lalu." "Operasi?" "Iya. Nona Siena pernah melakukan operasi quret karena keguguran." lanjut Sam lagi. Aaron hampir saja melepaskan ponselnya dan kakinya akan goyah, mendengar bahwa Siena pernah keguguran. Tiga bulan lalu, tepat dimana dia baru saja menikahi Kiara dan berbulan madu ke Paris. Jika Siena keguguran maka anak itu, adalah anaknya. "Keguguran kau bilang?" tanya Aaron lagi untuk lebih meyakinkan dirinya. Sam diseberang line mengiyakan pertanyaannya. "Jangan coba-coba bohongi aku, Sammy. Kau tahu kan akibat membohongiku?" Aaron menggeram dalam dan berbahaya. "Ti-tidak Presdir! Saya akan mengirimkan bukti riwayat medisnya melalui email. Sebelum pergi ke New York, nona Siena pernah mendatangi dokter kandungan dan tak lama ia operasi keguguran." "Dia menggugurkan kandungannya?" "Untuk itu saya tidak tahu." "Baiklah, aku tutup teleponnya, Sam." Aaron menutup panggilannya dan mengantongi ponselnya. Mata hijaunya yang tajam semakin menajam, kedua tangannya saling mengerat. Kemudian kepala Aaron berputar untuk melihat keadaan koridor apartemen yang kosong dan belum ada yang keluar. Aaron masuk kembali kedalam apartemennya. Ia membuka pintunya dan hampir saja berteriak marah saat melihat seseorang mengejutkannya didepan pintu. Yang ternyata Kiara yang sedang menatapnya dengan heran, masih dalam balutan gaun tidur. "Honey, kau dari mana?" tanya Kiara. "Aku baru saja olahraga." jawabnya singkat dengan nada rendah. Tanpa mempedulikan sang istri yang terheran-heran, Aaron melewati Kiara dan berjalan menuju kamar mereka untuk membersihkan diri. (*0*)(*0*)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN