Perang Dunia : Sebuah Pertahanan

1617 Kata
Sebelum Rein membahas lebih lanjut, Liana harus kembali ke ruang kendali tank terlebih dahulu dan menyembunyikan tank untuk keadaaan darurat. Rein dan kedua prajurit yang lain harus keluar dari tank dan mengecek lingkungan sekitar untuk memberikan kenyamanan pada Liana untuk memarkirkan tank. Rein masih menetap di atas tank, justru mengeluarkan mereka berdua untuk bersiaga di luar tank. Pasangan katanya masih lurus ke depan. Tidak ke arah yang lain. Senjata AK-47 masih berada di genggamannya, belum menarik pelatuknya. Alvin dan Vania menoleh kiri dan kanan secara bergantian, sambil memegang senapan di tangan mereka untuk memastikan tank itu tetap beroperasi. "Kenapa aku harus berjalan lagi? Bukankah aku harus menegur sok ngatur itu?" Vania tidak menjalankan perintah dengan ikhlas, perlu beberapa perintah agar Vania melaksanakan perintah itu, berjalan mengitari tank misalnya. "Tidak apa-apa. Lagipula kita harus menjaga diri agar pertahanan kita tidak lemah." Alvin merespon, tatapan matanya agak mati ditelan helai rambut yang menghalanginya. Vania kembali tidak memiliki suara sama sekali setelah itu. Dia tidak terlalu mengerti dengan perkataan Alvin, juga Rein. Sementara itu, Rien masih memeriksa kinerja kedua prajurit itu. Terkesan seperti seorang pengawas tentara berpangkat sersan. Belum lagi, mereka harus melakukan latihan dan memperbaiki pengalaman agar lebih baik lagi. Beberapa menit kemudian, tank berhenti bergerak, terparkir di antara semak-semak. Rein juga menyuruh agar tank itu dipastikan bersembunyi di tempat yang tidak diketahui karena ini merupakan sebuah strategi yang diterapkan oleh mayor tertentu. Tank langsung dinonaktifkan dan mengambil beberapa kunci berupa sidik jari agar bisa mengaktifkan tank kembali ketika kabur dari rumah. Liana keluar dari tank lalu menguncinya. Rein dan Liana kembali turun dan mendatangi kedua tentara yang sedang berjaga, memeriksa ancaman yang akan datang dengan titik terang mereka. Sekarang, mereka tidak perlu melakukan itu karena Rein dan Liana sudah berada di depan mata mereka. Rein merangkul mereka berdua, memastikan mereka mendengarkan Rein dalam menjalankan misi ini. Ini akan menjadi pengalaman pertama dalam pertempuran mereka, apalagi Vania. "Aku menyembunyikan tank ini agar mereka tidak menyerang secara membabi-buta. Jika kita menyerang dengan tank dan sembrono, mereka akan mengerahkan kendaraan mereka dan tamatlah riwayat kita." Rein menjelaskan, tatapan wajahnya terasa meresahkan bagi mereka. "Jadi, kau menyuruh kami untuk menyusup ke wilayah musuh untuk membunuh mereka diam-diam?" Alvin memastikan agar tanggapannya dan dugaannya benar. "Sederhana saja. Kita hanya perlu menyusup ke wilayah mereka lalu memaksa mereka untuk menghadapi kita berempat dengan usaha yang keras. Kalian juga perlu hati-hati agar Qasar dan Saudi tidak mengetahui rencana kita." "Vania. Alvin. Kalian masuk dalam perbatasan dimana tidak ada orang yang berjaga di situ. Aku dan Liana harus masuk ke dalam pintu perbatasan lalu memalsukan rekaman itu. Waktu kita tidak banyak. Kita harus bergerak cepat agar mereka tidak curiga sama sekali." "Aku akan menjelaskan detail mengenai rencana kita secara mendalam." Rein melanjutkan. Alvin dan Vania tahu apa yang harus dilakukan, memaksa mereka pergi ke perbatasan dengan memanjat pagar besi setelah mendapatkan kode rahasia itu. Liana mengajak Rein dengan sentuhan tangannya ke seragam Rin untuk pergi secepat mungkin. Mereka berpisah, kembali berlari dengan cepat. Langkah kaki mereka berlainan, sehingga mereka tidak bisa bertemu pada saat yang bersamaan. Mereka perlu berpisah agar mereka tetap selamat. Untung saja Vania berada di sisi Alvin. Meskipun Alvin mendapatkan pengalaman bertempat lebih baik dari Rein, dia tidak bisa mendapatkan pangkat yang lebih cepat dan perlu progres yang cukup lama. Misi ini menentukan segalanya, hidup dan mati. [*^*] Di wilayah pertahanan Aliansi Kawasan Tengah, pagar besi dipasang dengan sengatan listrik yang diaktifkan selama 24 jam nonstop. Para teknisi juga perlu memeriksa pagar besi pembatas pada malam nantinya. Para tentara yang menggunakan seragam loreng krem sebagai identitas negara di Kawasan Tengah. Mereka masih memegang senapan yang berasal dari hasil impor dari Qasar dan Saudi. Mereka berpatroli seperti biasanya, tidak mau membiarkan orang lain masuk dengan seenaknya. Mereka akan memberikan akses pada batalyon yang merupakan satu rekan untuk memberikan jalan untuk aktivitas perang. "Cek. Rohimma 23. Apakah kamu melihat orang yang masuk? Ganti." Suara itu berasal dari jam tangan virtual, yang hanya mengeluarkan suaranya. "Cek. Ghazela 09. Tidak ada yang aneh. Kita aman untuk sementara waktu." Seorang tentara yang berpatroli menjawab, merespon sambil memeriksa seseorang yang datang kemari. "Baguslah. Sekarang ,kamu bisa ….." Tiba-tiba suara itu menjadi grusak-grusuk, tidak jelas penyampaiannya. "Halo? Ghazela 09 di sini. Dimohon untuk merespon secepatnya." Tentara itu berteriak, berharap teriakann itu terdengar dengan jelas meskipun kecil. Tidak ada jawaban yang berarti. Semuanya gagal pada saat yang bersamaan. Alat komunikasi yang mereka gunakan tidak memiliki kegunaan untuk saat ini. Namun, koneksi yang terpampang di jam tangan virtual itu tidak berfungsi sama sekali. Tidak ada yang aneh. Tidak ada balasan dalam waktu yang lama. Tentara yang sedang sendirian harus berpatroli tanpa rekan setim. Ini demi memperluas kemungkinan namun justru melonggarkan beberapa keamanan. "Sudahlah. Aku harus memeriksa ke arah ….." Tentara itu langsung terjatuh begitu sebuah peluru sniper mendarat ke arah kepalanya. Tentara itu sudah dipastikan meninggal dunia ketika banyak dan rahnyanh bercucuran di lantai. Tembakan sniper berada di atas bangunan, memperlihatkan seorang remaja yang menggunakan kekuatan khusus. Dia menggunakan AK-47 dan mata emas agar bisa mengenai target dengan mudah. Ekspresinya serius, tidak seperti biasanya. Sudah banyak korban yang berjatuhan hanya karena satu tembakan AK-47 yang menembus kepala mereka. Ini jauh tidak mungkin karena normalnya akurasi AK-47 lebih rendah daripada AWM. Sepertinya, Rein sudah menonton video yang tersedia di akademi sebelum menirunya. "Sekarang, kau bisa memalsukan data ini. Kita perlu melonggarkan beberapa keamanan agar mereka berdua bisa masuk ke dalam. Setelah itu, kita harus bergerak cepat." Rein menarik senapan, membuat ekspresi wajah yang tidak bisa diprediksi. Dia langsung turun dari bangunan dengan melompat seenak jidat. Kakinya, mendarat dengan selamat, pendengarannya masih berfungsi agar Rein bisa mengatur waktu dengan efisien. "Baiklah! Aku sudah selesai mengurus keamanan wilayah ini. Sekarang, kita bisa menyerbu mereka kapan saja." Tidak ada respon setelah Liana mengeraskan suaranya. Asalkan Rein sudah mendapatkan informasi yang menguntungkan, semuanya baik-baik saja. "Tunggu sebentar, Chivakov. Aku akan menghajarnya begitu aku sudah membantai mereka semua!" [*^*] Sengatan listrik mulai dipadamkan, kedua prajurit itu kembali bergerak dengan leluasa karena pengamanan pagar besi telah dikurangi. Jadi, mereka tidak perlu curiga atas kedatangan penyusup. "Sekarang, waktunya telah tiba. Jika kita masuk dengan sembrono, kita akan tertangkap dengan cepat meskipun Rein dan Liana akan ditangkap sebelum waktu habis. " "Jadi, kita harus menunggu lagi? Ini cukup merepotkan." Vania tidak berhenti mengeluh, semua yang dilakukan selama latihan militer tidak membuahkan hasil berupa sebuah elemen penting, kedisiplinan. "Kau hanya wanita yang belum berpengalaman dan sering mengeluh. Mungkin, setelah kejadian ini, kamu akan paham nantinya." Vania tidak mendengarkan sama sekali, lebih tepatnya keras kepala. Dia masih belum mengerti dengan pengalaman yang dialami. Perkemahan Militer tiga bulan tidak cukup mengubah mindset wanita itu menjadi tentara yang lebih mapan untuk pertempuran lainnya. Mereka langsung berlari ke pagar besi itu dan memanjatnya dengan cepat, mengejar waktu agar bisa menyusup dengan ruang lingkup yang lebih jelas. Namun, tu belum cukup karena mereka masih mendapatkan halangan yang cukup menggemparkan. Vania sempat membuka teropong modern dan melihat beberapa kendaraan berlapis yang sedang berkendara. Vania menjauhi teropong dari matanya lalu melaporkan Alvin yang berusaha untuk mencapai pagar besi paling atas. Teriakan itu menyebabkan adrenalin Alvin kembali meningkat pesat. "Alvin. Kita punya masalah. Kita harus bersembunyi sekarang juga. Mereka mau datang ke sini." "Jika mereka mengetahui keberadaan kita dan pagar besi ini. Tamatlah sudah." Alvin merespon, bergegas manjat dengan kemampuannya lalu turun dengan menerjunkan diri di udara. Vania melakukan hal yang sama. Mereka berlari dan bersembunyi begitu masuk ke dalam bebatuan yang bertujuan untuk menghilangkan bayangan dan jejak mereka. Ketika Humvee melaju cepat, seorang pria melihat beberapa bayangan yang mencurigakan. Seorang rekan tim menantang kondisi pria itu, terasa aneh dengan ekspresi wajahnya. "Ada apa? Kau terlihat tegang di sini." "Aku tadi melihat bayangan yang masuk ke dalam markas itu. Aku yakin ada yang tidak beres di sini." "Bodoh! Kau terlalu banyak menghayal jadi kau melihat bayangan di penglihatanmu." "Terserah kau saja kalau tidak percaya." Pria yang melihat pagar besi itu menyerah, membiarkan rekannya menang. Sekarang, mereka langsung pergi ke jalanan yang mereka tuju untuk menambah akses masuk ke dalam. Mereka perlu membawa beberapa surat izin sebelum masuk ke dalam di perbatasan yang cukup selektif. Humvee itu menghilang, jejaknya tidak ditemukan lagi setelah itu. Tidak ada tanda kecurigaan dan memeriksa kabel besi itu. Ini semua karena ada orang yang mengurusnya. Jadi, tidak ada tentara yang mengurus hal yang tidak perlu dilakukan. Ini membuat Alvin dan Vania menjadi lebih tenang. Membelakangi bebatuan terasa lebih hina. Setidaknya, mereka tidak ketahuan oleh seorang pria yang hanya memandangi lingkungan sekitar di setiap perjalanan. "Hampir saja. Kita bisa selamat berkat kebodohan mereka." Vania menghela nafas, mengusap keringat beberapa kali agar lebih tenang. "Bagus. Sekarang, kita harus bergerak cepat dan masuk ke dalam lokasi yang dituju." "Tunggu! Alvin! Jangan tinggalkan aku!" Vania mengejar Alvin, memastikan Alvin tidak meninggalkan Vania sendirian di wilayah musuh. Sekarang mereka sudah bergerak lebih cepat dan bersembunyi, tidak bisa terlihat oleh lawan lagi. Kecepatan lari mereka dipercepatnya agar mereka bisa tiba di lokasi itu tepat waktu. Setelah melakukan perjalanan cukup lama, sekitar 20 menit, mereka tiba di sebuah tempat penyimpanan kendaraan untuk persediaan barang. Mereka berhenti lari lalu mengatir nafas dan tenaga untuk pekerjaan berikutnya. Tampaknya, Rein sudah membunuh orang dan menumpahkan minyak di berbagai tempat itu. Liana memasang api dan membuat api menyebar dengan cepat, hampir membakar tapat itu menjadi lautan api. Kini, ekspresi Rein sangat berbeda dari biasanya, lebih gembira dan menikmati pertarungan ini setelah mengurus berkas tak bersisa sama sekali. "Oke. Kalian sudah datang. Sekarang, kita harus menyerang mereka pada saat yang tepat. Bersiaplah untuk berperang di neraka yang sesungguhnya!" Rein tertawa keras, pembakaran tempat persediaan barang semakin menjadi-jadi. Rein berharap musuh kehilangan beberapa titik penting yang merugikan mereka ketika mendapat serangan. "Sekarang ikut aku! Kita akan langsung ke titik perhatian pusat agar mereka membuat usaha yang sia-sia."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN