Tanggal 30 Oktober 2030, perjalanan tank cukup panjang bisa memakan waktu yang lama. Gerakan roda tank berputar dari bawah ke atas seperti roda pada umumnya.
Tank itu melaju perlahan meskipun bisa melaju sampai 60-70 km per jam. Semua orang yang berada di dalamnya berada dalam keamanan yang terjamin. Serangan roket tidak akan mengganggu mereka.
Rein yang berada di dalam tank memutuskan untuk keluar dari tank untuk mencari udara segar. Dia bersenda untuk memantau lagi agar mereka tetap aman dari serangan musuh.
"Kalian. Aku keluar terlebih dahulu untuk mencari udara segar."
Mereka pun langsung mengangguk paham, mengetahui apa yang dipikirkan Rein dan kebiasaannya. Mereka masih fokus untuk membersihkan senjata mereka agar mereka bisa kembali bertempur dengan senapan yang rapi.
Rein menuju ke tangga untuk menaikkan tangga agar bisa keluar dari tank itu. Setelah menaiki 7-10 tangga, pintu tank dibuka dan ditutup lagi agar Rein tidak membiarkan udara masuk.
Seragam yang dikenakan Rein dilepaskan dari terlihat pakaian kaos putih yang nyaman untuk dipakai. Ia menghirup udara yang dingin di musim gugur. Rasanya cukup berbeda dan bebas dari biasanya.
Hanya saja, Rein tidak bisa bebas sepenuhnya karena ia harus mengawasi lawan yang akan menyerang mereka. Tidak ketinggalan, Rein sudah menyiapkan amunisi dan akurasi tembakan di segala arah.
Sementara itu, Liana masih menyetir, memandang layar monitor yang penuh dengan konsentrasi. Agak lelah karena harus menyetir seperti orang dewasa.
"Oke. Kita singgah di bawah pohon itu yah!"
Vania dan Alvin mendengarkan pengumuman Liana di ruang kendali tank. Liana maju sibuk dengan tombol dan setir tank itu, mengarahkan moncong tank ke tempat yang dituju agar Rein paham dengan kode dari Liana.
"Akhirnya, kita bisa istirahat setelah perjalanan yang berat ini. Lama sekali sampainya." Vania menghela nafas, istirahat setelah perjalanan panjang adalah hal yang membosankan.
"Tidak ada yang cepat dengan tank yang cepat. Meskipun tank Rapista S-20 adalah tank yang lebih baik daripada tank pada umumnya." Alvin merespon, menyiapkan senjata sebelum keluar dari tank itu.
Karena pesan dari Liana, Vania dan Alvin harus membawa makanan yang disediakan agar bisa santai di perjalanan yang panjang.
Diperkirakan, mereka bisa sampai di ruang perang sekitar 2 minggu.
Setelah keluar dari tank itu, mereka, Liana, Vania, dan Alvin langsung meloncat dan bergegas ke pohon besar itu. Tidak lupa Liana memberikan pesan pada Rein untuk mengisi ulang bensin tank untuk berjaga-jaga.
"Rein. Jangan lupa pasang bahan bakarnya yah! Kami mau makan dan bersantai dulu."
"Jangan khawatir! Aku akan mengisi bahan bakar sekaligus mengamankan tank ini." Rein merespon dengan haluan tangan, duduk santai sebelum menjalankan tugasnya.
Sementara itu, mereka membuka kotak makanan yang dibawa dari ruang persediaan sumber daya. Piknik seperti satu keluarga yang bahagia. Sekali mengobrol sambil menikmati keindahan alam yang diperoleh selama bekerja sebagai Tentara Reshan.
Cukup istirahat 10 menit, mereka akan kembali ke tank dan kembali melakukan perjalanan, sekaligus mengecek peta beberapa saat untuk mengurangi kebosanan mereka.
Delapan menit yang berlalu, Rein sudah menyelesaikan tugasnya. Sudah memasang bahan bakar tank untuk siap berkendara. Selain itu, dia juga membersihkan dan memberikan beberapa sentuhan. Termasuk sentuhan untuk tembakan yang digunakan ketika bertempur nanti.
Rein adalah mayor yang cukup rajin untuk menjalankan tugasnya. Tidak heran jika ia bisa mendapatkan pangkat mayor dengan mudah.
"Sudah selesai. Waktunya memanggil mereka untuk kembali berjalan. Lagipula, aku bisa makan dengan tenang ketika tank itu kembali berjalan."
Rein langsung berbalik badan dan bergegas ke tangga sebagai pintu masuk dan keluar. Ia tidak lupa singga di ruang persediaan makanan untuk membawa beberapa kotak makanan yang bisa dipegang dengan genggaman tangan.
Kalau soal minuman, dia bisa mengambilnya lain kali.
Setelah keluar dari tank, Rein langsung berteriak, menyuruh mereka masuk ke dalam untuk melakukan perjalanan yang cukup panjang dan berat. Tapi, mereka harus mengendalikan diri mereka agar tidak ditaklukkan oleh kebosanan yang merenggut mood mereka.
"Masuklah! Istirahat kalian telah berakhir!" Rein berteriak, menempelkan kedua tangannya di mulutnya agar suaranya bisa terdengar dari kejauhan.
Mereka bertiga mengakhiri kehidupan santai mereka, segera menghabiskan makanan yang ada di mulut mereka lalu berlari ke arah tank untuk masuk ke dalam lagi.
Setelah naik ke ata tank dengan penuh perjuangan, mereka pun langsung masuk, tidak sedikit dari mereka menatap Rein dengan sinis karena dia baru istirahat malah menyuruh bekerja lagi.
"Dasar, bodoh! Kau malah istirahat ketika kami harus menjalani penderitaan ini." Vania Mauk dengan kekecewaan, sekaligus memberikan kritik pedas pada Rein mengenai kinerjanya.
"Kau seperti orang yang melakukan kesenangan ketika orang lain sedang bekerja. Memalukan." Tidak ketinggalan, Alvin memberikan respon b******k kepada Rein.
Rein sedikit terdiam, memutuskan untuk tidak istirahat terlebih dahulu. Mereka tidak terlihat sama sekali begitu mendarat di pintu masuk tank dan kembali ke ruangan mereka di belakang.
Liana tidak memberikan kritik sama sekali, malah memberikan respon yang baik kepadanya untuk membalas budi alias respek. Setelah itu, Liana langsung membuka pintu tank dan menggunakan tangga untuk turun sebelum menutup pintu kembali.
Rein kembali mengunyah makanan ketika pada waktu yang tepat, sekitar 10 menit lamanya.
"Sepertinya mereka perlu belajar tentang memberikan respek pada atasan."
[*^*]
"Ada musuh! Cepat keluar, dasar bodoh!" Pesan Rein terpampang jelas dengan semprotan bubuk merah dan lemparan molotov di samping kendaraan berlapis baja itu.
Liana terkejut ketika melihat layar monitor di sampingnya. Terdapat api yang membara di sekitar roda tank itu. Sekilas, itu adalah kode yang begitu
Tidak pikir panjang, Liana langsung menekan tombol darurat yang berada di depan matanya. Seketika, alarm berbunyi keras di dalam tank tapi tidak dengan di luar.
Rein sedang bersembunyi di atas tank dan mencari musuh yang bergerak secara elegan. Tidak terlihat sama sekali karena dia memanfaatkan waktu dini hari untuk menyerang. Ketika lengan dan berniat tidur, para musuh bisa menyerang dengan diam-diam.
Tapi, tidak berlaku pada Rein karena Rein sudah mengganti jam tidur yang seharusnya pada malam hari menjadi siang sampai sore hari.
Tak lama kemudian, di dalam tank itu. Vania dan Alvin sudah tiba di tangga bagian atas untuk membuka pintu tank. Terasa macet, bahkan perlu beberapa tenaga yang dalam untuk membuka pintu di tank itu.
Mereka mengetahui jika alarm darurat berdering ketika mereka tidur, akan terjadi malapetaka yang menghantui mereka. Mereka sudah mempelajari kode etik dan beberapa hal lainnya mengenai militer.
Setelah memutar gagang pintu tank itu, mereka langsung mendorong ke atas dan pintu terbuka, memberikan ruang agar Rein bisa selamat lebih besar.
Rein bisa selamat meskipun tidak menggunakan seragam militer, bisa mengurangi kesempatan untuk hidup akibat banyak tembakan yang mengarah pada tubuhnya. Mereka berdua, Alvin dan Vania langsung
"Ada apa? Musuh menyerang lagi?" Vania langsung menghampiri Rein pada suasana malam yang dingin.
UIya. Ini sudah ketiga kalinya aku harus berhadapan dengan mereka. Tapi, ini lebih merepotkan daripada biasanya." Rein menjelaskan, kembali mengisi ulang amunisi AK-47.
"Makanya, jangan menetap di luar tank! Sesekali masuk ke dalam gitu." Vania langsung mengeluarkan kritikan, terkesan cerewet pada seorang mayor.
"Tidak bisa. Aku harus melakukan penjagaan selama 5 hari berturut-turut agar kalian tetap selamat." Rein kembali mengomel, membalas kritikan lagi.
"Sudahlah! Kita harus berpikir bagaimana cara kita bisa menangani situasi ini. Hanya satu orang yang menyerang kita dengan menggunakan molotov yang cukup berlebihan. Kurasa ini adalah seorang prajurit berpengalaman yang tersesat akibat mengabaikan perintah atasan." Alvin menganalisis meskipun rasa kantuk masih menghantuinya.
Mereka berdua berhenti mengoceh, tidak ribut seperti sebelumnya. Sekarang, mereka kembali berpikir untuk menyelesaikan hal yang merepotkan. Lawannya cukup tangguh sampai merepotkan Rein. Seharusnya, Rein bisa membunuh dengan mudah. Namun, entah mengapa Rein justru kerepotan dengan lawan yang hanya memanfaatkan titik butanya.
"Kau benar. Tapi, kita harus mencari cara agar dia bisa menunjukkan dirinya." Vania mendekati Alvin, tidak perlu berkelahi sampai segitunya.
Rein langsung melemparkan amunisi AK-47 ke sembarang tempat. Tidak sengaja, lemparan iitu bisa mengenai kepala musuh yang kebetulan berada di sana.
"Sakit, tahu!" Musuh itu langsung terlihat, memarahi orang yang melempar amunisi yang mengenai ke kepalanya.
"Ups! Aku tidak sengaja. Aku lelah sekali." Rein justru menganggap remeh musuh yang telah merepotkannya.
"Kau menggantikan jam tidurmu. Jangan banyak alasan!" Vania menegur, mengetahui kebohongan Rein adalah hal yang mudah baginya.
"Kenapa kamu menyerang kami? Kami hanya ingin istirahat saja?" Alvin kembali bertanya, memiringkan kepalanya sebagai pemanasan.
"Berisik! Aku tidak akan memaafkan kalian karena kalian …." Musuh itu mengomel panjang lebar, mengganggu orang konsentrasi untuk tidur.
Mereka bertiga di ata tank tidak terlalu mendengar curahan hati itu, justru membiarkan orang itu untuk mengutarakan semuanya. Termasuk Rein.Dia justru menyimpan Ak-47. Jika saat momen tertentu, Rein akan membunuh mereka.
Situasi berbeda dengan Rein yang membunuh mereka tanpa ampun. Pada dini hari, dia tidak bisa melakukannya karena dia tidak ingin menguras tenaganya pada waktu itu.
Tanpa disadari, moncong tank itu tiba-tiba bergerak ke kiri dan mulai mengarahkan pada musuh dengan tepat. Sepertinya, tank itu bersedia untuk melakukan tembakan tanpa toleransi sama sekali.
Liana sedang mengigau, tidak sengaja menekan tombol keamanan maksimal untuk menyingkirkan musuh yang merepotkan dan n hanya mengandalkan tiitk buta mereka bertiga. Itu sebabnya mereka tidak terlalu mendengar orang itu.
[Musuh terdeteksi! Waktunya penghabisan!]
Moncong itu mengisi peluru tank dengan otomatis dan mulai menembak tanpa ragu. Tembakan itu terlalu cepat, sampai tidak ada yang menyadari tembakan itu. Hanya menganggap waktu yang terhapus.
Akhirnya, musuh berteriak keras karena terkena tembakan tank itu. Tubuhnya seperti terbelah menjadi bagian yang kecil di tengah teriakan kesakitan itu. Mereka bertiga, tidak terlalu tahu siapa musuh itu sebenarnya. Kematian musuh itu sudah cukup untuk mengembalikan mereka pada kehidupan yang membosankan.
"Kau mendengarkan ocehan itu! Aku ingin tidur." Vania sempat mengeluh, menempatkan kedua tangannya di belakang lehernya untuk peregangan.
"Sepertinya, dia sudah mati karena fitur tank Rapista S-20." Alvin menjelaskan, menguap untuk sementara' waktu.
Rein merasa lega, semuanya berakhir dengan baik. Meskipun begitu, Rein tidak akan mengendurkan pengamanan, tidak patroli sama sekali. Bisa jadi fitur tank itu tidak berguna pada kondisi yang lebih berbahaya.
Akhirnya, kedua prajurit proletar itu kembali ke dalam dan berencana untuk tidur. Fitur keamanan otomatis Rapista mati seketika karena tidak ada musuh yang menyerang mereka.
Pintu tank telah ditutup dan Rein kembali berjaga, berharap dia bisa tidur dengan tenang, tanpa ada yang menghalangi jam tidur meskipun sudah tertidur pulas pada siang dan sore hari. Ia juga memasang tali keamanan agar tidak terjatuh dan tertinggal dengan orang lain.
Tank ini akan melaju pada jam 7 subuh.