Di dalam markas, mereka bertiga berada di ruang ganti, membahas sesuatu yang penting setelah mendengarkan cerita dari Liana, bahwa mereka harus bergabung kepadanya sebelum matahari terbit.
Tentara yang sedang mencari di gudang penyimpanan mendapatkan nasib sial yang tidak bisa dihindarkan. Bom yang terdapat di gudang penyimpanan meledak degan cepat.
Liana telah mengaktifkan bom itu, tidak terdengar apapun tentang jeritan dan suara ledakan itu karena ruang ganti dan tempat penyimpanan
"Ya sudah. Yang penting kita harus cepat. Mereka tidak bisa menemukan kita." Vania sudah mendengarkan cerita itu, menyarankan untuk pergi dari sini sebelum matahari terbit.
"Tapi, mereka terlalu banyak. Kita akan ketahuan dalam beberapa langkah lagi." Liana memperingatkan, jumlah pasukan Kawasan Tengah cukup banyak di markas itu.
Alvin tidak khawatir dengan kecemasan itu, justru menepuk dahu dan mengelus kepalanya agar tenang. Setelah tenang, Alvin akan membuat kata manis untuk Liana agar tetap bertahan.
"Jangan khawatir! Aku akan membuat ide yang lebih baik daripada ini. Biarkan mereka mencari kita sampai stress. Karena aku punya jalan pintas."
Mereka bingung, membiarkan musuh mencari mereka adalah ide yang tidak bisa dicerna. Alvin menjelaskan bahwa mereka akan menipu musuh dengan membuat sistem GPS palsu, yang bergerak.
Tidak tahu itu berhasil atau gagal.
[*^*]
Rein sudah memasuki wilayah musuh sendirian, luka yang dibuat musuh sudah tidak terlihat, hanya sebuah armor militer berlapis baja yang rapuh tapi masih bisa dipakai lagi.
Musuh Kawasan Tengah berteriak, tidak mau mendengarkan Rein yang berdiri sendirian di sana. Senjata mereka tidak efektif untuk menghadapi Rein tingkat ekstrem.
"Habisi dia! Jangan sampai dia membuat ulah lagi!"
Tidak ada perintah yang berarti. Mereka tidak bisa mengendalikan diri mereka ketika kondisi buruk menimpa diri mereka.
Rein melirik sekitar, tidak ada yang aneh. Bantuan personel tidak cukup untuk mengatasi masalah itu karena sebagian besar tentara Kawasan Tengah melakukan eksplorasi di markas itu.
"Bagus sekali! Sekarang, aku harus membawa kalian kepada neraka yang dalam!" Rein tertawa, langsung maju ke depan dengan hembusan angin yang mendukungnya untuk maju.
Serangan yang cepat malu menjatuhkan musuh. Padahal, Rein hanya mengayunkan Golden AK-104 saja. Bisa sekali, dia membunuh orang dengan cara yang cukup keji. Tidak ada yang tahu bahwa mereka harus
Otomatis, prajurit yang terkena ayunan itu terpotong begitu saja. Ini semakin merumitkan tentara lawan untuk memberikan serangan kepada Rein. Satu peluru tidak dikerahkan sama sekali.
Mereka justru lari dari kejaran Rein.
Ini justru menjadi pembantaian daripada sebuah perjuangan
Seorang tentara proletar langsung bersembunyi dan mengirimkan beberapa sinyal kepada Letnan Raifasa untuk membuat laporan khusus. Sebelum itu, dia perlu mengamankan dirinya agar nyawanya tetap selamat.
"Lapor, Tuan! Aku ingin mengucapkan sesuatu yang penting. Mayor Rein telah tiba. Pukul mundur semua pasukan lalu datanglah kemari! Kami butuh bantuan untuk menangani iblis ini. Ganti!"
Percuma saja. Tidak ada respon sama sekali. Mereka tidak tahu bahwa Rein telah merusak rencana mereka selama setahun sejak Perang Dunia Ketiga meletus.
"Halo! Saya di sektor 6 ingin membuat laporan bahwa Mayor Rein telah ….." Tentara itu tidak bisa menghubungi atasannya, merasakan getaran yang aneh dari area sekitar.
Nasib buruk menimpa mereka. Mereka terhenti, merasakan hal yang lebih penting daripada menjadi kumpulan mayat bagi Rein. Bahkan, mereka mendengarkan jeritan yang samar-samar.
Tidak disangka, titik koordinat yang telah dipasang melalui seragam militer telah menghilang. Tentara yang bersembunyi tidak sadar dan mencoba menghubungi rekannya di dalam marka itu. Percuma saja, mereka tidak bisa dihubungi untuk sementara waktu.
Belum selesai, ledakan yang dahsyat merusak markas itu, jatuh dengan pondasi markas yang tidak bisa diperbaiki. Beberapa detik kemudian, runtuh dan menjadi rata dengan tanah.
Ketiak ia menelusuri lokasi lebih lanjut, ia sangat terkejut, tidak tahu bahwa yang mereka bangun menjadi sia-sia.
[*^*]
Alvin, Vania, dan Liana langsung keluar dari ruang ganti, mencari beberapa pondasi yang vital untuk dihancurkan.
Ini seperti permainan petak umpet dimana mereka harus memasang bom secara diam-diam tanpa diketahui orang lain. Untung saja lampu tidak bisa dinyalakan dan masih gelap, fajar akan tiba 20 menit lagi.
"Kalau permainan seperti ini, aku juga bisa." Vania menyombongkan dirinya, bisa bersembunyi tanpa ketahuan karena sudah melatih diri untuk bermain petak umpet.
Vania bergerak dalam kegelapan, tidak ada yang tahu karena tentara Kawasan Tengah tidak memperoleh informasi dari Senjata Rahasia yang sedang status alarm merah.
Terpaksa, mereka harus mencarinya sendiri.
Sementara itu, Liana juga sudah menyelesaikan semuanya. Vania juga. Memasang bom selama 5 menit di 5 lokasi yang berbeda merupakan rekor yang pantas diabadikan.
Namun, mereka harus cepat karena bom itu akan disetel selama 8 menit, 48 menit sebelum matahari terbit.
"Sudah! Berkat kekuatan "Arctic Warfare : Voyage", aku tahu semua lokasi yang dituju. ku lupa menggunakannya karena tersesat." Liana merasa bersalah, namun misinya telah selesai, memasang bom untuk mengurangi jumlah musuh.
"Aku juga. Memasang bom memang cukup mudah." Vania juga, mengusap dahinya karena agak lelah belakangan ini.
"Ledakkan dalam waktu 8 menit. Kita harus cepat!" Alvin memberikan perintah melalui walkie talkie yang sudah dibagikan sejak ruang ganti.
Mereka kabur dengan arah yang berbeda, markas yang terbengkalai membantu mereka untuk melarikan diri. Ini cukup menguntungkan daripada tentara musuh lainnya.
Sejak saat itu, ledakan itu terjadi.
Tentara Kawasan Tengah tidak menyadari reruntuhan itu, beberapa detik berlangsung, bom itu sudah menjatuhkan pondasi markas itu dan bersiap untuk menimpa mereka. Banyak benda yang rapuh, bersiap untuk membunuh mereka karena atasan markas itu terbuat dari kaca yang mematikan.
Mereka mati bersama dengan reruntuhan itu.
[*^*]
Rein sudah menyelesaikan misinya, memberantas musuh yang mendekat. Kekuatan The Saints memang merepotkan. Kekuatan Maha Dahsyat itu tidak bisa digunakan setiap hari karena itu akan membunuh Rein suatu saat nanti.
Rein mendengar sebuah langkah kaki. Instingnya tidak bisa diremehkan karena Rein sudah terlatih cukup lama dan pertempuran yang cukup berpengalaman.
Rein hampir menarik pelatuk karena mereka bertiga berpakaian seperti kawasan tengah. Jarak Rein dan bawahannya tidak cukup jauh, langsung mendekati seiring berjalannya detik.
"Kalian! Datang juga akhirnya! Aku pikir kalian adalah seorang musuh yang bisa untuk membunuhku."
"Mana mungkin aku membunuh atasan sendiri!" Respon Vania tidak berubah sama sekali, kesal dengan mayor Rein.
"Ini untuk bertahan hidup." Alvin mendekat, memberikan suara penjelasan agar Rein memahami mereka.
"Alvin. Kau sudah menjatuhkan markas itu?"
"Iya. Senjata Rahasia Kawasan Tengah memang efektif. Tapi, begitu alarm merah dinyalakan, semuanya tidak berguna karena RAM tidak cukup untuk bekerja dengan performa yang lebih baik." Alvin menerangkan kekurangan Senjata Rahasia Kawasan Tengah, kalah hanya karena informasi Rein.
Semuanya sudah berkumpul, langsung mengirimkan ancaman pada Letnan yang memimpin serangan itu. Tinggal menyerang pusarnya, semuanya sudah berakhir. Namun, mereka perlu mengatasi helikopter yang melayang di udara.
Tidak masalah! Serahkan pada Alvondan Liana.
"Sekarang, kita cari Letnan sialan itu! Kita akan habisi dia dengan cepat!"
[*^*]
"Apa? Kenapa pasukan kita mati? Bagaimana dengan Senjata Rahasianya?" Letnan Raifasa mengamuk, tidak terima dengan hasil yang buruk itu.
"Semuanya sudah tidak bisa diperbaiki. Senjata Rahasia sudah tidak bisa digunakan lagi. RAM yang rusak harus diganti dalam waktu beberapa bulan."
Mendengarkan penjelasan dari prajurit itu, Letnan Raifasa mendapatkan tekanan yang lebih banyak. Kehilangan prajurit dan kegagalann dalam memimpin adalah kesalahan besar. Padahal, hanya empat orang saja.
"Apa? Sejak kapan? Kenapa dia malah semaksimal liar?!"
"Kurang tahu! Yang pasti, ….'
Pembicaraan dihentikan, seorang tentara yang terluka datang kemari. Dia sekarat dan mengorbankan segalanya hanya untuk memberikan informasi darurat pada letnan.
"Letnan! Semuanya sudah berakhir! Kita harus mundur sebelum terlambat."
Dalam 10 menit, pasukan Kawasan Tengah sudah berantakan, sama seperti barang rongsokan. Tidak ada yang bisa diperbaiki lagi. Tamatlah riwayat mereka jika tidak segera mundur.
Seorang mayor dengan penuh darah yang menempel di wajahnya langsung mendobrak pintu dengan kakinya, memperlihatkan kebengisannya di belakangnya. Banyak mayat yang berserakan di sana.
Dia langsung menembak tentara sekarat dan mati sepenuhnya. Tidak ada halangan lagi. Hanya membunuh letnan itu, semuanya sudah berakhir. Ini akan menjadi kumpulan mayat terbaik dari Rein.
"привет, сукин сын! Sekarang tamatlah riwayatmu, Проклятый ублюдок!" Rein datang, mengucapakan salam dan menghina Letnan Raifasa.
"Sialan kau! Kau sudah …"
Prajurit proletar itu langsung jatuh, tidak bisa bangkit kembali begitu peluru yang melesat bersarang di dalam dadanya, menembus seragam yang cukup kuat.
"Berisik! Aku tidak ingin berhadapan dengan kroco sepertimu." Wajah Rein dingin, membunuh dengan Golden AK-104 meskipun jaraknya jauh.
Tidak ada yang sadar. Letnan Raifasa tidak mau mundur, ingin mengalahkan Rein dan menangkapnya sebagai iblis terburik di Reshan.
"Sialan, kau! Apa maumu? Aku tidak ingi kau merusak rencanaku."
Rein menyeringai, senyuman itu langsung terpancarkan begitu saja. Langkah kakinya mendekati Letnan Raifasa sedikit demi sedikit, terkesan menakuttkan.
"Hei! Aku punya beberapa hal yang membuatmu tercengang.
Letnan ituhanya diam, menahan amarahnya agar tida merusak kondisi. Rein berjalan sejenak, mendekati Letnan yang tidak berguna lagi. Ini akan
"Kau tidak perlu bekerja keras sebagai seorang letnan. Kau hanya perlu tidur tenang dan menjadi kumpulan mayatku. Atau kau bisa bergabung dengan orang lain sebagai pecundang yang tidak berguna!"
Rein tertawa keras, sangat ironis dengan sikap psikopat yang selalu merusak segalanya. Itu sebabnya Letnan Raifasa tidak bisa menahan amarahnya.
"Kuhabisi kau sekarang juga!" Letnan. Itu langsung mengeluarkan pistol, mengarahkan pada Rein yang sudah berada satu meter di depannya.
Meleset, justru menambah peluang kekalahan. Letnan itu sudah kehilangan harapan. Pistol Rein suda berada di depan matanya, menunggu tembakan itu mengenai di kepalanya.
Sekalian, Rein juga menghancurkan tubuh letnan itu menjadi makanan babi.
Pembunuhan itu mengakhiri segalanya. Tidak ada motivasi lagi. Itu hanyalah sebuah keanehan yang seharusnya tidak terjadi. Banyak kerugian yang terjadi pada Kawasan Tengah akibat serangan itu.
Kendaraan berlapis baja sudah ditangani Liana, membuat semakin tidak terkendali dan berguna.
Kawasan Tengah sudah tamat.
[Note Author]
[Mohon maaf atas ketidaknyamanan! Scene ini banyak sekali diloncat karena banyak adegan tidak pantas dan eksplisit yang terpaksa dipotong. Tolong pahami teknis ini yah]