Suara berisik itu menarik perhatian semua prajurit. Prajurit langsung menyelidiki kejadian yang baru terjadi. Hanya ada dua kemungkinan yang bisa diterima. Selain itu, tidak memungkinkan perisitiwa itu terjadi.
Pertama, suara berisik itu terjadi ketika ada seseorang yang mendorong bahan baku besi sampai terjatuh. Kedua, tali yang tidak kuat menahan beban bahan baku besi putus dan terjadilah suara bising ini.
Bahan baku besi yang terjatuh tidak bisa membuat mereka lebih tenang. Banyak misteri yang menghantui mereka, salah satunya adalah pakaian yang tergeletak di persembunyian, ditinggalkan begitu saja.
Mereka berencana untuk menggunakan alat untuk mencari orang yang menghilang. Percuma saja, mereka tidak bisa menggunakannya.
Sementara itu, nafas Vania diatur sedemikian rupa agar dia bisa tenang, kejadian itu harusnya tidak terjadi karena melupakan sesuatu yang penting.
"Kamu tidak apa-apa?" Alvin berniat memeriksa keadaan Vania, meskipun balasan yang menyakitkan.
"Ka-kau menyentuh dadaku! Dasar m***m!" Vania berniat menampar pipi kiri Alvin degan tangannya. Namun,Alvin mencegah tangan Vania sampai di pipi Alvin
"Diamlah. Kalau aku tidak melakukannya, kau pasti sudah mati." Alvin menegaskan, memegang tangan Vania agar tidak lepas dan mengalami nasib yang buruk.
[*^*]
Vania terdiam, merasakan beban yang cukup berat karena telah membuat Alvin kerepotan. Ia sempat merenung sesaat karena dirinya tidak bisa berbuat apapun. Ia hanya mengeluh saja.
Ekspektasi berbanding terbalik dengan realita. Alvin justru tidak terbebani oleh seorang wanita yang tidak berguna. Alvin sudah berada di depan Vania dan mengulurkan tangannya dan disertai dengan senyuman meskipun orang lain tidak melihat eksistensi Alvin.
"Vania. Tidak apa-apa. Yang penting, kita harus keluar dari sini. Ok?" Alvin mengajak agar Vania terus bergerak, tidak terbebani oleh kesalahan tidak.
Vania tidak mau bergerak sama sekali. Rasanya jengkel sekali ketika Vania tidak bisa memberikan sesuatu yang lebih baik. Ia hanya menggunakan kata cerewet ketika misi ini berlangsung pada awalnya.
"Habisnya, aku yang membuat …"
"Tidak peduli kau membuat kesalahan. Selama kamu bisa menebusnya, kau akan dimaafkan. Jangan pikirkan dirimu yang tidak berguna. Waktunya kita bergerak untuk menambah peluang keselamatan kita."
Mendengar kata itu, Vania tidak cemas lagi, tidak mau membiarkan zona keterpurukan selalu menghantuinya. Suatu saat nanti, Vania akan tahu bagaimana cara agar terus hidup setelah perang nanti.
"Oke. Aku akan memberi pelajaran kepada b******n itu. Baru kita santai sejenak." Vania menerima uluran tangan Alvin, bangkit dengan percaya diri dan langsung bergegas untuk meninggalkan penyimpanan gudang itu.
Benar saja. Mereka berdua langsung memantau lingkungan sekitar, memastikan diri bahwa tentara Kawasan Tengah tidak memegang p******a Vania ketika menghilangkan diri. Mereka berjalan sambil menghapus jejaknya agar mereka tidak tahu jejak keberadaan mereka.
Tentara yang mencari mereka semakin bingung, terasa dihantui oleh sosok iblis. Seragam yang tergeletak di tempat persembunyian dan besi yang terjatuh sendiri.
Bisa jadi, mereka menganggap semua itu adalah kutukan nasional.
Salah satu prajurit yang berpartisipasi dalam pencarian itu langsung melapor kepada atasan yang sedari tadi berdiri di depan pintu dengan tubuh tegak.
"Lapor, Tuan! Sepertinya, kita tidak bisa menemukan mereka. Mungkin mereka sudah dikutuk oleh seorang iblis."
"Jangan bercanda! Mereka mungkin membuka baju mereka untuk menakuti kita. Dari lagi! Aku tidak mau kehilangan muka di depan Letnan Raifasa!" Dia menolak, menyuruh bawahnya mencari untuk sekali lagi.
Prajurit itu menyerah, memutuskan untuk mencari musuh untuk sekali lagi, kali ini dengan lebih teliti dan luas. Meskipun percuma, mereka masih menggunakan kacamata inframerah agar mereka bisa menemukan musuh telanjang dengan mudah.
Di samping atasan itu, Alvin dan Vania berdiri dan mematung, tidak mau membuat suara karena mereka pasti akan menemukan mereka cepat atau lambat.
"Alvin. Sepertinya kita harus bergerak ketika mereka lengah."
"Kita bergerak sekarang. Mereka akan membuang waktu sebelum mereka sadar letnan mereka akan tewas." Alvin memberikan respon, cukup vital. Teknik ini tidak akan bertahan lama. Selama mereka tidak melihat tubuh telanjang kita, kita baik-baik saja."
Vania membayangkan ketika mereka menemukan Vania yang tidak memakai pakaian apapun, rasanya sangat malu karena Vania malah menunjukkan tubuhnya kepada orang lain. Jadi, semangat Vania kembali membara.
"Ayo! Kita harus ke ruangan pakaian segera!" Vania malah lari dengan cepat, terasa seperti hembusan angin yang cepat, tidak dirasakan oleh tentara musuh. Senjata Rahasia Kawasan Tengah tidak bisa mendeteksi keberadaan mereka.
"Tunggu, Vania! Pelan-pelan!" Alvin berusaha untuk mengejar Vania, tidak ingin mendapatkan masalah karena Vania tidak mau bergerak perlahan dan santai.
Hembusan angin menyegarkan atasan tentara itu dan tentara yang lain. Terasa menyegarkan ketika matahari akan terbit. Namun, mereka tidak menyadari sesuatu yang penting. Mereka berlalu begitu saja.
"Sepertinya, hembusan angin itu cukup dingin." Tentara atasan itu tidak merasakan apapun, hanya sebuah hembusan angin yang cukup besar.
Akhirnya, Vania dan Alvin selamat dari kejaran tentara Kawasan Tengah.
"Van. Tunggu dulu! Janga terlalu cepat. Bisa jadi, mereka akan sadar.
Vania berhenti sejenak, memberikan sesuatu agar Alvin terkejut dengan ide liar Vania. Alvin memilih untuk tidak bicara sama sekali. Ingin tahu ide liar apa yang dibuat oleh Vania.
"Sadar? Aku rasa tidak. Soalnya, aku sudah memasang bom untuk mengurangi jumlah lawan." Vania menjelaskan, menjulurkan lidahnya.
"Se-Sejak kapan?"
"Soal ukuran tangan itu. Aku memasang bom terlebih dahulu. Alat pemacunya dilekatkan pada kedua payudaraku agar tidak mudah jatuh." Vania menerangkan memegang pemacu bom untuk diledakkan.
Alvin merasakan perkembangan signifikan dari Vania. Patut diapresiasi karena Vania bisa berkembang lagi. Pria itu langsung mendekati Vania dan menyuruhnya untuk bergerak lebih cepat karena Efek "Ace XIX : Invisible" tersisa 10 menit lagi.
"Baguslah. Kita ke ruang ganti untuk bersiap-siap. Liana akan menemukan kita jika kita ke sana."
Mereka berlari tanpa beban, tubuh mereka menunjang mereka untuk berlari lebih cepat, bahkan mereka bisa menyamai kecepatan berlari seorang pelari, bahkan melampauinya.
Setelah sampai di ruang ganti, mereka masuk ke dalam ruangan dan mencari pakaian yang tersedia. Mereka berpisah dan tidak memandang lingkungan sekitar, apalagi melihat lawan jenis sedang berganti baju.
Terpaksa, mereka menggunakan ruang ganti yang sama karena tidak ada waktu yang tersisa. Mereka dikejar waktu dan kembali mencari senjata yang tersedia di sana untuk memberikan kontribusi yang berarti.
Vania melihat bra dan celana dalam yang belum terpakai sama sekali, langsung memakainya tanpa pikiran panjang. Ia juga melihat seragam militer yang disusun rapi. Dia mengambilnya dan mengenakannya di dalam tubuh yang menghilang.
Efek "Acer XIX : Invisible" sudah berakhir. Vania dan Alvin sudah mengenakan pakaian musuh, kembali terlihat dengan wajah mereka.
Selain itu, mereka menemukan senjata yang tersimpan di ruang ganti itu. Tidak mau membuang kesempatan, mereka mengambil senjata itu dan mengisi amunisi untuk persiapan perang mereka.
Kini, mereka sudah bersiap untuk bertempur lagi dan menunggu Liana yang tersesat itu. Tidak lupa, Vania memasang bom waktu di alat pemacu sekitar 1 menit agar bisa mengurangi jumlah musuh.
Mereka tidak sadar hembusan angin pertama itu ada sebuah alat pemacu yang ikut bersama dengan angin yang cepat. Jadi, tentara musuh tidak menyadari keberadaan tombol itu.
Benar saja, Liana menemukan mereka di ruang ganti, melihat pakaian mereka yang sudah berganti lagi. Dia heran kenapa mereka menggunakan seragam yang berbeda dengan biasanya.
"Vania. Alvin. Kalian kemana saja? Aku mencari kalian di seluruh tempat." Liana tiba-tiba muncul, bersyukur mereka masih selamat meskipun ada yang aneh di dalam diri mereka.
"Kau tersesat dan pergi entah kemana. Aku sudah melihat pergerakanmu di markas. Aku juga memasang chip mini di bahumu agar aku tahu apakah kau mudah tersesat atau tidak." Alvin menjelaskan, mendekati Liana dan mengambil chip mini di bahu kiri Liana.
"Pantes saja, kau meragukan Liana." Vania akhirnya mengetahui alasan Alvin di balik semua ini, menepuk dahinya.
"Untuk saat ini, kita harus keluar markas karena Rein akan … mengamuk!" Liana memberikan saran, memastikan Alvin dan Vania harus segera keluar dari markas yang terbengkalai itu.
"Eh?" Mereka berdua, Alvin dan Vania menjadi tidak paham dengan kondisi saat ini, apalagi dengan keputusan Rein.
[*^*]
Keadaan Tentara Kawasan Tengah mengalami krisis informasi. Alarm merah yang diperoleh diabaikan begitu saja oleh Letnan Raifasa. Padahal, Rein adalah
Ini menimbulkan kerugian yang cukup besar.
Letnan Raifasa menjadi pusing, kepalanya tidak bisa mencerna apa yang terjadi pada pasukan yang ada di dalam. Satu regu tewas dan menjadi mayat dan satunya lagi sedang melaksanakan pencarian. Seragam dan pakaian dalam tergeletak di persembunyian itu. Jadi, mereka harus mencarinya sekali lagi.
"Letnan. Gawat! Rein sudah keluar dari markasnya! Kurasa, dia ingin mengamuk!" Prajurit itu memberikan informasi yang menggelisahkan, merusak suasana.
"Tidak mungkin! Padahal, aku sudah menyuruh mereka untuk menghabisi dia. Kenapa dia justru menjadi liar?" Letnan Raifasa kebingungan, merasa frustasi karena misi
Percuma saja. Mereka terlambat melakukan perubahan yang berarti hanya untuk
"Tidak bisa! Rein sudah keluar sementara bawahannya menjadi tidak diketahui. Mereka sudah mencarinya setenhah mati. Ini justru seperti permainan anak-anak."
Letnan Raifasa kehilangan beberapa pilar yang penting. Tangannya mengepal dengan keras, menahan fase terburuk yang datang begitu saja. Sekarang, dia Kana memberikan perintah yang penting.
"Kerahkan semua pasukan untuk menghabisi Rein! Jangan biarkan dia masuk ke dalam tempat yang ini! Senajata Rahasia kita harus dipertahankan!"
Perintah ini cukup meragukan. Meskipun begitu, prajurit itu harus menerima perintah itu. Dia langsung meninggalkan Letnan itu untuk mengurus lawan terburuknya.
"Siap, Pak! Perintah akan dikirimkan!"
Prajurit itu menghilang begitu saja, sementara itu Letnan itu sedang berpikir ketika layar monitor yang ada di depan matanya di ruangan hening.
[*^*]
"Habisi dia!" Perintah yang menggelegar, menyuruh prajurit proletar untuk menghujani Rein yang berada di atas udara.
Rein mendarat dengan selamat, tidak ada yang bisa melukainya. Peluru itu seolah menghindari tubuh Rein. Cukup ironis jika kekuatan itu berubah menjadi kekuatan seorang iblis.
Kekuatan Tuhan yang cukup mengerikan terlihat dengan jelas. Padahal, Rein hanya mengenakan kaos yang tipis. Rein langsung meraih Golden AK-104 dan menembak dengan dua tangan da Maya yang fokus.
Hasilnya, sudah 10 orang yang tewas setiap 10 detik. Gerakan Rein lincah sampai-sampai mereka perlu mengerahkan kendaraan berlapis baja dan 3 helikopter sekaligus.
Sekarang, Rein sudah di depan tentara yang tersisa. Mereka menahan gempuran kendaraan berlapis baja dan helikopter untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Masih banyak prajurit yang tersedia di dalam markas itu.
"Здравствуй, ублюдок!"
Rein mengejek, menempatkan senapan serbu di atas pundaknya. Cukup meremehkan orang lain. Jari jempol Rein mengarah ke bawah, gigi yang masih putih dan mata yang ingin membuat neraka yang lebih baik.
Mereka menahan amarah, tidak terima dengan sambutan yang menjijikkan itu. Banyak umpatan yang diterima oleh Rein. Sangat ironis ketika mereka tidak sadar dengan keberadaan Rein.
"Pergilah dari sini!"
"Kuhancurkan wajah iblis sepertimu!"
Rein kembali mengeluarkan katanya, tidak hanya terkesan beracun, berbagai informasi yang penting disampaikannya pada tentara Kawasan Tengah.
"Eh? Apa? Kau datang ke wilayah kami hanya untuk mendapatkan Sumber Daya Alam yang berlimpah? Kenapa kalian tidak mengembangkan Sumber Daya Manusia sendiri? Apakah wilayah kalian dipenuhi dengan konflik?"
"Sayang sekali, kau tidak bisa berkembang. Babi busuk saja bisa mengembangkan diri menjadi seorang pekerja kantoran."
"Lagipula, kalian tidak pernah menang melawan Tentara Reshan meskipun kalian bisa memojokkannya pecundang berseragam di bagian selatan."
"Akan kutandai wajah kalian sebagai target yang akan dimusnahkan! Liat aja nanti!"