Perang Dunia : Perjalanan Pulang

1517 Kata
Pagi yang cerah, matahari yang terbit pada jam yang tidak stabil. Matahari baru terbit pada jam 8. Ini tidak normal pada garis khatulistiwa yang biasanya matahari terbit pada jam 5 pagi. Tinggal menghitung hari untuk meninggalkan musim gugur dan kembali ke musim dingin yang liar dan berbahaya. Musim dingin ekstrem itu bisa membunuh siapapun, baik penduduk Reshan maupun tentara lawan. Ini menyebabkan tentara musuh tidak mau menyerang Reshan lebih jauh karena mereka sudah belajar dari Jenderal Besar Frein pada tahun 1810. Mereka kehilangan sebagian besar pasukan mereka meskipun mereka memenangkan pertempuran dengan Reshan. Rein tidur dengan tenang dan terasa nyaman karena tidur di ranjang. Bersama dengan Alvin di atas kasurnya. Vania dan Liana tidak bisa tidur karena mereka harus fokus mengendarai tank mereka. Rein membuka matanya, memeriksa keadaan sekitar. Rein tertidur di kamar dan merasakan sesuatu yang mengganggunya. Bisikan itu membuat Rein harus bersiap siaga dan memeriksa keadaan luar lebih cepat daripada orang lain. Rein langsung memeriksa keadaan dari luar, tidak tahu apa yang terjadi di luar sana. Penjagaan memang penting namun istirahat diperlukan. Rein juga menolak tidur di dalam karena musuh akan berfokus menjaga tank Rapista S-20 agar tetap selamat. Walau akhirnya Rein tidur dengan tenang di kasur yang tidak empuk, setidaknya ini bisa membuatnya lebih baik lagi dengan segudang aktivitas yang membosankan itu. Rein meninggalkan kamar itu, membiarkan Alvin tidur dengan tenang dan fokus pada sesuatu yang lebih penting. Dia langsung bergerak cepat ke ruang kendali yang ditentukan. Rein belum sadar sepenuhnya karena rasa lelahnya melekat pada dirinya. Tenaganya belum pulih sepenuhnya. Pemuda itu melihat Vania yang mengendarai tank meskipun Vania tidak terlalu bisa mengendarai dengan baik. Sekarang, Rein melihat ruangan sekitar dan mencari Liana. "Hei, Vania! Apakah kau melihat Liana di sini? Aku tidak melihatnya menyetir." Rein menanyakan sesuatu pada Vania. "Liana sedang mengatur bahan bakar yang tersedia di sana. Dia memang tidur dengan tenang. Jadi, aku tidak ingin mengganggunya untuk sementara waktu." Rein sadar, beberapa detik belakangan ini memang menyakitkan. Hanya saja, Rein tidak mau mengakui kejadian yang barusan terjadi padanya. "Oh iya. Aku ketiduran. Aku terlalu lama berada di luar. Jadi, tidak menjaga tqnk kemarin malam." Vania akhirnya bisa menegur Rein, membuat kesalahan yang fatal karena cukup merepotkan bawahannya. Setiap mayor dan atasan mempunyai kesalahan. Bisa jadi, keputusan mereka lebih buruk ketika keputusan yang mereka keluarkan sangat merugikan bawahannya. "Salah sendiri terlalu lama di luar tank. Kau juga membiarkan dirimu tertidur dengan menyedihkan." Vania menyerang Rein dengan perkataannya, "Tidak ada pilihan lain. Ketika tank diserang musuh, kita tidak bisa membunuh mereka dengan peluru tank. Harus ada orang yang menjaga tank dari luar." Rein mencela, meskipun melakukan kesalahan, dia menggunakan beberapa kondisi sebagai alibi. Vania kembali kalah dengan perdebatan itu, namun Vania bisa melawan Rein dengan adu mulut sambil menyetir. Vania tidak mau kalah lagi dengan atasannya sendiri. "Huh? Seharusnya ada orang yang bisa keluar dari tank lalu menembaki mereka bukan?" "Tidak bisa. Karena itu memakan waktu yang cukup lama." Rein protes, wajahnya cukup memerah karena mendapatkan balasan itu. Vania masih memperpanjang masalah itu, menambah durasi pertengkaran mereka dalam waktu yang ditentukan. Nampaknya, seorang Lolita langsung mendengar suara itu, langsung bergerak menuju ke sana. "Hei! Kenapa ada keributan di sini?" Liana memasuki ruangan kendali, mengetahui suara berisik sejak tadi. "Tidak ada apa. Aku juga ingin memastikan apakah keadaan di luar baik-baik saja." Rein membuang muka dengan tajam dari Vania dan langsung menghampiri Liana. Liana memandang wajah Rein sejenak, terasa sulit jika Liana mengobrol sesuatu. Namun, Liana tidak merasakan hal negatif lainnya. Justru, ia mengajak Rein agar bisa memenangkan diri sedikit saja. "Jangan khawatir! Kita sudah berada di zona nyaman dari serangan musuh. Tinggal beberapa hari lagi agar bisa sampai." Liana menjelaskan, tidak perlu repot-repot. Rein tidak mempercayai mereka sama sekali. Perjalanan tank memang berat. Menurut, perkiraannya, seharusnya tank itu tidak berjalan lebih cepat daripada mobil balap. Tidak ada pilihan lain,Rein harus mendengarkan penjelasan itu "Aneh sekali. Biasanya, 7 hari lagi untuk sampai. Kenapa kalian …." "Kami melakukan perjalanan setelah mandi. Kalian yang tidur tidak sadar sama sekali. Sekarang, kamu perlu menunggu beberapa saat agar kamu bisa mandi dengan Alvin. Kami akan mandi ketika sudah selesai." Vania menyuruh Rein, sedikit senyuman yang dipancarkan, tidak membiarkan Rein melihat senyuman itu. Aura yang perhatian memang lebih baik daripada aura cerewetnya. Rein berpikir sejenak, pikirannya dijebak oleh mereka berdua. Apalagi mereka berdua membuat inisiatif yang baik tanpa dikomandoi oleh seorang mayor yang sadis dan tidak berperasaan. Sudahlah! Rin tidak perlu memikirkan lebih lanjut lagi, fokus pekerjaan yang selanjutnya. "Tapi, kalian mandi dengan air dingin. Apa kalian tidak mendapatkan luka di tubuh kalian?" Rein bertanya, mendengar mereka mandi pad malam hari di sungai yang dingin. Mereka menganggap sungai dingin itu seperti air panas. Tidak hanya itu, mereka juga bisa beradaptasi di medan yang sulit ditaklukkan. Namun, mereka harus membawa tank mereka sebelum musim dingin tiba. "Jangan khawatir! Aku dan Vania memang dilatih agar terbiasa dengan air dingin. Lagipula, air dingin ini cukup menyegarkan." Liana menjelaskan, wajahnya tidak menunjukkan kekhawatiran sama sekali. Sekarang mereka perlu menunggu beberapa jam agar mereka bisa istirahat. Tidak mau istirahat yang dilakukan secara bergiliran. Tank Rapista S-20 tidak mau bekerja terus yang mengakibatkan kerusakan pada tank itu. Perjalanan tank kembali dilanjutkan, tidak ada kecemasan dan rintangan sekalipun. [*^*] Keesokan harinya, Alvin dan Liana kembali bertugas di dalam tank. Vania tidur dengan pakaian dalam yang menempel di tubuhnya. Ini ditujukan agar tubuh Vania tetap lancar. Rein kembali patroli dan menyimpan beberapa kotak makanan kecil agar bisa dimakan ketika perjalanan langsung. Dia tidak boleh makan dengan serakah karena itu akan menghabiskan bahan makanan yang tersimpan di gudang tank itu. Sekarang, Alvin dan Liana sedang duduk sambil bekerja sebagai supir tank dan pengawas ruang kendali. Alvin juga ingin menemani Liana agar tidak kesepian. "Vania memang tidur dengan manis. Tidak ada bedanya dengan kamu." Liana tertawa kecil, tidak percaya kebiasaan buruk sudah direkam oleh Alvin. Tidak ada masalah, mereka boleh membicarakan Liana telanjang ketika tertidur lelap. "Tidak. Semua wanita memang begitu." Liana menerangkan, matanya masih sibuk menatap layar monitor. Tangan Liana masih berfokus untuk memegang dan mengendalikan beberapa tombol dari tank itu. Tank itu bisa menghempaskan rintangan yang menghalanginya. Tank itu cukup kuat untuk menghadapi musuh yang cukup meresahkan. Mereka tidak mempunyai masalah dengan perjalanan pulang. Seperti biasanya, hening dan membosankan seperti biasanya. Rein justru diam dan memegang senapan untuk bersiaga di dalam tangkapan layar tersebut. Namun, mereka sempat kekurangan beberapa bahan bakar dan makanan. Ini bukan karena masalah manajemen. Ini karena masalah yang cukup kompleks. Konsumsi selama beberapa hari kebelakang ini memang dikuras sampai habis. Jika kehabisan bahan bakar, mereka harus berhenti sejenak untuk mencari bahan bakar. "Sepertinya, kita akan kekurangan bahan bakar. Kita tidak bisa sampai pada tepat waktu." Liana sempat memeriksa gudang tank itu, terlalu Beberapa menit setelah keresahan itu, sebuah titik penting muncul di depan peta monitor. Terdapat beberapa titik yang menonjol di dalam layar monitor itu. Alvin lebih dahulu yang menemukan titik yang menentukan. "Lihatlah itu! Aku menemukan bangunan yang tidak terpakai lagi. Mungkin, kita bisa pergi ke sana." Keputusan Liana terlalu cepat, menancap gas setelah Alvin memberikan informasi pada Liana mengenai titik itu. Tangan Alvin menunjuk titik penting itu, menyuruh Liana untuk pergi ke sana. "Ayo! Kita ke sana!" Tak lama kemudian, Vania sudah sampai di ruang kendali tank, tapi masih mengenakan pakaian dalam karena tidak terlalu sadar sepenuhnya, masih berada di bayang-bayang. Tidak mengetahui apakah Vania akan mendapatkan tugas ketika sudah bangun. "Bagaimana dengan perjalanan kali ini?" Vania bertanya, ingin mengetahui proses perjalanan tank itu. "Kita transit dulu ke tempat bahan bakar. Tapi, kita harus bekerja." Alvin menjawab, kebetulan bertemu dengan Vania. Vania bingung, jawaban Alvin memang merusak konsentrasi orang lain. Jadi, Vania harus memberikan pertanyaan yang lebih lanjut agar Vania bisa bernafas lega. "Kenapa ke tempat itu? Bukankah masih ada bahan bakar yang tersisa?" "Liana sudah memeriksa semuanya. Namun, itu belum cukup. Sebaiknya, pakai bajumu sebelum masuk ke ruangan ini." Vania kembali melirik tubuhnya dan menahan rasa malunya. Wajahnya memerah dan gemetaran karena Vania belum memakai baju seragam terlebih dahulu. Dia justru menyalahkan Alvin karena Alvin malah melihat tubuh Vania. "Dasar bodoh! Jangan lihat tubuhku!" Vania langsung pergi, agak kesal karena tingkah Alvin tersebut. Terpaksa pergi ke kamar lebih cepat untuk mengenakan baju seragam agar terlihat siap untuk menjalankan tugasnya. Perjalanan pulang Tentara Reshan harus ditunda di bangunan kosong itu. Rein membiarkan mereka untuk mengambil bahan bakar dan bahan makanan yang tersisa di sana. Rein menjaga mereka agar tidak ada yang terluka sama sekali. Kalau diperlukan, Rein akan memantau dengan teropong miliknya. "Cepatlah! Kalian harus ambil yang seperlunya. Jangan rakus seperti anak pejabat sialan itu!" Rein berteriak, tidak ada toleransi jika mereka tidak mendengarkan suara Rein yang keras dan jelas. Mereka mendengarkan Rein, tidak ada keluhan sekalipun di dalam hati mereka. Mereka seperti bekerja seperti biasa namun belum ada loyalitas yang tumbuh di dalam diri mereka. Setelah mengumpulkan barang dalam 30 menit, mereka menjalankan tank kembali, Rein berada di atas tank untuk memantau keadaan. Sama seperti biasanya. Tempat itu memang cocok baginya. Vania dan Alvin kembali istirahat dan menghabiskan waktu mereka di dalam kamar untuk membaca buku dan lain sebagainya. Liana menyetir lagi, sudah terbiasa dengan berada di ruangan itu. Tinggal 9 hari perjalanan sebelum Reshan meninggalkan musim gugur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN