Perang Dunia : Istirahat

1584 Kata
Perjalanan pulang dari markas yang sudah rusak, Humvee kembali diaktifkan dan menyala untuk menempuh perjalanan pulang untuk sementara waktu. Prajurit proletar, Alvin dan Vania sudah selesai menutup jejak yang tersisa. Tidak ada pasukan Kawasan Tengah yang tersisa, masih hidup dan kabur untuk menyusun rencana kembali. Mereka dipastikan musnah untuk selama-lamanya. Sementara itu, Rein dan Liana sedang memantau semua sinyal jaringan yang ada di sekitar mereka. Mereka berjaga-jaga agar tidak ada musuh yang bisa mendekati mereka ketika pulang ke markas nanti. Untuk saat ini, mereka masih aman dari ancaman dan belum bukan tanda-tanda tentara Kawasan Tengah. Mereka akan langsung membunuh dengan cepat dan tepat. Mereka menaiki Humvee, pagi menjelang siang. Gerakan meroda hantu yang cepat namun tidak bisa dihentikan oleh bebatuan yang tajam. Jika kendaraan iItu mobil biasa, maka mobil itu tidak bisa bertahan lama Di dalam Humvee, mereka berempat duduk dengan tenang. Liana mengendarai Humvee dan Rein pemegang senapan yang menyatu dengan Humvee itu. Memantau dukungan sekitar adalah kebiasaan ketika bukan perjalanan yang panjang. "Aku lapar. Apakah ada makanan di sini?" Vania bertanya, menahan perutnya yang kelaparan. Keluhan itu tidak berarti bagi seorang Mayor. Rein merunduk ke bawah dan merespon keluhan yang menyebalkan. "Kita harus menahan lapar yang cukup panjang. Meskipun banyak makanan di sini, bukan berarti kita harus makanya sampai habis itu kita akan kelaparan. Kita tahan dulu sampai makan siang mendatang." Respon itu diberikan sambil memberikan sebuah kotak makanan kecil kepada prajurit proletar, diterima langsung oleh Vania. Vania membuka dengan pelan dan memakan dengan beberapa gigitan, memastikan makanan yang dipegang cukup lama untuk bertahan lama. Selain itu, Alvin dan Liana mengambil kotak makanan yang berada di bawah kursi. Rein untuk tidak makan karena dia harus mengintai dengan jam terbang yang lebih lama, sekitar 12 jam perhari. Rasanya sangat membosankan jika Rein terus mencintai dengan mata yang tidak selalu fokus. Hanya insting yang bisa menyelamatkannya. Liana tidak makan terlebih dahulu anak harus menyetir berapa kilometer lagi agar bisa istirahat. Alvin merasakan udara yang dingin mengenai tubuhnya, sejuk dan menyegarkan. Kelajuan Humvee semakin cepat. Namun, mereka harus memantau bahan bakar yang tersisa. Jika belum cukup, terpaksa mereka harus jalan kaki dan meninggalkan Humvee di sana, dimakan oleh waktu. [*^*] Jam 14 siang, matahari mulai meninggi, bisa jadi matahari akan turun begitu satu jam berlalu. Ini karena Negara Reshan berada di wilayah jauh dari garis khatulistiwa. Perbedaan siang dan malam menjadi tidak stabil hanya dalam waktu dua sampai tiga bulan. Di sekitar mereka, tidak ada pohon yang tersedia di sana. Hanya sebuah dataran yang rata dan bisa dimanfaatkan untuk keperluan pertanian. Selain itu, musim dingin hampir tiba. Mereka harus segera kembali agar tidak tersiksa di musim dingin nanti. Setelah perjalanan panjang dilalui, memutuskan untuk istirahat. Performa Humvee cukup bagus tapi perlu diistirahatkan agar tidak mengalami kerusakan di tengah jalan. Tersisa beberapa puluh kilometer lagi agar sampai pada tank yang disembunyikan. Semoga saja tank itu bisa berfungsi meskipun beberapa hari ditinggalkan. "Waktunya istirahat! Jangan sia-siakan waktu kalian!" Rein berseru, memperbolehkan bawahan untuk istirahat. Alvin, Liana, dan Vania merasa lega, tidak lagi berurusan dengan perjalanan yang berat. Itu bisa membunuh mereka jika menempuh perjalanan lebih dari 90 km dalam 60 menit. Liana memarkirkan Humvee dan "Sial! Aku lupa. Aku belum mandi selama seharian! Bagaimana ini?" Vania panik, mengacak kepalanya karena perjalanan itu sudah merusak rutinitasnya. Sementara yang lain tidak merasakan apapun. Justru, mereka malah memilih untuk berbaring di tanah karena lelah duduk di kursi terus. Padahal, baru menempuh beberapa jam perjalanan. "Jangan pikirkan hal yang bodoh itu! Kita harus menunggu Humvee didinginkan. Masih ada beberapa puluh kilometer lagi. Tapi, kita terpaksa memperlambat laju kendaraan ini karena untuk menghemat bahan bakar yang tersedia." Rein menyentuh tubuh Humvee itu, agak sayang karena Humvee akan ditinggalkan begitu sampai pada Tank Rapista S-20 sudah menunggu di depan mata mereka. Vania tidak terima, melirik sekitarnya dan kesal karena berada di jarak geografis yang tidak menguntungkan sama sekali. Badannya berputar-putar seakan tidak percaya letak geografis Reshan yang kacau balau. "Bukan itu. Apa tidak ada air di sini? Semuanya hanya berisi tanah yang keras." "Dengarkan aku! Kau bisa mandi pada malam hari. Terpaksa, kau harus menunggu beberapa saat agar bisa kembali ke dalam rutinitas yang membosankan itu." Rein ingatkan kepada bawahan agar bersabar sedikit, kalau tidak sabar lagi, dia akan menendang bawahannya tanpa ampun. Vania paham, mengangguk seperti biasanya. Tidak bagus mengeluu terus. Ini akan merepotkan Rein jika hal itu terjadi. Sekarang, dia harus memanfaatkan potensi prajuritnya dan mengubah dirinya menjadi prajurit yang mandiri. "Baiklah. Tapi, jangan mengintipiku mandi. Aku memperingatkanmu." Masalah sudah selesai, mereka harus istirahat dengan memakan bahan makanan yang tersisa. Berharap tentara musuh tidak diundang secara tidak pantas. [*^*] Setelah melakukan perjalanan selama 4 jam, akhirnya mereka tiba di sebuah tank yang mereka parkir. Tank Rapista S-20 yang masih dalam keadaan baik-baik saja karena sudah memiliki fitur yang canggih berupa Self-Service. Ini membantunya agar tidak ada yang ruak dalam jangka waktu yang lama. Langit hampir menunjukkan matahari telah terbenam, hampir malam. Udara dingin akan menyerang mereka lagi ketika di dalam perjalanan. Namun, tidak dengan tank Rapista S-20. Tanknini bisa bertahan dari suhu udara yang dingin. Tidak ada masalah dengan Humvee yang dikendarainya oleh mereka berempat. Hanya saja bahan bakar yang tersedia tinggal sedikit lagi. Sekarang, mereka harus "Akhirnya! Kita bisa bertemu tank ini lagi! Aku harus masuk ke dalam dan menikmati semua fasilitas yang ada di dalamnya." Mereka bertiga langsung berjalan cepat agar bisa masuk ke dalam tank itu. Sekaligus, mereka bisa mengobrol di tengah perjalanan mereka. Namun, tidak dengan Rein. Rein masih memantau lingkungan sekitar agar tetap aman. "Aku juga. Rasanya, aku ingin tidur seharian." Alvin menyahut, merapikan tangannya agar bisa dicerma kembali. "Tidak boleh begitu. Kamu jangan jadi prajurit pemalas." Vania berbalik ke Alvon dan menegurnya, tidak boleh menjadi orang yang pemalas. "Ayo! Kita kembali ke markas kita." Liana berseru, memastikan Alvin dan Vania setuju dan mengikuti langkah Liana. Seperti biasanya, Rein mengangguk senang, tidak perlu bermasalah dengan bahan bakar lagi. Tidak ada musuh yang datang menghampiri mereka. Nafas mereka masih bisa bertahan lebih lanjut. Sekarang, perjalanan mereka ke markas kembali dilakukan. Rein juga menyuruh Liana untuk mengambil tali untuk menyambungkan tank dengan Humvee yang masih memiliki bahan bakar yang tersisa. Lumayan untuk menambah personil kendaraan berlapis baja. Jam 19 malam, mereka langsung menemui sebuah sungai untuk memenuhi kebutuhannya. Entah apa yang dialkukan supir tank untuk tujuan seperti itu. Tank yang dikendarai Liana dihentikan untuk sementara waktu. Tank yang dihentikan hanya untuk membersihkan tubuh mereka sebelum melanjutkan perjalanan kembali. Ini cukup bodoh. Siapa yang mau mandi di sungai pada malam hari? Ini cukup menguntungkan karena para lelaki tidak bisa melihat tubuh wanita yang molek ketika mandi. Jangan lupa memasang senter setelah mandi. "Siapa yang mau mandi? Aku sudah membawa sabunnya." Liana mengajak prajurit proletar untuk mandi pada malam hari. Hanya Vania yang setuju. "Tidak. Terima kasih. Aku akan bersantai di dalam ruang kendali ini sambil duduk sementara waktu." Alvin menerangkan, mengangkat tangan sebagai tanda penolakan. Vania menampar Alvin di pipinya, mendengar sebuah niat terselubung di dalam pikiran Alvin. Meskipun Alvin memang aseksual, Vania tidak mempercayainya. Justru, meningkatkan kecurigaannya. "Tidak boleh! Kau akan mengintip kami dari layar kaca." Vania menolak, tidak membiarkan Alvin bertindak seenaknya. Namun, kekhawatiran itu masih belum berakhir. Bisa jadi Rein tiba-tiba bangunan dan mengintip mereka mandi. Tidak menutup kemungkinannya bahwa tentara berpangkat tinggi bisa melakukan tindakan m***m. "Bagaimana dengan Rein? Dia berada di luar, kok." Alvin melanjutkan, memperingatkan Liana dan Vania untuk berhati-hati. Namun, jawaban Lain terpatahkan dengan keadaan Rein. Vania menahan nafas lega karena takut Rein akan mengintip Vania mandi. "Rein sedang tidur. Aku punya jalan keluar dari sini agar tidak mengganggu Rein tidur dan bisa masuk keluar dengan selamat." Liana membagikan rahasia kecil agar mereka tidak perlu memanjat tank dan mengganggu Rein tidur dengan tenang. Seorang Mayor pantas mendapatkan jam istirahatnya. Liana dan Vania pergi ke kamar dan membuka pintu rahasi lalu keluar dari belakang tank dengan menyelinap. Mereka menyelinap di balik bayangan dan berlari kecil ke sungai yang masih mengalir. Sekarang mereka bisa mandi tanpa halangan sekalipun. [*^*] Mereka sudah mandi dengan mengurangi cairan sabun dan shampo. Kini, mereka langsung masuk ke dalam tank dengan jalur yang disarankan oleh Liana. Mereka masuk tanpa memanjat tank lagi.. Tubub mereka menjadi lebih bersih dan mengkilap setelah menyentuh air di sungai. Tidak hanya sabun, shampo dan odol sudah dipakai untuk kebersihan mereka. Mereka cukup cemas karena Rein masih terlelap dalam tidurnya. Tidak ada yang bisa merawatnya karena dia selalu diterpa oleh angin dingin yang selalu membunuh. "Hei? Sepertinya, Rein tidak bangun juga. Apakah kau akan membawamu ke kamar tidur?" Vania bertanya, agak cemas karena Rein tidak bangun juga. Liana langsung memiliki ide untuk membawa Rein ke kamar tidur agar Rein bisa mendapatkan istirahat yang lebih baik. Soal penjagaan, tinggal serahkan pada Liana. Dia yang menyetir sekaligus menjaga area sekitar. Liana memanjat tangga dan membuka perlahan setelah mencapai tangga tertinggi. Pintu terbuka dan Liana merasakan angin malam yang menerpa di tubuhnya. Rasanya sejuk dan sedikit menyakitkan karena musim dingin hampir tiba. Liana mendatangi Rein, menggendongnya dengan tipe Fireman's Carry. Itu gendongan yang cukup efektif di dalam militer lalu membawanya masuk ke dalam tank agar Rein bisa tidur di ranjang tank dengan hangat. "Tu-Tunggu! Kamu menggendong dia seperti itu? Bisa-bisa dia …" "Jangan khawatir! Dia tidak bisa bangun sampai pagi. Jadi, aku yang membawanya sampai di dalam tank ini." Liana menjelaskan, mendiamkan Vania untuk sementara waktu. Sekarang, Vania dan Liana bisa menyegarkan tubuh mereka dan kembali bekerja untuk meneruskan perjalanan. Alvin sedang tertidur di kamar karena bosan, tidak tahu melakukan sesuatu untu mengisi waktu yang membosankan itu. Sekarang, Vania dan Liana yang kembali aktif di malam hari.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN