Perang Dunia : Kondisi Terdesak

1646 Kata
Kondisi Rein semakin terpojok, peluru yang datang dari berbagai arah telah memaksanya untuk terluka. Mereka membuat harapan, dengan tembakan itu Rein akan mati dengan percuma, meremehkan orang lain dan terkena efek overconfidence. Benar saja. Banyak peluru yang menembus armor berlapis baja, mengakibatkan banyak luka dan darah yang mengalir ke bawah. Rein dikeroyok sekitar 200 peluru senapan serbu. Anehnya, Rein masih bisa berdiri, tidak ada yang berharap bahwa Rein akan terjatuh. Mereka sangat terkejut ketika Rein mengeluarkan darah yang banyak tapi masih hidup sampai sekarang. "Stalin Walfare : Arsenal." [Stalin Walfare : Arsenal adalah sebuah kemampuan yang memungkinkan pengguna untuk bisa bertahan hidup meskipun sudah dihujani oleh ratusan peluru dengan kecepatan tinggi] Meskipun Rein masih hidup, nyatanya Rein tidak bisa melakukan apapun, keluar dari situasi yang buruk saja akan mengurangi kesempatan Rein untuk hidup. Rein sudah berjanji bahwa ia akan hidup lebih lama lagi, entah kepada siapa. Semua orang menjadi panik dengan cepat, percuma mereka membuang peluru kepada seorang mayor itu jika masih hidup. Itu akan menguras sumber daya alam yang lebih dalam lagi. Prajurit Kawasan Tengah semakin waspada, tidak bisa tenang dan tubuh mereka semakin gemetaran. Selain itu, mereka perlu menunggu perintah yang mendadak terjadi. Padahal, mereka sudah mendapatkan informasi yang penting. Namun, itu tidak cukup bagi mereka. "Habisi dia! Jangan sampai dia hidup kembali! Dia sangat berbeda dengan Mayor Chivakov yang lemah da pecundang itu!" Seruan seorang prajurit membuat mereka semakin was-was kepada monster di depan mata mereka. Rein tetap terpojok, beberapa gelombang peluru telah dilancarkan. Anehnya, Rein tidak merasa sakit sama sekali. Justru, pria itu makin agresif ketika mendapatkan kerusakan yang lebih besar. Teknik "Stalin Walfare : Arsenal" tidak akan bertahan lama. Jika waktu habis, Rein akan mati dengan banyak peluru yang bersarang di dalam tubuhnya. "Meski aku terpojok, aku tidak akan menyerahkan diri pada prajurit b******n seperti kalian." "Aku akan menantang kalian dan melempar kalian ke dalam neraka sekarang juga!" [*^*] Sementara itu di ruangan penyimpanan gudang yang berukuran besar, Alvin dan Liana berpindah tempat, terus bersembunyi seperti seorang tikus jalanan. Beberapa prajurit yang mengetahui keberadaan mereka langsung masuk secara diam-diam dan mengepung mereka. Begitu ditemukan, mereka berdua langsung mengarahkan senaan mereka kepada musuh lalu lari ke arah yang lebih aman. Solusi terbaik adalah mereka terus bergerak dan mengurangi tentara mereka tanpa terluka sekalipun. Mereka hanya berputar-putar tidak jelas. Yang pasti, mereka harus menghindari cengkraman tentara Kawasan Tengah untuk keselamatan mereka. Waktu semakin berlanjut, banyak peluru terbuang dan korban yang berjatuhan. Alvin dan Vania kehabisan amunisi, terus bersembunyi dan membunuh mereka dengan diam-diam. Kini, mereka harus menyembunyikan diri sebelum mereka memunculkan diri dan membunuh mereka secara diam-diam. Teriakan seorang pemimpin regu yang diikuti oleh 90 prajurit yang siap siaga, akan menembak ketika musuh terlihat di mata mereka. Pemimpin itu mengeluarkan megaphone dan terus berdiri di depan pintu masuk penyimpanan gudang itu. "Datanglah kemari dan bertarung seperti seorang pria! Kau tidak bisa bersembunyi di dalam sarang seperti tikus kecil yang menyedihkan itu." Teriakan yang mengancam, Vania dan Alvin tidak bisa keluar dengan selamat karena mereka tidak bisa membuat celah untuk kabur. Selain itu, para prajurit yang dikerahkan masih mencari keberadaan mereka berdua. "Sial! Aku kehabisan peluru pistolku. Tidak mungkin aku mengambil pistol lawan hanya karena gerakan mereka terlalu cepat." Keluhan Vania semakin jelas, direspon dengan cepat oleh rekannya. "Mereka sengaja membuat kita terpojok lalu menguras tenaga kita dengan perlahan. Setelah itu, mereka akan menangkap kita sebagai tahanan perang." Vania mendengarkan respon itu karena Vania berada dalam persembunyian yang sama dengan Alvin. Mereka berdua terjebak dalam penyimpanan jarang yang cukup penting. Tinggal butuh waktu agar mereka bisa ditemukan. "Kalau begitu, kita akan menunggu sampai Liana akan datang membantu kita." Alvin mendengar ocehan Vania sekaligus menentang solusi yang diberikan. Soalnya, tidak sempat karena mereka akan menemukan musuh cepat atau lambat. "Jangan! Tidak sempat Liana akan datang kemari dan menemukan kita. Dia akan tersesat jika kita tidak memberikan lokasi kita kepadanya. Itu akan memancing musuh untuk mengejar kita lebih jauh." Penjelasan Alvin mendiamkan Vania yang memilki banyak kata dalam komunikasi. Percuma mendapatkan solusi yang terbaik yang pada akhirnya menimbulkan kegagalan yang sangat nyata. Vania berusaha memikirkan sebuah ide di tengah krisis situasi. Mereka tidak bisa tinggal diam saja karena waktu terus berjalan dan matahari akan terbit yang memungkinkan peluang bertahan hidup semakin sedikit. Pemimpin regu itu tidak mau menunggu lebih lama lagi, terus mencari mereka dengan alat pencari musuh yang lebih efektif ditemukan. Jika alat itu ditemukan, mereka akan dibabat habis oleh salah satu Tentara Kawasan Tengah tersebut. Situasi semakin mencekik. Jika mereka menemukan Vania dan Alvin dengan cepat, mereka menggagalkan rencana dan kehilangan beberapa potensi yang harus dikembangkan lebih lanjut. Alvin mendapatkan ide yang liar. Pikiran kotornya merambat ke segala arah. Tidak ada yang tahu kenapa bisa terjadi pada lelaki tenang sepertinya. Mungkin wnaita seperti Vania akan marah besar jika ide ini dibagikan. "Vania. Aku punya ide. Tapi, kita harus mengorbankan sesuatu yang penting." Alvin tersenyum rapi, mendiskusikan sesuatu yang tidak bisa ditolerir. "Apa yang harus kita korbankan?* "Pakaian kita!" "Heh?!* [*^*] Pencarian prajurit Reshan dibagaikan mencari seorang buronan kelas kakap. Banyak prajurit militer Kawasan Tengah yang dikeraskan. Sebagian besar pasukan mereka berfokus pada memojokkannya Chivakov. Namun, prajurit yang dikerahkan harus meningkatkan kewaspadaan agar mereka bisa menghentikan tentara Reshan yang cukup menganggu eksistensi mereka dalam mendominasi Reshan bagian Selatan. Diketahui, Letnan yang mengemban tugas menyerang Rein dan bawahannya adalah Letnan Raifasa. Dia terus menunggu waktu yang cukup lama untuk menangani tikus yang menyebalkan untuk dimusnahkan untuk selamanya. Tak lama kemudian, sebuah panggilan yang disambungkan kepadanya Letnan Raifasa. Dia langsung menyambungkan sinyal itu dan kembali mengobrol dengan cepat. "Letnan! Bagaimana dengan laporan Anda tentang kinerja saat ini? Apakah Anda sudah menyelesaikan misimu?" Orang yang memanggil Letnan Raifasa adalah seorang Jenderal Kawasan Tengah yang bertepatan di sebuah kota di Qasar. "Ini sedang dikerjakan. Berikan waktu sebentar lagi! Aku akan menghabisi mereka sebelum kembali kepada Mayor Chivakov. Dia sudah kehilangan beberapa pilar yang penting." "Baguslah. Sekarang, bereskan segera mungkin. Aku akan mengirimkan armada yang kamu pimpin ke arah Reshan Selatan. Banyak pasukan yang kami siapkan untuk menghadapi kepungan Fen Yu." "Iya, Pak. Aku akan segera kesana. Aku akan memastikan bahwa Rein akan dibunuh secepat mungkin." "Jangan lama-lama! Aku menunggumu di sana." Jenderal itu langsung mematikan sambungan itu, harus menunggu beberapa saat agar dia bisa mendapatkan prestasi dan memperbaiki titik yang cukup vital untuk menguasai Reshan Selatan demi mempertahankan wilayah dari serangan Fen Yu. Seorang teknisi yang mengerjakan senjata Rahasia terkejut bukan main menandakan data yang diterima adalah alarm merah. Dia langsung menenaggil Letnan itu dengan sebuah teriakan yang menggelisahkan. "Letnan! Gawat! Aku menemukan sebuah informasi yang mengerikan!" Teriakan itu hampir sampai di telinga Letnan itu. Untungnya, letnan itu memiliki pendengaran lebih tajam. Teriakan itu memberikan respon yang cepat, langkah kaki Letnan Raifasa langsung bergerak tanpa pikir panjang, menuju ke sumber suara. Setelah sampai, dia langsung bertanya tanpa basa-basi sekalipun.. "Apa? Informasi apa itu?" Letnan itu langsung bergegas dan menghampiri teknisi yang gelisah dengan informasi alarm merah. "Kami menemukan data yang penting dan memperoleh sesuatu yang buruk. Kita akan kalah dengan telak." "Apa yang membuat kita akan kalah? Mereka hanya 4 orang. Sementara,kita memiliki pasukan yang lebih banyak daripada mereka." Letnan itu tidak percaya, mendapatkan alarm merah dalam Senjata Rahasia itu sangat tidak masuk akal. Alarm merah dalam perolehan data menandakan bahwa ada peringatan yang harus diperhatikan, tidak boleh diabaikan sekaligus. Namun, jarang alarm merah didapat dari beberapa waktu. Bisa jadi, alarm itu membuat tanda yang sangat berbahaya. Lawan yang dihadapi oleh Kawasan Tengah adalah seorang monster yang sangat mengerikan. "Bereskan sekarang juga! Jangan kirim data kepada prajurit yang sedang bertarung! Suruh mereka memberantas musuh secepat mungkin. Perdebatan hampir dimulai, persengketaan yang cukup meningkat secara signifikan. Orang lain tidak ingin tahu karena pekerjaan mereka lebih sibuk dan berurusan dengan perang. Jadi, biarkan kedua orang itu mencari solusi yang tepat. "Tapi, kita harus memperingatkan bahwa Mayor Rein tidak beres. Dia punya kekuatan super yang memungkinkan bisa membunuh semua prajurit di dalam markas itu " "Tidak! Musnahkan mereka semuanya! Aku jamin mereka akan mati di tangan prajurit di bawah tanganku." Letnan itu bersikeras, agar perintahnya diterima dengan mudah. Agar perseteruan tidak berlangsung lebih lama, teknisi itu memutuskan untuk mengikuti perintahnya, memastikan letnan itu sudah tenang dan bisa kembali bertugas. "Baiklah, Pak. Dimengerti!* Setelah menerima perintah itu, Letnan Raifasa memutuskan untuk meninggalkan ruangan senjata rahasia untuk mengurus strategi catur yang lain. Demi kemenangan, dia akan membuat keputusan dan Perintah agar Rein dimusnahkan secepat mungkin. [*^*] Pertarungan semakin berlanjut. Rein sengaja ditembak dari berbagai arah, memaksa armor berlapis baja terjatuh begitu saja. Tidak ada yang menyangka bahwa Rein akan mendapatkan kesialan dengan mendapatkan kematian yang lebih cepat. Waktu berhenti kembali, merasakan hampa yang luar biasa. Peluru tidak melayang lagi. Boleh jadi tentara yang menembak hanyalah sebuah patung bagi orang sekarat seperti Rein. Rein justru tersenyum jahat, merasakan penderitaannya sekali lagi. Pernah yang cukup membuat orang lain trauma. Shell Shock yang menjangkiti seua prajurit Breshish. Sekarang, Rein akan membalikkan keadaan dengan kekuatan dan doa yang harusnya tidak diucapkan. "Dengan amarah dan ketakutan mereka, aku akan mengendalikan mereka. Dengan peluru yang melesat, aku akan menghabisi kalian semua. Dengan doa ini, kalian akan musnah dengan izin Kitab Suci!” "Dengan permintaan ini, KALIAN AKAN DIMUSNAHKAN DENGAN KEKUASAAN TUHANYANG TERHORMAT!" Peluru yang mengarah pada Rein langsung hangus begitu saja. Selain itu, Rein mendapatkan kekuatan terburuknya. Luka yang masih didapatkan masih ada. Tapi, akan hilang ketika membunuh orang dengan sadis. "Apa itu?" "Kenapa dia tidak mempan? Apakah dia …" "Tidak mungkin! Dia bukan prajurit biasanya." Rein kembali tertawa yang buruk. Dia langsung mengambil Golden Ak-104 senjata yang sangat berbahaya degan akurasi yang lebih tepat sasaran dan tanpa batas amunisi sekalipun. Mereka aka menjadikan Rein sebagai musuh yang harus ditangani dengan tenaga ekstra, kembali membuat harapan agar yag dilihat mereka adalah sebuah mimpi buruk ketika tidur di kamar masing-masing. "Bagaimana? Apakah kalian terkejut? Sudah kubilang, aku akan menghabisi kalian. Tidak peduli kalian menang jumlah denganku. Aku pasti aka membuat kalian menyesal seumur hidup kalian!" "The Saints : Holy Prayer!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN