Pasukan Kawasan Tengah telah memasuki bekas markas mereka, berlari sambil memegang senapan mereka untuk memberikan kekuatan yang telah dilatih sekaligus balas dendam.
Mereka memeriksa keadaan ruangan yang gelap dan ruangan yang tidak terawat lagi. Padahal, baru 2 hari ditinggalkan. Mereka membuat wacana untuk memperbaiki markas yang dirusak oleh musuh dan kembali menginvasiReshan Bagian Selatan.
Sementara itu, Alvin dan Vania masih bersembunyi, Liana menghilang entah kemana. Mereka berpisah kepada Lolita itu, berharap Liana baik-baik saja karena seharusnya Liana masih bisa bertarung sebelum bergabung ke Agen Rahasia Reshan.
"Sial! Jumlah mereka terlalu banyak. Bagaimana caranya agar aku bisa menghadapi mereka?"
"Kita harus bersembunyi terlebih dahulu. Jumlah mereka terlalu banyak. Lagipula, kita tidak punya seorang perawat yang merawat luka jika kita terkena tembakan.
"Mayor b******k! Dia membawa kita ke neraka. Kita terjebak di sini." Vania marah besar, namun masih tenang menghadapi kondisi.
Mereka melupakan kantuk mereka, justru fokus dengan situasi dimana musuh akan membombardir markas secara penuh. Meskipun tidak menggunakan senjata peledak, mereka bisa memukul mundur musuh.
Ini sama seperti sebuah permainan petak umpet.
Tak lama kemudian, seorang prajurit mendengar beberapa percakapan kecil. Telinga yang tajam itu cukup menguntungkan. Dia bisa mengenali suara kawan dan bukan.
Dia sudah mengetahui sumber suara yang mencurigakan, tidak familiar. Dia langsung mengambil senapan dan mulai menembak sumber suara dengan santai.
Alvin menyadari hal yang aneh. Suara tembakan itu mengejutkannya sampai membuat keputusan yang cepat.
"Awas!" Alvin bergerak cepat, mendatangi Vania lalu mendorongnya.
"Eh?" Vania terhenti sejenak, terdorong Alvin ke kiri, mengurangi kerusakan yang dilancarkan oleh peluru yang mengarah kepada mereka berdua.
Beruntungnya, tembakan itu meleset, tidak mengenai seragam mereka berdua. Namun, sebagai gantinya para tentara musuh melihat keberadaan mereka berdua. Yang pasti mereka sudah diketahui.
"Itu mereka! Mereka adalah Sersan Vania Delivia dan Alvin Stealer!" Seorang prajurit berseru, tidak ketinggalan dengan kontribusinya.
"Kejar mereka! Jangan sampai mereka lolos! Mereka cukup tangguh."
Alvin dan Vania mendapatkan kesialan mereka, dikejar 100 orang bersenjata adalah pengalaman terburuk yang didapatkan siapapun. Mereka berlari dengan penuh perjuangan, tidak bisa kabur dari kejaran tentara Kawasan Tengah.
"Eh?! Kenapa mereka mengetahui nama kita? Padahal, kita tidak pernah memberikan nama kepadanya mereka." Vania merasakan hal yang aneh.
Alvin juga demikian, berpikir sejenak ketika berlari dari hujan tembakan yang melaju cepat. Meskipun tidak kena sama sekali, mereka harus waspada untuk mendapatkan tantangan yang lebih buruk.
"Aku tidak tahu. Yang pasti kita harus menghadapi mereka semua tanpa berkorban sama sekali."
Vania tidak bisa membalas serangan lawan karena jumlah lawan lebih banyak daripada mereka. Tembakan yang dilancarkan tidak cukup untuk mengatasi masalah itu, apalagi dengan akurasi tembakan yang pas-pasan.
"Lewat sini!" Alvin menunjukkan lorong di sebelah kiri.
Mereka berdua berbelok ke kiri ketika orang lain sedang. Namun, mereka ditemukan dengan mudah. Ada beberapa tim dari prajurit Kawasan Tengah yang menunggu kedatangan mereka.
Alvin merasakan kesulitan, bertemu dengan musuh lagi. Setiap bersembunyi, mereka tidak bisa kabur dengan selamat. Vania merasakan suara tembakan
Tembakan itu terus melayang, namun tidak bisa mengenai sasaran karena Alvin dan Vania terus bersembunyi, tidak melawan sama sekali. Dimanapun mereka kabur, mereka akan mengejar mereka sampai tidak bisa kabur lagi.
Terbukti, Vania dan Lain tidak bisa kabur lagi, bersembunyi di tempat penyimpanan barang. Pemimpin tim itu langsung memberikan peringatan kepadanya mereka berdua, dengan suara yang lantang.
"Menyerahlah, p*****r! Kau tidak akan lolos dari kami!" Pemimpin tim itu langsung mengecam agar mereka keluar dari melakukan baku tembak. Tidak ada penerimaan yang berarti.
Vania memandang lingkungan sekitar, tidak ada celah yang bisa dimanfaatkan untuk bisa kabur dari tentara yang lebih berpengalaman.
Keputusan Vania mengubah segalanya.
[*^*]
Sementara itu, Letnan yang bertugas untuk melakukan penyerangan markas yang sudah terbengkalai. Mereka bisa memberikan lawan terpuruk karena taktik dan senjata rahasia yang digunakan selama perang dunia ketiga.
"Lapor, Pak! Aku sudah memberikan semua informasi kepada semua prajurit untuk menyelesaikan misi secara efektif. Sekarang, kita perlu menunggu waktu."
Letnan mendengarkan laporan prajurit itu, sudah siap membuat keputusan yang berikutnya. Suara yang keluar dari mulut letnan yang sudah berumur dan mapan siap diterima oleh prajurit itu.
"Bagus sekali. Kita perlu menekan mereka agar Rein bisa terpojok. Liana Kerensky main belum muncul sama sekali. Cari dia dan tangkap dia! Dia adalah aset penting untuk membuat batu loncatan."
Prajurit itu menerima perintahnya lalu mengirimkan pesan kepada prajurit yang lain. Prajurit berpakaian lengkap dengan sebuah prestasi yang mentereng. Prajurit itu sudah meninggalkan pandangan seorang Letnan yang harus mengembangkan tugas yang cukup berat.
Letnan itu harus memeriksa semua peluang dan prediksi yang sedang berlangsung. Prajurit yang sudah dikerahkan harus mendapatkan korban yang sekecil mungkin.
"Rein adalah mayor yang tidak biasa. Dia adalah orang yang meresahkan. Sepertinya, aku harus mematikan semua pergerakannya sebelum menuntaskan semuanya."
Dari layar monitor besar yang sudah dipasang sebelum penyerangan itu terjadi. Banyak peluru yang menghujani bekas markas itu. Tapi, tidak bisa merusak bangunan markas itu, membuat psywar kepada pihak musuh.
"Rein akan memutuskan untuk membuat perintah mundur. Aku jamin itu." Letnan itu membuat perjudian, Rein akan membuat perintah mundur setelah ketahuan.
[*^*]
Di sisi Rein, semua prajurit yang sudah memakan korban harus mengeluarkan tenaga dengan extra. Mereka harus menambahkan pandangan mereka untuk mendapatkan Rein secara bayangan.
Rein terus menerus menggunakan teknik "Stalin Warfare : Clutch" untuk mengurangi tentara musuh, bukan untuk memusnahkan mereka. Lebih parahnya lagi, Rein selalu merepotkan musuh ketika mereka ingin menyerang.
Mereka menjadi kewalahan, tapi bukan berarti mereka bisa dikalahkan dengan mudah. Mereka sudah mendapatkan informasi yang penting untuk menangani lawan seperti Rein untuk memaksa Rein menunjukkan dirinya.
Jangan lupa, Rein bisa menggunakan teknik yang lainnya.
Mereka masih menggunakan senapan mereka, menggunakan scope mereka dengan fitur terlengkap mereka, fitur inframerah yang memungkinkan untuk bisa mendeteksi lawan di dalam kegelapan. Tidak ada kemungkinan Rein untuk bisa bersembunyi di dalam kegelapan.
Setelah menggunakan fitur inframerah itu, keberadaan Rein menjadi lebih jela. Selain itu, mereka tahu kemana Rein pergi. Banyak prediksi yang mereka kemukakan, sebagian besar keputusan yang diambil selaras. Jadi, salah satu dari mereka menyerukan sesuatu dari mulut mereka.
"Itu dia! Tembak dia cepat!"
Tembakan itu langsung melesat melewati banyak kegelapan, menembus bayangan musuh yang tidak bisa diremehkan. Namun. tidak ada satupun peluru yang mengenainya, apalagi melukainya. Ada beberapa peluru yang terpantul akibat armor berlapiskan baja yang melindungi musuh.
"Aku ketahuan yah? Untung saja tembakan itu tidak mengenaiku dan untungnya aku menggunakan armor berlapiskan baja. Jadi, kau tidak bisa membunuhku dengan mudah."
Anehnya, Rein tidak membalas serangan itu, justru dia menarik Ak-47 dan memaksa mereka untuk mengobrol. Mereka tidak menyia-nyiakan peluru yang akan digunakan pada perang berikutnya.
"Menyerahlah sekarang juga! Kami tidak akan memberikan toleransi pada b******n sepertimu!"
Rein malah tertawa keras, memberikan alibi yang tidak jelas, senyuman buruk dan gerakan kedua tangan yang mencurigakan. Mereka sempat bersiaga, memegang senapan mereka dan mengarahkan kepada Rein.
"Lebih baik aku mundur sekarang juga daripada menyerahkan diri kepada Manusia busuk seperti kalian."
Mereka semakin tidak mengerti, tidak paham dengan ucapan Rein yang sengaja mempermainkan beberapa prajurit.
Jumlah prajurit musuh semakin mendekat, semakin lama prajurit itu menutup celah Rein. Ini membuat Rein semakin terpojok agar mereka bisa mengeksekusi Rein dengan mudah, mengurangi kesulitan yang dihadapi tentara Kawasan Tengah.
Kaki Rein menyentuh tanah, tangan kanan langsung menyentuh jam tangan yang mampu mengeluarkan beberapa fitur virtual, memanggil orang dengan mudah, tanpa gangguan sinyal sama sekali, menyambung ke anak buahnya.
"Kalian semua! Mundurlah! Bunuh orang sebisa mungkin. Jika tidak, aku akan menghajar kalian semua.
Terlalu terbuka, mereka semakin bingung. Kenapa Rein memberikan perintah di tengah pengepungan ini? Mereka tidak mau menunggu waktu lama lagi, harus menumpas Rein sebelum terlambat.
"Sialan kau! Kau malah memberikan perintah di saat seperti ini."
Setelah mengirimkan perintah, Rein memberikan gestur jari tengah, mengarahkan ejekan kepada prajurit yang sudah menginjak 21 tahun. Ejekan ini ditujukan agar mereka semakin marah.
""иди на хуй, сука!" (Persetan denganmu, jalang!) Itulah yang dikatakan Rein, meskipun mereka tidak bisa bahasa Reshan, mereka mengetahui gestur jari tengah sebagai ejekan.
"Matilah kau, setan sialan!" Mereka yang marah langsung menembak Rein secara membabi-buta, banyak peluru yang terbuang oleh sebuah amarah.
Peluru dari segala arah, tidak bisa kabur kemana pun. Terasa buntu lagi. Tapi, itu sudah cukup bagi Rein. Jumlah 100 tentara sudah cukup baginya untuk menunjukkan kemampuannya.
[*^*]
Di sisi Liana, gadis berambut pirang malah keluar bangunan markas dan memeriksa keadaan musuh. Mereka menyerang Rein dan kawan-kawan dengan rapi. Tidak ketinggalan juga, Liana adalah wanita yang paling dicari oleh serdadu Kawasan Tengah untuk dimanfaatkan lebih lanjut.
Untung saja perintah mundur sudah sampai di telinga Liana. Jika tidak, Liana akan ditangkap lebih mudah.
Liana tidak bisa pergi kemanapun meskipun bersikeras untuk keluar dari situasi buruk itu. Saat ini, dia sedang bersembunyi di balik semak-semak. Meskipun mereka mendapatkan informasi mengenai Liana, mereka tidak bisa menemukan Liana sampai sekarang.
Matahari akan terbit sebentar lagi, sekitar sejam lagi.
"Mana mungkin aku bisa mundur kalau aku tidak bisa kemanapun? Merepotkan sekali."
Ketika sedang stagnan, Liana mendapatkan sinyal dari kedua
Terlihat Vania sedang berhadapan secara tidak langsung dengan Liana, Alvin sedang melakukan baku tembak dengan senapan yang tidak memadai. Namun, dia bisa menjatuhkan lawan. Vania tidak bisa membunuh satupun prajurit lawan karena tidak memiliki keberanian sama sekali.
"Liana. Bantu kami sekarang! Kami sedang terjebak di sini. Kami berada di ruang penyimpanan gudang dan hanya satu jalan akses untuk ke sana. Kami tidak bisa kabur."
"Eh? Kenapa? Apakah kalian tidak mampu menembak mereka? Kamu tidak membunuh mereka sama sekali."
"Dasar bodoh! Mayor b******n itu malah membawa kita ke neraka, tidak maju membawa peralatan kesehatan. Apakah kamu bisa membantu kami dengan keberadaanmu? Kami butuh bantuanmu. Alvin sedang melakukan baku tembak. Artinya, aku tidak mau membuat resiko terburuk yang pernah ada."
"Malas sekali. Aku tidak mau. Soalnya, …." Liana sempat menolak, tidak mau merepotkan wanita berambut twintail itu.
"Jangan banyak alasan. Jika kami mati, kau tidak akan punya teman lagi!"
"Aku mengerti. Aku akan bergerak sekarang juga. Bolehkah aku membawa tank ke sini? Ini cukup memakan waktu yang.lama."
"Tidak usah! Itu terlalu lama. Datang sekarang juga lalu kita mundur secara bersamaan! Aku punya rencana terbaik jika kita mundur!" Vania menyeringai, membuat kelicikan yang tidak diduga-duga.