Setelah video pembakaran mayat dikirimkan kepada Negara Kawasan Tengah, amarah mereka menjadi membesar, tidak bisa dihentikan begitu saja.
Jadi, Pasukan Kawasan Tengah langsung mengirimkan seua armada mereka kepada markas yang sudah dihancurkan. Pemimpin pasukan itu, memiliki pangkat sedikit lebih rendah dari pangkat Mayor, seorang letnan.
"Pastikan semuanya sudah siap! Kita perlu mengumpulkan pasukan untuk menyerbu Reshan sialan itu dengan bombardir kita."
Mereka sudah tahu kelicikan Rein karena Mayor itu merusak markas Kawasan Tengah sendirian. Ini sangat tidak mungkin dilakukan oleh Mayor manapun.
Terpaksa, mereka menggunakan senjata rahasia untuk menjatuhkannya. Alasannya, mereka butuh mengatasi masalah besar itu secepatnya agar tidak terjadi masalah yang lebih besar lagi.
Semuanya perlu waktu agar mereka bisa mengumpulkan pasukan yang lebih kuat dan solid hanya untuk menjatuhkan keempat prajurit yang mencari ribut itu.
Bahkan, mereka rela memproritaskan Mayor Rein sebagai musuh yang terburuk daripada Mayor Chivakov yang bisa ditangani dengan beberapa gabungan taktik.
Sepuluh jam lamanya, semua personil, mulai dari prajurit, kendaraan berlapis baja, hingga beberapa helikopter sudah berkumpul bersama. Hanya pesawat jet tempur yang tidak bisa berkumpul karena berurusan dengan negara lain yang sedang berkonfrontasi.
Sekarang, mereka langsung mengarahkan target dengan kekuatan penuh mereka. Mereka berharap bahwa mereka bisa membalas dendam.
[*^*]
Matahari hampir terbenam, tidak ada listrik yang diaktifkan di markas itu. Itu sengaja tidak diberikan penerangan agar mereka bisa menerapkannya taktik mereka, membiarkan markas itu terbengkalai.
Toilet di markas itu tetap berfungsi. Hanya saja pemakaian toilet itu harus digunakan pada waktu yang tepat. Waktu efektif penggunaan toilet itu adalah pagi sampai siang hari. Sore dan malam, mereka tidak boleh menggunakannya.
Vania dan Alvin membawa api unggun dan membakarnya di lorong markas itu, terasa gelap dan menakutkan. Namun, mereka tidak percaya pada hantu itu. Mereka justru takut jika mereka tidak bisa mengalahkan rasa takut mereka sendiri.
Sementara itu, Liana sedang mengawasi keadaan dari luar, tidak terlihat sama sekali. Kondisi yang aman bukan berarti bisa santai begitu saja. Rein sudah menyuruh semua prajurit yang dilatih agar tidak lengah dalam kehidupan mereka.
"Liana. Kau sudah memeriksa keadaan di luar? Kau tidak perlu berlari jika tidak mampu."
Liana melepaskan teropong miliknya, pandangan matanya kembali berfokus pada Rein meskipun efek teropong itu merusak pandangan Liana pada jarak dekat.
"Aku baik-baik saja. Hanya saja, aku ingin membawa tanku ke sini tapi jaraknya cukup jauh. Jadi, aku tidak bisa membawanya ke sana."
"Temani mereka berdua. Aku akan menjaga tempat ini."
Liana menyerahkan teropong miliknya kepada Rein, menyisakan Rein memegang teropong di genggaman tangannya. Beban Liana dalam penjagaan itu telah digantikan, menyuruh istirahat sekaligus menemani kedua sersan itu.
"Aku pergi dulu. Tolong jaga baik-baik!"
Rein tidak memberikan respon apapun, justru berfokus pada ancaman yang akan datang. Ia akan senang jika musuh membawa banyak personel untuk menyerang markas yang telah direbut.
Rein tidak takut sama sekali. Mayor Chivakov merasa tegang jika Pasukan Aliansi Kawasan Tengah bisa menjatuhkan Tentara Reshan yang kuat dan banyak namun sering kalah dalam pertarungan.
Sekarang, kembali hening seperti biasanya. Udara yang sejuk menghangatkan suasana, membuat peluang santai menjadi lebih besar dibandingkan bersantai di pantai selatan. Ini memang penjagaan yang cukup membosankan sekaligus santai tanpa mendapatkan tekanan.
Malam pun tiba, Alvin dan Vania membuat api unggun dan menggunakan bekas mayat untuk dijadikan bahan bakar api unggun itu. Menghasut lawan jauh lebih indah daripada mendapatkan tiket keberuntungan.
Mereka dilarang membakar markas itu karena itu akan membuat amarah lawan lebih membesar. Menurut Rein, sebaiknya sapu bersih penyerang itu lalu bakar bangunan itu. Jangan lupakan satu kendaraan berlapis harus dicuri agar bisa menaiki tank lagi yang sedang bersembunyi.
Mereka bertiga menyanyikan lagu api unggun, sama seperti yang dilakukan pada Perkemahan Militer beberapa bulan yang lalu. Tidak jauh dari seorang yang mengikuti kegiatan Pramuka di beberapa negara.
Tidak ada yang menghalangi mereka. Mereka hanyalah tentara yang ingin mendapatkan kehidupan yang lebih baik karena perang yang terjadi begitu saja.
[*^*]
Tanggal 17 November 2030, beberapa minggu sebelum musim dingin tiba. Jam menunjukkan pukul 6 pagi. Masih tidak ada matahari yang menunjukkan dirinya untuk memberikan kehangatan kepada penduduk Bumi.
Ketiga orang yang sedang menikmati tidur mereka, berharap bisa bangun pada jam 9 pqgiz ketika matahari sudah memberikan kehangatan pada mereka meskipun hanya sedikit.
Namun, ….
"Bangun! Bangun! Bersikaplah perang sekarang juga! Mereka akan menyerang kita ketika kita akan tidur."
Teriakan Rein membangunkan mereka di dalam lorong dengan nafas yang terengah. Lorong yang menjadi tempat tidur menjadi tidak berguna. Mereka langsung membuka matany dan menyadari hal yang aneh.
Langit malam dipenuhi dengan hujan peluru. Peluru yang melesat dari udara dan kembali mendrat ke markas itu, menimbulkan suara berisik yang menggelegak. Namun, tidak semuanya.
Setelah sampai di tanah, peluru itu meledak layaknya granat, menimbulkan suara berisik yang mengganggu ketenangan. Ancaman yang menyebar seiei markas, seolah-olah dikepung dari luar.
Banyak perintah yang dikumandangkan untuk menyerbu habis markas di depan mereka, sebagai sarang serangga bagi musuh. Tidak hanya itu, semua pasukan yang terlibat di sana harus menghabisi gangguan yang merusak markas itu.
Terbarunya, mereka sudah menemukan bekas mayat yang telah dibakar, tidak ingin membiarkan kejadian itu terjadi pada kedua kalinya. Mereka memutuskan untuk mengatasi orang itu secepatnya.
Seorang prajurit berjalan ke belakang dan berniat menemui seorang Letnan dengan penuh kepercayaan diri namun masih menghormati atasan. Setelah bertemu, prajurit itu memberikan hormat berupa kedua tangannya menempel di bagian d**a dan membentuk tanda x.
Letnan melakukan hal yang sama, memberikan kesempatan bicara pada prajurit itu untuk memperoleh informasi yang didapatkan.
"Lapor, Pak. Tentara yang terdiri dari 1.000 orang, 30 kendaraan berlapis dan 3 helikopter bersiap mengepung tempat ini."
Letnan yang memimpin pertempuran ini langsung memberikan keputusan yang diambil. Wajar sekali, dia
"Baiklah. Kalau begitu, kita harus menghadapi dengan cepat dan tepat. Kita harus menyelesaikan dan menuntaskan musuh b******k itu secepat mungkin."
"Baik, Pak. Segera saya sampaikan."
Setelah itu, prajurit itu kembali berbalik badan dan meninggalkan letnan sendirian, tidak mau diganggu karena letnan itu harus merancang strategi yang matang untuk menangani tugas itu.
Bombardir peluru masih terus dilakukan. Peluru yang dilancarkan oleh tentara berasal dari kendaraan berlapis, peluru yang bisa mengeluarkan ledakan dan kerusakan yang lebih parah.
Setelah tembakan itu, seruan seorang pemimpin tersebar di area sekitar, memastikan tentara yang dikerahkan harus memasuki ke dalam markas untuk menghadapi empat tentara Reshan yang meresahkan.
"Maju! Maju! Cari mereka sampai dapat!"
Semua prajurit dari Kawasan Tengah segera turun tangan dan memasuki markas itu dengan keseluruhannya, memaksa musuh untuk keluar dari persembunyiannya.
Di sebuah bayangan hitam, seorang sosok menyeringai, melihat mangsa yang bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan pengalaman pertempuran yang lebih baik.
Banyak tim tentara yang masuk ke dalam ruangan disatukan dan menjaga pandangan mereka agar bisa menemukan pelaku yang sudah membakar rekan mereka di markas ini.
"Stalin Walfare : Clutch!"
Tentara yang mendengar nama mantra itu langsung mendapatkan luka yang tidak disangka, bekas tembakan yang bersarang di tubuh mereka tidak bisa diobati.
Mereka jatuh satu per satu, tidak menyadari kondisi yang menghantui mereka. Peluru yang melesat melewati banyak kegelapan menjelang pagi hari. Setelah berjalan beberapa detik, peluru itu langsung masuk dan mencabut nyawa lawan seketika.
Setengah tim telah dijatuhkan, suara tembakan terus memberikan mimpi buruk kepada tentara Kawasan Tengah. Namun, mereka belum menyerah, menghindari kontak laju peluru dan mencari pembunuh itu.
"Berlindung! Kita harus …."
Tidak sempat, seorang tentara yang ingin memberi perintah malah tewas seketika, membuat keresahan pada tentara yang lainnya. Ketakutan mereka tidak bisa ditahan lagi, semakin lama mereka merasakan sesuatu yang menyakitkan.
Teriakan terjadi dengan jelas, membuat Rein langsung mengeksekusi lawan dengan cepat dan baik. Satu per satu lawan diberantas dengan kekuatan Clutch di game online.
[Clutch dalam FPS adalah sebuah kondisi dimana seorang player bisa memenangkan pertandingan dengan lawan yang jumlah lebih banyak darinya. Kasus ini jarang terjadi. Tidak semua orang bisa melakukan Clutch meskipun sudah memainkan game FPS lebih lama dan pengalaman]
Rein bergerak dalam kegelapan, membuat senyuman mengerikan di dalam pembunuhan itu. Penglihatan musuh bisa dimanfaatkan Rein dan mengambil keuntungan dengan menembak dan menusuk mereka di saat lengah.
"Matilah seperti seorang b******k yang tidak berguna!"
Setelah menghabisi lawan, Rein langsung meninggalkan area itu dan beralih ke area yang lain, kembali menyuruh bawahannya untuk berhati-hati dan tidak boleh terbunuh. Tidak ada tenaga medis di pihak Reshan.
[*^*]
Di luar markas, persiapan tentara Kawasan Tengah sudah selesai. Senjata rahasia yang digunakan untuk memojok Mayor Chivakov akan digunakan pada serangan ini.
Senjata rahasia itu adalah sinyal Data Network. Sinyal itu akan dipancarkan dalam waktu yang lama untuk memperoleh informasi yang penting. Ini bisa digunakan untuk membuat langkah yang lebih maju ketimbang lawan. Mayor Chivakov adalah korbannya.
Ini butuh persiapan matang. Makanya, mereka harus menunggu beberapa jam agar mereka mendapatkan informasi yang bisa dimanfaatkan untuk memperoleh peluang kemenangan.
Kendaraan yang membawa Data Network dijaga ketat agar mereka bisa bertahan lebih lama sekaligus membalikkan keadaan.
"Senjata rahasia telah disiapkan! Kota menunggu perintah Anda sebagai Seorang Letnan." Seorang teknisi Data Network sudah
Data itu diproses menjadi sebuah informasi. Informasi itu akan ditunjukkan kepada seorang Letnan maupun prajurit pada umumnya. Ini ditujukan agar korban yang diperoleh lebih sedikit. Jadi, mereka bisa mengelola prajurit dengan mudah.
"Mayor Rein Stealth, tentara muda yang dijuluki Silver Rifle. Dia lahir tanggal 17 Juli 2011. Dia berbeda dengan Mayor Chivakov yang memiliki celah yang lebih terbuka. Dia lebih sulit daripada yang dibayangkan."
"Teknik yang digunakan adalah Stalin Walfare. Ada 4 teknik yang diketahui. Stalin Walfare : Clutch, Stalin Walfare : Blitzkrieg. Stalin Walfare : Power-Active, dan Stalin Walfare : Arsenal."
"Sejauh ini, hanya data ini yang bisa dikulik. Lebih lanjutnya, silahkan tekan tombol selengkapnya."
Teknisi itu menerjemahkan data yang didapatkan selama beberapa jam. Letnan tuh berpikir sejenak, melawan Mayor Rein agak berbeda daripada orang lain. Jadi, mereka perlu memutar otak karena informasi yang didapatkan masih mentahan, belum lengkap.
"Baiklah. Kalau begitu, perlihatkan semuanya. Aku akan membuat keputusan untuk kemenangan kita semua."
Keputusan Letnan adalah segalanya. Keputusan yang baik akan mendatangkan kemenangan yang manis. Selain Rein, ada tiga data yang dapat dimanfaatkan. Dua prajurit pangkat sersan dan satu agen rahasia Reshan. Ini cukup mudah dan terkesan meremehkan.
"Setelah mendapatkan informasi yang cukup, aku sudah memutuskan untuk melenyapkan Rein dan bawahannya sekarang juga. Tidak ada toleransi lagi!"