Mereka berempat sudah masuk ke dalam markas, menyamar dan menjadi pihak musuh selama beberapa hari. Mereka membunuh beberapa orang dengan peran yang tidak penting seperti petugas keberhasilan atau tentara yang culun.
Mush tidak sadar bahwa mereka menggunakan misi penyamaran.
"Bagiamana dengan Humvee yang kita dikendarai? Kita mau pakai kendaraan untuk perjalanan pulang." Vania bertanya, kembali mengepel seperti biasanya.
Rein dengan tenang menjawab semua keraguan itu meskipun respon yag dibalas akan berdampak buruk bagi rencana Rein. Dia berperan menjadi tentara yang baru berlatih.
Mereka sudah memalsukan data pribadi. Jadi, mereka tidak akan ketahuan. Para petinggi militer tidak ambil pusing dengan identitas anak buah yang dipalsukan. Mereka justru memilih untuk membahas taktik yang merepotkan Mayor Chivakov.
"Ini untuk pengalihan. Mereka akan panik dan terus dihantui. Alvin. Kau sudah memasang bom secara berkala?" Rein bertanya, mengalihkan pandangannya ke arah Alvin.
"Sudah. Aku menyimpan bom di sekitar markas mereka. Ini akan memerangi psikologi yang ada." Alvin menjawab, menghela nafas sejenak, berperan sebagai teknisi listrik untuk kebutuhan markas.
"Sekarang, kita bisa menunggu selama 5 hari. Jika mereka tidak bisa bertahan lama, kita menyusup ke tempat ini dan membunuh mereka semua, suruh bala bantuan untuk datang ke sini. Kita akan habisi mereka."
"Rein. Aku ingin ikut menghantui lawan." Liana merengek, meminta sesuatu dari Rein sambil memegang seragam Rein dengan kedua jarinya, berperan sebagai petugas kebersihan juga.
"Baiklah. Tugasmu sekarang adalah menemani mereka berdua. Kita akan menetap dan berperan menjadi hantu."
[*^*]
Kode yang disampaikan dari Humvve yang sekarat masih misterius sampai sekarang. Ledakan demi ledakan telah terjadi. Tidak tahu apa yang terjadi pada psikologi mereka jika ledakan itu terus menerus menjadi mimpi buruk bagi mereka.
Beberapa prajurit yang mendengar ledakan tidak tahan karena ledakan itu terus menerus mengganggu aktivitas mereka. Meskipun sudah menyelidiki ledakan itu berasal, tidak mendapatkan petunjuk apapun. Hanya kode yang aneh yang tertera pada kode itu.
Semuanya menjadi lebih jelas ketika ledakan itu sudah merugikan fasilitas dan infrastruktur markas pada Aliansi Kawasan Tengah. Senjata yang disimpan hilang begitu saja, lebih terkesan dihantui.
Para tentara maupun petinggi yang bertugas di markas itu tidak bisa berpikir keras. Meskipun patroli diperketat. Sepertinya, kualitas tentara di markas utama tidak bisa memberikan solusi pada permasalahan itu.
Hasilnya, mereka mengeluh karena ledakan itu tidak pernah selesai. Kenyamanan mereka merosot tajam. Padahal, mereka tidak mengalami kejadian ini sebelumnya. Namun, kondisi itu tidak sampai pada para petinggi Aliansi Kawasan Tengah yang bertepatan di Kawasan Tengah.
Tidak hanya itu, pembunuhan kerap terjadi di dalam markas itu. Meskipun mendapatkan beberapa petunjuk, mereka belum bisa menangkap pelaku pembunuhan itu. Cara pembunuhan sangat bervariasi. Dari pembakaran, penembakan, penusukan, sampai pembunuhan psikologi yang berujung bunuh diri.
"Sial! Kenapa ledakan itu selalu mengganggu kami? Kami tidak bisa tidur."
"Senjataku dirusak. Jadi, tidak bisa latihan."
"Banyak darah yang berkeliaran di dalam ruangan itu. Di lorong juga."
Banyak komplain yang diutarakan, tidak bisa disampaikan dengan kepala dingin sekalipun. Petinggi yang bertugas di markas itu semakin menambah penyakit di kepalanya. Tidak ada bedanya, semua staf yang bekerja di markas ini semakin ditakuti oleh sebuah hantu yang mengelilingi mereka.
Muncullah sebuah ketidakpercayaan dalam sebuah lingkungan di markas utama itu. Meskipun sudah melakukan pemeriksaan data, hasilnya sama saja. Identitas terkesan tidak dirusak oleh seorang hacker, dikemas dengan rapi.
Salah satu prajurit menyembunyikan rencana liciknya, membuat tuduhan yang berdasar kepada rekan lainnya. Banyak pengkhianat yang muncul di antara mereka. Tidak ada yang bersih. Semuanya menjadi gelap.
Di ruangan latihan yang dipenuhi atmosfer yang tidak mengenakkan, seorang prajurit yang menyembunyikan proses yang dilakukan. Lebih licik daripada seorang penjudi di dunia malam.
"Rasakan itu, orang bodoh! Kau membuat keputusan bodoh. Kita hanya menggunakan sistem pengkhianat di markas ini. Aku sudah menyuruh Liana untuk meretas keamanan dan komunikasi di markas ini dan memastikan bahwa identitas yang kami bawa tidak berubah sama sekali."
"Jika satu titik ini hancur, kalian tidak bisa berbuat apapun!"
[*^*]
Malam yang tenang, patroli yang diketatkan meskipun hasilnya percuma. Para pemimpin yang mengawasi patroli itu tidak terlalu niat karena sudah tidak percaya pada bawahannya.
Kebanyakan orang yang tinggal di dalam markas itu memutuskan untuk tidur karena sudah menyelesaikan pekerjaan mereka. Namun, tidak lupa mengunci pintu kamar agar tetap aman.
Namun, sebuah serangan dimulai dari dalam, menimbulkan ketakutan yang tidak bisa dihindarkan. Sebuah markas yang bersih dan terorganisir berubah menjadi sebuah bangunan yang habis diterjang bencana.
Dua puluh menit sebelum bencana itu terjadi, dua petugas kebersihan, seorang tentara, dan teknisi listrik berkumpul di sebuah ruang latihan. Mereka berkumpul dengan membawa beberapa seragam militer mereka.
"Sepertinya, waktu kita sudah mau habis. Identitas ini tidak akan bertahan lama lagi. Kita juga sudah menetap di tempat ini selama 5 hari." Liana menengok jam tangannya, menandakan waktu penyamaran sudah mau habis.
"Itu sudah cukup. Mereka menjadi rusak secara filosofis. Struktur mereka menjadi lebih rapuh daripada sebelumnya. Sekarang, kita akan bantai mereka dan pukul mundur keluar dari Reshan sekarang juga!" Rein mengganti seragam militer musuh dengan seragam miliknya, tidak keberatan ketika seorang wanita mengintipnya ganti baju.
Semuanya mengangguk paham, agak miris melihat rapuhnya markas yang dibangun. Meskipun pemikiran Rein cukup kotor, mereka agak menikmatinya. Vania sedari tadi sudah mengenakan seragam sebelum berkumpul agar privasinya tetap aman.
"Kau memang kotor sekali, Rein. Ketika pengalihan perhatian sedang berlangsung, kita justru membunuh identitas yang tidak terlalu penting lalu meneror mereka seperti seorang hantu." Alvin tertawa kecil, merasakan kenikmatan taktik kotor itu.
"Dasar! Kalau tahu rencana kotor ini, lebih baik aku tidak ikut dalam misi ini." Vania sedikit menyesalinya, namun mentolerir kelicikan itu dengan hembusan nafas kecil.
"Tunjukkan kemampuan kalian dan suruh mereka untuk membawa lebih banyak pasukan ke markas ini. Markas ini akan menjadi pertahanan kita." Rein kembali membuka senyuman jahat, lebih mengerikan.
[*^*]
Kekacauan di markas utama sedang berlangsung, terjadi baku tembak yang terdengar di beberapa lokasi yang berbeda. Banyak teriakan yang mewarnai markas itu. Sampai-sampai tidak ada yang membantu karena tidak ada solidaritas di antara mereka.
Markas utama dengan berjauhan karena bangunan di Reshan bagian Selatan dipenuhi dengan beberapa lahan yang tidak layak dibangun. Tidak banyak waktu untuk membangun markas yang lebih solid dan terstruktur. Mereka justru memanfaatkan bangunan yang ada untuk dijadikan markas.
Itu adalah kelemahan mereka, bisa dimanfaatkan Rein karena koneksi setiap bangunan bisa rusak jika sebagian bangunan dirobohkan. Berkat Liana, yang meredam keamanan dan pemantauan CCTV, semuanya menjadi tidak ada artinya.
Kondisi markas itu sudah dipalsukan agar mereka bisa mengurus beberapa hal yang lainnya. Kondisi markas Aliansi Kawasan Tengah di Reshan Selatan sudah dianggap baik-baik saja. Rencananya besok paginya kepalsuan itu akan terbongkar dengan sendirinya.
"Tolong aku! Aku akan dibunuh!" Sebuah jeritan itu menimbulkan beberapa pemandangan yang menakutkan.
Pembantaian secara gelap-gelapan tidak akan berakhir sampai mayat dikumpulkan untuk dibakar habis-habisan. Sekarang, tinggal tunggu waktu agar petinggi yang tinggal di markas itu akan menunggu nasib yang sama dengan korban pembunuhan itu.
Di sisi lain, tentara yang di luar bangunan itu sedang bingung, banyak mayat yang berserakan, dengan sebuah tembakan yang mendarat di berbagai anggota tubuh. Selain itu, ketakutan mereka dipancarkan setelah sekarat setelah kehilangan banyak darah.
"Hentikan dia! Dia memasuki markas tanpa izin." Pemimpin patroli itu berseru, namun tidak ada seorangpun yang mau menghentikannya.
Tentara yang berpangkat mayor tertawa terbahak-bahak, merasakan kebodohan pemimpin patroli yang terkesan tidak berguna, sudah menjatuhkan prajurit yang datang untuk menghentikan langkahnya.
"Hentikan? Kau pasti sudah bercanda! Tidak ada yang bisa menghentikan aku sekarang juga."
"Aku sudah membuat markas ini menjadi kacau balau. Membuat horor di tempat ini semakin menyenangkan. Personil dan kendaraan tempur di sini sudah dilenyapkan sebagian besar. Jadi, kalian tidak bisa bertahan lama." Rein semakin tertawa keras, memancing amarah pemimpin patroli itu.
"Matilah kau!" Pemimpin patroli itu langsung maju dan mengarahkan pisau ke arah Rein sebagai tentara berhati licik.
Namun, percuma saja. Rein bukan orang bodoh. Di samping tawa yang menggelegak, dia masih bisa membunuh orang dengan kemampuan auto pilotnya. Mereka semakin takut karena lawan yang dihadapinya adalah tentara Reshan yang berpangkat Mayor.
Mayor Rein sangat berbeda dengan Mayor Chivakov.
"Mati saja kau! Kau tidak perlu hidup untuk berjuang."
Setelah membunuh pemimpin patroli itu, Rein memberikan jawaban atas kode yang menghantui. Suara Rein cukup keras, tidak ada istilah orang yang tidak mendengar suara Rein. Rein menggunakan sebuah kekuatan agar semua orang bisa mendengarkan suaranya.
[С! Ю! З!]
"C! Menandakan bahwa serangan Humvve yang muncul dari sebelah utara markas. Ю! Mimpi buruk dan horor yang selalu merusak keharmonisan. 3! Angka yang menunjukkan bahwa markas ini sudah terpecah belah dan bisa dikalahkan dengan mudah."
"Itulah kode yang kukirimkan kepada kalian para babi bodoh yang mendapatkan kesialan yang tidak ada gunanya. Matilah seperti seorang mayat biduk yang dipenuhi keputusasaan."
Setelah itu, suara Rein berubah menjadi tawaan. Bukannya marah, mereka semakin ketakutan. Setan yang tidak bisa ditangani sulit ditaklukkan.
Kini, mereka hanya menunggu ajal mereka sampai matahari terbit.
[*^*]
Keesokan harinya, markas yang berdiri kokoh berubah menjadi tidak teratur. Pagi hari di musim gugur, terlijat suram dan menyedihkan.
Semua mayat yang terkapar dikumpulkan untuk dibakar hidup-hidup. Mereka tidak bernyawa sama sekali namun, itu yang diinginkan oleh Rein.
Saat ini, ketiga bawahan Rein tengah berbaris, menyelesaikan banyak pekerjaan yang melelahkan. Menyapu bersih lawan yang menetap di kastil itu dan membersihkan markas dengan mencoreti markas itu.
Orang yang kabur dari markas itu mungkin tidak akan bertahan lama jika tidak ditemukan selama beberapa hari. Itu sudah cukup bagi Rein.
Rein datang dengan penuh kepercayaan dirinya. Harga dirinya ditingkatkan seiring berjalannya waktu. Langkah kaki yang tegap sudah memastikan bahwa mereka siap berperang mati-matian.
"Sudah siap semuanya? Aku sudah mengirimkan video kepada petinggi Aliansi Kawasan Tengah. Mereka sangat marah sampai mengirimkan semua pasukan mereka yang ada di Reshan untuk menyerang kita berempat. Mereka hanya menunda serangan mereka kepada pecundang bodoh itu."
"Sekarang, ini saatnya bagi kita untuk menunjukkan diri kita bahwa kita bukan orang yang diremehkan. Trik kotor ini seharusnya bisa berjalan dengan mudah untuk negara pecundang ini."
"Kita persiapkan diri kita dan pertahankan tempat ini agar mereka tidak punya apapun untuk menyerang Tanah Air ini!"
"Waktunya beraksi! Kita adalah Tentara Reshan yang kuat dalam militer."