Perang Dunia : Penobatan Sersan

1604 Kata
Sebuah tanggal yang dinantikan oleh prajurit proletar, tidak sia-sia perjuangan yang berlalu. Tidak disangka mereka bisa mendapatkan penghargaan itu karena kelulusan yang cepat dan dilabeli akselerasi. Sekarang, mereka pantas mendapatkan penghargaan yang membanggakan. Simbol yang akan diperoleh untuk dipasangkan ke dalam seragam mereka. Tanggal 8 Maret 2030, tepatnya hari ini, mereka langsung bersiap untuk bergerak menuju lapangan yang luas untuk menghadiri acara penting itu. Tidak ada yang mau terlambat, mereka justru datang lebih cepat dan rajin, menunjukkan kedisiplinan mereka selama menjadi Tentara Reshan selama beberapa bulan. Setelah itu, mereka berkumpul terlebih dahulu selama 25 menit sebelum para mayor dan atasan mereka untuk mendatangi acara penghargaan itu. Ini cukup penting mengingat mereka perlu menaikkan derajat mereka sebelum bertempur untuk menghadapi lawan yang cukup sulit. Meskipun tidak memiliki pengalaman latihan, tubuh yang terlatih dan otak encer sudah cukup untuk menaiki pangkat mereka. Jenderal Reshan dan Menteri Pertahanan sudah membuat keputusan yang baik. Kenaikan pangkat ini ditujukan agar meningkatkan kondisi psikis dan kualitas tentara. Bisa memberikan semangat yang membara untuk meningkatkan peluang kemenangan dengan tentara lawan. Tak lama kemudian, seorang Mayor mendapatkan panggilan khusus untuk menghadiri acara itu. Mayor itu sudah bersiap, seragam lengkap dan rapi dan mulai berjalan layaknya seorang prajurit yang tangguh. Dia akan memberikan pidato untuk meningkatkan motivasi mereka. [*^*] Semua prajurit sudah merapikan barisan mereka. Komando dari instruksi masing-masing telah mengurangi beban para senior untuk mengurusi banyak prajurit. Mereka berdiri tegak, tanpa mengeluh sama sekali. Sama seperti seorang siswa yang lulus dalam sekolah menengah ke atas. Sementara itu, Vania sudah bergerak seperti seorang prajurit yang memiliki pengalaman yang lebih baik. Alvin bersama dengan barisan pria yang lain. Mata mereka tertuju pada sebuah podium yang menjulang tinggi. Liana tidak berada di barisan itu. Agen Rahasia Reshan harus dikirimkan ke wilayah lain untuk menjalankan tugas rahasia untuk memeriksa sektor di wilayah Timur Reshan. Saat ini, tentara berpangkat mayor itu, Rein Stealth menaiki anak tangga untuk mencapai podium itu. Satu anak tangga dinaiki, tidak menimbulkan suara yang ribut sama sekali. Kini, Rein sudah di depan ratusan prajurit yang berdiri tegak yang sebelumnya cukup payah. Tidak ada yang tahu apa yang dikatakan Rein pada pertama kalinya. Seakan-akan, sudah ditenggelamkan oleh waktu dan tempat. Sebelum itu, Rein memeriksa mikrofon yang menempel di dalam headphone. Mikrofon itu tidak mengalami masalah sama sekali, tidak memerlukan sebuah speaker karena headphone itu sudah bisa memberikan gelombang radio yang cukup luas, apalagi suara Rein yang tidak pernah jelas sama sekali. Rein tidak pernah melaksanakan sesuatu, tidak terburu-buru. Harus mempersiapkan terlebih dahulu sebelum menancap gas. Rencana dipersiapkan sebelum menyampaikan sesuatu yang lebih penting di acara tersebut. Buktinya, Rein memeriksa keadaan sekitar dan memandang headphone sejenak, tidak peduli suara berisik yang mengganggu Rein di atas podium. Keamanan sudah terjamin, tidak ada cerita musuh akan menyerang. "Cek. Apakah suaraku jelas?' Mereka menjawab, memastikan tidak ada pertanyaan yang cukup meragukan. Hanya sekali jawaban yang singkat, padat, dan jelas. Sudah cukup lebih baik. Sekarang, Rein bisa menyampaikan pesan apapun yang dikeluarkan dari mulutnya. Setelah memasang headphone di kepalanya, suara Rein kembali bergetar di bagian luar headphone itu, tidak lupa menyetel speaker sejauh 1,3 km kuadrat. "Maaf telah menunggu waktu lama. Selamat pagi!" Suara Rein langsung bergerak leluasa di udara, lebih jelas daripada seorang tua bangka yang perlu menggunakan mikrofon untuk menyampaikan aspirasinya. "Aku sebagai seorang mayor mengucapkan selamat kepada kalian untuk melewati proses yang cukup sulit bagi kalian. Kalian memang mengikuti latihan yang baik, jadi aku sangat bangga apa yang kalian raih. Kalian perlu merayakan prestasi kalian agar kalian bisa memiliki semangat yang lebih baik." Di pikiran mereka, mereka terpaksa latihan keras agar Rein tidak menghajar mereka dengan senjata AK-47. Vania menjadi korbannya meskipun bisa menghadapi Rein dengan kekuatan yang kurang jauh, tapi masih bisa berjuang. "Kalian tidak perlu menjadi seorang tentara jika kalian tidak menyukainya. Tapi, kalian harus bersedia menerima resiko yang akan mendatang ketika sudah memperoleh kenaikan pangkat." "Aku akan menendang kepala kalian jika kalian bertingkah seperti seorang tikus berdasi yang busuk itu. Aku tidak main-main dengan kataku sendiri. Jadi, bersiaplah diri kalian untuk bergerak di barisan paling depan." Sebelumnya, upacara peningkatan pangkat ini tidak perlu dipersiapkan seperti upacara bendera di suatu negara. Mereka hanya mengadopsi beberapa upacara di negara kawasan timur, sebelah timur Fen Yu. Kembali ke sambutan Rein, yang berbeda daripada sambutan yang lain. Ini seperti api menara yang siap untuk dilepaskan jika musuh datang untuk menyerang tanah suci Reshan selama perang dunia berlangsung. "Kali ini, kita, sebagai kekuatan terbesar yang pernah ada akan membuktikan bahwa kita tidak akan kalah lagi! Tiga Ace Spyxtria berada di pihak kita dan menunjukkan bahwa kita tidak lemah seperti yang mereka pikirkan saat ini!" "Aku tidak mau mendengar sebuah kebodohan dan langkah pengecut yang kalian ambil! Itu tidak berlaku bagi mereka yang tidak punya kualitas sama sekali." "Kota pertahankan tanah suci ini lalu serang balik!" Seruan Rein sekaligus membunyikan gendang perang, semuanya bersorak untuk merespon seruan itu. Meskipun kejam, Rein bisa membawa mereka untuk menjadi prajurit yang tidak manja dan cengeng. Langkah ini cukup efektif tapi tidak terlalu diterapkan oleh sebagian besar pasukan militer pada negara lainnya. Mereka memilih untuk memberikan pengalaman pada prajurit di Medan perang meskipun berisiko. Sekarang, sesi pemberian lencana telah dimulai. Satu per satu prajurit dipanggil ke depan untuk memperoleh penghargaan karena sudah berlatih lebih keras dan cerdas. Rein memberikan lencana sersan untuk semua prajurit. Sudah terbiasa untuk menjalankan acara penghargaan yang lebih baik. Waktu terus berlalu, semakin banyak prajurit yang berubah secara pangkat. Dialog mereka semakin banyak terjadi. Tapi, tidak berisik sama sekali. Soalnya, para atasan tidak pernah fokus kepada suara bising itu. Waktunya tiba, Vania langsung berdiri dan segera menaiki podium itu. Tidak ingin menunggu waktu lama lagi. Setelah naik podium, Vania langsung berhadapan pada Rein selaku petugas yang memberikan penghargaan pada setiap prajurit. Semuanya dilakukan oleh Rein sendiri tanpa bantuan orang lain. Mereka saling berhadapan, Rein sudah memasang lencana itu di seragam Vania. Jadi, Vania tidak perlu memasang sendiri dan beritndak sebagai seorang mahasiswa yang baru lulus dari universitas. "Selamat atas prestasimu. Aku harap kau tidak memberikan beban pada tim selanjutnya." Rein memberikan selamat sekaligus berharap agar Vania tidak berubah menjadi parasit ketika sudah menjadi seorang sersan. Vania masih santai dari luar. Namun, dari dalam hatinya, dia terpancing. Ingin sekali mengatakan sesuatu yang kasar dan merendahkan untuk Rein. Hanya saja, ini adalah acara penobatan. Tidak boleh bertindak yang merugikan harga diri Vania. "Lihat saja nanti. Jika kau memang salah menilaiku, aku akan menghukummu seperti kau melecehkanku dengan sebutan pelacur." Imej Vania terjaga dengan baik, tidak dirusak seperti orang amatir dan bodoh. Rein tidak mencari masalah lagi, terus menjalankan tugas yang besar dengan sendirian. Sudah terbiasa Rein bekerja sebagai seorang salaryman di negara maju. Tidak menunggu waktu yang lama, Vania langsung mengundurkan diri dari podium dan memamerkan keindahan seragamnya yang dipenuhi dengan lencana sersan pada rekannya. Setelah 20 menit kemudian, semua prajurit sudah mendapatkan lencana mereka. Tinggal satu sambutan yang harus disampaikan oleh seorang tokoh militer yang dihormati oleh sebagian kecil masyarakat.. Tidak ada pilihan lain, Rein memilih untuk turun dari podium dan ikut bersama para atasan meskipun tidak terlalu akrab sama sekali. Seorang Menteri Pertahanan Reshan sudah muncul di layar hologram, sedang menyambut ratusan markas secara bersamaan. Ini ide yang dikemukakan oleh menteri itu dan dilaksanakan dengan baik dari para atasan, dari Mayor sampai Jenderal. Mereka ikut mendengarkan sambutan dari "Halo, Доброе утро, semuanya! Saya, Menteri Pertahanan Reshan mengucapkan selamat atas penobatan sersan kali ini. Pangkat kalian sudah berkembang dari Prajurit 3-1 menjadi Sersan 2." "Kualitas kalian yang awalnya sebagai rakyat sipil berubah menjadi seorang tentara yang penting dalam menjaga wilayah Reshan yang tercinta ini." "Sekarang, tentara Reshan aktif sedang menderita di Medan pertempuran. Mereka harus mendapatkan luka lalu kehilangan makanan di Medan perang." "Bayangkan jika kalian tidak mengikutinya latihan militer itu. Jika itu terjadi, Ilberia dan Fen Yu akan mendominasi Reshan dan memenangkan Pernah Dunia Ketiga dengan mudah." "Tapi, itu tidak berlaku sama sekali. Mereka tidak ada apa-apa dengan celoteh mereka. Kita balas ejekan mereka dengan sebuah kemenangan yang nyata. Itulah Tentara Reshan hari ini!" [*^*] Sambutan yang mengenang, Menteri Pertahanan sudah tidak ada di depan mereka, mereka bisa melihat wajah Menteri Pertahanan karena hologram itu sudah disetel menjadi hologram level Giant. Jadi, mereka bisa mendengarkan dan melihat seperti menonton sebuah bioskop. Penobatan Sersan telah berakhir, mereka bisa istirahat selama seharian untuk memulihkan tenaga mereka sebelum mendapatkan tugas yang lebih besar daripada sekedar latihan saja. Di dalam kerumunan, secara tidak sengaja Vania dan Alvin memandang satu sama lain, tidak peduli kondisi yang menerpa mereka saat ini. Mereka bisa melupakan sambutan itu dan kembali berbicara. Vania dan Alvin kembali berkumpul sebagai Tentara Angkatan Darat Reshan dengan pangkat yang baru meskipun masih sama dengan sebelumnya, prajurit proletar. "Bagaimana denganmu? Apakah kau mengalami peningkatan setelah acarapenobata sersan itu?" Vania menanyakan kabar Alvin, ingin tahu jawaban yang pasti. "Aku memang satu langkah di belakangmu. Tapi, aku memutuskan untuk berada pada pangkal yang sam denganmu." Alvin menjawab, menghla nafas perlahan untuk mencairkan suasana. Vania kembali mencuat protes, jujur saja respon yag menyebalkan selalu menghantui Vania. Respon yang dilakukan Vania adalah membuang muka kepada Alvin, kecewa dengan jawaban yang diperoleh. "Dasar! Kenapa kau tidak menaikkan pangkat lebih tinggi lagi? Padahal, kau latihan lebih keras daripada kami." Vania bertanya, memastikan kejanggalan Alvin atas ketidakselarasan itu. "Bukankah kau melarangku untuk latihan?" Alvim membalikkan omelan itu, membalikkan kedua tangan di belakang badannya. Vania dikalahkan, tidak perduli lagi dengan ocehan hening dan berduri. Topik yang dibahas Vania adalah sebuah perayaan atas penobatan itu. "Sudahlah. Kita ke kantin untuk merayakan penobatan ini. Yang lainnya sedang menunggu kita." Vania berbalik badan lalu mengajak Alvin untuk pergi ke kantin. Alvin menyetujuinya Liana dan memutuskan untuk ikut bersama Liana, merayakan hasil kerja keras yang sering menyiksa batin itu yang kini sudah tidak terlihat lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN