Perang Dunia : Seorang Tuhan

1674 Kata
Tanggal 15 Maret 2030, jam 22:53. Malam yang tenang dan hening. Tidak ada aktivitas militer yang terlihat selain patroli yang diadakan secara bergantian, sama seperti piket kelas setelah aktivitas sekolah usai. Mereka cukup mengantuk dan memilh untuk menjaga diri mereka agar tidak ketiduran ketika patroli. Mungkinkah berjalan dengan pelan dan sedikit olahraga untuk mempertahankannya kesadaran mereka. Di sebuah ruangan yang masih tersisa, menyala dan meredup setiap detiknya. Para atasan yang sudah menyelesaikan pekerjaan harus meninggalkan kehidupan mereka di dunia milih, istirahat sebentar di ruangan mereka. Rein sudah menyelesaikan berkas yang bertebaran di ruang kerjanya. Tanda tangan yang dituliskan di atas kertas telah diserahkan jauh-jauh hari. "Akhirnya, tugas b******k itu sudah diatasi sebelum tengah malam. Bukankah ini seperti pekerja kantoran?" Rein sudah melakukan peregangan tubuhnya, berniat untuk pergi meninggalkan ruangan miliknya. Ia berjalan dengan menyisakan tenaganya, mendekati gagang pintu untuk diputarkan. Waktu terhenti begitu saja, tidak bisa pergi kemana-mana. Gagang pintu yang dipegang Rein tidak bisa diputar untuk membuka pintunya. "Apa? Kenapa rasanya terjebak di sebuah dimensi waktu ini?" Rein bingung, kesadarannya langsung meningkat pesat. Rein melupakan pintu itu, mencari sesuatu agar bisa kabur dari situasi yang buruk itu. Sayang sekali, jendela yang dilihat oleh kedua matanya telah ditutup rapat. Terdapat sebuah boneka yang bergerak, dengan kekuatan supernatural yang dimilikinya. Boneka beruang yang mengenakan seragam tentara Perang Dunia Kedua, mendatangi Rein dengan sebuah pertanyaan yang meragukan semua orang. Tatapan Rein langsung bergerak ke boneka itu, bergerak seperti manusia. Kecurigaan Rein semakin besar karena belum mengetahui apa motif boneka itu. "Menyedihkan. Kau tidak pernah berubah sama sekali." Rein tidak menjauhi boneka beruang itu, kebanyakan orang jika melihat boneka beruang yang bergerak sendiri, akan takut dan menjauhi boneka itu. Rein menganggap boneka itu adalah sebuah kesalahan, boneka yang kerasukan. Rein sudah bertemu dengan hantu yang sama menghantuinya. Amarah yang masih tenggelam karena sudah terbiasa dengan sebuah mimpi buruk. "Apa maksudmu? Seharusnya, kau tidak hidup, boneka bodoh!" Rein menyambut dengan dingin, badannya tidak gemetar sama sekali. Boneka itu masih tenang, tidak terpancing dengan sambutan dingin itu. Dia berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, menunjukkan sebuah eksistensi dan mimpi buruk. Korban dari boneka itu, Rein tidak memberikan respon sama sekali, tidak masalah dengan dialog hidup dan mati. "Aku tidak takut pada hantu yang merasuki ke boneka. Jika perlu, aku akan membunuhmu di sini." Rein langsung menarik senapan, memelototi boneka itu. "Seharusnya, kau bertobat dan tidak melakukan hal yang buruk.* Teguran keras dan suara yang mengancam keluar dari mulut boneka itu sambil memberikan ancaman berupa senapan. Namun, Rein jauh tidak bergerak dan memberikan respon apapun, sibuk membereskan dokumen yang tersisa. "Kenapa kau tidak pergi dari sini? Aku sedang sibuk!" Boneka itu masih diam, tidak bergerak sama sekali. Dia tidak menunjukkan kesenangan dan efek positif ketika menghantui orang. "Kamu memang dingin seperti biasanya. Sepertinya, kau tidak ingin membuat resiko yang cukup kuat setelah mendapatkan julukan itu. Silver Rifle. Lalu, kau hampir memenggal kepala orang hanya karena malas latihan." "Hentikan ocehanmu! Aku tidak akan menyembah orang sepertimu! Aku tidak percaya sama sekali." Suara Rein menjadi meninggi, akibat sebuah kata yang provokatif merusak konsentrasinya. Rein menganggap boneka itu sebagai tuhan yang telah mengutuknya. Dari ekspresi Rein, terlihat tidak tenang walaupun berusaha keras untuk tidak meladeni boneka itu. Namun, boneka itu selalu berpindah dari suatu tempat ke tempat lain setelah diam beberapa lama. "Jika kau tidak bisa bertahan lagi, kau akan masuk ke dalam neraka yang Slam. Sebaiknya, kau harus bertahan lebih lama lagi." Sudah berapa kali Rein mendengar kata itu sampai muak sekali untuk mendengarkan pengulangan kata itu. Rein langsung mengangkat wajah, memilih untuk tidak memandang boneka beruang itu,. "Aku tahu. Itu sebabnya aku berusaha lebih keras agar bisa memenangkan Perang Dunia ini. Jika aku memang, kau harus menyingkir dariku. Sepertinya, boneka itu memberikan respek yang baik, ingatan Rein ternyata masih lebih baik daripada 3 kali ingatan orang yang sudah tua bangka. Rein tidak senang dengan pujian yang dilontarkan dari boneka itu. "Rupanya, kau masih ingat tentang inti dari pertemuan pertama kita. Aku kagum denganmu." Suara suram dari boneka itu menggema di seluruh ruangan, menyebabkan Rein harus memikirkan sesuatu agar bisa bebas dari boneka itu dalam jangka panjang. Boneka itu kembali memberikan informasi yang tidak diketahui oleh Rein. Tidak peduli apakah Rein mendengarkan ucapan dari boneka itu atau tidak, yang pasti boneka itu sudah membuat langkah untuk mengalahkan satu pihak yang akan melawannya. "Kau tahu, orang yang kau bunuh adalah orang suci yang ikut berperang untuk agama dan negara. Semakin banyak kau membunuh pendeta itu, semakin banyak dosa yang kau tampung." Boneka itu masih memberikan tekanan meskipun tidak berhasil. Sedikit demi sedikit tekanan diberikan kepada Rein agar Rein putus asa seperti orang bodoh yang hanya mengharapkan takdirnya kepada seorang Tuhan. "Tidak peduli. Aku tidak ingin kau mengoceh tentang surga dan neraka. Berapa kali kukatakan, aku tidak percaya dengan Tuhan atau keajaiban. Apakah kau masih belum paham juga?" Boneka itu terdiam sejenak, memeriksa keadaan psikis dari tubuh pria itu. Rasanya tidak beres jika Rein terus membulatkan tekad demi dirinya sendiri, menentang kehendak Tuhan sendiri. "Sepertinya, kau masih terjebak dalam kegelapan. Kenapa kau tidak berdoa kepadaku untuk menjamin keselamatanmu?" Boneka itu meminta, seolah-olah dia adalah seorang Tuhan. Waktu yang masih terhenti dan tidak bisa pergi kemanapun. Rein tidak punya pilihan lain, meskipun bisa bergerak bebas di tengah waktu yang terhenti, dia tidak bisa kabur dari kekuatan boneka itu. "Kau tidak bisa pergi begitu saja jika kau terjebak dalam dunia yang penuh dengan kehancuran. Dunia yang sudah hancur oleh orang yang rakus. Sangat tidak sudi kalau hanya orang busuk tinggal di bumi ini." "Jangan berpikir kau bisa menang kalau aku akan bertahan lama. Aku tidak mau kalah dengan Tuhan b******k sepertimu!" Sekarang, boneka itu langsung berhadapan dengan Rein, langsung memberikan jari tengah kepadanya sebagai ejekan. Setelah simbol itu, Rein langsung mengambil pistol lalu berniat untuk menarik pelatuk ke arah boneka di depannya. "Coba saja kalau berani, sialan! Aku tidak akan memberikan ampun padamu." Boneka itu tidak menunjukkan aura yang takut, justru dia membuat sebuah perjudian yang sulit dipercaya. "Sayang sekali. Kau tidak pernah belajar dari pengalamanmu sendiri. Sekarang, aku bertaruh. Jika kau kalah, hidupmu akan berakhir dengan darah dan nyawa." Semakin lama, Rein tidak percaya pada Tuhan yang merasuki tubuh boneka beruang berseragam Reshan edisi Perang Dunia Kedua. Pemuda itu masih menahan emosi yang besar di kepalanya, namun sayangnya gagal. Dengan spontan, Rein langsung membuat tembakan pada boneka itu. Tapi, peluru itu tidak melesat sama sekali. Emosi Rein semakin dipermainkan karena peluru pistol itu keluar dari pistol tapi masih melayang dan diam. "Sayang sekali. Sepertinya, pendosa sepertimu tidak akan menang melawanku." "Sial. Aku lupa. Benda yang tidak kusentuh tidak akan bergerak." Rein langsung menarik pistol miliknya, senjata kedua yang dipakai Rein pada jarak dekat. Boneka itu tidak gentar, langsung maju beberapa langkah untuk memberikan ancaman pada pendosa itu. "Percuma kau menyerangku. Kau tidak bisa membuat peluang untuk melepaskan tembakanmu padaku." "Suatu saat nanti, aku akan membunuhmu." Tekad Rein semakin besar, menunjukkan jati dirinya karena dia adalah prajurit yang mampu membungkam mulut seorang Tuhan. Rein menyilangkan tangannya di bidang dadanya, tatapannya cukup tajam dan kejam. Ini menunjukkan bahwa Rein tidak ingin memberikan ruang bagi Tuhan itu. Boneka itu langsung memberikan sebuah inti pembicaraan, tidak terlalu penting sama sekali. Seorang, Rein melangkah mundur untuk menghindari efek serangan boneka itu. "Kesempatan yang kuberikan belum menambahkan peluang kekalahanmu. Tapi, jika kau tidak kalah, tidak ada kesempatan untuk bangkit kembali!" Rein menghela nafas, meladeni seorang Tuhan. Di depan matanya dengan pengontrolan emosi dan perasaan. Pria tidak bisa melawan lebih agresif lagi. Tidak ada cara yang lebih baik dengan menunggu waktu sebelum menembak boneka itu. Boneka itu sedang mencari celah agar Rein kehilangan beberapa pilar untuk mempertahankan visi dan misi untuk mengamankan diri dari situasi yang lebih parah. Bisa jadi, Tuhan itu membuat rencana yang disembunyikan. "Aku tidak perlu membuang waktu bersama dengan b******k sepertimu! Aku tidak akan pernah berdamai dan menjadi pengikut seperti orang bodoh itu!" Boneka itu tidak memberikan senyuman karena diremehkan. Justru, dia sangat fokus ungkapan Rein yang tidak bisa diabaikan. Rein akan paham dalam waktu dekat dengan perkataan sendiri. "Boleh juga. Tapi, kau tidak bisa meneruskan kehidupanmu dalam waktu yang lama. Lawanmu akan semakin kuat jika kau memberikan bantuan padaku." Rein tertegun cukup lama, tidak sengaja membuat pergerakan yang tidak perlu, memberikan jarak antara tangannya dengan senjata utamanya, AK-47. Tuhan itu memberikan pesan terakhir sebelum meninggalkan eksistensinya. "Waktumu tidak lama. Aku menantikan kehancuran itu. Aku pastikan pendosa dan kafir sepertimu akan masuk ke dalam jurang keputusasaan dan kehancuran mental. Ingat itu." Eksistensi Tuhan itu semakin menghilang seiring berkembangnya waktu. Tugas menemui seorang pendosa dan kafir telah selesai. Tinggal menunggu waktu agar bisa memenuhi rencananya. Waktu kembali berjalan, jam dingin virtual sudah bergerak seperti sedia kala. Hembusan angin bergerak leluasa di luar ruangan. Kini, Rein sedang sendirian di ruang kerja yang cukup mencekik. Emosi Rein semakin bertambah, tidka bisa dikontrol sama sekali. Jadi, Rein langsung mengambil Ak-47 dan mengarahkan senapan kepada boneka yang masih berdiri tegak. "Sialan kau, Creation N!" Emosi yang meledak-ledak, peluru demi peluru dikeluarkan dengan penuh amarah. Sekarang, peluru itu tidak terdiam manis seperti tembakan pistol tadi. Boneka di depan Rein terbelah menjadi beberapa bagian, menimbulkan suara yang berisik dan menyebar ke luar ruangan itu. Setelah hancur, potongan boneka itu menghilang entah kemana,memudar secara tidak pasti. Dengan keributan itu, seorang tentara wanita membuka ruangan itu dan "Ada apa, Tuan? Kau sampai membuat keributan pada tengah malam begini." Rein yang berdiri langsung mencari tempat duduk dan mencoba duduk untuk menenangkan diri. Tidak masalah, dia diberikan beberapa waktu untuk bernafas setelah berhadapan dengan Tuhan yang busuk baginya. "Tidak apa. Aku sedang tidak enak karena diberikan tiga yang cukup banyak." Rein ahli membuat alibi, alibi yang jujur bagi lawan bicara. Tentara wanita itu memaklumi tugas Rein sebagai seorang tentara berpangkat mayor. Setelah mengetahui jawaban, wanita itu langsung pamit dan memberikan penghormatan pada Rein di ruangan itu. "Baiklah. Kalau begitu, silahkan Istirahat! Aku berpatroli dulu." Wanita itu langsung menutup pintu dan kembali berpatroli. Sementara itu, Rein menarik nafas dalam, memberikan umpatan yang bisa dikirimkan pada boneka yang telah dihancurkan itu. Tidak puas sama sekali dengan hasil itu. "Aku akan menghancurkanmu dan memotongmu menjadi bagian kecil, Creation N sialan!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN