Tanggal 1 April 2030, kota Zenit, kota yang menjadi ibukota setelah kehancuran Roskoria. Aktivitas di kota tersebut masih bisa berjalan normal meskipun keamanan yang ketat di beberapa tempat.
Masyarakat yang tinggal di kota itu masih bisa membeli barang yang mereka mau. Hanya saja, mereka perlu membuat skala prioritas sebelum membuat keputusan di supermarket.
Dikarenakan barang yang tersedia di sana cukup terbatas, mereka harus membeli barang yang cukup tanpa membeli semua barang seperti orang yang terkena panic buying ketika pandemi menyerang.
Sebuah Markas Besar Militer areshan yang dipimpin oleh Menteri Pertahanan Reshan, masih sibuk seperti biasanya. Hari Senin yang sibuk untuk membahas persediaan sumber daya alam dan manusia. Belum lagi, pemantauan prajurit yang siap berperang.
Hari sudah menunjukkan matahari yang menarik, suhu meningkat meskipun musim semi sedang berlangsung. Tensi dan tekanan tidak bisa diabaikan karena mereka tidak bisa bebas dari lingkaran setan yang terikat denga mereka.
Seorang wanita dengan seragam hitam yang rapi berjalan menghampiri Menteri Pertahanan Reshan yang kelihatannya sibuk.
"Pak. Situasi negara ini semakin gawat. Jika tidak ditangani dengan benar, ini akan menimbulkan beberapa masalah yang lain." Wanita itu langsung mengucapakan salam dan laporan tanpa basa basi sekalipun.
"Ada laporan mengenai Wilayah Reshan bagian Selatan?" Menteri Pertahanan Reshan pun demikian, tidak mau membuang waktu karena jadwal yang diikuti sangat ketat.
"Ada. Saat ini, banyak masalah yang cukup besar mengejan pertahanan militer di bagian selatan. Selain itu persediaan yang digunakan untuk mempertahankan wilayah itu terancam habis dan diambil alih oleh musuh."
Laporan yang diberikan berupa sebuah grafik dan deskripsi yang mentereng. Tidak heran jika menteri itu tidak mau meninggalkan beberapa informasi yang meragukan dan melenceng.
"Sepertinya, mayor yang bertugas disana harus berkorban untuk menghadapi ancaman yang cukup besar. Bisa-bisa dia akan ditangkap dalam waktu yang dekat."
Wanita yang bersama dengan menteri yang mengemban tugas terberat itu memikirkan alarm merah yang datang dari Reshan bagian Selatan. Tidak menutup kemungkinan dia akan kehilangan pekerjaan jika tekanan yang datang tidak ditangani dalam jangka panjang.
"Semenjak Presiden Reshan dan Akademi Militer sudah musnah akibat efek nuklir itu, kita tidak bisa mendapatkan bibit unggul lagi. Banyak pelatihan yang harus diperkuat untuk membuat pertahanan yang lebih solid. Kita baru bisa menyerang mereka jika mendapat beberapa peluang yang baik."
Jawaban menteri itu cukup meyakinkan. Tidak bisa diabaikan begitu saja karena sumber daya manusia yang belum cukup mumpuni.
"Berapa persentase Mayor Chivakov yang bertugas di Reshan Selatan untuk selamat dari ancaman itu? Aku tidak terlalu berharap agar bisa selamat untuk menghadapi ancaman yang lebih besar lagi."
Wanita itu menghitung, jari yang cepat menekan layar hologram itu. Setelah itu, wanita itu berucap setelah angka itu keluar dengan analisis yang sudah kuat dan tegak.
"Hanya 10%. Itu pun bisa meurun jika tidak mendapatkan solusi yang cocok untuk situasi ini. Mungkin Reshan bagian Selatan bisa selamat. Hanya saja, itu memancing Negara Saudi dan Qatar untuk menyerang Reshan karena masalah minyak."
Menteri itu menghela nafas, rambut beruban itu sedang berpikir, meletakkan kedua jarinya di antara kedua matanya.
"Bagaimana dengan Mayor Rein Stealth? Haruskah kita mengirimkan misi ini padanya?
Menteri itu teringat dengan prestasi yang diraih Rein selama menjadi prajurit Reshan dan mendapatkan julukan Silver Rifle. Namun, Menteei Pertahanan Reshan itu tidak ingin memberi beban yang lebih berat lagi, harus bersiap terlebih dahulu layaknya seida payung sebelum hujan.
"Tidak. Mayor Rein terlalu banyak mengurus hal yang tidak perlu. Tugas atasan yang semakin berat. Kita bisa mengirimkan misi padanya pada musim dingin tiba."
Setelah berjalan cukup lama, menteri dan wanita itu berjalan ke tempat yang lebih terbuka dan hangat, sebuah taman. Namun, jadwal yang padat tidak memungkinkan untuk istirahat.
Langkah kaki mereka semakin melambat jika mereka menuju ke ruangan yang biasa mereka kunjungi setiap hari. Wanita itu kembali bertanya tentang teknologi yang masih dalam perencanaan.
'Sekarang, bagiamana dengan temuan Teknologi Universitas Triev? Teknologi yang memudahkan kita untuk bertahan hidup di hutan lebat."
Wajah wanita itu cukup rasah, bola mata yang hanya tertuju pada sosok menteri itu. Tangannya terus memegang lembaran hologram untuk mengirim laporan kepada menteri pertahanan itu.
"Selain itu, senjata yang diciptakan oleh mahasiswa itu tidak buruk untuk digunakan. Bisa efektif pada waktu tertentu. Tapi, Anda parlu membuat keputusan untuk mengembangjan teknologi itu."
"Banyak teknologi dari mahasiswa di universitas ini bisa berkembang. Sepertinya, Anda harus membuat seleksi agar bisa menghadapi lawan yang kuat dalam waktu dekat."
Menteri itu mendengarkan semua. Tentang teknologi yang berkembang pesat di kalangan mahasiswa tidak terekspos di bidang militer. Mungkin menteri dalam negeri akan mengambil solusi yang tepat untuk mengatasi masalah itu.
"Kita bisa membicarakan tentang teknologi pada menteri dalam negeri. Sekarang, bagaimana dengan laporan mengenai perang di Euro Timur?" Menteri itu memutuskan mengalihkan pembicaraan dan ingin mengetahui laporan dari Euro Timur.
"Sejumlah negara kehilangan kekuatan militer jika Tentara Reshan dan Ilberia berseteru. Kasus saat ini, Czeko dan Ukraikn resmi menghilang dari peta."
Mulut wanita itu tidak berhenti bergerak namun masih intonasinya masih jelas terdengar. Lebih halus dan serius untuk dibahas. Selain itu, setiap penjelasan yang dikemukakan cukup terbuka di hadapan menteri pertahanan itu.
"Setelah itu, Amberlin dan Warseta memilih untuk berpihak kepada Ilberia dan Breshish untuk mengatasi d******i Reshan pada perang dunia ini. Negara Euro di bagian Utara akan terkena imbasnya karena kehilangan ekonomi yang cukup besar."
Laporan demi laporan, baik dari mulut dan berupa kertas. Tidak bisa dihindari begitu saja, laporan itu harus disusun sedemikian rupa agar tidak terjadi tuduhan palsu karena salah mengisi balasan laporan.
"Untuk Reshan bagian Timur masih aman karena Kerajaan Asuka dan dan Karinia Selatan masih terancam kekuatan militer dari Fen Yu dan Karinia Utara." Wanita itu menambahkan, memperlihatkan peta Reshan bagian Timur yang aman dari alarm merah.
Mereka sudah tiba di ruangan menteri itu. Sekarang, menteri itu harus berpisah dengan wanita itu segera untuk menyelesaikan beberapa tugas dan membuat keputusan.
"Terima kasih atas informasinya. Aku harus menyelesaikan beberapa tugas yang cukup besar untuk menangani masalah ini. Sekalian, aku harus membuat keputusan untuk menghadapi masalah ini." Menteri itu mmebuat tekad, tubuh tua itu masih berdiri tegak layaknya seorang tentara yang kuat.
Kini, Wanita itu membubarkan diri dari menteri itu dan kembali bertugas lagi. Pandangan wanita itu kembali menghilang, tertelan oleh hiruk pikuk pejabat militer Reshan yang lewat.
Menteri itu masuk ke ruangan yang membosankan, menutup pintu agar tidak ada yang bisa mengganggunya selama bertugas dan mengeluarkan sebuah keputusan sebagai pengganti seorang pemimpin.
[*^*]
Jam 15:00, semua anggota berkumpul di ruang pertemuan, cukup besar dan sama seperti ruang dewan perwakilan rakyat di Roskoria. Tidak ada yang terlambat dan ruangan yang kotor, semuanya bersih oleh petugas kebersihan yang totalitas.
Mereka berkumpul dengan konsentrasi penuh. Tidak seperti negara lain jika memaklumi dengan tingkah bodoh itu. Mereka akan dihukum berat jika melakukan kesalahan dalam pertemuan itu.
Tak lama kemudian, menteri pertahanan sudah tiba di sana, berjalan bersama beberapa pengawal dengan seragam lengkap dengan berbagai senapan yang menempel di bagian tubuhnya.
Semua orang yang melihat menteri itu langsung memberikan hormat dan kembali duduk dengan rapi. Mereka perlu menjaga diri mereka agar mereka bisa konsentrasi atas keputusan menteri itu.
Sebelum itu, anggota yang hadir harus menyanyikan lagu Reshan Anthem dan mengikuti prosedur acara yang tersedia. Barulah, menteri pertahanan langsung membuka suara dan memastikan tidak ada kesalahan berupa mikrofon yang menempel pada handphone milik menteri itu.
"Terima kasih atas kedatangan kalian pada pertemuan kali ini. Saya cukup terkesan pada kehadiran kalian pada pertemuan kali ini. Jika saya membuat keputusan yang salah, silahkan berkomentar. Saya terima kritikan kalian."
"Saya, selaku Menteri Pertahanan Reshan menyatakan keputusan untuk menghadapi masalah yang datang setiap hari menimpa kita. Jadi, aku berharap agar tidak ada seorangpun yang melakukan tindakan yang tidak terpuji sama sekali."
"Ini cukup kontroversi mengenai keputusan saya. Tapi, ini adalah sebuah perjudian yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya. Saya tidak bisa membayangkan jika saya gagal sebagai menteri pertahanan. Ini akan menjadi masalah yang besar.'
"Saya akan mengirimkan Mayor Rein dan ketiga Prajurit tingkat Sersan untuk mengatasi Kawasan Tengah. Saya juga sudah berkomunikasi dengan Mayor Chivakov untuk bertahan sedikit lagi lalu mundur begitu Rein datang untuk menyerang."
"Aku akan menjelaskan kenapa hanya Rein dan ketiga prajurit itu. Pertama, dengan kekuatan Rein, kita bisa menghemat prajurit untuk dialihkan kepada Euro Timur. Karena Rein bisa membunuh 1000 pasukan sendirian, kota bisa memberikan tugas yang berat kepadanya."
"Kedua, meskipun Kawasan Tengah tidak mengancam seperti Ilberia dan Fen Yu, mereka bisa membuat potensi yang lebih kacau dengan mengambil sumber daya alam yang kita punya di Resha Selatan."
"Terakhir, mengenai Rein Stealth dan ambisinya. Dia adalah mayor yang berbahaya. Namun, jika ambisinya tidak bisa dikendalikan, maka ini bisa membahayakan kita sendiri."
"Hanya itu saja yang saya sampaikan. Apakah ada pendapat yang bisa kalian utarakan pada pendapat saya?" Menteri itu langsung memberikan orang lain untuk berpendapat, menunggu balasan dari keputusan itu.
Semua orang terdiam kaku, namun masih lebih baik secara psikologis itu sendiri. Spontan, ada yang setuju dengan pendapat itu meskipun perjudian menteri pertahanan tidak akan lancar jika beberapa aspek kedeoan tidak sesuai.
Walaupun ada yang menentang keputusan menteri itu, mereka harus dipaksa untuk berpikir lebih keras untuk memberikan solusi yang nyata.
Hingga akhirnya, ….
"Baiklah. Saya menyetujui meskipun pendapat saya tidak berlainan."
Mereka menyerah dan membiarkan menteri pertahanan mendominasi keputusannya karena suara yang didapat lebih banyak daripada penolakannya.
Menteri itu tidak mengeluarkan eskpresi yang berarti, tetap profesional sampai akhir pertemuan yang melelahkan itu. Menteri itu langsung berdiri dan mengucapakan terima kasih pada anggota yang telah mengikuti pertemuan itu.
Keputusan menteri akan disampaikan pada Rein dari perantara atasan.
"Oke. Terima kasih atas pertemuan kali ini semoga keputusan yang saya ambil merupakan keputusan yang baik. Jika Rein berhasil, Rein akan mendapatkan penghargaan yang lebih baik untuk membawa langkah ke pangkal Kolonel. Sekian, Terima kasih."
Pertemuan sudah selesai setelah kata menteri itu. Semuanya langsung meniggalkan tempat itu dan memilih istirahat di luar markas itu. Bahkan, ada yang tinggal di markas itu demi meningkatkan keamanan mereka.
Sekarang, mereka pulang ke rumah masing-masing dan mengumpulkan tenaga untuk bekerja besok harinya.