[*^*]
Rabu, 1 Mei 2030, satu bulan sebelum musim semi berakhir, persiapan Rein belum matang sama sekali. Pelatihan mereka masih belum mencapai final karena mereka perlu mencari musuh yang nyata.
Namun, karena keputusan menteri pertahanan untuk tidak membawa prajurit pangkat sersan ke dalam medan perang demi keselamatan prajurit. Itu juga sudah disetujui oleh beberapa jenderal dengan status privilege yang tinggi.
Rein tidak bisa melakukan persuasif pada menteri pertahanan karena itu akan menjadi bumerang sendiri bagi Rein.
Dilaporkan wilayah Reshan bagian Selatan mengalami penderitaan yang besar setelah Qasar dan Saudi bekerja sama untuk merebut wilayah itu bersama dengan Kawasan Tengah 28 April yang lalu.
Jadi, Rein harus mengatasi lebih dari 1000 pasukan sampai dengan 10000 pasukan kerjasama yang baik dari beberapa negara.
Sekarang, prajurit Reshan yang dilatih Rein harus diberikan pengalaman tanpa membawa mereka ke dalam zona yang berbahaya dan berisiko. Namun, mereka masih bisa menjalankan beberapa aktivitas seperti biasanya, latihan dan istirahat.
Ruangan latihan yang luas, semua prajurit sersan menggunakan alat virtual agar penggunaan senapan dan peralatan militer lainnya menjadi lebih terorganisir dan pakar. Tidak peduli Rein mau marah atau apapun, mereka kembali latihan demi keamanan mereka sendiri meskipun harus mengorbankan beberapa kesenangan sesaat.
Rein langsung mendatangi mereka yang sedang latihan di dunia virtual, menembak lawan dan menambah keahlian militer. Rein langsung berteriak dan menghentikan aktivitas bawahan yang terkesan dipaksa dan diforsir lebih dalam.
"Oke. Latihan kalian sudah cukup. Pengalaman kalian sudah terbentuk pada dunia virtual mode agresif. Sekarang, kalian dengarkan aku terlebih dahulu."
Semua orang yang mendengar perintah itu tidak mengindahkan perintah Rein sekalipun Rein mengatakan dengan suara keras. Hanya berfokus pada proses yang berjalan di dunia virtual itu.
Tidak ada pilihan lain. Rein langsung menyalakan E-Bom yang digunakan untuk merusak jaringan listrik, dengan kata lain E-Bom itu akan mematikan beberapa barang sebelum digunakan kembali.
Tapi, E-Bom yang dilemparkan Reintidam melukai manusia karena E-Bom sudah bisa dikembangkan untuk meredup kerusakan dan aman dari manusia.
Semuanya langsung mengeluh karena alat virtual mereka dimatikan akibat efek bom itu. Semuanya kena, tidak terkecuali Alvin dan Vania. Mereka melepaskan alat virtual dan terdiam karena Rein sudah di depan mereka.
"Baiklah. Aku ingin membuat pengumuman. Ini untuk kalian nantinya. Jadi, kalian duduk dulu." Rein menyuruh mereka untuk duduk di tanah, tidak perduli dengan alasan.
Semuanya berkumpul, kembali patuh dan menjalani kedisiplinan mereka. Mereka melupakan alat virtual ayng mereka pegang lalu merapat untuk mendekati Rein. Jumlah orang latihan saat itu sudah mencapai ratusan orang. Jadi, mereka harus mendekat agar mereka bisa melihat pemimpin di depan mereka, seorang mayor.
Rein sudah melihat semuanya, prajurit tingkat sersan itu tidak mau ketinggalan dengan informasi yang menyebar dari mulut Rein. Banyak keuntungan yang diperoleh jika mereka bisa mendapatkan informasi rahasia antara para atasan dan Rein. Salah satunya dari mana depan mereka.
"Aku sudah melakukan pemantauan dan diskusi kepada atasan di markas ini. Meskipun cukup menentang, terpaksa untuk menyetujui keputusan bodoh itu adalah hal yang tidak pernah kulakukan.
"Reshan bagian Selatan sedang dilanda penderitaan yang tidak bisa ditangani oleh seorang mayor pecundang itu. Dia membiarkan prajurit yang ditangani mengalami penderitaan akibat banyak gempuran yang terjadi. Jadi, terpaksa aku harus menangani itu semua."
"Dasar beban sialan! Babi bodoh itu malah membuatku harus mengurus ini semua." Rein terpancing emosi karena ketidakbecusan Mayor Chivakov.
Semua prajurit yang mendengar umpatan kasar Rein tertegun, menelan ludah karena merasakan aura Rein yang semakin memerah itu. Mereka tidak apa-apa tentang apa yang Reih dan menteri itu katakan di ruang diskusi itu.
"Sekarang, aku akan mengistirahatkan kalian untuk sementara waktu. Namun, kalian harus bersiap untuk perang pertama kalian. Aku tidak peduli performa kalian menurun atau meningkat. Itu tergantung dari kalian sendiri."
"Untuk menyelesaikan masalah ini, aku perlu tiga tentara ini untuk menemaniku untuk misi ini. Kalian bisa menghela nafas karena aku tidak menunjuk kalian untuk menemaniku pada misi ini."
Mereka sudah memahami kode dan ungkapan dari Rein. Jika mereka ikut, maka neraka akan mendatangi mereka. Banyak resiko yang harus dihindari.
Hanya sebuah harapan yang diinginkan agar tidak dipanggil oleh Rein. Tidak ada yang tahu apabila keputusan Rein akan menjadi neraka yang tidak bisa dilepaskan begitu saja.
"Vania Delivia dan Alvin Stealer. Kalian datang untuk mengikutiku pada misi ini."Rein memanggil kedua nama itu dan memastikan mereka tidak akan kabur dari pemanggilan itu.
Semuanya menghela nafas, tidak mendapatkan panggilan neraka yang meresahkan. Hanya dua orang yang dipanggil untuk menjalankan misi berupa memberantas lawan Kawasan Tengah di Reshan bagian Selatan.
"Selain itu, Liana Kerensky akan ditunjuk sebagai agen rahasia yang menjalankan misi."
Rein menambahkan. Mereka semakin paham dengan informasi itu. Kedua nama itu telah disebutkan di ruang latihan itu. Jadi, bagi nama yang disebut harus bergerak di medan pertempuran seperti Rein. Tidak peduli reaksi nantinya.
Satu Mayor dan 3 Prajurit melawan 1000-5000 pasukan Kawasan Tengah. Gila sekali.
"Sisanya, kalian boleh bersantai sejenak untuk memulihkan mental kalian hanya karena latihan itu saja. Aku tidak ingin mendengar keluhan dengan mental bocah kalian. Jadi, kalian harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin!"
Hanya itu saja. Rein mengakhiri pertemuan begitu saja setelah menyuruh mereka istirahat secara mental. Setelah berlatih cukup lama, mereka bisa mendapatkan istirahat yang cukup.
Entah apa yang direncanakan oleh Rein dalam mengistirahatkan mereka. Pasti, ada sebuah alasan di balik ini semua. Namun, tidak ada penyelidikan lebih lanjut dari prajurit maupun atasan. Ini semua bergantung pada keputusan Rein.
Mereka membubarkan diri, meninggalkan ruangan latihan itu dan kembali ke kantin untuk mengisi waktu istirahat mereka. Toh, masih banyak yang mereka lakukan di dalam markas itu semenjak Rein membuat keputusan untuk mengistirahatkan semua prajurit berpangkat sersan.
Sementara itu, Alvin dan Vania masih duduk dan memandang Rein dengan penuh keraguan. Tidak ada yang aneh apa yang direncanakan Rein. Yang pasti,
"Kau memanggil kami, kan?" Alvin menyapa, menebak pikiran Rein yang cukup menjebak lawan bicara.
"Tidak ada komentar lagi. Sekarang, kalian kemasi barang kalian terlebih dahulu. Kita akan pergi ke Sochi terlebih dahulu sebelum bertempur nanti. Kita akan menetap di Sochi sampai akhir Oktober untuk mengurus beberapa masalah di sana."
"Itu saja." Rein langsung berbalik badan dan meninggalkan mereka begitu saja, memanfaatkan waktu yang sedikit baginya untuk melakukan koordinasi pada prajurit sersan.
Sebelum Rein pergi, seorang wanita twintail merah yang tidak menerima dengan keputusan itu. Bahkan, keputusan Rein bagi wanita itu adalah kesalahannya besar.
Mengorbankan tiga orang prajurit kepada minimal 1000 pasukan musuh adalah misi bunuh diri. Jika gagal, itu akan menambah akar permasalahan dan membuat Reshan terpuruk selama 3 tahun ke depan.
"Tunggu. Kau tidak membawa kami kepada situasi yang berbahaya, bukan? Selain itu, kau membuatt perjudian yang tidak masuk akal."
Rein hanya diam, begitu juga dengan Alvin. Tidak ada yang bisa menebak psikologi Rein secara mendalam. Apalagi mencakup strategi yang diterapkan pada militer itu. Itu cukup tidak mudah.
"Ini memang perjudian. Jika, kita kalah dalam pertempuran lagi, tidak ada kesempatan kedua lagi." Rein menjawab, tidak memandang kedua prajurit itu, Alvin dan Vania.
"Oh iya. Aku sudah menghubungi Liana yang berada di Sochi. Dia akan kembali ke sini dan mengantarkan kita ke sana. Jangan lupa!"
Rein langsung pergi, tidak ada kesempatan kedua untuk berbicara. Dengan kata lain, mereka tidak bisa menghentikan langkah Rein untuk menjelaskan keputusan lebih lanjut lagi.
"Tunggu, jangan pergi, Mayor Sialan!" Vania berteriak, merasakan keanehan dengan psikologi Rein yang tidak menentu.
Rein tidak mendengar keluhan lagi tetap berjalan dengan langkah kaki yang pelan, terlihat profesional dari belakang. Mayor itu semakin menghilang dan
Alvin dan Vania hanya menghela nafas, tidak tahu apa yang harus mereka lakukan lagi. Mereka hanya saling memandang satu sama lain ketika pemikiran mereka terasa buntu.
Dengan terpaksa, mereka harus mengemaskan barang mereka sebelum mengikuti Rein ke Sochi. Mereka pulamh terlebih dahulu dan makan di kantin untuk mengisi tenaga mereka untuk berkemas.
[*^*]
Malam yang indah, langit yang didominasi olehbulan yang terang. Sementara langitnya tidak kunjung datang karena musim semi. Udara hangat tidak bisa dihindarkan, beradaptasi menjadi udara yang dingin.
Semua prajurit masuk ke asmaranya mereka kecuali yang sedang patroli. Mereka harus membiasakan diri untuk disiplin meskipun mereka sudah melakukannya selama berbulan-bulan.
Tidak ada yang berharap bahwa mereka mendapatkan tubuh yang melelahkan, bahu mereka terasa berat dan terbiasa. Tidak aneh sama sekali.
Liana sudah tiba di markas dan diberikan akses masuk setelah menyerahkan surat maupun kartu identitas Agen Rahasia Reshan kepada penjaga itu. Semuanya sudah disetujui, bisa masuk ke dalam markas tidak seperti sebelumnya.
"Silahkan masuk, Nona. Mayor Rein akan menemui Anda di ruang kerjanya." Penjaga meladeni Liana dengan manis, sama seperti seorang pejabat.
Liana mengucapkan terima kasih dan mulai memegang kendali setir tank untuk maju ke depan, sedikit ke kiri dan ke kanan. Tank itu berlalu meninggalkan pagar pembatas dan fokus melaju ke ruangan yang dituju.
Setelah tiba di luar ruangan Rein, Liana menyalakan klakson tank untuk memberikan kode kepada Rein bahwa Liana telah sampai.
Mendengar kode itu, Rein langsung mengabaikan dokumen di atas meja dan melihat Liana yang keluar dari pintu tank sambil melambaikan tangannya, menyapa seperti orang normal.
Tidak ketinggalan Rein keluar dan membalas sapaan itu. Kini, perlakuan Rein kepada Liana lebih berbeda, terkesan hangat dan tidak dingin, menyebabkan Liana semakin dekat dengan Rein.
"Selamat datang kembali di markas. Sekarang, pekerjaanmu bertambah banyak mulai sekarang." Rein menyambut Liana, mendekati Tank di depan matanya, sekaligus membersihkan tank dengan seusap jari.
"Siap. Aku sudah datang ke sini dan perjalanan yang cukup panjang. Jadinya, aku tidak bisa istirahat bersama tank ini." Liana merespon, tidak mengeluh seperti orang lain. Itu sebabnya Rein menyukai kinerja Liana.
"Bagus. Tidurlah! Besok kau harus bersedia karena pekerjaanmu semakin sibuk."
Rein langsung meninggalkan Liana dan menyuruhnya istirahat. Sementara itu, Liana kembali ke tank dan tidur di dalamnya, tidak sempat istirahat di ruangan yang lebih baik daripada tank itu sendiri.