Perang Dunia : Sochi City

1673 Kata
Keesokan harinya, sebuah tank sudah diisi dengan bahan bakar untuk perjalanan ke Sochi dan wilayah Reshan Selatan. Baja pelapis yang sudah diperbaiki dengan sendirinya dan roda tank yang kokoh siap untuk menginjakkan tanah di berbagai medan. Persiapan secara logistik sudah mencapai nilai maksimal. Banyak fasilitas yang cukup istimewa selama di perjalanan. Tidak semua orang bisa mendapatkan keistimewaan ini karena tank ini hanya dibuat secara terbatas, bahkan sampai 100 buah hanya ada di Reshan, itu pun aksesnya cukup sulit didapatkan. Sebetulnya, dua prajurit berpangkat Reshan harus tinggal di markas untuk menjalankan latihan keras. Namun, karena Rein, semuanya buyar dan berubah menjadi ampas kopi. Mereka berjalan dengan membawa beberapa barang penting untuk perjalanan mereka menuju dua perjalanan sekaligus. Sesekali, mereka bisa berdialog untuk mencairkan suasana, terlebih lagi ini kesempatan mereka untuk memulai percakapan. "Rein. Untuk apa kami mengikutimu ke Sochi? Bukankah kami punya kewajiban untuk tetap di markas?" Alvin penasaran, pemanggilan itu terkesan melanggar kewajiban militer Reshan. "Ceritanya panjang. Kita punya kesempatan untuk bertemu dengan Menteri Pertahanan Reshan di sana. Aku ingin membuat rencana yang membuatnya tercengang." "Seperti tidak mendapatkan istirahat di medan perang? Aku pikir itu adalah hal yang melelahkan." "Tidak juga. Mereka berdua sudah mengurusnya. Aku hanya bertemu dengan dua berseragam dan mengurus Mayor bodoh itu Bekerja menghadapi musuh saja tidak becus. Jika dia berhadapan dengan Ilberia maupun Fen Yu, tamat riwayatnya!" Rein sama sekali tidak menoleh Alvin sama sekali, justru fokus pada barang yang dibawa. Cukup tenteng bagi Mayor. Tapi, tidak dengan prajurit tingkat sersan. Tak lama kemudian, sebuah suara yang tidak jauh dari beberapa meter dari tank itu. Mereka berdua, menyambut beberapa prajurit yang akan datang membawa persediaan barang untuk perjalanan. "Hoi! Kenapa kalian lama sekali? Kita mau berangkat, lho." Rein sedikit menyeringai, berjalan dengan penuh beban. Mayor itu tidak terlalu bagus dalam berhubungan baik dengan wanita. Menyelesaikan tugas militer sudah cukup baginya. "Tidak sabaran. Sebaiknya kau mati saja." Rein memberikan penghinaan, langsung meloncat ke atas tubuh tank lalu mendarat dengan selamat, tidak ada kesalahan sama sekali. "Kejam sekali! Cepat naik! Kita tidak punya waktu banyak!" Vania memerintah bak seorang komandan militer. "Baiklah, dasar cewek bodoh!" Rein langsung memberikan ejekan yang berarti, gestur tentang melebarkan kantung mata ke lawan bicara. Mereka langsung memasuki pintu tank itu lalu mengamankan beberapa akses agak tidak sembarang orang yang bisa masuk ke dalam tank itu. Tank itu melaju cepat, roda tank itu bergerak tanpa pikir panjang, dikontrol langsung dengan tancap gas. Kelajuan demi kelajuan, jarak yang semakin bertambah jauh. [*^*] Kota Sochi, kota yang dekat dengan laut, diapit dari beberapa negara dan perbatasan. Sehingga, kota ini cukup strategis dengan laut. Kota ini sebelumnya sepi sebelum Presiden Reshan membuat revolusi pada kota ini. Kota ini juga merupakan kota yang dipilih untuk perkemahan militer. Tidak ada yang menyadari bahwa kota ini merupakan aktivitas militer yang disembunyikan. Terbukti, setiap perkemahan musim dingin Akademi Militer Spyxtria selalu diselenggarakan di kota ini. Sesampainya di sana, mereka terkejut, terdiam dengan mulut mereka sakit tidak percaya dengan diri mereka. Kota yang ramai akan acara olahraga tidak bisa berhenti menyorotinya. Liana memantau keindahan dari layar monitor, melihat pergerakan tank dan Rein yang duduk di atas tank dengan menikmati angin sepoi-sepoi. Sementara dua lainnya sedang menunggu "Wah! Apa ini?! Aku tidak pernah melihat kota ini sebelumnya. Ini kota yang digelar pada Piala Dunia 2018." Liana memuji kota itu, melihat orang dimana-mana. Tidak usah khawatir. Karena tank yang berjalan di jalan raya sudah biasa bagi mereka. Warga asing yang sudah menjadi bagian dari kota ini tidak keberatan dengan tank itu sama sekali. "Ini adalah tempat yang digunakan untuk menggelar acara olahraga. Termasuk Formula 1. Tapi, situasi sudah berubah. Tidak ada yang mau menonton mereka. " Suara Rein menggema memasuki ke ruang tamu itu karena tank itu punya saluran pendengaran dari luar ke dalam. "Tidak menutup kemungkinan bahwa mereka akan menutup akses agar musuh tidak mendapatkan kota ini untuk kepentingan tertentu." Alvin menerangkan, tenang dan fokus menatap layar monitor tank. "Hei! Apakah ini masih lama? Aku butuh udara segar di sini. Dari tadi aku terkurung di sini." Vania mengibaskan tangannya ke arah lehernya, terasa cukup panas. "Sabarlah, bodoh! Sedikit lagi kita akan sampai. Jangan sampai kalian tidak bisa melakukan apapun sebelum misi ini." Rein berteriak keras agar mereka bisa mendengarkan Rein dengan jelas. Hening lagi. Mereka berhenti bicara sesaat karena Rein. Vania dan Alvin masih berdiri dan mengharapkan agar tank ini cepat selesai. Liana masih menyetir seperti biasanya. Belum ada kejadian yang menghalangi perjalanan mereka. Tank masih melaju bersama dengan mobil yang lain. Asalkan tidak menekan tombol menembak, kedamaian lalu lintas akan terus berlangsung. Deutch adalah negara yang menyebabkan perang dunia pertama maupun kedua. Namun, sekarang situasinya sedang berubah. Deutch mengikuti aliansi Euro untuk melindungi dirinya dari ancaman perang. Berdoa saja agar Deutch bertahan setelah perang usai. Setelah beberapa jam berlalu, tank itu sudah sampai di tujuan. Parapenjaga dari luar langsung memberikan akses pada tank itu setelah Rein memberikan surat pada mereka. Tank itu berhenti di parkiran tank, terlihat sepi dan hanya satu tank yang tersisa. Sementara kendaraan lain seperti mobil dan truk infanteri berada di tempat parkir yang berbeda dengan pilihan parkir Rein. Tidak ada pencurian, sehingga tank ini bisa parkir dalam waktu yang lama. Liana mematikan mesin tank dan menonaktifkan kinerja mesin tank itu. Menjadi tidak diaktifkan dalam sementara waktu. Rein langsung meloncat dari atas dan mendarat dengan selamat, tidak ada debu yang menempel pada seragamnya setelah pendaratan itu. Sementara yang lainnya memanjat tangga untuk bisa keluar dari tank. "Pergi ke tempat perkemahan itu. Mereka akan menerima kalian sebagai tamu prajurit selama 3 bulan. Setelah itu, berkumpul di sini. Aku dan Liana akan mencari kasus ini. Siapa tahu Agen Rahasia Qasar dan Saudi tiba di sini." Alvin dan Vania mendengarkan perintah itu. Suara itu tidak diganggu gugat oleh seorang tentara berpangkat sersan seperti mereka. Pintu tank tertutup setelah Liana keluar dari dalam kendaraan tempur tersebut. "Baiklah. Kita akan mengerjakan kemauanmu." Vania menyerah, menuruni tank dengan perlahan. Alvin tidak demikian, melakukan hal yang sama dengan Rein selaku tentara berpangkat mayor. Sementara itu, Liana malah melompat bebas dan ditangkap oleh Vania lalu dimarahi habis-habisan. Mereka turun dan lalu berpisah selama tiga bulan untuk menjalankan misi mereka. Misi kedua tentara proletar itu adalah beradaptasi pada Sochi dan perkemahan itu. Rein dan Liana mencari Agen Rahasia musuh untuk ditangkap dan dibunuh sebelum kejadian buruk terjadi menimpa mereka. Tidak hanya itu, Rein harus berhadapan dengan para atasan di kota Sochi. [*^*] Setengah bulan kemudian, musim panas dilalui dengan baik. Meskipun terasa panas. Namun, para tentara tidak pernah menyerah sama sekali. Banyak tantangan yang mereka lalui dari musim panas itu. Tidak ada yang aneh. Tidak ada perkelahian yang terjadi di antara mereka. Mereka melatih kemandirian agar mereka bisa bertahan hidup di hutan. Tidak ada yang tahu mereka bisa terlatih dengan cepat mengenai pertahanan hidup. Sekarang, Vania dan Alvin sudah terbiasa dengan perkemahan itu. Mereka sama seperti anggota Pramuka yang menjalankan perkemahan itu. Perkemahan Militer musim panas masih berlangsung. Perlu beberapa saat sebelum berakhir. Tentara Proletar, Alvin dan Vania sudah terbiasa dengan aktivitas perkemahan. Mulai dari penjagaan, latihan biasa, dan pengumpulan makanan dan sumber daya lainnya. Mereka langsung berkumpul di api unggun untuk menjelaskan sesuatu yang penting. Tidak peduli suasana pembicaraan, baik basa-basi maupun to the point. "Hei! Aku membuat sesuatu yang penting bagi kita. Kita merasakan hal yang aneh. Mulai dari pengalaman maupun skill bertahan hidup." Vania duduk, melakukan pendekatan dan langsung mengatakan to the point karena tidak ada waktu. "Sepertinya, kita sudah cukup terlatih. Hanya saja, kita belum bisa keluar sebelum perkemahan militer ini berakhir. Aku sudah mengirimkan pesan kepada Rein sebelum tidur berupa kode Morse." "Aku juga tidak tahu apa yang membuat kita ke sini. Rein bodoh malah membawa kita ke sini. Apa-apaan ini?!" "Jangan marah! Setidaknya, kita punya nilai positif di sini. Tidak semua orang bisa mengikuti perkemahan ini." Vania menghela nafas panjang, tidak percaya dengan kejadian yang menimoa gadis itu. Setidaknya, mereka mempunyai teman baru di perkemahan. "Untuk sekarang ini, kita perlu bertahan di perkemahan ini sebisa mungkin. Lalu kita, memarahi Rein begitu sudah tiba. Mereka kembali bangkit dan menjalankan aktivitas, mendapatkan panggilan dari rekan mereka untuk mencari bahana makanan berupa daging rusa dan kelinci. [*^*] Tiag bulan sudah berlalu, bulan Oktober. Perkemahan Militer telah usai. Sebelum perpisahan, mereka mengadakan acara api unggun dan berpesta layaknya orang mabuk. Banyak kesenangan yang diutarakan pada malam itu. Pada pagi harinya, mereka bangun sebelum matahari terbit dan membereskan barang bawaan mereka sambil menjalani kehidupan sebagai seorang manusia. Setelah membereskan beberapa barang, mereka memutuskan untuk membawa barang itu pulang ke wilayah mereka masing-masing. Vania dan Alvin mengucapkan selamat tinggal pada rekan mereka. Mereka memilh jalan yang berbeda namun ikatan mereka masih terjalin dengan baik. Alvin dan Vania merasa lega, tiga bulan perkemahan militer sudah berlangsung dengan berbagai banyak kejadian. Ini juga memberikan pengalaman yang berharga agar bisa bekerja sama sebagai tim. Setelah berjalan cukup lama, mereka bertemu dengan Rein dan Liana yang berdiri selama 3 jam. Liana memberikan salam berupa lambaian tangan dan senyuman manisnya. Sedangkan, Rein hany mengabaikan mereka dan bergerak ke belakang. Mereka berdua agak tidak mengerti dengan respon Rein. Tank yang sudah dirawat Liana begitu tiba menghampiri tank itu. Rein hanya berjaga di tank itu sambil menunggu mereka berdua. "Bagaimana dengan perkemahan militer itu? Aku sengaja mengirimkan kalian ke sana hanya untuk mengetes sesuatu. Seperti terbiasa dengan suatu Medan atau tidak." Rein bertanya dengan kondisi mereka setelah tidak bertemu tiga hari. "Menyebalkan. Kalau tahu begitu, aku tidak akan menerima suruhan itu." Vania kesal, tidak tahu pada rencana Rein berikutnya. "Sabarlah! Aku sudah membujuk atasan sialan itu untuk membantai berapa banyak. Aku juga bisa membasmi dan mengusir mereka keluar untuk memberikan keuntungan yang lebih." Rein menyahut, memegang topinya agar tidak kusut. "Kita sudah membunuh Agen Rahasia yang nakal itu. Jadi, kota Sochi aman dari serangan." Liana menambahkan, membuat pendekatan pada mereka berdua. "Baiklah! Kita harus naik! Kita punya misi yang harus diselesaikan!" Rein menyuruh mereka untuk masuk, membiarkan dirinya untuk berada di luar tenk untuk meningkatkan pengawasan. Mereka langsung menaiki tank, masuk ke dalam lalu meninggalkan tempat parkir itu. Perkemahan Militer di Sochi adalah tempat markas militer sejauh 1 km. Setelah keluar, tank itu bergerak meninggalkan kota Sochi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN