Dea terbangun dengan posisi memeluk suaminya. Meskipun jengah bersama pengkhianat, tapi ia tak memungkiri jika nyaman berada di dekapan lelaki itu. "Sudah bangun?" tanya Kevin. Dea menganggukkan kepala dan semakin erat memeluk tubuh suaminya. Lelaki itu pun melakukan hal yang sama. Terbuai dengan kasih sayang di pagi hari, membuat mereka lupa jika ini adalah jadwal efektif untuk bekerja. "Astaga! Aku harus kerja sekarang," kaget Dea melepas pelukan suaminya. Ia tak menggubris Kevin, lelaki itu pun tak memaksa istrinya untuk tetap berada di sisinya. Ia hanya menatap lembut pergerakan Dea. "Mas nggak kerja?" tanya Dea. "Kerja. Mas kan tidak seribet kamu. 10 menit sudah cukup untuk bersiap." Dea mencebikkan bibirnya. "Iya iya," sahutnya datar. Ia sedikit kesal jika dikatain ribet. Pada a

