Sebisa mungkin aku berusaha untuk tidak meluapkan kegalauan atas pernikahan Dewita dan Hans. Patah hati pertama yang akan kuingat sampai nanti-nanti. Seperti pagi ini, ternyata Regina berangkat bekerja lagi dan menyapaku. Terlihat sumringah, aku sendiri pun lega bisa melihatnya semangat kembali. "Pak Adam orangnya selalu ikut campur ya?" "Ha?" Kami memang berpapasan di lift, dia berdiri tepat di sisiku. Sedikit menyamakan badannya agar bisa berjajar. Lalu menoleh, berharap aku menanggapi pertanyaannya. Karena menyebut namaku, aku pun terpancing. "dalam masalah apa?" "Ya, masalah Pak Angga. Tapi terima kasih, Pak Adam. Jarang-jarang ada atasan yang percaya pada staff cadangan seperti saya." Sungguh, aku merasa tersindir dan tidak tahu maksud kalimat apa yang ingin dia sampaikan pad

