Sejak malam even meet and great for Eric, sekarang Claudia menjelma menjadi perempuan paling maniak di dunia. Mulai dari wallpaper ponsel, gantungan kunci motornya pun beberapa hiasan yang menempel di komputer Claudia semuanya gambar si pria sok tampan itu.
"Kamu udah jadian ya sama artis itu?"
Aku bersandar pada tembok, menyerong menghadap Claudia yang sepertinya tidak menyadari aku sudah tiba dan akan menuju ruanganku.
Memang sih, ruanganku berhadapan dengan ruangannya. Dari kaca yang kupilih bertema gelap, bisa melihat siapa saja dari dalam. Tapi, mereka yang berlalu lalang tidak akan menyadarinya.
"Amin, Pak Adam. Kayaknya kalau sampai saya beneran sama Eric, saya bakalan langsung resign."
Deg!
Aku lumayan tersinggung dengan ucapannya, bukan karena cemburu. Tetapi sampai sekarang memang aku tidak terlalu pandai untuk mengakrabkan diri dengan sekretaris baru semisal Claudia benar-benar berhenti.
Banyak sekali memang yang mungkin lebih baik, lebih cantik, bahkan lebih kompeten dari dia. Tapi di mataku, Claudia adalah makhluk paling sabar setelah mama jika berhadapan denganku.
Omongan kami sering nyambung. Ngalor-ngidul dari Sabang sampai Merauke. Tentu saja, komunikasi terbaik adalah harus nyambung bukan?
"Bisa aja dia punya pacar atau bahkan tunangan non selebritas. Clau, pria setenar dan sepopuler dia gak mungkin gak menjalin hubungan dengan seseorang."
"Saya udah cek kok, agensinya bilang Eric jomblo. Bahkan, saat tadi makan malam, saya berhasil dapat id linenya. Mau nangis sujud syukur deh."
Aku menghela napas, geleng-geleng kepala terhadap Claudia yang kesamber cinta karena pandangan mata. Oke, terserah. Semoga saja kebucinannya terhadap Eric tidak menganggu pekerjaan dan tugasnya di perusahaan.
***
Siang begini, saat aku merasa Bandung juga sama panasnya dengan cuaca di Yogjakarta, pintu ruangan kerjaku terketuk oleh seseorang dan aku mengizinkannya untuk masuk.
"Pak, ini data-data orang yang menjadi pegawai magang pengganti Jessica, ada beberapa yang memang rekomendasi dari perusahaan cabang, ada juga yang murni mendaftarkan diri. Siang ini, anda ada interview dengan calon kandidat supervisor."
"Jam dua kan, Mir?" aku mengangguk, melihat tidak ada janji dengan siapa pun.
"Iya, Pak. Di ruangan interview lantai 5. Kalau begitu, saya permisi."
Mira adalah kepala manager pengembangan dan pengawasan produk, wanita yang mandiri. Single parent, dan kadang aku sering berdiskusi tentangnya mengenai perusahaan.
Ya, bagiku wawasan orang-orang yang dijatuhkan karena kasus rumah tangga akan bangkit sebangkit-bangkitnya. Mira adalah contoh wanita kuat yang sampai sekarang mematahkan semangat banyak pegawai karena selalu menjadi pegawai teladan.
Kembali melihat komputer, aku melirik lagi ke arah Claudia dari sini. Sepertinya dia sedang menelpon seseorang. Mamanya? Tapi kok senyam-senyum gak jelas gitu? Bukankah kemarin saat mamanya telepon dia memasang wajah frustasi karena dituntut calon suami?
Abaikan, Adam! Terserah dengan apa yang dilakukan oleh perempuan itu. Kamu bukan siapa-siapa, hanya bosnya. Only that.
Sibuk dengan banyak laporan, diskusi meeting online dan menyapa beberapa kenalan papa lewat email, tidak sadar kalau sekarang sudah jam 2 siang.
Berdiri dan menatap cermin, memakai jas, menuju ke lantai 5. Beberapa orang menunduk saat bertatapan denganku, aku membalas dengan sedikit senyuman.
Sampai di ruangan, ada sekitar 20 orang. 5 di antaranya adalah pegawai tetap, dan sisanya adalah calon pegawai magang yang mungkin hanya 2 saja yang akan aku terima.
"Selamat siang. Masih semangat kan?" sapaku dengan sedikit bercanda. Aku duduk di kursi yang sengaja dikosongkan.
"Semangat, Pak Adam." balas mereka serentak.
Bangganya, tanpa memperkenalkan diri mereka sudah tahu aku siapa. Padahal aku tidak memasang tanda pengenal di leherku.
Kutatap satu-persatu di antara mereka, sampai akhirnya tatapanku jatuh pada satu calon magang yang menurutku, sedikit manis.
Sial! Kenapa hati kamu gak pernah bakoh, Adam?
***
"So, adakah calon magang yang lumayan bening tadi, Bung?"
Entah merembet sampai mana kabar ada interview di kantor, aku merasa sebal lantaran Cleo capek-capek meluangkan sedikit waktunya hanya untuk bertanya tentang hal yang absurd.
Interview berlalu 2 jam yang lalu, pekerjaanku juga tidak padat-padat amat. Bahkan, Claudia sudah pamit pulang lantaran ini hari Sabtu.
"Telingamu ada antenanya atau apa sih, hm? Peka banget kalau ada barisan hawa yang lagi interview. Heran deh."
Selama bersahabat dengannya, aku belum pernah memakai panggilan yang sedikit kasar. Tapi aku juga terbiasa dengan gaya bahasa Cleo yang memang beken.
Ingatanku terputar kejadian dua jam yang lalu, yang mana perempuan bernama Regina sedikit menyentil otakku.
Regina Indriana, perempuan yang usianya di atas Claudia. Terlambat kuliah lantaran kerja part time, tapi kurasa nilai akademiknya lumayan. Bahkan dia sempat menjadi pegawai di perusahaan manufaktur kecil di Bandung. Sudah pasti pengalamannya banyak sekali.
"By the way, kemarin gue lihat sekretaris lu ngobrol berdua dengan si artis itu. Dia naksir ya?"
"Lihat di mana?"
"Ya kemarin, waktu di villa. Gak sengaja, di dekat toilet."
"Oh, terus kenapa bilang ke aku sih? Hubungannya apa?"
Cleo garuk-garuk kepala, buntu. Mungkin dia hanya iseng memberitahu kepadaku padahal ada benarnya juga karena aku memang penasaran sedekat apa hubungan Eric dengan Claudia sekarang.
"Awalnya sih, gue kan niatnya mau ke toilet, tapi nggak sengaja lihat mereka ngobrol berdua. Emang kelihatan juga sih kalau sekretaris lu itu naksir berat sama si Eric."
"Oh, iya sih. Aku juga setuju, soalnya dia ngaku sendiri kalau ngefans Eric. Udah ya, gue mau pulang."
"Lu gak apa-apa?" Cleo menahan langkahku. Seolah berharap aku mengatakan sesuatu yang sama persis dengan apa yang ada di pikirannya.
"Cleo, bentar deh. Jangan-jangan kamu ngira aku ada rasa sama Claudia?" tanyaku yakin. Dia mengangguk. Aku menggeleng. "nggak, Cleo. Udahlah, mau dijelasin sampai mulutku berbusa juga kamu gak bakalan percaya. Dahlah, see you."
Aku sudah berjalan menuju mobilku, keluar dari gerbang, menyusuri jalan dan mulai menyanyi sendirian. Yeah, tidak banyak yang tahu kalau aku suka dengan musik-musik lawas.
Karena menyetir, bahkan aku tidak menerima telepon dari mama. Palingan juga nanya tentang masa depan.
Pandanganku mengarah pada perempuan yang berdiri di halte bus, sendirian. Dia sepertinya sedang mengetukkan high heelsnya berkali-kali, memasang wajah sebal lantaran tidak terima high heels yang dipakai patah.
Aku berani bersumpah, pernah melihat perempuan itu, tapi di mana? Wait, dia kan?
"Kenapa sih, ini kan masih bagus? Harus banget hari ini putusnya? Ah!"
"Regina?"
Perempuan itu mendongak dan tak percaya aku memanggilnya. Dia sedang menunggu angkutan umum di dekat halte bis.
"Pak Adam kan ya?"
Aku mengangguk dan menyerahkan sandal jepitku yang untungnya masih baru. Anehnya, aku bahkan merasa lupa kapan memasukkan sandal jepit ke bagasi mobilku.
"Pakailah, Regina. Kamu gak bakalan kehilangan pesonanya hanya karena pakai sandal jepit."
Malu-malu, lalu melepas high heelsnya. Tersenyum ke arahku. "gak kelihatan aneh kan, Pak?"
"Enggak. Kamu mau pulang?"
Dia mengangguk lagi. Membenarkan tasnya yang sedikit merosot. "Pak Adam sendiri?"
"Itu mobil saya." tunjukku ke sebrang jalan. "daripada jamuran di sini, mendingan kamu kuantarkan pulang."
Regina ragu-ragu, tapi akhirnya mengangguk karena daya baterai ponselnya memang sudah lemah.