Sampai di depan kontrakannya, Regina ternyata ketiduran. Gila, padahal hanya 20 menit dari halte bus ke rumahnya. Kecapekan atau apa?
Aku bersusah payah berdeham sekeras-kerasnya agar dia terbangun dan untungnya berhasil.
"Ya ampun, maaf, Pak." cangungg. Regina gelagapan dan tidak bisa tenang.
"Santai. Kamu cuma ketiduran aja, bukan kesalahan yang besar."
Regina mengangguk, keluar dari mobil karena aku menolak untuk mampir. Kurasa, dia juga perlu waktu untuk sendirian sekarang. Kulihat tempat tinggalnya, kontrakan yang memang bisa dibilang lumayan.
Mungkin Regina memang ingin hidup mandiri, karena pada data-data identitasnya, Regina masih tergolong orang yang berkecukupan.
Aku menyetir kembali, melajukan mobil dan pulang. Sama-sama lelah, apalagi besok akhirnya aku bisa menghirup udara di hari weekend.
***
Kalau bukan suara kucing yang terus mengeong, aku tidak akan bersusah payah membuka mata sepagi ini. Ah, Bona, selain suka minta makan ternyata kamu menyebalkan.
"Pagi, Pak Adam."
Suara itu adalah milik Claudia, sepagi ini dia repot-repot ke sini apalagi kalau bukan demi memeriksa kucing kesayangannya apakah masih kuberi makan dengan rutin atau tidak.
Persis di depan kamar, aku menutup kembali. Mengumpulkan kesadaran, meminta waktu untuk mandi. Keterpaksaan saat weekend adalah mandi pagi.
Ritual mandi pagi kuselesaikan tak ada sepuluh menit, meskipun aku adalah bos Claudia, sekarang ini dia adalah tamuku.
Kuperhatikan dari atas ke bawah. Dia memakai hoodie karakter lagi, dengan bawahan yang mencapai mata kaki. Plus rambut yang sengaja dikuncir kuda.
"Den, ini katanya Non Claudia mau bikin pasta Fussili + sambal sautéed broccoli dan onion. Gitu kan Non, bilangnya?"
Claudia mengangguk dan bertepuk tangan, mbok Lilis bangga dengan pelafalannya. Beliau berlalu, mempersilakan Claudia menggantikan perannya.
Memilih sibuk dengan pekerjaan rumah lainnya.
"Clau, kamu gak bakalan bikin dapurku terbakar kan?"
"Memangnya tampang saya ini gak kelihatan bisa masak ya, Pak?" jawabnya sambil memandangku dengan mata menyipit.
Aku mengangkat bahu, tidak bisa menilai lebih lanjut sebelum ada bukti. Toh, tidak bisa memasak bukanlah sebuah kesalahan. Terkadang, ada masa di mana stigma masyarakat harus mengedepankan kodrat wanita untuk memasak.
Aneh, padahal memasak bisa untuk segala gender. Buktinya, restoran-restoran besar kebanyakan chefnya adalah pria.
Claudia sudah beraksi, melalukan entah apa. Mencampurkan bahan-bahan yang terkejal di kulkas. Tugasku? Hanya menunggu.
Dua puluh menit berlalu, dia menyajikan maha karyanya di depanku. "silakan, Pak. Kalau gak enak, tolong jangan pecat saya ya?"
Aku tersenyum.
Kupandangi Pasta Fussili yang dipadukan dengan salad. Ada pula baked red beans + tomat dan telur. Kurasa, ini menu untuk orang diet tapi mengenyangkan.
Dia ikut makan di sampingku, menyendok pelan-pelan. Kadang, tersenyum karena melihat ekspresiku yang masih belum terbiasa mencicipi makanan tanpa nasi.
Setelah habis makanan di piringku, barulah aku bisa mengobrol santai dengannya.
"So, kamu ke sini mau nengokin Bona? True?"
"Iya dong. Masa nengokin Pak Adam? Kan tiap hari juga ketemu. Maaf ya, soalnya kadang saya lupa kalau harus memberinya makan. Tapi, untungnya Bona gak kenapa-kenapa. Soalnya dia kan jarang bisa akrab sama orang baru, pasti ujung-ujungnya mogok makan."
Ah I see. Mungkin, aku tidak bisa sedramatis itu lantaran aku tidak terlalu menyukai kucing.
Kulihat Bona yang bermain, melompat ke banyak tempat. Mengeong pelan saat aku menatapnya. Apaan dah!
"Pak, boleh curhat gak?"
Baru saja menyentuh Bona, mengelus bulunya, aku kembali menurunkan kucing itu. Kali ini, aku sangat tahu apa yang akan dibahas Claudia.
Siap atau tidak siap, aku harus menerima fakta kalau Claudia akan mendekati Eric atau bahkan sebaliknya.
"Oke. Biasanya juga langsung curhat kan?"
"Hehe. Tapi, Pak Adam Jangan marah ya?"
"Enggak, buat apa."
Dia menarik napas, jemarinya saling bertautan, entah meresahkan apa. Mungkin takut kalau aku tidak merespon baik usahanya untuk mendekati si artis ngetop itu.
Sekali lagi aku tekankan, tidak ada kamus cemburu di hidupku. Perasaan Claudia suka dengan siapa adalah sepenuhnya hak dia.
Masalahnya adalah dia sering melemah di hadapanku. Entah diselingkuhi, diputuskan sepihak atau bahkan ditinggalkan karena gak bisa diajak enak-enak.
Wajar, sebagai orang yang sangat dekat dengannya sebagai patner kerja, aku sangat tidak rela dia diperlakukan seperti itu. Apalagi imbasnya akan sampai ke pekerjaannya.
"Jangan kaget ya, Pak. Saya diajak ngedate Eric."
"Oh gitu."
"Iya, Pak! Gak nyangka! Kebayang gak sih jadi pacarnya supermodel kayak dia. Hahaha, pasti nanti banyak yang nebak siapa kira-kira pacar Eric Sebastian. Duh, kayaknya sekarang saya harus sering perawatan deh biar gak malu-maluin."
Claudia memasang wajah merona. Menelangkupkan kedua telapak tangannya dan mendaratkannya di pipi, merasa excited karena ajakan kencan dari seorang pria.
"Clau, kok kamu jadi yang heboh gini sih?"
"Hehe. Namanya aja ber-euforia karena jatuh cinta, Pak. Ya gini deh sikap saya, rada-rada gila." akunya tanpa ragu-ragu.
Dih, baru nyadar.
Aku cukup tahu sekarang. Mungkin Claudia dan aku adalah tipe orang yang sangat berlainan arah. Dia sangat mudah move on dan juga sangat mudah jatuh cinta, sedangkan aku adalah kebalikannya.
"Selamat deh. Semoga kamu betah pacaran sama model yang sibuknya ngalahin pak presiden."
"Kalau beneran sayang pasti nyempetin waktu kok, Pak." belanya. Tak terima Eric dijelek-jelekkan.
Sebisa mungkin aku mengangguk. Tidak menampilkan sisiku yang lain, yang mana, yang sebenarnya ada di pikirannya aku sangat tidak setuju dengan kedekatan mereka. Meskipun aku sendiri tidak tahu kenapa merasa seperti ini.
"Oke, oke. Kamu ke sini cuma mau lihatin Bona kan? Tuh, lihatin sepuasnya. Aku mau ke kamar sebentar, weekend adalah jadwalku bertelpon dengan mama."
Aku sudah meninggalkan Claudia yang merasa biasa saja dengan aura jutekku. Claudia, Claudia. Kapan sih kamu sadar, kalau luka-lukamu belum sembuh?
Patah hatimu belum usai dan kamu akan memulai lagi? Dasar, entar luka lagi larinya ke aku. Memangnya aku ini pelarian?
***
Kantor sama-sama kelihatan mendung. Ya, baru saja tiba ke tempat parkir, aku dikejutkan oleh sapaan seseorang.
"Kita kan ramai-ramai mau ke sana. Iya, semoga aja Mira gak kenapa-kenapa." ungkap Teddy.
"Mira kenapa?" tanyaku mendekat.
Mereka semua merunduk. Merasa kalau ada luka di wajah mereka.
"Itu, Pak. Anaknya meninggal karena keracunan makanan jajajan SD."
Deg!
Rasanya ada bagian dari organ di tubuhku yang jatuh sampai ke dasar. Ya Tuhan, Mira adalah rekan kerja yang kupandang sangat open minded, wawasannya luas, planningnya selalu berjalan sempurna.
"Oke. Kita takziah sekarang juga. Ajak yang memang satu tim sama Mira, kantor saya liburkan satu hari."
Mereka semua mengangguk. Masuk ke mobil masing-masing. Dan aku masih berdiri, tidak tahu harus bagaimana.
Kami hanya rekan kerja. Tapi entahlah, Mira sering memberi masukan tentang perkembangan perusahaan.
Anaknya adalah satu-satunya kompas bagi Mira, di mana dia bisa terarah dan selalu tidak tersesat. Selalu hebat dalam memerangi kebenciannya dengan masalah dan juga semesta.
"Pak Adam?"
Lamunanku terpecah. Claudia tersenyum getir, aku yakin dia sudah tahu kabar tentang Mira. Lebih tepatnya anaknya.
"Pagi, Clau. Siap-siap ya, temenin saya ke rumahnya Mira."
"Siap, Pak. Sekarang juga sudah siap."
"Oke. Kita berangkat."