Kita Tak Tahu kapan Bahagia?

1039 Kata
Rasanya ada bagian dari otakku yang lama memproses cara kerjanya. Iya, sekarang aku tengah berdiri agak jauh dari Mira. Karena banyak dari rekannya yang sudah berbaik hati menenangkannya, termasuk Claudia. Apalagi, meskipun dia termasuk temanku, aku tetap tidak bisa memeluknya, untuk setidaknya menyalurkan kekuatan yang aku bisa meskipun aku sendiri juga hampir tumbang. "Hidup emang gak ada yang bisa nebak ya, Dam? Mira, cewek itu selalu menampilkan sisi positif dengan semua rasa kecewa. Cuma, dia emang cerdas cara ngolahnya. Ngebakar rasa sakit hati rumah tangganya dengan kesuksesan." Aku hanya angguk-angguk. Tumben amat hari ini Cleo bisa menyiramiku dengan kata-kata rohaninya. Setelah anak Mira dimakamkan, banyak dari kami yang langsung pulang. Mira berjongkok, memegang batu nisan yang masih kokoh dengan ukiran nama anaknya pun dengan tanah merah lengkap beserta taburan bunga. Kerabatnya hanya beberapa yang singgah, aku memberi aba-aba untuk Claudia pulang. Dia menurut, apalagi sekarang pasti Mira sedang ingin sendiri. "Pak Adam nangis?" Baru saja memasang seatbeltnya, Claudia agak menyerong, memastikan bahwa aku memang baru saja menjatuhkan air mata. Aku memang begini, sedikit cengeng jika ada orang yang paling berharga dipanggil yang kuasa. Terlebih, aku sangat tahu sepak terjang perjuangan Mira sampai bisa sesukses sekarang. Semoga, suatu hari nanti dia akan bangkit lagi seperti Mira yang kukenal selama ini. "Ya namanya manusiawi, Clau. Memangnya kamu gak pernah nangis apa pas kehilangan orang yang gak bakalan bisa dilihat lagi? You know lah, seberapa sayangnya Mira ke anaknya." "Pernah kok, waktu nenek saya meninggal tepat saya pas masih SMA. Saya sampai mogok sekolah, karena saya memang dekat sama nenek. Iya juga sih, pasti berat buat mbak Mira." Kami sama-sama diam, sambil fokus dengan jalanan. Mengajak makan pun percuma, rasanya selera makanku terlempar entah ke mana, padahal belum sarapan sejak tadi pagi. Karena kantor sudah kuliburkan, aku tidak tahu sekarang mau ke mana. Anehnya, aku tidak ingin pulang. "Kita mau ke mana, Pak?" "Gak tahu, kamu ada ide gak?" Sambil mikir, dia tertawa dengan tatapan jahilnya. "bagaimana kalau kita ke kebun raya Bogor, Pak?" Aku mendelik. Sampai sejauh itu? Memangnya dia pikir aku ini anak SD yang mau-maunya ke kebun raya? Ah, ayolah, Clau! Melihat ekpresi tak sukaku, Claudia memasang wajah melas. Membiusku dengan mimik memohon. "Saya sudah lama gak ke sana. Hitung-hitung sebagai liburan sebelum saya mengambil cuti. Seminggu lagi saya kan pulang ke kampung halaman. Tapi, emang sih gak etis kita bepergian padahal ada yang berduka. Tapi kan, tadi kita juga ikut berbela sungkawa." Aku menghela napas, tapi bodohnya malah setuju. Baiklah, sepertinya aku butuh udara tambahan karena Bandung terasa menyesakkan lantaran kabar duka tentang anaknya Mira. Selama di perjalanan, kami banyak mengobrol. Mendiskusikan pekerjaan, bicara tentang daerah kelahiran Claudia, masa SMA dan kuliah kami. Banyak, asal tidak membahas tentang Eric si sok ganteng itu. Yang paling kusuka dari Claudia adalah dia sangat jarang tertidur ataupun ngantuk saat semobil denganku. Entahlah, apakah dia betah melek ataupun merasa tak enak jika tertidur saat pergi dinas denganku? Kami sudah sampai di Jl. Ir. H. Juanda No.13, Paledang, Bogor, Jawa Barat. Biaya masuk sekitar 20.000 perorang. "Clau, beli minum ya?" Aku merogoh kocek, mengambil uang 50 ribuan yang ternyata nyempil di saku celanaku. Sambil menunggunya kembali, langkahku sudah mulai masuk. Menikmati banyaknya pohon rindang. "Pernah lihat bunga Raflesia nggak, Pak?" tanyanya iseng. Jujur, aku hanya pernah sekali ke sini dan memang tidak pernah sampai ke mana-mana. Adam adalah pria super pendiam di masa remajanya. Yeah, meskipun dulu banyak yang suka. Tak jarang, banyak kakak kelas kak Citra yang sering menitipkan surat ataupun coklat di hari valentine, dan usilnya kak Citra selalu menerimanya karena bisa menikmati tumpukkan Silverqueen dengan gratis. "Enggak pernah. Tunjukkin jalannya aja, nanti aku ngikut di belakangmu." Dia mengangguk dan tak sadar menggandeng tanganku, menuntun pria yang sebenarnya tidak buta arah. Kan ada petunjuk? Sayangnya, bunga bangkai sedang malu-malu dan tidak menunjukkan keindahannya. Bunga yang dikenal sebagai bunga langka, tingginya bisa sampai dua meter. Kami lalu lanjut ke kolam Astrid. Aku memintanya duduk karena cuaca memang adem dan sedikit mendung. "Rasanya indah ya, Pak. Tenang, gak ada pekerjaan, deadline, laporan untuk jadwal rapat, tumpukan berkas, tugas-tugas yang harus tuntas. Ah, rasanya ini nyaman, Pak." ungkapnya damai. Sebenarnya aku sedikit merasa tersinggung karena dia seperti mengungkapkan betapa banyaknya tugas yang aku serahkan kepadanya. Tapi, aku lebih memilih diam dan menunggu Claudia lebih terbuka denganku. "Nyawa itu emang bener-bener gak ada yang tahu ya, Pak. Kayak apa ya, puzzle hidup emang ada aja rahasianya. Kapan kita mati, nikah, kapan kita bahagia. Pernah mikir gak sih, Pak, sebenarnya kita itu hidup cuma sekali tapi tingkahnya begini-begini aja." "Ya intinya, sebaik-baik manusia, kita gak boleh merasa diri kita baik, Clau. Apa pun yang kita lakukan semoga emang jadi kunci kita masuk syurga. So, kamu juga jangan sampai ngelakuin hal yang ngerugiin diri kamu nantinya. Oke?" Kami sama-sama tertawa lantaran ternyata banyak yang memang sama. Cara berpikir Claudia kadang jauh lebih terbuka, aku juga sering memintanya solusi setelah Mira. Kadang, aku pun berharap dia tidak benar-benar dekat dengan Eric. Takut sekali dia terluka lagi. *** Beberapa hari ini, keadaan mentalku ikut terseret lantaran Mira mogok kerja. Ah, aku tahu bagaimana perasaannya lantaran ditinggal pergi oleh satu-satunya orang yang menjadi alasannya untuk kata bertahan sampai sejauh ini. Aku takut membayangkan Mira akan menjadi seperti apa setelah kehilangan anaknya. "Kenapa ya, sekarang aura kantor jadi beda. Pak Adam tahu gak kenapa?" tanya Claudia tiba-tiba. "Entahlah. Kamu sendiri, kenapa ikut-ikutan gak semangat sih?" "Ya ngikut bosnya lah. Ah tapi by the way, Pak Adam tahu gak kalau pegawai magang di kantor kita sekarang kerjanya di luar dugaan loh," pancingnya. Aku hanya diam. Ada beberapa orang yang kuingat di luar kepala salah satunya adalah Regina. Perempuan itu memang sedikit unik, kelewat manis melebihi manisnya Dewita. Toh, sekarang otak lebih bersih karena sudah benar-benar tidak mengharapkan Dewita untuk menjadi bagian di hidupku. "Siapa emang yang keterima? Soalnya, tugasku hanya interview sih, ada pusat lagi yang bagian penilaian akhir." "Sebentar, Pak. Soalnya saya jarang banget gabung di grup kita apalagi Pak Adam memang jarang ikut nimbrung kan?" Claudia mengecek ponselnya dan menyebutkan 2 orang yang berhasil menjadi pegawai magang tetap selama 6 bulan, dan salah satunya adalah Regina. Entah mengapa aku merasa ada hal lain yang yang mengaitkan diri Regina. Meskipun, aku sendiri tidak tahu apa yang aku pikirkan tentang perempuan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN