Demikianlah kehebatan seorang Pasha yang aku kagumi. Akan tetapi sayangnya aku tidak bisa membalas perasaan sukanya terhadapku. Aku juga tak tahu mengapa. Padahal dia itu mendekati sempurna. Ketampanan? Oke. Kepintaran? Apa lagi. Kekayaan? Jangan ditanya lagi. Hampir semua aspek sudah ada di dalam diri dia. Tapi sekali lagi, aku tidak mencintainya. Aku membalas ucapan Pasha dengan anggukan dan senyuman. Dia juga tersenyum. Terhitung mungkin sudah beberapa bulan aku meninggalkan sekolahan ini, dan ternyata semuanya masih tetap sama seperti yang dulu. Teman-temanku, guru-guruku, dan juga segala hal yang ada di sekolahan itu. Semuanya masih tetap sama. Aku bersyukur akan hal itu. Sangat bersyukur. Hari pertama aku kembali ke sekolahan itupun menjadi momen di mana aku merasa menjadi seorang

