Aku tak menyangka akan sejauh itu dalam menceritakan kebaikan Daniel kepada Papa dan Mamaku. Tapi, itu memang pantas aku lakukan, karena Daniel memang lelaki yang baik. "Baiklah. Soal Daniel, kapan-kapan ajak dia mampir ke sini. Papa ingin tahu Daniel itu seperti apa. Dan soal dua teman sekolahmu itu, besok biar Papa yang urus. Mereka tidak akan bisa dibebaskan begitu saja," ucap Papaku. Aku tersenyum singkat. "Dan untuk kamu. Papa dan Mama sudah sering bilang, jangan keluar malam-malam! Apalagi kalau sampai selarut ini. Kamu seharusnya mengerti kalau kami melakukan itu juga demi kebaikanmu," ucap Papa. Begitulah, dan seterusnya. Di malam yang penuh dengan cerita itu, pada akhirnya aku tetap mendapatkan ceramah sekaligus omelan dari kedua orang tuaku. Satu-satunya hal yang bisa aku jadi

