Kami membicarakan banyak hal di cafe itu hingga pada akhirnya sang waktu lah yang lagi-lagi harus mengakhirinya. Malam yang larut. Kulihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 23:38. Itu artinya aku mungkin akan dimarahi oleh Papa atau Mamaku lagi karena pulang terlalu malam. Dan seperti biasanya, aku cukup menjadi pendengar yang baik di saat mereka marah. "Lo berani pulang sendiri, kan?" tanya Intan kepadaku. "Ya berani, lah. Emangnya Lo," jawabku yakin sembari mengejeknya. "Hahaha.... Okelah kalau begitu. Hati-hati!" kata Intan. Aku mengangguk. Dikarenakan arah rumah kami yang berbeda, akhirnya mau tidak mau aku harus pulang sendirian. Malam yang gelap dan menyeramkan, kini aku harus melaluinya sendirian. Selalu ada rasa takut di kala diriku memikirkan tentang apa yang ada di balik g

