"Hahaha, tenang sayang. Deni bisa membereskannya," ucap Dika yang semakin membuatku jijik. Tak lama kemudian, terdengar bunyi keributan seperti orang berkelahi, tapi cuma sebentar sebelum akhirnya suara itu menghilang. Mungkin salah satunya sudah kalah. Apa sang pengendara bermotor itu sudah kalah? Tidak, kurasa si Deni yang kalah. Hal itu terbukti dari raut wajah Dika yang tiba-tiba berubah. "Lepaskan dia!" Suara itu. Apa ini mimpi? Ah, tidak, ini nyata. Suaranya itu sangat familiar di telingaku. Suara yang sangat kurindukan untuk bisa kudengar kembali dengan sang pemiliknya yang juga sangat kurindukan hadirnya lagi. Ya, jelas sekali itu adalah suara Daniel. Dia benar-benar ke sini. Sang pahlawan, sekaligus sang penolongku telah datang. Harapanku ternyata terkabul. Namun kini Danielku

