Masalahnya, tidak ada yang namanya lain kali. Karena setelah ini, aku akan pindah sekolah. Tentu aku tidak akan bertemu lagi dengan Icha dan yang lain di sekolahan yang sama. Aku tidak perlu lagi menjawab pertanyaan dari Icha maupun yang lainnya tentang susah atau tidaknya mata pelajaran setiap kali sehabis ujian dilaksanakan. Mungkinkah Icha lupa pada hal itu sehingga dia masih memakai kata "lain kali"? Atau mungkin, dia punya harapan yang besar agar aku tetap bertahan di sekolahan itu? Entahlah. Maaf, Cha. Aku terlalu bodoh sehingga hanya karena seorang lelaki, aku memutuskan pergi untuk meninggalkanmu dan yang lain. Aku tahu kau sangat ingin melarangku, akan tetapi pasti kau sadar tentang sifatku ini. Kau juga tak mungkin mau berkuasa atas diriku. Padahal jika cuma memberi pendapat, it

